Diusir dari desa karena fitnah kemiskinan, Bumi terdampar di kerasnya ibu kota sebagai kuli panggul pasar yang kerap. Satu-satunya alasan ia bertahan hidup adalah Alya, gadis sederhana yang tulus merawat luka-lukanya.
Nasib Bumi berubah total setelah ia di beri ramuan ajaib oleh kakek misterius yang membuat perubahan pada tubuh dan otaknya. Terbangun dengan kecerdasan mutlak sekelas superkomputer, Bumi bertransformasi menjadi The Ghost Trader—raja saham baru yang ditakuti di dunia bisnis. Ia bahkan berhasil menyelamatkan perusahaan milik Kirei, seorang CEO wanita dingin yang akhirnya jatuh hati pada harga diri Bumi.
Namun, berdiri di puncak takhta berarti mengundang badai. Adrian, konglomerat kejam sekaligus rival asmaranya, siap menghancurkan Bumi lewat sabotase berdarah. Di tengah perang bisnis yang mematikan, hati Bumi juga terkoyak dalam dilema pelik antara ketulusan Alya dari masa lalunya, atau pengorbanan Kirei yang mempertaruhkan nyawa demi masa depannya.
Mampukah mantan ku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Selamat Datang di Ibu Kota
Lampu-lampu kota mulai menyala terang benderang ketika mobil bak terbuka milik Kang Kardi memasuki kawasan pasar induk yang luar biasa luas. Hiruk-pikuk klakson truk, teriakan para pedagang, dan bau khas sayuran segar bercampur asap knalpot langsung menyergap indra penciuman Bumi. Bumi menatap keluar jendela dengan mata tidak berkedip. Ibu kota memang begitu megah dengan gedung-gedung tinggi yang mengepung area itu, namun di saat yang sama terasa sangat asing dan mengintimidasi bagi pemuda desa sepertinya.
Di dalam kantong celananya yang lusuh, tangan Bumi menggenggam erat-erat sapu tangan kain berisi uang tabungan pemberian Mak Sumi. Uang itu adalah pelindung terakhirnya, dan ia bersumpah tidak akan membelanjakannya jika tidak benar-benar darurat.
"Nah, Bum, kita sudah sampai di lapak langganan gua," kata Kang Kardi sambil memutar kemudi dan memarkirkan mobil baknya di dekat sebuah gudang besar bertuliskan 'Sinar Jaya'.
Bumi turun dari mobil, memeluk tas karung goninya dengan erat. Tubuhnya masih terasa agak kaku dan perih, tetapi rasa takjub sekaligus gugup mengalahkan rasa sakitnya.
"Gila ya, Kang. Pasarnya gede banget. Ini orang semua yang di dalam?" tanya Bumi dengan polos sambil memperhatikan lautan manusia yang berlalu-lalang memanggul karung.
Kang Kardi tertawa kecil sambil turun dari pintu kemudi. "Hahaha, iya, Bum. Ini baru satu sudut pasar induk. Makanya gua bilang kamu jangan melamun, bisa ketabrak gerobak nanti. Ayo, ikut gua ke dalam, gua kenalin sama mandor di sini."
Bumi berjalan mengekor di belakang Kang Kardi, menerobos kerumunan orang yang sibuk bongkar muat sayuran. Mereka berhenti di depan sebuah meja kayu tinggi tempat seorang pria berbadan tegap dengan kaos kutang hitam dan handuk kecil di leher sedang mencatat sesuatu di buku log.
"Oi, Bang badrun! Sehat, Bang?" sapa Kang Kardi akrab sambil menepuk pundak pria itu.
Mandor Badrun menoleh, lalu tersenyum lebar hingga memperlihatkan giginya yang agak kekuningan akibat asap rokok. "Eh, Kardi! Telat lu hari ini. Mana barangnya?"
"Ada di bak belakang, Bang. Biasa, jalanan pinggir kota macet parah," jawab Kang Kardi. "Oh ya, Bang. Ini gua bawa anak muda dari desa gua, namanya Bumi. Dia lagi nyari kerjaan apa aja di sini. Borongan atau harian juga siap. Orangnya rajin, tekun, dan gak banyak tingkah. Titip ya, Bang."
