NovelToon NovelToon
Beladiri Yang Mencapai Puncak Cakrawala

Beladiri Yang Mencapai Puncak Cakrawala

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Kultivasi
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: JokyWong

Dunia di mana kekuatan adalah satu-satunya hukum, Luo Chen lahir sebagai "sampah" dengan bakat yang menyedihkan. Dihina, dikucilkan, dan dipandang sebelah mata oleh klan sendiri—namun, ia memiliki satu hal yang tidak dimiliki para jenius: Keinginan untuk bertahan hidup yang melampaui batas kewarasan dan tekad yang sanggup meruntuhkan hukum Langit dan Bumi.Tidak ada warisan agung, tidak ada guru besar, hanya teknik bela diri kuno yang terlupakan dan pil racikan dari tanaman liar. Ini bukan sekadar kisah bangkitnya seorang kultivator, ini adalah perjalanan penuh darah dan keringat untuk membuktikan bahwa takdir hanyalah belenggu yang harus dihancurkan. Akankah Luo Chen mengguncang langit, atau ia akan terkubur selamanya dalam ketidakadilan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JokyWong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Evolusi Xiao Lin

Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian pertemuan di Paviliun Seribu Obat. Begitu tiba di depan halaman gubuk kayu reyot keluarganya, ia langsung mengambil kapak besi besar di dekat tumpukan kayu, memutuskan untuk segera menyelesaikan tugas hariannya merapikan sediaan kayu bakar.

"Persiapan kayu bakar untuk kebutuhan satu minggu ke depan harus kuselesaikan hari ini sebelum keberangkatanku ke kawasan Hutan Seribu Jaring," batin Luo Chen mengangkat kapak besi berat tersebut menggunakan kekuatan tangan kanannya yang kini terasa sangat ringan layaknya memegang sebatang ranting kering kecil.

"Kekuatan fisik tahap ketujuh ini benar-benar membuat pekerjaan berat ini terasa sangat mudah." Satu belahan kapak besi meluncur lurus ke bawah, memotong batang kayu ek tebal di atas landasan batu dengan sekali tebas tanpa ada sisa serat kayu yang tersangkut, menyebarkan suara benturan tumpul yang nyaring di sekitar halaman

gubuk yang sunyi. Di sudut halaman, Xiao Lin tampak melompat-lompat kecil mengigit sebatang ranting bambu kering, seolah-olah ingin ikut membantu merapikan sisa-sisa belahan kayu tersebut ke dalam keranjang bambu.

"Minumlah air hangat ini terlebih dahulu, Chen'er. Kau sudah membelah kayu bakar dan mengangkat dua ember air besar dari sumur desa sejak pagi tadi," ujar Mu Xue

melangkah keluar dari dalam gubuk, menyerahkan sepasang cangkir porselen berisi air hangat kepada putranya dengan senyum lembut di wajahnya yang kini

tampak lebih segar.

"Terima kasih, Ibu. Setelah menghabiskan air ini, aku akan segera merapikan sisa tumpukan jerami di kandang belakang," sahut Luo Chen menerima cangkir porselen tersebut dan meminum air hangatnya dalam satu tarikan napas panjang yang konstan.

"Apakah kau berencana untuk pergi melakukan perjalanan jauh lagi dalam beberapa hari ke depan, Chen'er?" tanya Mu Xue menyeka sisa keringat di pelipis putranya menggunakan selembar saputangan bersih. "Aku melihatmu sudah mulai merapikan beberapa perbekalan makanan kering di dalam kamar tadi pagi."

"Iya, Ibu. Aku harus pergi mengikuti perjalanan ekspedisi pencarian herba spiritual langka bersama dengan pihak Paviliun Seribu Obat selama beberapa hari," jawab Luo Chen meletakkan cangkir kosongnya kembali ke atas nampan kayu. "Jangan khawatir, pihak paviliun telah berjanji untuk mengirimkan pengawal tepercaya untuk mengawasi keselamatan gubuk ini secara diam-diam selama aku pergi."

Di halaman depan gubuk yang bersih, langkah kaki berat Luo Hao mendadak terdengar melangkah keluar membawa sepasang sarung tinju kulit tua milik klan utama yang telah berdebu. Pandangan mata pria paruh baya tersebut tampak berkilat tajam menatap ke arah putranya dengan posisi tubuh tegap yang telah pulih sepenuhnya.

