Pitung yang merupakan Wibu garis keras sedang menonton Anime baru di Bioskop, tiba-tiba tersedak Popcorn saat pemutaran film baru dimulai.
Pitung tewas tanpa ada penonton yang mengetahuinya dan jiwanya bertransmigrasi ke tubuh Raja Iblis yang sedang sekarat.
“Eh... kenapa Aku menjadi Raja Iblis Zagralaas!” Pitung berteriak histeris.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Regar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Desa Hog
Mayat-mayat Goblin tergeletak dengan kondisi tubuh mengenaskan di jalanan dekat dari Desa Hog, Pitung dan para Petualang yang ada di gerbong kereta kuda tercengang melihatnya.
“Sepertinya para Goblin-Goblin ini salah memilih lawan,” kata salah satu Petualang.
“Mungkin mereka mencoba menyergap Kereta Kuda tuan muda Alex Voldemort ha-ha-ha... pekerjaan kita sepertinya dipermudah olehnya!” sahut Petualang wanita yang merupakan fans garis keras Alex Voldemort.
“Aku takut hal ini tidak seperti yang kalian inginkan,” sela kusir Kereta kuda. “Biasanya tidak pernah ada Goblin yang menjelajah hingga sejauh ini, mungkin jumlah mereka telah berkembang biak dengan cepat karena semakin banyak gadis-gadis yang mereka culik dan kabarnya wanita yang mereka per.ko.sa akan melahirkan seminggu kemudian. Yang lebih mengkhawatirkan adalah bayi Goblin yang lahir akan menjadi Dewasa dalam waktu sebulan saja!”
Pitung mengerutkan keningnya, dia tidak menyangka pertumbuhan Goblin secepat itu dan berpikir Guild Petualang seharusnya mengirim Petualang Level tinggi memberantas mereka.
Namun, Pitung yakin Dunia ini sama seperti Bumi, di mana hukum kapitalis lebih dominan. Selama itu masih mendulang uang bagi pihak-pihak yang berkepentingan maka Goblin-Goblin itu tidak akan diberantas dengan sungguh-sungguh.
Tak lama kemudian, kereta kuda mendekati Desa yang dikelilingi tembok tinggi. Gerbang masuk pun terbuka dan di dalam Desa terlihat cukup ramai.
Kereta kuda langsung menuju kediaman Kepala Desa untuk mendata para Petualang yang akan melakukan misi pemberantasan Goblin maupun yang akan memasuki Labirin.
Waktu pendataan hanya sebentar saja, Kepala Desa langsung membubuhkan tanda tangan pada surat tugas para Petualang tanpa membaca tugas apa yang mereka lakukan.
Pitung dan Netla Durand langsung meninggalkan Desa Hog.
“Misi Demon King System telah terpicu!” Panel Virtual tiba-tiba muncul di hadapan Pitung. “Bunuh Satu Goblin maka akan menambah satu Poin hadiah serta mendapatkan satu Mana.”
“Buset dah... pelit bener nih Sistem! Masa hadiah membunuh satu Goblin cuma satu Mana saja, sedangkan melawan mereka membutuhkan Mana yang besar!” keluh Pitung mengutuk Demon King System, tetapi tidak mendapatkan respon darinya.
“Tuan Zagralaas... aku akan menggunakan Sihir Penguatan Tubuh padamu agar tidak cepat kelelahan saat melawan Goblin!” seru Netla Durand khawatir tuannya itu terluka saat melawan gerombolan Goblin walaupun ia akan mengawasinya. Namun, bila sedang tidak beruntung bisa ia lengah dan Pitung masuk ke dalam perangkap musuh.
Pitung menganggukkan kepala dan tersenyum bahagia karena dengan Sihir Penguatan tubuh itu maka ia bisa menghemat penggunaan Mana saat bertarung nanti.
“Tolongngngngngng!”
Suara teriakan minta tolong terdengar keras padahal mereka baru melangkah 500 meter dari gerbang Desa Hog.
Pitung menghunus Pedang Hell Of Darkness dan berlari ke arah sumber suara itu.
Pria berusia Tiga Puluhan tahun sedang dikepung oleh Dua Goblin Level 20 di ladang kentang milik Pria itu. Istrinya yang tak jauh darinya berteriak histeris sembari berusaha mendorong Goblin yang merobek pakaiannya.
“Tolong wanita itu Netla... aku akan melawan Dua Goblin lainnya!” seru Pitung tanpa menunggu jawaban dari Netla Durand, dia langsung berlari ke arah Pria yang dikepung Dua Goblin bersenjata Kapak besar.
“Hati-hati tuan Zagralaas... Level mereka lebih tinggi darimu, jangan memaksakan diri!” sahut Netla Durand khawatir. Dia kemudian merapal mantera Sihir, “Dewi Cahaya Yang Maha Kuasa Pemilik Segala-Nya, Hamba-Mu ini meminjam Sihir Angin; Sabit Angin!”
