Setelah lelah menjalani hidup yang penuh kegagalan, Arga memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Namun, ironisnya ia tewas.
Saat membuka mata, ia kembali ke masa SMA, titik awal kehidupan buruknya. Bedanya, kini ia memperoleh Sistem Keuntungan Usaha yang membuat setiap bisnis yang berhasil memberinya hadiah melimpah.
Di kehidupan kedua ini, Arga bertekad mengubah nasib dan membangun kerajaan bisnisnya sejak masih berseragam sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Tantangan
Melihat anak-anak buahnya ragu-ragu dan tertahan oleh ancaman kursi kayu Arga, Devan makin kesal. Wajahnya merah padam menahan malu dan amarah.
"Pengecut sekali kalian! Hajar saja! Gak usah takut!" bentak Devan memprovokasi teman-temannya.
Arga malah tersenyum sinis, sengaja memancing emosi Devan lebih jauh. "Kamu saja maju ke sini, Devan! Kuhantam mukamu pakai bangku ini!"
Devan mengepalkan tangannya erat-erat, matanya menatap tajam. "Jangan pakai alat kalau kamu benar-benar berani!"
"Jangan keroyokan kalau kamu sendiri berani!" balas Arga mengejek tanpa rasa takut sedikit pun.
Melihat situasi yang semakin panas dan berbahaya, para murid kelas 2-B yang terjebak di dalam kelas hanya bisa diam memerhatikan dengan canggung. Suasana terasa sangat mencekam hingga membuat mereka tidak nyaman dan ingin segera melarikan diri.
Hendra yang menyadari kehadiran murid-murid kelas 2-B langsung membentak mereka. "Hei, kalian semua! Cepat keluar dari sini!"
"Ah, i-iya, Kak!"
"Ayo, cepat keluar-keluar!"
Tanpa perlu diperintah dua kali, para murid kelas 2-B bergegas berdiri dan berlari keluar kelas. Kini, di dalam ruangan hanya tersisa Arga, Devan, Hendra, dan beberapa anak buah geng mereka.
Arga menatap tajam ke arah barisan di depannya. Rasa jengkel yang tertahan sejak tadi akhirnya meluap. Tanpa peringatan, ia maju melangkah dan mengayunkan kursi kayu di tangannya dengan kuat ke arah orang-orang yang menghalangi jalannya.
Jika hantaman itu mengenai tubuh, sudah dipastikan tulang mereka akan retak.
"W-woi! Kamu gila ya, Arga?! Kalau kami kenapa-kenapa bagaimana?!" protes salah satu anak buah Devan sambil melompat mundur ketakutan.
Arga mendengus kesal. "Kalau takut kenapa-kenapa, keluar dari sini dan kunci pintunya dari luar! Biarkan aku membereskan dua orang gila di belakang kalian itu!"
Mendengar ucapan Arga, anak-anak buah Devan terkejut. Mereka saling pandang lalu menoleh ke arah Devan dan Hendra untuk meminta kepastian.
Devan dan Hendra tersenyum sombong, merasa di atas angin. "Keluar kalian semua. Biar kami berdua yang memberi pelajaran pada anak ini," perintah Devan.
Anak-anak buahnya langsung menurut. Di dalam hati, mereka merasa sangat bersyukur karena tidak perlu mengorbankan diri ikut campur dalam kekacauan ini lagi.
Begitu mereka keluar dan mengunci pintu dari luar, suasana koridor mendadak ramai. Banyak murid berkumpul di luar jendela, menonton adegan di dalam kelas dengan wajah tegang.
Di dalam ruangan, Arga melepaskan dasi seragamnya, lalu melilitkannya erat-erat ke telapak tangannya untuk memperkuat cengkeraman.
"Yang kalah harus nurut sama yang menang selama sepekan. Bagaimana?" tantang Arga dingin.
Devan dan Hendra saling tatap sejenak lalu terkeh. "Oke, siapa takut!"
Tentu saja Devan dan Hendra sangat yakin akan menang. Bagaimanapun juga, posisi mereka menang jumlah dua lawan satu.
Arga maju satu langkah mengambil aba-aba. Secara bersamaan, Devan dan Hendra berlari kencang, melompat untuk melayangkan tendangan ganda ke arah Arga.
Srett!
Tendangan itu hampir saja mengenai kepala Arga. Dengan refleks cepat, Arga merunduk menghindar, lalu melayangkan pukulan balasan.
Namun, Hendra berhasil menahan pukulan Arga saat kakinya mendarat di lantai. Di saat yang sama, Devan memanfaatkannya dengan melayangkan tendangan keras tepat ke perut Arga.
Bugh!
"Kh...!"
Hantaman keras itu membuat Arga terhuyung-huyung ke belakang. Napasnya mendadak terasa sesak dan berat. Pandangannya melirik cepat ke sekeliling meja. Ia menyambar sebuah botol minum plastik berisi penuh air milik seorang murid yang tertinggal.