Setelah kehilangan adik perempuannya dan hancur di dunia fana, Han Yu terbangun di tubuh sesosok makhluk dari Sekte Iblis yang terdampar di wilayah suci Lembah Lingshu, ras suci yang sedang berperang melawan umat manusia karena perbudakan asmara. Bukannya mati dieksekusi, Han Yu justru membangkitkan warisan langka yang tabu: Jalur Kaisar Pesona.
Berbekal ketampanan surgawi yang mutlak, stamina tiada tanding, dan teknik manipulasi sukma, Han Yu mengubah musuh-musuhnya menjadi pelayan yang patuh. Dari murid klan yang dingin, janda kultivator yang kesepian, hingga para tetua bijaksana dan Ratu Lembah, semuanya bertekuk lutut di bawah pesonanya. Di dunia kultivasi yang kejam ini, Han Yu tidak bertarung dengan pedang yang menghancurkan langit, melainkan menaklukkan dunia dari atas ranjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 - Penguraian Prasasti Kuno dan Godaan Murid
Tetua Ling Er tersenyum manis lalu mengibaskan lengan bajunya, memanifestasikan setumpuk besar kitab-kitab kuno tebal di atas meja giok yang seketika memicu rasa ngeri di kepala Han Yu. Tugas pertama yang diberikan oleh sang tetua bijaksana kepadanya adalah keharusan untuk mempelajari seluruh isi buku pelajaran bahasa kuno ras suci Lembah Lingshu.
Han Yu pada awalnya mengira bahwa buku-buku ini berisi tentang formula merapal mantra sihir bela diri tingkat tinggi, sehingga dia dengan sangat antusias menyetujui tugas tersebut dan mulai memfokuskan pikirannya untuk belajar di bawah bimbingan langsung Tetua Ling Er. Namun, seiring dengan berjalannya waktu dan bergantinya hari, tumpukan buku yang diberikan kepadanya justru berubah menjadi kitab-kitab sejarah kuno beraksara rumit. Han Yu dipaksa untuk terus membaca, menghafal, dan mempelajari setiap bait tulisan kuno tersebut tanpa henti dari pagi hingga malam.
Hingga akhirnya, kemampuan analisis Han Yu meningkat pesat dan dia bahkan mulai ditugaskan oleh Tetua Ling Er untuk membantu menguraikan baris-baris prasasti kuno yang sulit dipahami oleh para tetua lain. Awalnya aktivitas membaca ini terasa cukup menarik bagi Han Yu, namun lama-kelamaan rasa bosan yang luar biasa mulai melanda batinnya hingga dia sering kali bermimpi buruk sedang tenggelam di dalam lautan kertas kitab.
Han Yu memanfaatkan sisa waktu istirahatnya untuk memejamkan mata di bawah pengawasan Tetua Ling Er, menyerap seluruh informasi dari buku pertama hingga halaman terakhir di dalam Ruang Meditasi batinnya demi mempercepat proses pemahaman tanpa kehilangan waktu di dunia nyata. Sebuah aliran energi batin Kaisar Pesona mengalir di lubang telinganya, menyelaraskan seluruh struktur formasi rumit aksara kuno tersebut ke dalam memorinya. Tiba-tiba, sebuah suara teguran yang lembut memutus fokus konsentrasinya, membuat Han Yu perlahan membuka sepasang kelopak matanya kembali.
"Apakah kamu sedang mencoba memberi tahu aku bahwa kamu telah berhasil mempelajari dan memahami seluruh baris informasi rumit di dalam buku pelajaran kuno ini dalam waktu secepat ini?" tanya Tetua Ling Er dengan ekspresi wajah yang sangat aneh, bercampur antara rasa tidak percaya dan kekaguman yang besar saat melihat Han Yu menutup kitab tebal di hadapannya.
Han Yu menganggukkan kepalanya dengan raut wajah penuh keyakinan. Kemudian, didorong oleh kebiasaan nakal serta insting alami dari jalur Kaisar Pesona, dia segera mengaktifkan kombinasi dari tiga teknik dasar spiritualnya, yaitu teknik Seni Pemikat Jiwa, Paras Sempurna, dan Komunikasi Penyelaras Rasa secara bersamaan seraya melemparkan sebuah senyuman manis yang teramat tampan.
Dengan gerakan tangan yang sangat lembut dan tak terduga, Han Yu menjulurkan lengannya untuk memegang pergelangan tangan halus milik Tetua Ling Er. Dia menatap langsung ke dalam sepasang mata hijau wanita itu, lalu berbisik dengan nada suara yang sengaja dibuat terdengar sedikit manja dan sedih, menanyakan apakah seorang guru yang bijaksana seperti Tetua Ling Er tidak berniat untuk memberikan sebilah penghargaan yang manis atas seluruh usaha keras dan pencapaian luar biasa yang baru saja ditunjukkan oleh murid barunya ini.
Seketika itu juga, Tetua Ling Er langsung terdiam seribu bahasa. Dia terpaksa mengangkat tangan kirinya untuk menutup bibir indahnya yang sedikit terbuka karena terkejut. Riak wajahnya yang biasanya tenang dan dipenuhi kebijaksanaan kini tampak sangat bingung, salah tingkah, dan beralih sepenuhnya di bawah cengkeraman pesona Han Yu. Kedua pipinya merona merah padam, dan dia terpaksa mengatupkan gigi-giginya rapat-rapat untuk mempertahankan sisa pertahanan mental kultivasinya yang hampir runtuh.
"H-hmm! Aku akan memikirkan jenis penghargaan apa yang pantas untukmu nanti!" Tetua Ling Er mendengus ketus dengan suara yang bergetar menahan malu, lalu dengan sekejap mata tubuh fisiknya langsung menghilang dari hadapan Han Yu menggunakan teknik meringkas jarak tingkat tinggi demi melarikan diri dari atmosfer yang memabukkan tersebut.
Han Yu hanya bisa menghela napas panjang melihat pelarian gurunya, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya pelan seraya menggumamkan kalimat lirih, mengejek Tetua Ling Er sebagai sesosok wanita kuat yang ternyata memiliki hati yang sangat picik dan mudah merona.
Namun, belum sempat Han Yu menyandarkan tubuhnya untuk beristirahat, sebuah gema suara wanita yang sangat tajam dan dipenuhi kekesalan mendadak terdengar bergaung kembali tepat di samping telinganya, membalas perkataannya dengan nada ancaman bahwa esok hari sang guru akan menambahkan sepuluh buah kitab prasasti kuno yang jauh lebih tebal untuk dia selesaikan sebagai hukuman atas kelancangannya hari ini. Han Yu hanya bisa tertegun membisu dengan senyuman kecut di bibirnya, menyadari bahwa kehidupan kultivasinya di paviliun ini akan berjalan dengan sangat dinamis dan penuh tantangan asmara.