NovelToon NovelToon
Dibuang Lalu Dinikahi CEO

Dibuang Lalu Dinikahi CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Keluarga Chandra membuang Lukas dengan alasan ia miskin dan tidak beruntung, tanpa tahu bahwa selama ini mereka menutupi jejak identitas aslinya yang sesungguhnya. Saat Lukas sudah tak punya tempat tujuan, Kirana datang—bukan untuk memberi belas kasihan, melainkan untuk mencarinya. Sebagai CEO yang sedang menyelidiki persaingan bisnis kotor, Kirana tahu Lukas adalah kunci dari semua misteri yang terjadi di lingkaran elit.

Pernikahan mereka adalah topeng untuk menyusup ke dalam rahasia besar. Di sela-sela kehidupan mewah yang tak pernah ia miliki, Lukas mulai menemukan fakta mengejutkan: pengusirannya dari rumah bukan sekadar karena ia miskin, melainkan upaya untuk menyembunyikan warisan besar yang seharusnya menjadi miliknya. Dan Kirana… wanita yang mengangkatnya dari keterpurukan, ternyata memiliki kaitan mendalam dengan musuh terbesar yang merampas haknya sejak dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 22

Malam itu langit di atas Palu tampak bersih tanpa awan, ribuan bintang berkelap-kelip menatap ke bawah seolah menyaksikan momen yang tak terulang. Di balkon lantai tertinggi apartemen, angin malam berhembus lembut membawa aroma laut yang samar. Lukas berdiri menyandar pada pagar pembatas, menatap cahaya kota yang membentang luas hingga ke kaki bukit. Di sampingnya, Kirana berdiri diam sejak lama, napasnya teratur namun hatinya berdegup kencang seolah ingin melompat keluar.

Ia sudah berlatih mengucapkan kata-kata ini berulang kali dalam pikirannya, namun setiap kali bertemu mata Lukas, keberaniannya seolah luntur begitu saja. Ia tahu kebenaran ini berat—mungkin akan melukai, mungkin akan membuat Lukas memandangnya berbeda. Namun ia tidak ingin lagi membangun hubungan di atas kebohongan, di atas setengah pengakuan. Jika mereka ingin melangkah bersama menghadapi bahaya terbesar sekalipun, fondasi mereka haruslah kebenaran yang utuh.

Lukas menyadari keheningan yang berbeban berat di sampingnya. Ia menoleh perlahan, menatap wajah wanita yang selama ini menjadi sandaran sekaligus kekuatannya.

“Ada sesuatu yang ingin kamu katakan?” tanyanya pelan, lembut dan tidak menuntut.

Kirana menarik napas panjang, menatap lurus ke arah cakrawala sebelum akhirnya berbalik menghadap Lukas. Matanya bening, penuh ketulusan namun juga penuh kecemasan.

“Lukas… ada hal yang belum pernah aku katakan sepenuhnya padamu. Hal yang paling aku takutkan untuk diungkapkan, karena aku takut kamu akan menganggapku sama seperti mereka—sama seperti keluarga Chandra, sama seperti Bima—yang hanya melihatmu sebagai alat atau keuntungan semata.”

Suaranya bergetar sedikit, namun ia segera menguatkan diri dan melanjutkan:

“Saat pertama kali aku mencari jejakmu, saat aku berusaha menemukan keberadaanmu yang selama ini hilang… aku mengakuinya dengan jujur: awalnya tujuanku memang demi keuntungan. Aku tahu kamu adalah pewaris tunggal Grup Wijaya. Aku tahu bahwa dengan berdiri di sampingmu, aku bisa memiliki bukti yang cukup untuk menjatuhkan Bima, memulihkan nama baik ayahku, dan menyelamatkan perusahaan keluarga kami dari ancaman pengambilalihan paksa. Aku melihatmu sebagai kunci yang bisa membuka pintu keadilan sekaligus menyelamatkan masa depanku sendiri.”

Ia berhenti sejenak, menelan ludah yang terasa pahit. Ingatannya kembali ke hari-hari awal pencarian—saat ia hanya memikirkan strategi, bukti, dan kemenangan hukum, tanpa pernah membayangkan akan menemukan seseorang seperti Lukas.

“Aku berpikir: aku akan menemuimu, menjelaskan segalanya, lalu kita bekerja sama sesuai kesepakatan. Aku akan membantumu mengambil hakmu, dan kamu akan membantuku membalas dendam atas kematian ayahku. Itu semua tampak seperti perhitungan yang jelas, tanpa perasaan, tanpa keraguan. Tapi… takdir ternyata memiliki rencana lain.”

Kirana menatap mata Lukas lekat-lekat, berusaha menyampaikan setiap detil perubahan yang terjadi di hatinya.

