Selama sua tahun, Kiara menjalin hubungan dengan Vino, hubungan mereka berjalan dengan sangat baik, bahkan sampai bertunangan. Namun tiga bulan terakhir semua perhatian Vino beralih kepada wanita bernama Shela. Wanita yang katanya adalah keponakan Vino yang baru datang. Kiara meredam cemburu, menelan kekecewaan, dan terus percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya.
Namun, pengorbanan ada batasnya. Kebohongan yang terus dikemas rapi akhirnya terkuak saat Kiara menemukan fakta bahwa kedekatan Vino dan Sheila melampaui ikatan keluarga yang selama ini digembar-gemborkan. Di titik itulah Kiaramenyadari, dia bukan sekadar dikhianati, melainkan tak pernah benar-benar dijadikan yang utama.
Tanpa amarah yang meledak-ledak, Kiara memilih meletakkan kembali seluruh perasaannya. Dia mengembalikan semua kenangan dan melangkah pergi. Saat Vino akhirnya tersadar dan mencoba mengejar, Kiara hanya menyisakan satu kenyataan dingin. Masa berlaku cintanya telah habis, dan tidak ada kesempatan kedua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kiara 29
Tak sampai tiga puluh menit, kendaraan mereka memasuki pelataran megah The Royale Executive Residence. Gedung hunian eksklusif itu berdiri megah dengan sistem keamanan ketat. Gabriel membimbing Kiara menuju lift khusus penghuni lantai atas.
Denting lift menandai kedatangan mereka di lantai 18. Koridor di lantai ini begitu tenang dengan karpet tebal yang meredam setiap langkah kaki. Gabriel berhenti di depan pintu bernomor 1802, lalu menunjuk pintu persis di sebelahnya, nomor 1801.
"Ini unitmu, 1801," kata Gabriel sambil menyerahkan access card berwarna hitam-emas kepada Kiara.
"Unit saya di 1802. Jika ada hal darurat atau dokumen yang perlu didiskusikan malam ini, kamu tinggal mengetuk pintu atau menggunakan telepon interkom."
Kiara menerima kartu akses itu. Ia menempelkannya pada panel digital di pintu unit 1801. Suara kunci elektronik berbunyi bip dua kali, dan pintu terbuka memperlihatkan interior apartemen bernuansa minimalis modern yang sangat luas, lengkap dengan jendela besar yang menyajikan pemandangan city light Jakarta yang menakjubkan.
"Fasilitasnya benar-benar luar biasa, Mas Gabriel," bisik Kiara terkagum-kagum. Seperti keinginan Gabriel yang memintanya unruk memanggil nama saat di luar kantor.
"Kamu berhak mendapatkannya atas dedikasi kerja yang akan kamu berikan," sahut Gabriel ramah. Ia berdiri di ambang pintu, menatap Kiara dengan pandangan hangat.
"Istirahatlah, rapihkan barang-barangmu. Kalau kamu belum makan malam, ada restoran di lantai bawah yang bisa kamu pesan via interkom, atau kita bisa memesan makanan bersama nanti."
Kiara menatap pimpinannya itu, merasakan penghargaan atas kapasitas dirinya yang selama ini tidak pernah ia dapatkan dari Vino. Di sini, ia diakui bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai mitra kerja yang setara dan berharga.
"Terima kasih, Mas Gabriel. Saya akan merapikan koper dulu," jawab Kiara penuh syukur.
"Dan soal esok pagi saya sudah siap sepenuhnya untuk medan perang itu."
Gabriel tersenyum lebar, sebuah senyuman yang benar-benar lepas dan hangat.
"Bagus. Selamat malam, Kiara. Sampai jumpa besok pagi jam tujuh tepat di koridor ini."
"Selamat malam, Mas Gabriel."
