Sejak kecil, Josh memiliki teman yang tak bisa dilihat siapa pun. Tiga belas tahun kemudian, teman itu kembali. Bersama Veron, Brandon, dan Gibran, ia mengungkap misteri yang telah terkubur selama puluhan tahun. Namun semakin dekat pada kebenaran, semakin dekat pula mereka pada kematian. Karena... tidak semua teman yang tak terlihat datang dengan niat baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CRZ CREW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 — Kejadian Pertama
Selama tiga hari berturut-turut, pola yang sama terus berulang tanpa ampun. Josh selalu terbangun tepat pukul 02.02, tanpa alasan jelas, seolah tubuhnya telah diprogram ulang untuk sadar di detik yang persis sama setiap malam. Dan setiap kali ia terbangun, selalu ada satu hal kecil yang terasa berbeda di sekitarnya posisi buku di meja belajarnya bergeser beberapa senti dari tempat semula, pintu lemari yang ia yakin betul sudah ditutup rapat malah terbuka sedikit, atau suara langkah kaki pelan di lantai bawah padahal seisi rumah seharusnya sedang tertidur lelap.
Ia mulai mencatat semuanya secara diam-diam di sebuah buku catatan kecil yang ia sembunyikan di laci meja, bukan karena berniat menyelidikinya secara serius, melainkan sekadar untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak sedang mengada-ada atau kehilangan akal sehatnya sedikit demi sedikit.
Sore itu, sepulang sekolah, Gibran memaksa mampir ke rumah Josh, membawa dua bungkus keripik pedas kesukaan mereka berdua dan niat untuk bermain game bersama seperti kebiasaan lama sebelum ujian-ujian mulai menyita waktu mereka.
"Udah lama banget nggak main ke sini,"
kata Gibran riang sambil melepas sepatunya asal-asalan di teras.
"Rumah lo masih sama aja, adem, enak buat mager.
Mereka duduk berdampingan di ruang tengah, televisi menyala menampilkan menu gim yang masih dimuat, sementara Gibran sibuk bercerita tentang video lucu yang ia tonton semalam. Josh mendengarkan sambil sesekali tertawa, mencoba menikmati momen sederhana itu seperti dulu, sebelum semua keanehan ini dimulai.
Namun di tengah keseruan mereka, tiba-tiba lampu ruang tengah berkedip dua kali dengan cepat, lalu mati sepenuhnya selama beberapa detik yang terasa jauh lebih panjang dari seharusnya, sebelum akhirnya menyala kembali seperti tidak terjadi apa-apa.
"Lah, listrik di sini suka gitu ya?"
tanya Gibran sambil menoleh ke sekeliling ruangan, tidak terlalu curiga, hanya sekadar bertanya.
"Nggak pernah,"
jawab Josh pelan, matanya secara refleks menoleh ke arah jam dinding tua di sudut ruangan yang selama beberapa hari terakhir selalu berhenti di angka yang sama.
Anehnya, kali ini jarumnya bergerak normal, menunjukkan pukul lima sore sesuai waktu sebenarnya. Namun tepat selama sepersekian detik saat lampu tadi sempat mati, Josh yakin sekali ia melihat pantulan samar sosok berjas hitam berdiri tepat di belakang Gibran, terpantul jelas di layar televisi yang sempat menghitam sebelum kembali menyala.
Ia berkedip cepat. Bayangan itu sudah tidak ada lagi begitu layar kembali terang.
"Josh? Lo kenapa diem aja dari tadi?"
Gibran melambaikan tangan tepat di depan wajah Josh, sedikit khawatir melihat sahabatnya membeku tanpa reaksi.
"Nggak apa-apa,"
Josh menjawab cepat, mencoba menormalkan napasnya yang sempat tercekat di tenggorokan, jantungnya masih berdebar kencang meski ia berusaha keras menyembunyikannya. Setelah Gibran pulang menjelang malam, Josh duduk sendirian di kamarnya, menatap catatan kecil yang telah ia tulis selama beberapa hari terakhir. Semua kejadian aneh itu tampak terlalu banyak untuk sekadar kebetulan, namun juga terlalu tidak masuk akal untuk diceritakan kepada orang lain tanpa risiko dianggap gila atau kurang tidur.
Ia menutup buku catatannya, mematikan lampu kamar, dan berbaring menatap langit-langit yang temaram, mendengarkan detak jantungnya sendiri yang masih belum sepenuhnya tenang.
Tepat sebelum matanya benar-benar terpejam, ia mendengar suara berbisik begitu pelan hingga nyaris tak terdengar, namun cukup jelas untuk membuat seluruh bulu kuduknya berdiri serentak.
Suara itu memanggil namanya, pelan namun jelas, seolah berasal dari sudut kamar yang paling gelap.
"Josh..."
Ia bangkit duduk seketika, jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa hendak meloncat keluar dari dadanya, matanya menyapu sekeliling kamar yang gelap dan sunyi. Tidak ada siapa-siapa di sana, tidak ada bayangan bergerak, hanya kegelapan pekat yang seolah menyimpan sesuatu di baliknya.
Namun jam di mejanya, yang beberapa menit lalu masih menunjukkan pukul sebelas malam, kini menyala menampilkan angka yang sudah sangat familiar baginya.
02.02.
Ia duduk mematung di ranjangnya cukup lama, memandangi pintu kamar yang tertutup rapat, seolah menunggu sesuatu terjadi lagi. Namun malam itu tidak ada lagi kejadian aneh yang menyusul hanya keheningan yang terasa jauh lebih berat dari biasanya, seolah sesuatu di luar sana sedang mengamati dan menunggu waktu yang lebih tepat untuk kembali muncul di hadapannya. Ia meraih selimutnya, menariknya hingga menutupi sebagian wajah, sebuah kebiasaan masa kecil yang sudah lama ia tinggalkan namun entah kenapa terasa perlu ia lakukan malam itu.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Josh menyadari sepenuhnya bahwa apa pun yang sedang terjadi padanya, itu bukan sekadar kebetulan atau efek kurang tidur semata. Ada sesuatu atau seseorang yang sedang mengamatinya dengan sangat dekat, sesuatu yang tahu persis namanya, dan yang lebih mengerikan lagi, sesuatu yang sepertinya baru saja mulai menunjukkan diri secara terang-terangan.
Dan di kegelapan kamarnya yang sunyi, Josh bisa bersumpah ia mendengar suara detak jam yang melambat perlahan, seolah waktu itu sendiri sedang menahan napas, menunggu sesuatu yang lebih besar untuk terjadi.
Ia tidak tahu berapa lama ia terjaga malam itu, menatap kegelapan kamarnya sambil menghitung detak jantungnya sendiri, mencoba meyakinkan diri bahwa pagi akan segera tiba dan membawa serta rasa aman yang biasa ia rasakan di bawah sinar matahari. Namun jauh di lubuk hatinya, ia tahu betul bahwa sesuatu telah berubah selamanya sejak malam itu, dan tidak ada jumlah cahaya matahari pun yang bisa sepenuhnya mengembalikan rasa aman yang telah hilang.
...****************...
Next Besok 02.02