"Rangga Aditya Wijaya hanyalah dokter muda miskin yang dihina ""sampah"" oleh mantan pacarnya dan anak pejabat.
Tapi saat pasien sekarat di UGD, sebuah sistem misterius aktif dalam dirinya — Sistem Check-in Dokter Dewa.
Setiap kali ia check-in di situasi darurat, ia mendapatkan keahlian bedah kelas dunia, uang ratusan juta, dan resep obat revolusioner.
Dari nol, Rangga akan mengguncang seluruh dunia kedokteran."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 32: Racun
Hari operasi Anthony Halim dimulai sebelum matahari naik.
RSUD Harapan Bangsa tidak memasang karpet merah. Tidak ada spanduk. Tidak ada wartawan. Pak Hendra bahkan melarang staf administrasi membocorkan jadwal operasi ke luar.
Semakin besar nama pasien, semakin kecil ruang untuk kesalahan.
Di ruang persiapan, Anthony berbaring dengan wajah pucat tetapi tenang. Bekas trauma masih membuat tubuhnya kaku. Namun matanya jernih.
Robert berdiri di samping ranjang, wajahnya tampak cemas seperti keponakan yang takut kehilangan paman.
Terlalu cemas.
Rangga masuk bersama dr. Yoga dan dr. Alya. Tim anestesi sudah siap. Pak Bambang menunggu di luar sebagai penanggung jawab senior dan pengaman keputusan besar.
Anthony mengangkat tangan perlahan.
Rangga mendekat.
"Dokter," kata Anthony.
"Pak Anthony."
Anthony menggenggam tangannya. Genggaman itu belum kuat, tetapi tegas.
"Saya percaya Anda, Dokter."
Rangga mengangguk.
"Saya akan melakukan yang bisa dipertanggungjawabkan."
"Itu lebih penting daripada janji manis."
Robert menunduk, tetapi matanya bergerak cepat.
Beberapa menit kemudian, pintu ruang operasi tertutup.
Operasi dimulai dengan disiplin yang dingin.
Alya berada di sisi pemantauan, membantu membaca perubahan kecil bersama tim anestesi. Yoga menjadi asisten utama, berdiri di sisi Rangga dengan tangan yang sudah jauh lebih stabil daripada beberapa minggu lalu.
"Kalau saya minta suction, jangan tunggu darah memenuhi lapangan," kata Rangga pelan.
"Siap, Bang."
Sayatan dibuka.
Lapisan demi lapisan.
Rongga perut masuk ke pandangan.
Pada awalnya, semuanya sesuai rencana. Jaringan bekas trauma sudah lebih tenang. Tidak ada perdarahan aktif besar. Namun ketika area lambung distal dan batas hati dievaluasi, ruang operasi menjadi lebih sunyi.
Tumor itu lebih luas daripada yang ditunjukkan CT.
Sebagian tepinya melekat pada jaringan sekitar. Beberapa kelenjar tampak mencurigakan. Area kecil di tepi hati bukan sekadar bayangan jinak.
Yoga menelan ludah.
"Lebih lebar dari perkiraan."
"Iya," kata Rangga. "Kita perlu perluas batas reseksi."
Alya menoleh dari monitor.
"Kondisi hemodinamik masih stabil."
"Catat perubahan rencana. Kita lakukan reseksi lambung dengan batas lebih luas, diseksi kelenjar, dan reseksi tepi hati terbatas. Konfirmasi ke Pak Bambang di luar."
Perawat sirkuler segera menyampaikan.
Pak Bambang mendengar, membaca catatan cepat, lalu menjawab dari luar, "Kalau batas onkologis menuntut, lakukan. Saya siap tanda tangan keputusan senior."
Tidak ada lagi ragu.
Rangga bergerak.
Teknik Bedah Onkologi Gastrointestinal yang baru terbuka di benaknya bukan lagi sekadar hadiah. Ia harus dibuktikan pada daging, pembuluh, kelenjar, dan batas hidup seorang manusia.
Tiga jam pertama, operasi berjalan tegang tetapi terkendali.
Bagian lambung yang terkena dilepas dengan batas aman. Kelenjar yang mencurigakan diangkat. Area hati dievaluasi dengan hati-hati. Yoga mengikuti setiap instruksi seperti bayangan yang semakin paham bentuk tubuh pemiliknya.
Lalu monitor berbunyi lain.
Nada pendek.
Cepat.
Alya mengangkat kepala.
"Nadi turun."
Anestesiolog melihat layar.
"Tekanan jatuh. Saturasi ikut turun."
Rangga berhenti satu detik.
Lapangan operasi bersih. Tidak ada perdarahan besar baru. Tidak ada tarikan pembuluh. Tidak ada kesalahan jahit.
Ini bukan dari pisau.
"Cek perdarahan tersembunyi," kata Rangga.
Yoga langsung suction dan membuka pandangan.
