Nayra azahwa alzahrani...gadis berhijab yg memiliki wajah yg cukup cantik, kulitnya kuning bersih, tatapannya selalu tk tertebak, begitupun akan sikapnya.Ia hampir tk pernah terlihat mondar mandir bersama teman2nya karena seringya menghabiskan waktu d perpustakaan sekolah. Tanpa ia sadari sikap dinginnya mampu menarik perhatian beberapa star tim basket di sekolahnya, salah satunya.. Yan Aditya Rachman wakil kapten tim basket di sekolahnya. Seorang tuan muda dari keluarga pengusaha resto dan makanan ringan yg cukup terkenal di kota tempat tinggalnya. mampukah seorang Yan menaklukkan sang gadis dingin bersaing dengan sesama timnya...secara dia seorang pemuda yang terkenal supel dan ramah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khitara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tak bolehkah aku takut...?!
Yandi tampak lebih diam sejak mereka masuk ke dalam mobil, angan angannya melayang kepada pembicaraan bersama kedua orang tua Nayra tadi pagi di meja makan.
( dua bulan....apa apaan itu, dua bulan bukan waktu yang sebentar ) bisiknya dalam hati
" kau salah jalankah....ini bukan jalan ke kantor " ucapan Nayra membuyarkan lamunan Yandi membuatnya menoleh sebentar kearah Nayra, menatap wajah itu sejenak
" iya..aku mau ngajak kamu liat proyek kita yang baru..." jelas Yandi sembari menyetir,
membuat hati Nayra berdesir ( proyek kita...apa maksudnya ) tanyanya dalam hati
" kenapa tak bilang, kerjaanku bisa numpuk..."
" tak apa..kris dan friska akan menghendlenya, aku sudah perintahkan mereka...."
" kenapa tiba tiba....?! " tanya Nayra lagi, Yandi kembali menoleh kearah Nayra, ia seakan tak percaya dengan yang ia dengar, gadis di sampingnya itu sudah mau sedikit banyak bicara padanya...dan itu sungguh membuat hatinya berbunga bunga
" nggak tiba tiba juga...hanya saja kemaren aku lupa ngasih tahu kamu..." terang Yandi berbohong,
karena yang sebenarnya ini memang tiba tiba karena Irfan yang akan datang ke kantornya sedangkan dirinya yang harus mengecek proyeknya sendiri dan ia tak mau Irfan menemui Nayra selama dirinya tidak ada.
Tak berapa lama kemudian mobil yandi berhenti di sebuah proyek pembangunan bangunan yang sangat besar,
beberapa orang nampak keluar dan Yandi menyalami serta menyapa mereka lebih dulu, sungguh akhlak yang membuat Nayra tercengang, Yandi terlahir dari keluarga yang kaya raya dan terpandang semua tahu itu,
dia juga lulusan luar negri, namun akhlaknya sungguh patut di acungi jempol dan nayra sudah melihatnya dua kali,
Nayra pun mengikuti Yandi dengan tersenyum sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.
" bagaimana pak dadang...lancar kah ?! " tanya Yandi kepada orang yang nampaknya mandor proyek itu
" alhamdulillah lancar den...kalau boleh tahu...?! " tanya pria paruh baya itu sopan kearah Nayra
" ah iya kenalkan...dia calon istri saya..." yandi memperkenalkan Nayra dan Nayra menyambut dengan senyuman dan tetap melipat kedua tangannya di dada,
reaksi yang membuat jantung Yandi seakan berloncatan karena merasa nayra sudah mau menerima dirinya.
" kapan rencananya den....?!"
" secepatnya...doakan saja pak dadang ya..."
" tentu den tentu....mari saya temani melihat lihat kedalam...." kemudian mereka melangkah kedalam setelah sebelumnya Yandi menggenggam lengan Nayra yang tertutup lengan bajunya
" hati hati...ada banyak benda tajam disini..." bisiknya lembut dan Nayra mengangguk pelan.
Cukup lama mereka berkeliling hingga memasuki waktu dzuhur mereka baru nampak keluar proyek,
Yandi berjalan menuju masjid yang lumayan dekat dengan proyek diikuti Nayra yang terus saja ia gandeng.
" capek ya....."