Saat pintu apartemennya tertutup rapat, Kiara menyandarkan punggungnya pada pintu kayu yang kokoh itu. Ia menghela napas panjang, bukan napas lelah, melainkan napas kelegaan yang luar biasa. Di tempat ini, di kota ini, bersama orang-orang yang profesional, masa lalunya yang penuh kebohongan dan kekecewaan telah benar-benar lebur. Kiara Anindya yang baru telah bangkit, siap menaklukkan setiap tantangan di hadapannya.
Begitu pintu apartemen 1801 terkunci otomatis, Kiara meletakkan tas tangannya di atas meja konsol marmer di dekat pintu masuk. Langkah kakinya melintasi karpet tebal bernuansa krem menuju jendela kaca raksasa yang membentang dari lantai hingga langit-langit. Di luar sana, panorama Jakarta Selatan malam hari membentang bak hamparan permata berkilauan di atas kain hitam.
"Rumah baru, kehidupan baru," bisik Kiara pada dirinya sendiri. Senyum tipis terukir di bibirnya. Perasaan tenang yang sudah sangat lama hilang dari dadanya kini kembali menyapa.
Belum lima belas menit Kiara membongkar isi kopernya dan menata beberapa pakaian di lemari walk in closet, suara bel pintu apartemen berdenting dua kali.
Kiara berjalan mendekati pintu, mengintip layar interkom digital di dinding. Layar menampilkan sosok Gabriel yang berdiri tenang di koridor. Ia sudah mengganti jas formalnya dengan kaus knit lengan panjang berwarna navy yang pas di tubuhnya dan celana kain santai.
Kiara membuka pintu sedikit. " Mas Gabriel? Ada yang tertinggal?"
Gabriel tersenyum sembari mengangkat sebuah kantong kertas tebal berlogo restoran Italia ternama di lantai bawah gedung.
"Saya baru saja memesan makan malam. Mengingat kamu baru sampai dan pasti belum sempat mengisi kulkas, saya pikir akan sangat tidak sopan kalau membiarkan asisten pribadi saya bekerja besok dalam keadaan kelaparan."
Kiara terkekeh pelan, menyibakkan rambutnya ke belakang telinga. "Penuh perhitungan seperti biasa. Masuklah."
Kiara membuka pintu lebih lebar, memberi jalan untuk Gabriel. Pria itu melangkah masuk dengan santai, mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang bersih dan rapi.
"Pemandangan dari unit ini bagus, kan?" tanya Gabriel sembari berjalan menuju meja makan berbahan kayu oak di dekat dapur bersih.
"Sangat luar biasa," jawab Kiara tulus seraya mengambil dua buah piring dan gelas dari lemari dapur.
"Terima kasih banyak, Mas Gabriel. Kamu benar-benar memikirkan segalanya."
"Efisiensi, Kiara," sahut Gabriel ringan sembari mengeluarkan dua wadah makanan berisi pasta truffle fettuccine dan grilled salmon salad.
"Karyawan yang terawat dengan baik akan menghasilkan performa yang maksimal. Itu investasi dasar seorang pimpinan."
Mereka duduk berhadapan di meja makan. Aroma makanan yang menggugah selera seketika memenuhi ruangan.
"Bicara soal investasi," kata Kiara setelah menikmati suapan pertamanya, "soal Raka dari bagian Keuangan tadi... Apa kamu berencana menariknya langsung ke tim khusus kita?"
Gabriel meletakkan garpunya sejenak, matanya menatap Kiara dengan binar apresiasi.
"Kamu selalu langsung pada inti masalah. Ya, betul. Tapi kita harus bermain halus. Kalau kita terang-terangan mendekati Raka di depan jajaran direksi senior besok, mereka akan langsung mencurigai Raka dan membatasi akses datanya."
"Artinya, kita butuh alibi untuk berinteraksi dengan Raka tanpa memicu kecurigaan," sambung Kiara cepat.
"Tepat," jawab Gabriel dengan senyum puas.
