NovelToon NovelToon
Wanita Pilihan Sang Ceo

Wanita Pilihan Sang Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Noire 23

Nial Percy—seorang CEO tampan dengan reputasi dingin, tertutup, dan selalu memegang kendali—tidak pernah melibatkan perasaan dalam hidupnya. Segalanya terukur. Hingga suatu malam, ia meminta satu hal pada orang kepercayaannya: Mencarikan seorang wanita dengan kriteria tertentu. Tanpa ikatan. Tanpa emosi. Untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Namun takdir menyelipkan sesuatu yang tak ia rencanakan. Queen Lexian Arresta—wanita cantik dari keluarga terpandang yang tengah terjebak dalam perjodohan yang menyesakkan—tanpa sengaja mendengar percakapan itu. Dan dalam satu keputusan yang berani sekaligus nekat, ia menawarkan dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noire 23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

"Ikut aku!" ucap Nial, rendah.

Dia berjalan menuju sudut ruangan, di mana sebuah panel kayu yang tampak seperti bagian dari dinding bergeser saat ia menekannya. Di baliknya, terdapat sebuah pintu minimalis tanpa gagang. Itu adalah akses menuju private suite miliknya—ruang istirahat yang tidak pernah dimasuki oleh siapa pun, bahkan Rayden sekalipun.

Queen terdiam di tempatnya. Jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat. Ini adalah momen yang ia cari—sebuah pelarian ekstrem untuk mengacaukan rencana ibunya—tapi saat kenyataan itu berdiri tegak di depannya dalam wujud pria sedominan Nial, rasa gugup mulai merayap naik ke tenggorokannya.

Jemarinya yang memegang tas kecil bergetar halus. Ia tahu persis apa yang ada di balik pintu itu. Ia yang menawarkan diri, ia yang memancing singa ini keluar dari kandangnya, namun sekarang lututnya terasa sedikit lemas.

Nial berhenti di ambang pintu, menoleh sedikit saat menyadari Queen belum bergerak.

"Kenapa? Rasa penasaranmu tiba - tiba hilang?"

Queen menelan ludah. Ia memaksakan sebuah senyum tipis, meski napasnya mulai pendek. "Tentu saja tidak."

Ia melangkah maju. Setiap ketukan hak sepatunya di atas lantai marmer terdengar seperti hitungan mundur. Saat ia melewati ambang pintu, aroma maskulin yang lebih pekat—campuran antara linen bersih dan mask—menyambutnya.

Kamar itu luas, dengan ranjang king size yang didominasi warna abu-abu gelap dan jendela besar yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota New York dari ketinggian lantai 50.

Nial menutup pintu di belakang mereka dengan bunyi klik yang halus namun terdengar sangat intimidatif bagi Queen.

Pria itu berbalik, lalu mulai melepas kancing manset kemejanya dengan gerakan santai namun penuh tekanan.

"Kau tampak gugup," observasi Nial datar. Ia melangkah mendekat, memperpendek jarak hingga Queen bisa merasakan hawa panas dari tubuhnya.

"Aku hanya ... tidak terbiasa dengan ruangan sesunyi ini," kilah Queen, suaranya sedikit bergetar.

Ia mencoba menjaga tatapan matanya tetap berani, namun ia tidak bisa berbohong pada dirinya sendiri bahwa aura Nial saat ini jauh lebih berbahaya daripada saat di meja kerja tadi.

Nial berhenti tepat di depan Queen. Tangannya terangkat, perlahan menarik tali tipis gaun hitam Queen di bahu kirinya, membiarkannya merosot sedikit.

"Tadi kau begitu lantang bertanya pria seperti apa aku ini," bisik Nial di dekat telinga Queen, membuat bulu kuduk wanita itu meremang. "Sekarang, aku akan memberimu jawaban yang tidak akan kau temukan di internet."

Nial menyapukan jemarinya di sepanjang tulang rahang Queen yang menegang. "Kau yang datang ke sini. Kau yang menawarkan diri,  Jadi, jangan harap aku akan membiarkanmu keluar dari kamar ini sebelum aku mendapatkan apa yang aku inginkan."