Mandor Badrun mengalihkan pandangannya ke arah Bumi. Ia memperhatikan baju lusuh Bumi dan bekas memar kebiruan di wajahnya dari atas sampai bawah. "Namanya Bumi? Itu mukamu kenapa bonyok-bonyok begitu? Habis berantem ya?"
Bumi agak gugup, namun ia berusaha menjawab dengan jujur dan sopan. "Enggak, Bang Badrun. Ini... kemarin ada sedikit musibah di desa. Tapi saya jamin, saya masih kuat banget buat kerja kasar. Angkat-angkat karung saya sudah biasa, Bang."
"Dia anak yatim piatu yang jujur, Bang Badrun. Gua yang jamin seratus persen. Gak bakal ngecewain lu deh," potong Kang Kardi mencoba meyakinkan temannya.
Mandor Badrun mengembuskan asap rokoknya ke udara, lalu mengangguk-angguk. "Ya sudah, kebetulan malam ini ada dua truk fuso muatan kol sama kentang baru datang dari Sumatera. Tenaga kuli panggul gua ada yang izin sakit dua orang. Kamu bisa langsung kerja sekarang, Bum? Sistemnya borongan, per truk selesai langsung gua bayar tunai."
Bumi langsung membungkuk sedikit dengan mata berbinar penuh rasa syukur. "Bisa, Bang! Bisa banget! Sekarang juga saya siap kerja."
Kang Kardi menepuk bahu Bumi dengan bangga. "Nah, kan, apa gua bilang. Orang baik pasti ketemu jalan yang baik. Ya sudah, Bum, gua tinggal dulu ya. Gua mau urus administrasi sayuran gua di sebelah, habis itu gua harus langsung balik ke daerah luar kota lagi."
Bumi menggenggam tangan Kang Kardi dengan sangat erat, matanya berkaca-kaca. "Kang Kardi... saya bener-bener gak tahu harus bilang makasih kayak gimana lagi. Kebaikan Kang Kardi dari jalan besar tadi sampai nemuin kerjaan ini... saya gak bakal lupain seumur hidup, Kang."
"Halah, sesama orang susah jangan kayak sama siapa aja. Yang penting kamu kerja yang bener di sini, jaga kepercayaan Bang Badrun. Dan ingat kalau bisa kamu jangan pulang sebelum sukses," bisik Kang Kardi sambil tersenyum hangat.
"Iya, Kang. Saya janji."
"Gua pamit ya. Assalamu’alaikum, Bum."
"Wa’alaikumussalam, Kang. Hati-hati di jalan." Bumi menatap kepergian mobil bak Kang Kardi yang perlahan menghilang di antara kerumunan truk, merasa satu-satunya ikatan dengan desanya telah pergi.
"Heh, Bumi! Malah melamun lu! Ayo sini, ambil goni kosong, langsung gabung sama tim di bak truk nomor tiga!" teriak Mandor Badrun membuyarkan lamunan Bumi.
"Siap, Bang Badrun!" jawab Bumi lantang. Ia meletakkan tas karung goninya di pojok meja Mandor Badrun agar aman, lalu berlari menuju truk fuso yang dimaksud.
Malam itu, Bumi membuktikan kata-katanya. Di bawah siraman lampu sorot pasar yang temaram, ia mulai mengangkut karung-karung berisi kol yang beratnya mencapai puluhan kilogram. Setiap kali karung besar itu menekan pundaknya, rasa perih di luka memarnya kembali menjalar, namun Bumi mengertakkan giginya. Ia mengingat wajah Doni yang menghinanya, ia mengingat gubuknya yang terbakar, dan ia mengingat ketulusan Mak Sumi. Semua itu ia jadikan bahan bakar untuk terus bergerak.
"Wah, anak baru ini gila juga ya fisiknya. Gak ada capeknya dari tadi," bisik salah satu kuli senior bernama bendot kepada temannya saat mereka sedang beristirahat sejenak minum air di sela bongkar muat.
Bumi yang mendengar itu hanya tersenyum ramah sambil menyeka keringat yang bercucuran deras di dahinya menggunakan kaosnya. "Mumpung masih muda, Kang. Harus semangat."
Kerja keras Bumi berlanjut hingga larut malam. Truk kedua akhirnya selesai dibongkar tepat saat jam dinding di pos pasar menunjukkan pukul sebelas malam. Tubuh Bumi rasanya sudah hampir mati rasa karena kelelahan yang teramat sangat.