“Saat aku akhirnya menemukanmu—bukan pewaris kaya raya yang sombong, bukan orang yang penuh dendam buta—tapi anak muda yang pernah dibuang, dikhianati, namun tetap memelihara kebaikan hati, kesabaran, dan keberanian yang luar biasa… saat aku melihatmu berusaha keras memahami dunia yang asing bagimu, saat aku melihatmu menahan sakit demi kebenaran, saat aku melihatmu justru berusaha melindungiku padahal kamu sendiri sedang dalam bahaya… aku sadar bahwa perhitunganku salah besar. Aku tidak lagi sekadar ingin bekerja sama denganmu. Aku ingin berjalan bersamamu, bukan sebagai mitra yang saling memberi manfaat, tapi sebagai orang yang saling membutuhkan dan saling mencintai.”

Air mata mulai menetes perlahan di pipinya, namun ia tidak lagi menunduk atau menyembunyikannya.

“Aku mencintaimu, Lukas. Bukan karena siapa kamu nantinya, bukan karena harta atau hak warismu, bukan karena apa yang bisa kamu berikan padaku. Aku mencintaimu karena kamu adalah dirimu sendiri—karena kelembutanmu, karena keteguhanmu, karena caramu melihat dunia dengan mata yang penuh harapan meski dunia pernah menyakitimu begitu dalam. Dan aku… aku berjanji padamu, mulai detik ini dan seterusnya, aku bersedia berjuang bersamamu tanpa syarat apa pun. Jika kamu tidak ingin mengambil kembali aset itu, aku tetap di sini. Jika kamu memilih jalan yang berbeda, aku tetap di sini. Bahkan jika nanti kita harus menghadapi Bima sendirian tanpa dukungan siapa pun, aku tetap di sisimu. Aku tidak lagi mencari keuntungan darimu—aku hanya ingin ada untukmu.”

Keheningan menyelimuti mereka sejenak. Hanya suara angin dan detak jantung yang saling bersahutan. Lukas mendengarkan setiap kata dengan saksama, tidak terkejut, tidak marah—justru ia merasakan kelegaan yang mendalam. Ia sudah menyadari perubahan sikap Kirana sejak lama, sudah merasakan ketulusan yang tumbuh di antara mereka, namun mendengar pengakuan langsung dari mulutnya membuat segalanya menjadi nyata dan utuh.

Ia melangkah selangkah mendekat, lalu dengan lembut menyeka sisa air mata di pipi wanita itu.

“Kirana,” ucapnya pelan namun tegas, “terima kasih sudah berani jujur padaku. Dan ketahuilah satu hal: aku tidak pernah kecewa atau marah karena awalnya kamu memiliki tujuan sendiri. Kita semua punya alasan untuk berjalan ke arah tertentu dulu. Yang terpenting adalah ke mana kita melangkah sekarang.”

Ia menggenggam tangan Kirana erat di tangannya.

“Aku justru bersyukur kamu menemukanku. Bahkan jika kamu datang dengan tujuan lain di awal, apa yang tumbuh di antara kita adalah hal yang paling berharga yang pernah aku miliki. Aku tidak membutuhkanmu demi bukti atau kekuatan—aku membutuhkanmu karena kamu adalah rumah bagiku. Dan aku juga berjanji: apa pun yang terjadi, kita akan berjuang bersama. Tanpa syarat, tanpa hitungan untung rugi.”

Mendengar itu, pertahanan terakhir Kirana runtuh. Ia memeluk Lukas erat-erat, menyandarkan kepalanya di bahu pria itu seolah ingin melepas semua beban ketakutan dan keraguannya selama ini. Ia merasa begitu ringan, begitu aman—akhirnya ia bisa menjadi dirinya sendiri, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, tanpa harus menyembunyikan apa pun.

Malam itu mereka berjanji satu sama lain:

Tidak akan ada lagi rahasia besar di antara mereka.

Akan saling mendukung meski pendapat berbeda.

Tidak akan membiarkan musuh memanfaatkan perasaan atau masa lalu mereka untuk saling melukai.

Akan berjuang bukan hanya untuk keadilan bagi keluarga masing-masing, tapi juga untuk masa depan yang bisa mereka bangun bersama.

Keberanian Kirana untuk mengakui kebenaran itu justru menjadi kekuatan terbesar yang mengikat mereka. Bima mungkin memiliki kekayaan, kekuasaan, dan banyak pengikut, namun ia tidak pernah memiliki sesuatu yang tulus dan utuh seperti yang dimiliki Lukas dan Kirana. Ia tidak pernah tahu rasanya berjuang tanpa pamrih, tidak pernah tahu rasanya dicintai apa adanya.

Saat mereka berdua kembali menatap ke arah gedung pencakar langit tempat markas Bima berada, bangunan itu tampak tidak lagi begitu menakutkan. Karena kini mereka tahu: di balik setiap tembok tinggi dan kekuasaan besar, yang paling tak tersentuh adalah hati yang saling menjaga dan kebenaran yang berani diucapkan.

1
Imam Dzaky A.
💪💪💪💪👍🙏
Imam Dzaky A.
lanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!