" lumayan..." jawab Nayra dan duduk di pinggiran masjid setelah mereka shalat, Yandi tersenyum tipis
" ada apa...?! " tanya Nayra bingung dengan senyuman Yandi
" kau ingat..kita pernah berada di posisi seperti ini dulu...." ucap Yandi membuat Nayra mengernyit
" hanya bedanya...dulu kau begitu terasa jauh meski kau berada dekat dariku, dan sekarang kau berada dekat lagi denganku seperti dulu, tapi sekarang terasa berbeda...apalagi sekarang...." Yandi tak menyelesaikan ucapannya,
" sekarang apa..." Nayra bertanya lagi
" dan sekarang kau milikku...." jawab Yandi sambil menatap lekat wajah Nayra membuat gadis itu salah tingkah dan membuang pandangannya kearah lain dan sedikit melipat bibirnya mencoba menutupi perasaannya yang campur aduk.
" bedanya tidak ada mantan pacarmu itu..." selanya kemudian dan gantian membuat Yandi mengernyitkan keningnya
" pacarku....siapa...?! "
" tak tahulah..." jawab Nayra asal membuat Yandi kembali tersenyum tipis mengingat siapa yang di maksud Nayra
" maritha bukan pacarku nay....kami hanya berteman saja "
" terserah kaulah..." cuek Nayra
" seriusan nay...., aku memang punya pacar waktu
itu, tapi bukan maritha.."
Yandi mencoba menjelaskan
" dan sunggyh kau sudah menggeser posisinya di
hatiku waktu itu tanpa ku sadari, dan aku kau buat seperti orang gila nay karena sikapmu yang acuh padaku..." kembali Yandi menjelaskan keadaan hatinya waktu itu.
Yandi terus saja menggoda Nayra dengan terus menatap wajahnya
" liat apasih..gak sopan tahu..." hardik Nayra jengkel karena ia yang merasa malu setengah mati
" liat calon istriku....kamu cantik sekali nay, hampir tadi kukira aku liat bidadari di rumahmu..." jawab Yandi dengan tetap menatap wajah di hadapannya itu
" aku masih tidak percaya...kita akan saling mencintai karena kau membalas cintaku..." goda Yandi
" kita siapa...kamu aja kali..." jawab Nayra sambil berdiri
" ckk...." decak Yandi ikut berdiri kemudian meraih tangan Nayra menuju mobilnya,
sekali lagi hatinya terasa bersorak karena Nayra tak menolak pegangan tangannya.
Akhirnya selesai melaksanakan kewajibanya keduanya nampak berpamitan dan meninggalkan area proyek
" ada apa...apa ada masalah?? " tanya Nayra tiba tiba ketika mereka telah ada di sebuah foodcaourt
" hah...." Yandi menengadah
" kau terlihat berbeda sejak berangkat tadi pagi..!! " tanya Nayra lagi.
Yandi menghela nafas.
" kita langsung nikah aja ya....lagi usia kita juga sudah sangat pantas kan untuk menikah, aku janji aku akan tetap kasih seserahan lamaran meski kita langsug menikah..." rengek Yandi panjang lebar lagi
" dua bulan kelamaan nay, aku takut kamu berubah pikiran.."
" aku belum siap yan...hatiku masih sangat sakit setip kali aku teringat ucapanmu dulu, aku masih berusaha mengobati dan berdamai dengan keadaan, mengertilah..." jawab Nayra membuat Yandi terdiam membisu
" tunggu di sini..aku ambilkan kamu minum" katanya kemudian yang di jawab Nayra dengan anggukan kepala,
kemudian dia berjalan menuju gerai minuman.
Nayra sedang mengutak atik handphonenya ketika sebuah suara mengejutkannya
" nayra...." sapa seorang pria tampan yang tiba tiba berdiri di samping ia duduk
" rein....!? " kejut Nayra, ya pria tampan itu adalah Reino Wijatmoko teman sma nya dulu
" kau sudah banyak berubah nay...kau sangat cantik...!! " puji Rein menatap Nayra tak berkedip kemudian duduk di hadapan Nayra tempat Yandi tadi duduk.
" kamu apa kabar..." tanya Rein sambil menyodorkan tangannya
" seperti yang kau lihat...aku baik baik saja.." jawab Nayra dengan melipat kedua tangannya tanpa menerima uluran tangan Rrein, Rein menghela nafas berat.
Tanpa di ketahui Nayra interaksinya di lihat Yandi dari kejauhan dan tersungging senyum di bibirnya.
" kau sendirian saja....apakah kau ada waktu, sepertinya kita harus bicara nay...."
