Kematian Pak Broto yang mendadak meninggalkan duka sekaligus keanehan yang tak masuk akal bagi anak-anaknya. Dari jasad yang beratnya tidak wajar, bau tanah basah bercampur kemenyan saat dimandikan, hingga tanah liang lahat yang mendadak amblas.
Bu Retno, sang ibu, melimpahkan dukanya dengan mengurung diri selama berbulan-bulan di kamarnya, dan menutup total Warung Nasi Broto—usaha kuliner keluarga di pinggir jalan raya Madiun-Ngawi yang selama ini menghidupi mereka. Atas desakan dan perjuangan keras Galang, anak ketiga yang paling berbakti, Bu Retno akhirnya mau kembali bangkit.
Namun, kebangkitan Bu Retno membawa teror baru. Hanya dua bulan kemudian, Bu Retno memperkenalkan seorang pria misterius yang dingin sebagai calon suami barunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 - Rencana Pernikahan
Dua bulan berlalu bagaikan mimpi yang semu. Warung Nasi Broto kini bukan lagi warung kayu kusam bernuansa muram di pinggiran Madiun.
Dengan kucuran dana yang dibawa oleh Pak Sapta, bangunan itu telah bertransformasi total. Dinding-dinding papan jati tua dilapisi cat cokelat hangat yang memikat, meja-meja kayu baru berbaris rapi, dan plang nama besi berkilau memancarkan kejayaan yang melampaui era almarhum Pak Broto.
Setiap hari, aroma rawon dan gulai daging sapi menguar gurih ke jalanan, memancing antrean pengunjung dari luar kota.
Dapur tak pernah berhenti mengepul, uang terus mengalir masuk, dan beban kemiskinan yang mencekik saudara-saudara Galang seolah sirna dalam sekejap.
Bayu kini mengenakan pakaian necis, berperan sebagai pengelola utama warung dengan kebanggaan yang meluap-luap. Mia, Rian, dan Gilang mengenakan seragam sekolah baru dan tak lagi merintih kelaparan.
Namun di mata Galang, semua kemewahan ini hanyalah panggung sandiwara di atas tanah kuburan.
Setiap kali pesanan melonjak drastis, Galang menyaksikan sendiri bagaimana Bu Retno selalu masuk ke dapur tertutup di belakang warung tepat pukul tiga sore—membawa mangkuk tanah liat berisi rempah ghaib yang diberikan Pak Sapta.
Dan setiap kali bumbu misterius itu dituangkan ke dalam kuali raksasa, bau gurih yang menguar selalu menyembunyikan aroma anyir darah dan tanah basah yang hanya bisa dicium oleh Galang.
Sore itu, setelah pintu warung ditutup untuk umum, Bu Retno meminta seluruh anak-anaknya berkumpul di ruang tengah.
Suasana ruang tengah terasa begitu berbeda. Lampu gantung kristal sederhana kini menggantikan pendar temaram lampu minyak tanah.
Di ujung meja, Pak Sapta duduk tenang mengenakan kemeja batik sutra berwarna gelap. Sedang di sampingnya, Bu Retno duduk kaku dalam balutan kebaya batik cokelat keemasan yang baru.
Galang berdiri di dekat sudut ruangan, menyandarkan punggungnya pada tiang kayu tua. Tangannya meremas sisa potongan kain linen yang tersembunyi di saku celananya—potongan kain yang selalu mengingatkannya bahwa di balik gelimang harta ini, masa depan kelima saudaranya sedang digantung di ujung tanduk.
"Ada apa ini, Bu? Kok kumpul ramai-ramai begini?" tanya Bayu ceria seraya menarik kursi untuk Pertiwi dan adik-adiknya.
Bu Retno mengusap telapak tangannya di atas meja, lalu memandang satu per satu wajah anak-anaknya. Senyum kaku yang menjadi ciri khas barunya mengembang tipis.
"Hari ini, Ibu mau menyampaikan sesuatu yang sangat penting untuk masa depan keluarga kita," ucap Bu Retno dengan suara yang tenang namun dingin. Ia melirik Pak Sapta yang duduk di sisinya, memberikan anggukan penuh arti.
Pak Sapta berdeham pelan, membetulkan letak kacamata emasnya, lalu tersenyum hangat—sebuah senyuman yang sangat diatur dengan rapi.
"Dua bulan ini, saya sudah melihat bagaimana kalian berjuang," ujar Pak Sapta. "Warung berjalan pesat, kehidupan kalian makin membaik. Tapi rumah ini butuh sosok penopang yang utuh. Bu Retno tidak bisa selamanya menanggung beban ini sendirian tanpa ada yang mendampingi di mata hukum dan agama."
Jantung Galang seketika berdetak lebih cepat. Mata hukum dan agama. Firasat terburuknya benar-benar menjadi nyata.
"Maksud Pak Sapta ...?" Pertiwi menyela ragu, matanya yang polos menatap ibunya dengan tatapan tak percaya.
Bu Retno mengambil alih pembicaraan, matanya menatap lurus ke depan tanpa kedipan.
"Ibu dan Pak Sapta sudah sepakat. Bulan depan ... kami akan menikah."
Keheningan melayang kaku di ruang tengah selama beberapa detik.
Bayu menjadi orang pertama yang memecah keheningan itu. Wajahnya berseri-seri, senyum lebar terukir spontan di bibirnya.
"Beneran, Bu?! Ibu mau nikah sama Pak Sapta?!"
"Iya, Bayu," jawab Bu Retno datar. "Pak Sapta sudah bersedia menjadi kepala keluarga di rumah ini. Menggantikan peran almarhum bapakmu."
