NovelToon NovelToon
Menantu yang Diremehkan

Menantu yang Diremehkan

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Tamat
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

"Tiga tahun Surya Prasetyo hidup sebagai menantu yang diinjak-injak. Dicaci maki mertua, dihina saudara ipar, dijadikan budak dapur oleh istrinya sendiri.

Sampai malam itu—malam ulang tahun pernikahan ketiga—dia mendengar semuanya.

Istrinya selingkuh. Istrinya mengincar asuransi jiwa lima miliar. Istrinya sudah menjadwalkan dia sebagai donor ginjal paksa. Dan istrinya... sudah merencanakan kematiannya.

*""Genggam erat-erat tanganku, Pak. Karena ini terakhir kalinya.""*

Dari seorang laki-laki yang tidur di pinggir sungai, Surya bangkit. Lulus ujian advokat. Menghancurkan perusahaan mantan istri. Membangun kerajaan bisnis. Membuat semua orang yang pernah menginjak-injaknya... berlutut.

Tapi balas dendam hanyalah permulaan. Di balik semua ini, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang mengawasi setiap langkahnya—dan rahasia terbesarnya tersembunyi di orang yang paling dia percaya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19: Satu Langkah Lebih Maju

Arief Nugroho dipindahkan ke kantor cabang Semarang pada Senin pagi.

Berita itu datang seperti hujan pendek di ruang kerja Sentana. Tidak ada drama. Hanya pengumuman Ferdy Susanto, tepuk tangan kecil, dan tiga kotak kardus berisi buku Arief yang dibawa staf administrasi.

Surya berdiri di dekat meja kecilnya, ikut berjabat tangan.

"Jangan berubah jadi preman kantor," kata Arief pelan.

"Saya usahakan."

"Bukan usahakan. Lakukan."

Surya mengangguk.

Sebelum pergi, Arief menepuk bahunya. "Pembimbing barumu lebih keras dari saya."

"Siapa?"

Jawabannya datang dari pintu kaca.

Seorang perempuan masuk dengan blazer hitam, rambut digelung rapi, dan sepatu hak yang bunyinya membuat ruang kerja otomatis lebih tegak. Usianya belum empat puluh. Namun, caranya menatap orang membuat staf senior pun langsung menurunkan suara.

"Diana Santoso," kata Ferdy. "Mulai hari ini, beliau menangani supervisi beberapa magang dan perkara strategis."

Diana menatap ruangan, lalu berhenti pada Surya.

"Jadi ini Surya Prasetyo."

Nada itu bukan sapaan.

Lebih mirip penilaian awal yang sudah negatif.

"Saya, Bu Diana."

"Saya dengar kamu cukup sering jadi pusat kejadian."

"Kejadian sering menemukan saya lebih dulu."

Beberapa orang menahan napas.

Diana tidak tersenyum. "Di meja saya, jawaban pintar tidak mengganti pekerjaan bagus."

"Saya paham."

Siang itu, Diana meletakkan satu bundel berkas di meja Surya. Tebalnya hampir setengah lengan.

Sebelum map itu jatuh di mejanya, Surya sudah mendengar bisik-bisik kecil dari pantry. Diana pernah menangani sengketa merger besar, pernah membuat direktur perusahaan tambang duduk diam selama mediasi, dan pernah menolak klien kaya karena bukti mereka kotor. Di Sentana, orang tidak takut padanya karena ia suka marah.

Mereka takut karena ia jarang salah.

"Sengketa distribusi alat kesehatan. Kontrak bertingkat, tiga pemasok, dua gudang, satu klaim wanprestasi, dan kemungkinan pemalsuan tanda terima. Ringkasan fakta, isu hukum, dan opsi penyelesaian. Besok pukul delapan pagi."

Eko Saputra dari meja sebelah langsung mengangkat alis. "Besok?"

Diana menoleh kepadanya. "Kamu mau ambil?"

Eko pura-pura batuk. "Tidak, Bu."

Diana kembali kepada Surya. "Katanya kamu cepat membaca berkas."

Surya menyentuh map itu. "Saya akan kerjakan."

"Jangan akan. Selesaikan."

Malam itu, lampu meja Surya menyala sampai gedung hampir kosong. Ia memecah kontrak menjadi tabel. Tanggal, kewajiban, pihak, bukti, celah. Saat mata mulai panas, ia berdiri mencuci muka di toilet, lalu kembali membaca. Pukul dua pagi, ringkasan selesai. Pukul tiga, opsi mediasi dan risiko litigasi selesai.

Pukul tujuh tiga puluh, ia meletakkannya di meja Diana.

Diana datang pukul tujuh empat puluh lima.

Ia membaca tanpa duduk. Lima halaman pertama membuat wajahnya tetap dingin. Halaman keenam membuat jarinya berhenti sebentar. Halaman kesebelas membuat alisnya naik.

"Kamu tidur?"

"Sebentar."

"Ini bukan pujian." Diana menutup map. "Orang yang tidak tidur bisa membuat kesalahan bodoh."

"Ada kesalahan?"

Diana menatapnya.

"Belum saya temukan."

Itu hampir terdengar seperti pujian. Namun, ia langsung menghancurkannya dengan kalimat berikutnya.