Queen merasakan desakan adrenalin yang bercampur dengan rasa takut yang memikat. Ia memejamkan mata sejenak, membuang bayangan wajah ibunya dan Tuan Armand jauh-jauh.

Malam ini, ia bukan lagi putri penurut keluarga Aressta.

"Lakukan," perintah Nial.

Queen memejamkan matanya rapat - rapat. Ia meremas kerah kemeja Nial dengan gagah berani—atau setidaknya, ia mencoba terlihat berani dan langsung mencium bibir Nial.

Nial mengerang rendah. Ia menyambar pinggang Queen, menarik tubuh wanita itu mendekat hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka.

Bibir mereka bertemu dalam ciuman yang menuntut, panas, dan dominan.

Nial mengangkat tubuh Queen dengan mudah, membawa wanita itu menuju ranjang king size yang dingin.

Saat punggungnya menyentuh seprai sutra abu - abu yang halus, kenyataan menghantam Queen seperti ember berisi air es.

Ini benar-benar terjadi.

Ia, Queen Lexian, sang porselen mahal keluarga Aressta, sedang berada di ranjang CEO paling dingin se-ibu kota. Dan ini adalah yang pertama kalinya baginya.

Tiba-tiba, keberanian yang dipicu oleh amarah pada ibunya menguap entah ke mana, digantikan oleh kepanikan murni. Pikirannya mendadak kosong, kecuali satu fakta: ia tidak tahu harus berbuat apa.

Nial menindihnya, menumpu berat tubuhnya dengan kedua lengan yang kokoh. Napasnya memburu, dan tatapannya begitu intens hingga Queen merasa seolah sedang dipindai oleh sinar X.

Tangan Nial terangkat, hendak menelusuri ritsleting di punggung gaun Queen. Namun...

"T-TUNGGU!" seru Queen tiba-tiba, suaranya melengking ngeri. Ia meletakkan kedua telapak tangannya di dada bidang Nial, menahan pria itu agar tidak mendekat.

Nial membeku. Jarak wajah mereka hanya terpaut beberapa inci. Alisnya terangkat tinggi, ekspresi dominannya perlahan berubah menjadi kebingungan total.

"Ada apa?" tanya Nial, suaranya berat dan berbahaya, tapi ada nada keheranan di sana.

Queen menelan ludah dengan susah payah. Matanya bergerak liar ke sekeliling kamar, mencari ide apa saja untuk menunda momen ini. "Itu ... Tuan Percy..."

"Nial," koreksi pria itu datar.

"Iya, Nial. Maksudku ... bukankah ini ... terlalu cepat?" Queen memaksakan sebuah senyum kaku yang terlihat seperti ringisan kesakitan.

Nial menatapnya datar. "Bukankah sudah seharusnya."

"Itu ... itu tidak!" ucap Queen panik. Ia bisa merasakan hawa panas dari tubuh Nial, dan itu membuatnya semakin gugup. "Maksudku, kita ... kita tidak bisa langsung ... melakukannya."

"Kenapa tidak?" Nial menyipitkan mata, mulai curiga.

"Karena ... karena kita belum melakukan pemanasan!" seru Queen riang, seolah baru saja menemukan solusi paling brilian sedunia.

Nial terdiam. Satu detik. Dua detik.

"Pemanasan?" tanyanya, suaranya datar namun ada nada geli yang tertahan. Ia menatap Queen seolah wanita itu baru saja menyarankan agar mereka membangun roket ke bulan sekarang juga.

"Iya! Pemanasan!" Queen mengangguk antusias, mencoba meyakinkan diri sendiri. "Kau tahu, seperti di gym. Kita ... kita harus menyiapkan otot-otot kita agar tidak kram. Ini masalah kesehatan dan keselamatan kerja."

Nial menatap tangan Queen yang masih menempel di dadanya, lalu kembali menatap mata wanita itu. "Kau ingin kita ... stretching?"