"Wah, ini kabar baik banget, Bu!" seru Bayu girang seraya menoleh pada Pak Sapta. "Saya setuju banget, Pak! Dari awal saya sudah menganggap Pak Sapta seperti bapak sendiri. Terima kasih banyak sudah mau menjaga keluarga kami!"
Mia dan Rian yang masih polos hanya mengangguk-angguk kegirangan, membayangkan hadiah dan fasilitas sekolah yang pasti akan makin melimpah di bawah naungan Pak Sapta.
Hanya Pertiwi yang tertunduk diam, merasakan ada kejanggalan tak kasat mata dari ibu dan calon ayah tirinya.
"Tunggu dulu," suara Galang memotong keceriaan Bayu bagaikan tebasan pisau yang dingin.
Seluruh pandangan di ruang tengah mendadak tertuju ke sudut ruangan, tempat Galang berdiri kaku dengan mata menyalang merah.
Galang melangkah pelan mendekati meja makan. Setiap tumpuan kakinya terasa sangat berat.
"Menikah? Baru delapan bulan Bapak meninggal, dan Ibu sudah memutuskan untuk menikah lagi?!"
Bayu langsung berdiri, memukul meja kayu dengan telapak tangannya.
BRAK!
"Galang! Jaga mulutmu! Nggak usah bawa-bawa almarhum Bapak! Pak Sapta ini orang yang sudah menyelamatkan kita dari kelaparan! Kamu mau kita melarat lagi kayak dulu?!"
"Aku tidak bicara soal melarat atau kaya, Mas!" bentak Galang tak kalah keras, dadanya naik turun menahan gumpalan amarah. "Aku bicara soal tata krama dan niat di balik semua ini! Kenapa harus buru-buru menikah?! Apa warung ini tidak cukup sebagai ikatan bisnis?!"
Pak Sapta mengangkat tangannya yang mengenakan cincin batu akik merah darah, mengisyaratkan agar Bayu meredakan emosinya.
Pria paruh baya itu berdiri dari kursinya, melangkah perlahan mengitari meja hingga berdiri tepat di depan Galang.
"Galang ...," panggil Pak Sapta penuh kelembutan yang mematikan. "Saya mengerti rasa hormatmu pada almarhum Pak Broto. Itu tanda bahwa kamu adalah anak yang berbakti. Tapi pernikahan ini bukan sekadar tentang saya dan ibumu."
Pak Sapta memiringkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya hingga suaranya menyusut menjadi bisikan halus yang hanya ditujukan untuk telinga Galang.
"Pernikahan ini adalah pengikatan sah, Galang, seorang 'Kepala Keluarga' baru dibutuhkan untuk menandatangani buku catatan yang ditinggalkan ayahmu. Tanpa ikatan resmi ini ... perlindungan atas kelima saudara kandungmu tidak akan berlaku di dunia sana. Kamu mau melihat nama Bayu atau Pertiwi dicoret duluan dari kain linen itu?"
Darah Galang mendidih seketika. Ancaman itu begitu lugas, begitu terang-terangan! Pak Sapta memanfaatkan pernikahan ini untuk menjadi pemilik sah atas takdir dan nyawa garis keturunan Pak Broto! Dengan menjadi suami sah Bu Retno, Pak Sapta secara ghaib dan hukum memiliki hak penuh untuk menyerahkan tumbal saudaranya satu per satu demi melanggengkan kekuasaan pesugihan mereka.
"Dasar iblis," desis Galang pelan, jarinya mengepal kencang hingga kukunya menancap ke telapak tangan sendiri.
Pak Sapta hanya tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh kemenangan yang teramat dingin. Ia menepuk bahu Galang dua kali dengan ketukan yang mantap, lalu berbalik menghadapi anggota keluarga yang lain.
"Pernikahan akan digelar sederhana di rumah ini bulan depan," umum Pak Sapta dengan suara berwibawa. "Hanya kerabat dekat dan warga sekitar. Setelah itu ... kita akan memulai babak baru Warung Nasi Broto yang jauh lebih besar."
Bayu bertepuk tangan gembira, sementara Bu Retno tetap duduk bersedekap dengan wajah pucat dan senyum kaku yang mengukir bibirnya.
Galang berdiri mematung di tengah gelak tawa Bayu dan adik-adiknya yang dibutakan oleh kenikmatan duniawi.
Ia memandang potongan kain linen yang teremas di dalam sakunya.
mereka menunggu giliran meninggal untuk diambil nyawanya oleh penagih pesugihan pakk Broto
Terus sekarang kamu tergesa gesa pulang ke Madiun tanpa tahu bagaimana caranya menghentikan pesugihan ini, ya sama aja bohong.
kamu tetap tidak bisa menyelamatkan nyawa Mia.
kamu datang ke Madiun hanya akan melihat nyawa Mia , sedangkan nyawa Rian dan Gilang pun masih menunggu giliran
aku belum pernah kesana , Thor ....
paling lewaT aja lalu naik kereta mau ke Surabaya
setelah itu Rian .... terus Gilang.
5 garis keturunan.
ditambah janin anak sulung dan pakk Broto sendiri menjadi 7.
Benarkah Galang akan menyaksikan kembali kematian 3 tumbal yang tersisa?
apakah Galang benar benar tidak bisa menyelamatkan sisanya??
Meski dokternya tahu bahwa ini bukan penyakit biasa, seorang dokter tidak akan menyarankan berobat ke kyai .
kalau penyakit adikmu ini berhubungan dengan hal ghaib .
Jadi kacamata dokter tidak akan mendeteksi adanya penyakit di tubuh Pertiwi
Dan Galang ... menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ketika Bayu dan sekarang Pertiwi meninggal karena sudah waktunya ditumbalkan.
dan
Galang sudah mengetahui tumbal garis keturunan ini , dan dia hanya bisa menyaksikan 1 per 1 tumbal diambil nyawanya