"Malam ini ikut saya bertemu klien di restoran. Kamu diam, mencatat, dan tidak menyela."

Restoran itu berada di kawasan SCBD, tempat orang bicara tentang kontrak sambil memilih steak mahal. Surya duduk dua kursi dari Diana, mencatat setiap kalimat klien. Pertemuan berjalan ketat. Namun, ia melihat sesuatu yang lebih menarik setelahnya.

Di luar restoran, sebuah Porsche Panamera hitam berhenti.

Kevin Tanuwijaya turun.

Diana keluar dari lobi beberapa menit kemudian. Wajahnya tidak seperti saat di kantor. Lebih lelah. Lebih manusia. Kevin tersenyum kepadanya seperti orang lama yang merasa punya hak menyapa.

"Kak Diana."

Surya berhenti di balik pilar.

Diana melipat tangan. "Jangan panggil begitu di tempat umum."

"Kita sama-sama UNAIR. Masa alumni tidak boleh akrab?"

"Akrab bukan berarti saya mau terlihat dekat dengan masalahmu."

Kevin tertawa pendek. "Aku hanya butuh bicara."

"Kirim email resmi kalau itu urusan hukum."

Kevin mendekat setengah langkah. "Ini tentang Surya."

Nama itu membuat Surya menegang.

Diana tidak bergerak. "Kalau kamu ingin saya menjatuhkannya, kamu salah orang."

"Aku hanya bilang, laki-laki itu berbahaya. Jangan terlalu percaya."

"Aneh. Biasanya orang berbahaya tidak perlu sibuk memperingatkan orang lain tentang bahaya."

Surya hampir tersenyum.

Tetapi dari sudut tertentu, tubuh Kevin dan Diana terlihat sangat dekat. Cukup untuk menjadi bahan bakar.

Surya tidak memotret sendiri. Ia menghubungi Wulan.

"Saya butuh dokumentasi ruang publik. Kevin Tanuwijaya dan Diana Santoso. Jangan manipulasi. Ambil sudut yang terlihat seperti mereka dekat. Namun, jangan ubah isi foto."

Wulan diam sejenak. "Untuk siapa?"

"Dua orang yang akan salah membaca karena memang ingin salah membaca."

Keesokan paginya, foto itu sampai ke dua ponsel.

Nadia menerimanya tanpa nama pengirim.

Maya juga.

Bedanya, Maya hanya membalas dengan satu kalimat kepada Surya.

Kamu mulai belajar bermain kotor tanpa melanggar garis.

Nadia tidak sebijak itu.

Sore hari, Diana keluar dari Sentana dan menemukan mobilnya miring di parkiran basement. Empat bannya kempis, sobek di sisi. Di kaca depan tertempel kertas kecil.

Jangan rebut laki-laki orang.

Diana berdiri diam.

Eko yang kebetulan lewat bersiul pelan. "Wah, Bu Diana punya penggemar."

Diana menatapnya.

Eko langsung hilang.

Surya turun lima menit kemudian. Ia melihat ban, kertas, lalu wajah Diana yang terlalu tenang.

"Saya antar pulang," katanya.

"Saya bisa panggil derek."

"Derek tidak mengantar orang pulang."

Diana menatapnya tajam. "Kamu tahu siapa pelakunya?"

"Saya punya dugaan."

"Dan kamu ikut membuat dugaan itu terjadi?"

Surya tidak berbohong. "Saya mengirim umpan."

Tamparan Diana tidak datang.

Ia hanya menatap Surya lama sekali, lalu berkata, "Kamu sadar itu bisa mengenai saya?"

"Ya."

"Lalu kenapa tetap?"

"Karena Kevin memakai nama saya untuk memperingatkan Anda. Nadia akan selalu menggigit bayangan perempuan di sekitar saya. Saya perlu tahu seberapa cepat ia bergerak."

Diana menahan marah. "Kamu menjadikan saya alat."

"Benar."

Kejujuran itu membuat Diana terdiam.

Surya menunduk sedikit. "Karena itu saya antar pulang."

Malam itu, Brio hitam berhenti di depan Palazzo Residence. Gedung itu tidak berteriak, penjaganya mengenali Diana tanpa bertanya. Lift pribadi membawa mereka ke lantai tinggi. Saat pintu unit terbuka, Surya melihat ruang tamu luas, jendela kaca dari lantai ke plafon, dan Jakarta berkilau di bawah.

Ini bukan apartemen advokat biasa.

Diana mengambil tasnya. "Terima kasih. Kamu boleh pulang."

Surya menyerahkan selembar catatan. "Nomor bengkel ban. Sudah saya hubungi. Besok pagi mereka datang ke basement."

Diana menatap catatan itu.

"Kamu pikir ini menebus?"

"Tidak. Tapi setidaknya besok Anda tidak terlambat karena saya."

Surya berbalik menuju lift.

Ketika pintu unit hampir tertutup, Diana berdiri sendirian di ambang ruang tamu. Matanya akhirnya memerah.

Ia tidak menangis karena empat ban.

Ia menangis karena seorang pria yang mengaku menjadikannya alat masih berpikir untuk memastikan ia bisa berangkat kerja besok.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!