Bumi berjalan tertatih kembali ke meja Mandor Badrun untuk mengambil tas karungnya sekalian menerima upahnya.
"Kerja bagus, Bum. Kamu beneran tekun, gak banyak mengeluh kayak kuli-kuli kota yang dikit-dikit minta istirahat," puji Mandor Badrun sambil menyodorkan beberapa lembar uang kertas baru kepada Bumi. "Nih, upah boronganmu malam ini."
Bumi menerima uang itu, menghitungnya sekilas, lalu tersenyum bersyukur. "Alhamdulillah, terima kasih banyak ya, Bang Badrun. Besok-besok kalau ada muatan lagi, tolong panggil saya lagi ya, Bang."
"Gampang, tiap malam juga ada truk masuk di sini. Asal kamu kuat aja," kata Mandor Badrun sambil berkemas mau pulang. "Eh, omong-omong, kamu tinggal di mana sekarang? Ini sudah larut malam banget."
Bumi terdiam sejenak, menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Anu, Bang... jujur saya belum punya tempat tinggal. Rencananya saya mau cari kontrakan kecil-kecilan besok."
"Walah, uang upahmu malam ini mana cukup buat bayar kontrakan di ibu kota, Bum. Di sini kontrakan harus bayar bulanan di depan, belum lagi uang depositnya," jelas Mandor Badrun realistis.
"Oh, begitu ya, Bang? Ya sudah, gak apa-apa. Malam ini saya cari tempat seadanya dulu aja buat tidur," jawab Bumi dengan nada santai, tidak ingin terlihat mengasihani diri sendiri.
"Ya sudah, hati-hati kamu. Ibu kota kalau malam rawan kejahatan," pesan Mandor Badrun sebelum akhirnya berjalan pergi meninggalkan area gudang.
Bumi berjalan keluar dari area pasar induk yang mulai sedikit melandai aktivitasnya. Rasa lelah yang luar biasa membuat matanya sudah sangat mengantuk. Ia berjalan menyusuri trotoar jalan besar di luar pasar, mencari tempat yang sekiranya aman untuk memejamkan mata.
Langkah kakinya berhenti di depan sebuah ruko berlantai tiga yang pintu harmonika besinya sudah tertutup rapat dan digembok. Di emperan ruko yang beralaskan semen keras itu, ternyata sudah ada sekitar belasan orang yang tidur berjejeran. Ada pengemis tua dengan pakaian compang-camping, pemulung yang tidur berbantalkan karung berisi botol plastik, dan anak-anak jalanan yang saling berpelukan menahan dinginnya angin malam kota.
Bumi menatap ruang kosong yang tersisa di pojok emperan ruko tersebut. Tempatnya sempit, agak kotor, dan baunya kurang sedap. Namun, sebagai orang yang biasa hidup kekurangan dan baru saja kehilangan segalanya, Bumi yang baik dan sabar sama sekali tidak mempermasalahkan kondisi tersebut.
"Permisi, Pak, Kek... saya numpang rebahan di sebelah sini ya," bisik Bumi dengan sangat sopan kepada seorang kakek pemulung yang terbangun sebentar karena kedatangannya.
Kakek itu hanya mengangguk pelan tanpa suara, lalu kembali menarik kain sarung kusamnya untuk menutupi tubuhnya dari gigitan nyamuk malam.
Bumi meletakkan tas karung goninya di lantai semen, memposisikannya sedemikian rupa agar bisa dijadikan bantal untuk kepalanya. Ia kemudian merebahkan tubuhnya yang penuh memar di atas semen dingin tanpa alas apa pun. Sambil menatap langit-langit kanopi ruko yang gelap, Bumi menyentuh kembali saku celananya, memastikan uang dari Mak Sumi dan uang hasil kerjanya malam ini masih aman di sana. Uang itu memang belum cukup untuk menyewa kamar kontrakan yang layak, tapi bagi Bumi, itu adalah awal dari perjuangan panjangnya.
Dengan hati yang lapang, tanpa rasa mengeluh sedikit pun atas nasibnya yang harus tidur berdesakan di emperan toko bersama kaum pinggiran kota, Bumi perlahan memejamkan matanya, membiarkan rasa lelah membawanya masuk ke dalam tidur yang lelap di bawah langit ibu kota yang dingin.