Dari tongkat sihir Netla Durand muncul angin berputar-putar, kemudian angin itu melesat ke arah Goblin yang hendak memperk0sa istri Petani itu.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”
Istri Petani berteriak histeris, darah menyembur ke wajahnya saat hembusan angin mengenai Goblin itu dan kepala Goblin itu menggelinding di tanah, tubuhnya kemudian ambruk saat Istri Petani itu mendorongnya menjauh dari tubuhnya.
“Demonic Sword Art!”
Pitung berteriak ketika mengayunkan Pedang Hell Of Darkness ke arah salah satu Goblin, teriakannya itu membuat kedua Goblin menoleh ke belakang.
Pitung sengaja berteriak keras karena dalam film anime isekai biasanya para Protagonis Utama selalu berteriak ketika bertarung melawan musuh. Hal itu juga untuk memotivasi dirinya sendiri agar tidak ragu melawan musuh.
Sudut bibir Kedua Goblin memancarkan seringai jahat, kedua seolah-olah meledek Pitung karena terlalu berani melawan musuh yang memiliki Level jauh lebih tinggi darinya.
Goblin itu dengan santai mengayunkan Kapaknya menangkis tebasan Pedang dari Pitung.
Gagang Pedang Hell Of Darkness bergetar hebat dan Pitung hampir tak sanggup menggenggam gagang pedangnya itu.
“Ternyata aku bukanlah seperti Protagonis Utama dalam film-film fantasi yang dapat mengalahkan musuh yang jauh lebih kuat darinya,” gerutu Pitung mundur beberapa langkah.
Goblin yang satu lagi melompat ke arah Pitung sembari mengayunkan Kapaknya dengan kuat, Pitung mengerutkan keningnya. Dia yakin dia tidak akan mampu menangkis Kapak itu walaupun menggunakan Pedang Hell Of Darkness yang merupakan Pedang milik mantan Raja Iblis tersebut.
“Sihir Serbuk Kematian!” teriak Pitung melempar bubuk cabai yang ia beli di Pasar Desa Hog ke mata Goblin itu.
Bubuk cabai itu sengaja ia beli bila situasi mendesak seperti ini. Dia bahkan memborong semua bubuk cabai milik Pedagang yang membuat satu Tas Sihir berukuran satu meter persegi miliknya hampir penuh.
“Ah, Sial! Kau curang bangsatt!” umpat Goblin itu menggunakan bahasa yang tidak dimengerti oleh Pitung. Namun, Pitung tahu dia pasti sedang menggerutu.
“Inilah saatnya mendapatkan Poin dari Demon King System!” gumam Pitung mengayunkan Pedang Hell Of Darkness ke leher Goblin tersebut.
Kepala Goblin itu menggelinding di permukaan tanah, Petani Pria itu berteriak histeris dan memuntahkan isi perutnya karena tidak tahan melihat pemandangan mengerikan tersebut.
“Aaaaaaaaaaaa!” Pitung ikut terkejut dengan ulahnya sendiri, isi perutnya keluar termasuk kerak telor yang ia makan saat di Kota Trovine. “Ah, sial! Ternyata mentalku belum kuat untuk melakukan hal mengerikan seperti ini!” gerutunya sembari menyeka bekas muntahan yang tersisa di sudut bibirnya.
“Rorou... manusia sialan, aku akan membunuhmu!” bentak Goblin yang satu lagi menatap Pitung dengan tatapan tajam.
Dia melompat ke arah Pitung yang sedang lengah sehingga Pitung ketakutan setengah mati, tetapi saat ia mengira ia akan mati; Ledakan Api menghancurkan tubuh Goblin tersebut.
“Ah, aku selamat... terimakasih Netla!” seru Pitung bernapas lega.
Netla Durand tersenyum sembari mendekati Pitung dan memeriksa apakah tubuhnya terluka. “Tuan ternyata baik-baik, kau hebat tuan Zagralaas!” Dia memuji Pitung.
“Ah, aku cuma dapat Satu Poin Saja, tetapi itu sudah lumayan lah karena ini baru permulaan saja!” pikir Pitung sembari tersenyum menatap Netla Durand, kemudian ia menatap Petani Pria. “Cepat kembali ke Desa Hog bersama istrimu karena para Goblin kini menjelajah jauh dari Labirin!”
“Baik tuan!” sahut Petani itu berlari mendekat ke arah istrinya. “Kita harus kembali sekarang, lebih baik dicambuk tuan tanah dari pada mati dibunuh Goblin!” bisiknya pada istrinya.
Namun, Pitung mendengar apa yang dibisikkan oleh Petani Pria itu dan akhirnya mengerti kenapa para Petani tetap nekat ke ladang mereka, itu karena dipaksa oleh para tuan tanah.