NovelToon NovelToon
Sang Warok

Sang Warok

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Action
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Ayah dan ibunya dibunuh didepan mata dan kepalamya. tapi justru sang pembunuhlah yang akan menjadi guru nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

​"Coba lihat baik-baik," kata Warok. "Kalau suatu hari kau menjadi pendekar, jangan hanya melihat lukanya. Lihat apa yang disembunyikan luka itu."

​Tanpa ragu, Warok menggores ujung luka tersebut.

​Sret!

​Tak banyak darah yang keluar. Yang menetes justru cairan kental berwarna kehitaman dengan bau menyengat. Salah seorang pembawa tandu langsung muntah, sementara Warok mengendus cairan itu.

​"Hm."

​Jangkrik ikut mengernyit. "Racun?"

​"Bukan," Warok menggeleng. "Ini hawa."

​"Hawa?"

​"Ilmu yang dicampurkan ke dalam senjata."

​Jangkrik terdiam sejenak. "Ilmu bisa tinggal di dalam luka?"

​"Bisa. Dan jauh lebih mematikan daripada racun biasa."

​Warok menyayat sedikit lagi. Cairan hitam terus keluar, tetapi warna kehitaman di dada pemuda itu tidak jua berkurang. Warok menyarungkan kembali belatinya.

​"Benar, ini memang ulah Gagak Hitam."

​Pria pembawa tandu seketika berlutut. "Warok... tolong selamatkan kakak kami."

​Warok tidak segera menjawab. Ia menoleh kepada muridnya. "Pelajaran."

​Jangkrik mengangguk paham.

​Warok mengambil sebuah kendi kecil dari keranjang belanjaannya. Di dalamnya terdapat air campuran garam dan belerang. Kali ini, ia menambahkan beberapa lembar daun hijau yang diremas hingga mengeluarkan cairan pahit.

​"Apa itu?"

​"Daun sembung alas."

​"Untuk racun?"

​"Untuk membuka jalan napas."

​Warok menuangkan cairan itu ke atas luka. Pemuda yang pingsan mendadak melengkungkan tubuhnya secara hebat.

​"AAAAARGH!"

​Matanya terbuka lebar, tubuhnya bergetar keras, dan urat-urat hitam di lehernya tampak menjalar seperti cacing. Jangkrik refleks hendak menahan tubuhnya.

​"Jangan!" bentakan Warok menghentikan gerakannya. "Biarkan."

​Pemuda itu menjerit beberapa saat, lalu menyemburkan darah hitam kental dari mulutnya.

​Byuur!

​Darah itu mengenai rerumputan. Dalam hitungan detik, rumput-rumput tersebut mendadak layu dan menghitam.

​Mata Jangkrik membelalak. "Seganas itu..."

​Warok mengangguk pelan. "Itulah sebabnya aku berkata, musuh yang memakai ilmu jauh lebih berbahaya daripada musuh yang hanya pandai mengayunkan golok."

​Pemuda itu akhirnya terkulai kembali. Napasnya masih ada dan terasa jauh lebih teratur. Kedua adiknya menangis lega.

​"Terima kasih, Warok!"

​Warok mengangkat tangan. "Jangan berterima kasih dulu. Aku hanya memperlambatnya. Racun hawa itu belum hilang."

​"Kalau begitu... bagaimana menyembuhkannya?"

​Warok berdiri. Tatapannya kembali mengarah ke barat. "Orang yang menyuntikkan ilmu itu... dialah yang paling tahu cara melepaskannya."

​Atmosfer di sekitar mereka mendadak terasa mencekat. Jangkrik langsung menangkap maksud ucapan gurunya.

​"Jadi... kita harus menemui anggota Gagak Hitam itu?"

​Warok tersenyum tipis. "Bukan sekadar menemui."

​"Lalu?"

​Warok mengambil goloknya dan menyelipkannya tegas di pinggang. "Memburunya."

​Mata Jangkrik seketika berbinar. Rasa penasaran itu muncul bukan karena iba kepada pemuda yang terluka, melainkan rasa antusias. Sejak berguru pada Sang Warok, baru kali ini ia akan menyaksikan gurunya berburu seorang lawan yang benar-benar sepadan.

​Di sisi lain, jauh di barat, di sebuah hutan lebat dekat Desa Wringin Ireng...

​Seorang pria berjubah hitam duduk tenang di atas dahan pohon beringin tua. Di bahunya bertengger seekor gagak hitam.

​Pria itu perlahan membuka matanya, lalu mengukir senyum tipis.

​"Warok... akhirnya kau keluar dari sarangmu."

Fajar berikutnya datang bersama embun yang masih menggantung di ujung ilalang.

Di halaman gubuk, dua lelaki pembawa tandu telah bersiap sejak sebelum matahari terbit. Wajah mereka masih menyimpan harap. Pemuda yang terluka kini telah sadar, meski tubuhnya masih sangat lemah.

Warok keluar dari gubuk sambil membawa buntalan kecil.