"Chen'er, kemarilah. Mari kita bertukar beberapa gerakan fisik dasar klan di halaman ini," ujar Luo Hao melemparkan salah satu sarung tinju kulit ke arah Luo Chen, suaranya terdengar tegap dan penuh wibawa seorang mantan praktisi kuat. "Aku ingin menguji secara langsung sejauh mana kepadatan dan koordinasi kekuatan fisik tubuh tahap ketujuhmu sebelum kau pergi meninggalkan wilayah kota."

"Baik, Ayah. Mohon bimbingannya dalam latihan tanding hari ini," sahut Luo Chen menangkap sarung tinju kulit tersebut dengan satu gerakan tangan kanan yang sangat cepat, lalu memasangnya dengan erat di pergelangan tangannya.

Sambil mengambil kuda-kuda rendah di tengah halaman tanah liat yang kering, Luo Chen memfokuskan seluruh konsentrasi pandangan matanya ke arah pergerakan kaki

ayahnya.

Satu sabetan angin dari kepalan tangan kanan Luo Hao meluncur cepat memotong arah dadanya, melepaskan "Jurus Tapak Angin" klan Luo yang telah dialiri oleh

energi Qi Manifestasi tingkat satu murni. Kecepatan sabetan tapak tersebut memicu berputarnya kepulan debu tanah di bawah kaki mereka dengan suara

dengungan yang cukup berat.

"Gunakan Langkah Petir untuk menghindari benturan energi Qi Manifestasi ini secara langsung!" batin Luo Chen memiringkan tubuhnya ke samping dalam jarak beberapa sentimeter dari lintasan pukulan ayahnya.

Kedua kepalan tangan mereka mendadak saling beradu di udara kosong ketika Luo Chen melepaskan serangan balasan menggunakan "Tinju Dasar klan Luo" tahap ketujuh yang padat. Benturan keras antara kekuatan fisik murni dan energi Qi spiritual tersebut menghasilkan suara hantaman tumpul yang sangat nyaring,

menyebarkan gelombang angin kecil ke segala arah yang merontokkan beberapa daun kering di atas tanah halaman. "Kekuatan fisik Chen'er benar-benar sangat padat dan solid. Bahkan tanpa adanya bantuan energi Qi di dalam nadinya, ia mampu menahan sisa getaran energi tingkat Manifestasi Qi milikku tanpa bergeser satu langkah pun!" batin Luo Hao

menarik kembali kepalan tangannya setelah bertukar sepuluh gerakan fisik cepat dengan putranya, wajahnya dipenuhi oleh rasa takjub yang luar biasa di dalam hatinya.

"Cukup, Chen'er! Latihan tanding hari ini sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan kesiapan fisikmu," ujar Luo Hao melepaskan sarung tinju kulitnya dengan napas yang berembus teratur, menatap putranya dengan pandangan

mata penuh rasa bangga yang mendalam.

"Aliran energi Qi di dalam ulu hati Ayah sudah kembali stabil sepenuhnya, dan kepadatan energinya terasa jauh lebih kokoh daripada sebelum dantiannya hancur," batin Luo Chen menurunkan kembali posisi kuda-kudanya, menyeka sisa debu di lengan jubah biru tuanya dengan gerakan tenang.

Suara mencicit parau yang gembira terdengar dari arah sudut halaman saat Xiao Lin melompat ringan dari atas batu, mendarat tepat di atas pundak kanan Luo Chen

seraya ikut merayakan hasil latihan tanding tersebut.

"Koordinasi fisik dan refleks gerak cepat Langkah Petir milikmu sangat luar biasa, Chen'er," ujar Luo Hao melangkah mendekat, memegang pundak putranya dengan erat.

"Di dalam kawasan Hutan Seribu Jaring nanti, bahaya sesungguhnya bukan hanya datang dari binatang spiritual liar, melainkan dari keserakahan praktisi lain. Selalu percayai insting fisikmu dan jangan pernah meremehkan pergerakan lawan. Dan satu hal lagi yang paling penting, kau harus kembali dengan keadaan selamat."

"Baik yah, Aku akan selalu mengingat seluruh nasihat Ayah di sepanjang perjalanan nanti," jawab Luo Chen menatap lurus ke dalam manik mata ayahnya dengan pandangan mantap tanpa keraguan sedikit pun.