"Di sinilah peranmu dan Nadia. Besok setelah rapat besar, minta Nadia untuk mengajak Raka makan siang bertiga denganmu lagi secara kasual. Di sana, secara tidak resmi, minta Raka menyerahkan dokumen rekonsiliasi kas tiga bulan terakhir yang belum sempat diubah oleh atasannya."
Kiara mengangguk-angguk, memahami alur permainan taktis yang disusun Gabriel. "Saya mengerti. Nadia sebagai orang Marketing akan menjadi 'tameng' agar pertemuan itu terlihat seperti interaksi sosial biasa antar sesama karyawan."
"Pintar," puji Gabriel pelan, pandangannya tertuju lekat pada wajah Kiara.
"Saya kagum dengan ketenanganmu, Kiara. Di hari pertama kerja dengan tekanan setinggi ini, kamu sama sekali tidak menunjukkan keraguan atau rasa cemas."
Kiara tersenyum tipis, pandangannya menerawang sejenak memikirkan masa lalunya yang kelam bersama Vino, saat-saat ia terus-menerus diselimuti kecemasan akibat kebohongan dan manipulasi.
"Ketika seseorang sudah melewati masa-masa di mana kejujurannya terus disia-siakan oleh orang yang salah, dinamika pekerjaan seberat apa pun rasanya tidak ada apa-apanya, Gabriel," tutur Kiara pelan namun sarat ketegasan.
"Di dunia kerja, angka dan data tidak pernah berbohong. Dan saya lebih suka berurusan dengan fakta daripada ilusi manis."
Gabriel terdiam sejenak, menangkap ketegaran luar biasa di balik tatapan mata wanita di hadapannya. Ia mengangguk penuh penghormatan. Tak banyak bertanya masalah privasi Kiara dan apa saja hal yang baru di lewati perempuan di depannya.
"Kamu benar," kata Gabriel lembut.
"Fakta adalah satu-satunya pijakan yang solid. Dan di perusahaan ini, saya pastikan kapabilitas dan kejujuranmu akan dihargai sebagaimana mestinya."
Malam semakin larut saat mereka menyelesaikan makan malam. Suasana yang tadinya formal perlahan mencair menjadi perbincangan yang hangat dan berbobot. Gabriel menceritakan beberapa pengalamannya saat memimpin ekspansi di London, sementara Kiara membagikan sudut pandangnya mengenai potensi pengembangan pasar di cabang-cabang daerah. Ternyata Gabriel tidak seburuk yang di ceritakan banyak orang di kantor.
Sekitar pukul sembilan malam, Gabriel berdiri dan merapikan kantong bekas makanan mereka.
"Saya harus kembali ke unit sebelah," ujar Gabriel berdiri di depan pintu keluar.
"Kamu harus tidur cukup. Besok pukul 07.30, mobil kantor sudah siap di basement, dan pukul 09.00 rapat perombakan struktur divisi akan dimulai."
Kiara mengantar Gabriel hingga ke ambang pintu. "Terima kasih untuk makan malamnya, Mas Gabriel. Sampai jumpa besok pagi."
Gabriel menoleh, menyunggingkan senyum hangat yang jujur. "Selamat malam, Kiara. Nikmati istirahatmu."
Pintu menutup rapat. Kiara mengunci pintu, mematikan sebagian lampu utama, dan berjalan menuju kamar tidur. Sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk berseprai putih bersih, Kiara menatap langit-langit kamar dengan hati yang benar-benar lapang. Besok adalah hari pertamanya membuktikan pada dunia dan pada dirinya sendiri bahwa keputusannya untuk melangkah pergi adalah awal dari kejayaan yang sesungguhnya.
atasan dan rekan kerja well come dengan kedatangan kamu, Kiara.Semoga kesuksesan kamu ada di sini dan menemukan jodoh yang setia.
lingkungan baru n suasana baru, org² baru
nanti km ketularan rabies ,,