"Minum," kata Warok sambil menyerahkan sebatang bambu berisi ramuan kepada pemuda itu. "Seteguk setiap matahari terbit dan terbenam. Jangan lebih."

Pemuda itu menerimanya dengan kedua tangan. "Terima kasih, Warok."

Warok menggeleng. "Ramuan itu hanya menahan hawa hitam selama tujuh hari."

"Tujuh hari?"

"Kalau dalam tujuh hari aku belum kembali, siapkan kain kafanmu."

Ucapan itu membuat wajah ketiga bersaudara tersebut pucat seketika. Warok memang tidak pernah pandai menghibur; ia hanya menyampaikan kenyataan.

Salah seorang dari mereka memberanikan diri bertanya, "Warok... apa kami ikut?"

"Tidak."

"Kenapa?"

"Kalian hanya akan mati."

Jawabannya singkat, tanpa nada merendahkan, murni sebuah fakta logis. Mereka saling berpandangan, lalu menundukkan kepala.

"Kalau begitu... kami menunggu kabar darimu."

Warok tidak menjawab, ia hanya memberi isyarat agar mereka segera pergi. Tak lama kemudian, tandu diangkat dan perlahan menghilang di balik kabut.

Jangkrik memperhatikan hingga bayangan mereka benar-benar lenyap.

"Warok."

"Hm?"

"Kenapa kau menolong mereka?"

Warok sedang mengikat kembali buntalan di pinggangnya. "Aku tidak menolong."

"Lalu?"

"Aku sedang memancing."

Jangkrik mengernyit. "Memancing siapa?"

Warok tersenyum tipis. "Gagak Hitam."

Melihat muridnya yang masih kebingungan, Warok melanjutkan, "Kalau orang itu tahu korbannya belum mati, dia pasti akan datang menyelesaikan pekerjaannya."

Mata Jangkrik membulat. "Itu berarti..."

Warok mengangguk. "Kita tidak memburu, melainkan menunggu buruannya datang."

Hari itu tidak ada latihan rutin. Tidak ada pukulan ke batang jati maupun lemparan pisau. Warok justru membawa Jangkrik turun ke sebuah lembah sempit, sekitar satu jam perjalanan dari gubuk.

Di sana terdapat sebuah jembatan bambu tua yang membentang di atas jurang sempit dengan arus sungai yang mengalir deras di bawahnya.

Warok berhenti. "Ingat tempat ini."

"Kenapa?" tanya Jangkrik.

"Karena di sinilah orang paling mudah mati." Warok menunjuk beberapa titik di sekitarnya. "Lihat batu itu. Lihat pohon itu. Lihat arah anginnya."

Jangkrik mengamati seluruh area dengan saksama.

Warok melanjutkan, "Kalau kau harus bertarung, jangan hanya melihat lawan. Lihat tempatnya. Lingkungan sering kali jauh lebih mematikan daripada sebilah golok."

Jangkrik mengangguk pelan. Pelajaran itu terasa sederhana, namun ia paham gurunya tidak pernah berbicara tanpa alasan.

Menjelang sore, mereka kembali ke gubuk. Belum sempat keduanya melangkah masuk, Warok tiba-tiba mengangkat tangan.

"Diam."

Jangkrik langsung membeku. Suasana di sekitar gubuk mendadak senyap.

*Kraaak...*

Terdengar suara ranting patah yang sangat pelan dari arah hutan sebelah timur.

Jangkrik memejamkan mata, mencoba mempraktikkan latihan mendengar napas gunung. Satu tarikan napas... dua... lalu ia membuka matanya kembali.

"Bukan rusa," bisik Jangkrik. Warok tidak menjawab. "Bukan babi hutan." Warok tetap bergeming.

Jangkrik menelan ludah. "Manusia."

"Berapa?"

Jangkrik berkonsentrasi penuh. "...Satu."

Warok mengangguk tipis. "Bagus."

"Tapi..." Jangkrik kembali memicingkan mata, "...langkahnya ringan sekali. Hampir tidak terdengar."

Warok perlahan mencabut goloknya. *Srek...*

"Itu dia."

Jangkrik ikut meraih pisau lempar di pinggangnya, tetapi Warok menahannya dengan lambaian tangan. "Jangan bergerak. Aku ingin memastikan."

Sesaat kemudian, seekor burung gagak hitam turun perlahan dan hinggap di dahan pohon tepat di depan gubuk. Burung itu bertengger diam sambil menatap Warok dan Jangkrik secara bergantian.

Kraaak!

Burung itu memekik nyaring sebelum akhirnya terbang kembali ke arah barat.

Warok memperhatikan kepakan sayapnya hingga lenyap dari pandangan. Wajahnya berubah tegas dan serius. "Mereka sudah menemukan kita."

Jangkrik menggenggam pisaunya lebih erat. "Jadi... dia akan datang malam ini?"

Warok menggeleng pelan. "Tidak. Orang seperti Gagak Hitam tidak pernah menyerang ketika kita sudah siap."

Ia menatap langit yang mulai memerah. "Dia akan datang saat kita lengah."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!