" tidak aku..." Nayra belum sempat menyelesaikan kalimatnya sudah terpotong
" rein.....!!!" sapa Yandi tiba tiba membuat Rein mendongak menatapnya
" yan....kau...disini...?! " tanya Rein tak percaya, Yandi kemudian duduk di samping Nayra dan menyerahkan minuman yang ia beli pada Nayra dan di terima dengan senyuman oleh gadis itu,
pemandangan yang cukup membuat hati pria yang
duduk di hadapan mereka itu miris.
" aku melihat nayra dan aku kesini....kami akan..."
Kali ini kalimat Rein yang terpotong
" nayra datang bersamaku rein..." potong Yandi, hatinya sunggug tak terima dengan tingkah Rein yang seakan menghak i Nayra
" yan ...aku dan nayra..."
" nayra calon istriku rein..." pungkas Yandi kemudian dan kembali membuat Rein terdiam membisu,
ia beralih menatap Nayra, gadis itu tampak tenang dan sama sekali tak kelihatan menyanggah ucapan Yandi.
Yandi berdiri dan menautkan jemari Nayra pada jemarinya membuat Rein terus menatapnya mengingat tadi Nayra menolak bersalaman dengannya tapi sekarang Yandi justru menggenggam jemarinya dan Nayra diam saja.
" kami pamit dulu...." pamit Yandi hendak berlalu namun kembali berkata
" datanglah kepernikahan kami, kami akan sangat senang..." katanya lagi lalu benar benar pergi dengan tetap menggandeng Nayra, Rein terdiam membisu.
Ia sungguh tak percaya, apa ia salah lihat, apakan ini hanya halusinasinya saja.
Yang ia tahu yandi berada di luar negri dan menjalin hubungan dengan Maritha karena hubungannya dengan Bunga yang telah kandas ...tapi apa ini, Yandi akan menikahi Nayra.
Tidak mungkin....desisnya gusar.
Berada dalam mobil nayra terdiam membisu
" kau marah aku membawamu pergi dari sana..." tanya Yandi pada nayra
" tidak..." jawab Nayra singkat
" apa kau mencintainya....!!? " tanyanya lagi membuat Nayra menoleh padanya, untuk sesaat keduanya saling bertatapan
" kalau aku mencintainya...apa kau akan melepaskanku dan membatalkan lamaranmu...!? " tanya Nayra,
Yandi terdiam kemudian melempar pandangannya ke luar jendela
" tidak akan...aku akan tetap menikahimu..."
" meski aku tidak mencintaimu...." sekali
pertanyaan Nayra membuat Yandi menatapnya lekat lekat
" cukup aku yang mencintaimu nay, cukup hanya aku yang mencintaimu....aku akan sabar menunggu kau mencintaiku, meski jika hari itu tak kunjung tiba..aku akan tetap mencintaimu dan menunggu..." jawab Yandi
" aku yakin kebersamaan akan mengobati luka di hatimu karena ku, dan kau akan bisa menerima ku..." putus Yandi kemudian menjalankan mobilnya menjauh dari tempat itu,
sepanjang perjalanan Nayra membisu hingga Nayra meminta berhenti di depan sebuah kedai bakso sederhana
" disini....?! " Yandi bertanya meyakinkan
" hmmm...kau keberatan...?!" tanya Nayra
" tidak...hanya saja terlalu ramai, aku tidak mau kamu berdesakan dengan pria lain.." omel Yandi
" kamu tunggu disini..tidak usah keluar " perintahnya yang di angguki Nayra sembari tersenyum.
Yandi masuk kedalam kedai, beberapa menit kemudian ia keluar dengan membawa dua mangkok bakso dan memberikannya pada Nayra.
Nayra menerima satu mangkok dan menaruhnya di dasboard mobil kemudian meminta lagi yang di tangan Yandi
" kemarikan...duduklah.." katanya meminta dan Yandi menurutinya
" makanlah.." Nayra menyuapinya setelah ia duduk, Yandi tersenyum lebar dan menerima suapan Nayra
" biar aku makan sendiri...kamu juga lapar kan.." Yandi meminta tak enak hati
" tak apa...biar sedikit dingin, kau bilang akan lebih enakkan di suapi oleh ku...?! "
" tentu saja..." jawab Yandi senang seperti anak kecil yang kemaunnya dituruti, dan jadilah Nayra menyuapi Yandi hingga habis baru ia makan dengan sesekali Yandi mengelap dahi Nayra yang berkeringat
" tidak usah..aku bisa sendiri..." kata Nayra hendak mengambil tisu di tangan Yandi namun di tampik pria itu
" tidak apa...aku senang..." jawabnya sambil tersenyum.
Ah pemandangan yang akan membuat hati panas dingin siapa saja yang melihatnya.