Setelah menyelesaikan latihan tanding dan makan malam bersama, Luo Chen segera kembali melangkah masuk ke dalam kamar tidurnya yang kecil untuk merapikan

kembali sisa perbekalan herba dan botol obatnya.

Satu gerakan kepala kecil Xiao Lin mendadak menyembul keluar dari dalam saku jubah jubah biru tuanya, mengendus-endus udara dengan mencicit parau

menunjuk-nunjuk ke arah botol giok hijau berisi sisa Pil Pengondensasi Roh Kuno tingkat dua yang tergeletak di atas meja kayu kamarnya.

"Kau menyukai aroma padat dari pil tingkat dua ini, Xiao Lin?" tanya Luo Chen tersenyum tipis, membuka sumbat botol giok hijau tersebut untuk mengambil tiga butir pil hijau zamrud dan meletakkannya di atas meja. "Makanlah, ini akan membantu mempercepat penguatan struktur fisikmu."

Satu pergerakan moncong kecil Xiao Lin segera menyambar ketiga butir pil tersebut dengan lidahnya, menelannya sekaligus tanpa sisa. Namun, begitu cairan

herba itu larut di dalam perutnya, tubuh kecil Xiao Lin mendadak memancarkan gelombang-gelombang energi Qi murni berwarna keemasan yang sangat padat dan

solid, membentuk riak cahaya melingkar yang menutupi seluruh permukaan sisik emasnya.

Bayi Kirin kecil itu segera mengambil posisi bersila memejamkan matanya rapat-rapat untuk langsung masuk ke dalam mode meditasi besar secara spontan.

"Xiao Lin mendadak memancarkan energi spiritual yang sangat tebal setelah menelan pil tingkat dua ini," batin Luo Chen memperhatikan riak energi emas yang menyelimuti tubuh kecil tersebut. "Fluktuasi energinya sangat stabil.

Ini adalah pertanda dia sedang memasuki masa transisi menuju tahap remaja secara alami," batinnya.

Sambil mengangkat tubuh kecil Xiao Lin yang sedang bersemedi dengan kedua telapak tangannya, ia meletakkan hewan spiritual tersebut dengan perlahan di sisi ranjangnya yang kering agar tidak mengganggu jalannya proses penyerapan energi herba. Luo Chen sendiri kemudian mengambil posisi duduk bersila di sisi ranjang lainnya, memejamkan mata rapat-rapat untuk memulai siklus meditasi malamnya sendiri guna memantapkan basis kekuatan fisik tahap ketujuhnya.

Satu pergerakan konstan aliran energi Qi di dalam kamar berlangsung sepanjang malam dalam keheningan, tanpa ada satu pun dari mereka yang tertidur hingga fajar menyingsing di luar gubuk.

Perlahan-lahan, ketika sepasang kelopak mata Luo Chen terbuka saat ia menyelesaikan siklus pembersihan nadinya yang terakhir, namun pandangan matanya mendadak membelalak lebar penuh keterkejutan saat menatap ke arah samping ranjangnya.

"Ukuran tubuhnya membesar dua kali lipat hanya dalam satu malam meditasi," batin Luo Chen menatap kagum kearah sosok Xiao Lin yang kini telah memiliki tinggi sekitar enam puluh sentimeter dengan bulu emas yang jauh lebih lebat dan Kedua tanduk kecil yang mulai mengeras. "Dan fluktuasi kekuatan fisiknya telah melonjak tajam menyentuh Ranah Pemurnian Tubuh tahap keempat!

Kecepatan evolusi ras Kirin kuno ini benar-benar sangat tidak masuk akal," batin Chen er. Suara mencicit parau dengan nada yang terdengar jauh lebih berat kini keluar

dari mulut Xiao Lin seraya membuka matanya yang berkilau emas, melompat ringan membenturkan kepala kecilnya secara akrab ke dada Luo Chen sebagai tanda

penghormatan.

Sambil menepuk bahu Xiao Lin untuk mempersilakannya

masuk kembali beristirahat di dalam Kantong Semesta kelas Langit, Luo Chen melangkah tegap keluar melewati ambang pintu gubuk kayu reyotnya,

1
🌹🌹Alika Moi🌹🌹
sangatbagus isi ceritanya tapi sayang tidak di lanjutkan.
Joe Maggot Curvanord
bagus cuma terlalu sedikit bab oer hari nya
JokyWong: oke makasih ya masukkan nya, nanti di up ya 2 bab per hari 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!