"Bukan cuma stretching!" Queen melepaskan tangannya dari dada Nial dan mulai melakukan gerakan memutar bahu yang kaku di atas bantal. "Kita harus meningkatkan detak jantung dulu. Bagaimana kalau ... bagaimana kalau kita jumping jack? Lima puluh kali! Itu bagus untuk sirkulasi darah."

Nial menatap Queen lekat. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun Rayden bekerja dengannya, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya sebagai The Ice King, Nial Percy merasa dadanya bergetar karena keinginan kuat untuk tertawa terbahak-bahak.

Tantangan gairah yang tadi membara di matanya perlahan luluh kedinginan, digantikan oleh rasa geli yang luar biasa. Wanita ini ... gila. Tapi gila yang ... menyegarkan.

Nial menahan senyumnya kuat-kuat, mempertahankan karakter dinginnya walau sudut bibirnya sedikit berkedut. Ia perlahan bangkit dari atas tubuh Queen, duduk di pinggir ranjang dengan ekspresi yang sangat sulit diartikan.

"Kau ingin jumping jack?" tanya Nial pelan, menoleh ke arah Queen yang masih sibuk memutar-mutar pergelangan tangannya di atas ranjang.

Queen berhenti bergerak. Ia menatap Nial dengan tatapan harap-harap cemas. "Iya. Itu ... itu akan membuat kita lebih rileks. Percayalah padaku."

"Hentikan gerakan konyol itu," ucap Nial, suaranya kembali dingin dan datar, namun ada kilat tajam di matanya.

Queen berhenti bergerak. Ia menarik gaunnya yang tersingkap, mencoba duduk meski dengan jarak yang cukup dekat dari Nial. "Aku tidak bercanda. Ini demi keamanan—"

"Berapa banyak pria yang sudah menyentuhmu sebelum ini?" potong Nial telak.

Pertanyaan itu menghantam Queen seperti godam. Matanya membelalak, mulutnya sedikit terbuka namun tak ada kata yang keluar. Kepalanya refleks menggeleng kuat, sebuah reaksi spontan yang jauh lebih jujur daripada kata-kata apa pun yang bisa ia susun.

Nial memperhatikan reaksi itu. Ia menyipitkan mata, menelisik setiap inci ekspresi ketakutan dan kepolosan yang terpancar dari wajah wanita yang tadi begitu berani menawarkan diri di meja kerjanya.

"Jangan bertingkah seolah ini yang pertama bagimu," desis Nial, mencoba memancing kejujuran di balik topeng 'wanita pemberontak' yang dipakai Queen.

Queen menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga memucat. Ia menunduk, tidak berani menatap mata elang pria di sampingnya. Keberanian yang tadi ia kumpulkan untuk melawan ibunya benar-benar telah luluh lantah.

"Memangnya ... memangnya sangat kelihatan?" gumam Queen sangat pelan, suaranya hampir hilang tertelan kesunyian kamar.

1
Mia Camelia
semoga dady nya queen kasih restu ke quen and niel🥰
Mia Camelia
yaah ketauan deh😂😂😂
Mia Camelia
nial mode cemburu tuh ada rexi🤔🤣
Mia Camelia
hahaha niel bisa aja mencari kesempatan dalam kegelapan kolong meja🤣🤣🤣
Mia Camelia
ya ampun ternyata sempat hadir nial junior yah🤔🤔🤔
Mia Camelia
hahaha rayden berani bongkaran aib nial kalo ada britania,🤣🤣🤣
lanjut thor😄👍makin seru liat nial🥰
Mia Camelia
nial gercep banget sih, queen jadi takut itu🤣🤣🤣
Mia Camelia
lanjut lagi thor🥰
Mia Camelia
lari queen🤣🤣🤣
Mia Camelia
lanjut thor🥰
Mia Camelia: semangat ya thor😄😄
semoga lolos kontrak, aku doaiin biar lancar, biar bisa lanjut lagi cerita nya👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!