"Tidak ada semburan. Lapangan relatif kering."
Alya sudah bergerak ke meja obat.
"Obat anestesi terakhir masuk kapan?"
Perawat anestesi menjawab tegang, "Dua menit lalu, Dok."
Alya memeriksa label, sisa cairan, volume, dan urutan pemberian. Matanya mendadak mengeras.
"Rangga."
"Apa?"
"Responsnya tidak sesuai dosis. Ini seperti efek sedasi jauh lebih dalam dari catatan."
Tekanan darah Anthony turun lagi.
Monitor berbunyi lebih tajam.
Rangga tidak menunggu kepastian laboratorium.
"Hentikan obat dari vial itu. Ganti jalur. Pakai stok cadangan tersegel. Siapkan vasopressor. Koreksi ventilasi. Cek gas darah. Semua vial yang sudah dipakai jangan dibuang."
Alya menjawab cepat, "Saya pegang semua botolnya."
Anestesiolog bergerak mengikuti instruksi. Tim yang sempat membeku kembali bekerja.
Rangga menutup sementara area operasi dengan kasa steril lembap, menjaga lapangan tetap aman. Ia tidak bisa melanjutkan pemotongan saat pasien jatuh karena penyebab yang belum terkendali.
"Yoga, jangan sentuh reseksi berikutnya. Tahan retraktor stabil."
"Siap."
Sepuluh menit berikutnya terasa lebih panjang daripada satu jam operasi.
Obat diganti.
Ventilasi disesuaikan.
Tekanan darah didorong naik.
Nadi yang tadi jatuh mulai merangkak.
Saturasi membaik.
Alya tidak melepaskan pandangan dari monitor.
"Tekanan kembali."
Rangga menunggu dua menit lagi.
Ia tidak mempercayai angka yang baru pulih terlalu cepat.
Setelah tren stabil, ia berkata, "Kita lanjut. Tapi mulai sekarang, semua obat masuk dicatat dua orang. Tidak ada vial keluar dari ruangan."
Tidak ada yang membantah.
Operasi berlanjut.
Tiga jam berikutnya menjadi ujian yang lain.
Rangga harus menyelesaikan reseksi lambung yang diperluas, membersihkan kelenjar, menangani tepi hati, dan menyusun ulang saluran cerna dalam tubuh yang baru saja hampir jatuh karena racun yang belum dinamai.
Tangan Yoga sempat gemetar ketika memegang klem.
Rangga berkata tanpa menoleh, "Lihat lapangan. Jangan terpaku pada monitor."
Yoga menarik napas.
"Siap, Bang."
Alya menjaga sisi lain perang itu. Setiap perubahan tekanan, setiap penurunan kecil saturasi, setiap respons obat, ia tangkap sebelum menjadi krisis.
Di luar ruang operasi, Pak Bambang berdiri tanpa duduk sejak jam pertama.
Ketika perawat keluar meminta formulir penyegelan obat, wajahnya berubah.
"Ada apa?"
Perawat ragu.
"Dokter Rangga minta semua vial anestesi disegel setelah operasi. Ada dugaan ketidaksesuaian respons obat."
Mata Pak Bambang menjadi dingin.
"Siapkan kotak bukti. Saya yang terima."
Enam jam setelah sayatan pertama, operasi selesai.
Tumor utama keluar.
Tepi hati yang mencurigakan ditangani.
Rekonstruksi saluran cerna stabil.
Tidak ada perdarahan aktif.
Anthony dipindahkan ke ICU dengan pengawasan ketat.
Rangga baru melepas sarung tangan ketika seluruh tubuhnya terasa berat. Namun wajahnya tetap tenang.
"Catat semua keputusan intraoperatif. Simpan rekaman monitor. Semua obat, infus, spuit, dan vial yang dipakai masuk daftar segel."
Alya membawa nampan kecil berisi vial yang sudah diberi tanda.
"Yang ini paling mencurigakan."
Labelnya rapi.
Segelnya tampak utuh.
Justru itu yang membuatnya lebih menakutkan.
Pak Bambang menerima kotak bukti di luar ruang operasi. Ia melihat label, nomor batch, volume sisa, dan catatan pemberian.
Pemeriksaan cepat dari farmasi belum memberi jawaban final. Satu angka saja sudah cukup membuat darah Pak Bambang dingin.
Konsentrasi salah satu obat menyimpang jauh dari standar.
Hampir empat puluh persen.
Pak Bambang menutup kotak itu perlahan.
Di balik pintu ICU, Anthony masih bertarung untuk stabil.
Di depan Pak Bambang, sebuah botol kecil dengan label sempurna baru saja berubah menjadi bukti percobaan pembunuhan.
Ia mengangkat mata ke arah Rangga.
Suaranya rendah.
"Ada orang dalam."
Dan orang itu masih memiliki akses ke ruang operasi.