Nara Ayuningtyas pernah mati setelah kehilangan segalanya.
Suaminya meninggal. Kedua putranya menyusul. Dan putri yang ia besarkan dengan segenap cinta justru mengaku bahwa semua itu berawal dari satu kejahatan: pertukaran bayi pada malam persalinan.
Ketika Nara membuka mata, ia kembali ke tahun 2006—tepat saat air ketubannya pecah di sebuah klinik bersalin yang gelap karena mati listrik. Di balik pintu, bidan yang ia percaya sedang menyiapkan dua gelang bayi yang sama.
Kali ini, Nara tidak akan terlambat.
Dengan bantuan seorang perawat yang ketakutan, ia berhasil memastikan Kirana, putri kandungnya, kembali ke pelukannya. Namun Siska, adik iparnya, tetap percaya pertukaran itu berhasil. Ia menunggu hari ketika “putrinya” tumbuh besar, kaya, dan bisa direbut kembali.
Sementara Nara membangun Cahaya Nara dari sudut dapur rumah cicilan hingga menembus panggung elite Jakarta, Raka Wiratama—suaminya yang dingin dan taat aturan—memilih berdiri di sisinya, lagi dan lagi. Bukan dengan menyalahgunakan seragamnya, melainkan dengan membuat kebenaran mendapat jalan.
Delapan belas tahun kemudian, Siska datang ke sebuah gala di Menteng membawa gelang lama dan hasil DNA.
Di depan kamera, ia menunjuk Kirana dan berteriak, “Dia putriku!”
Namun sebelum Nara menjawab, Maya—gadis yang selama ini dibesarkan Siska—melangkah ke atas panggung sambil membawa rekaman yang dapat menghancurkan kebohongan seluruh keluarga.
Malam itu, siapa yang sebenarnya akan kehilangan anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27
Tidak Membeli Hak Asuh
Keesokan harinya, Nara, Bu Sari, dan Siska kembali ke Puskesmas Bergas tanpa Maya.
Dimas menjaga bayi itu di rumah sesuai arahan pemantauan, sedangkan petugas meminta para anggota keluarga membicarakan dukungan dan jadwal tindak lanjut.
Di ruang konsultasi, seorang pekerja menjelaskan bahwa keterlambatan membawa anak demam dicatat sebagai fakta pelayanan. Catatan tersebut tidak otomatis memindahkan hak asuh atau menyatakan orang tua bersalah.
“Kami menilai kebutuhan anak dan kemampuan keluarga memenuhi tindak lanjut,” katanya. “Jika ada risiko berulang, kami dapat meneruskan informasi melalui prosedur yang berlaku.”
Siska duduk dengan kedua lengan terlipat. “Jadi Nara tidak bisa mengambil Maya hanya karena membayar kemarin?”
Nara menjawab sebelum petugas perlu meluruskan. “Aku tidak pernah meminta itu.”
“Kamu selalu datang membawa uang dan catatan.”
“Biaya darurat adalah bantuan untuk Maya. Bukan uang muka untuk membeli anak.”
Petugas menegaskan bahwa kesepakatan pribadi tidak dapat menggantikan proses penetapan pengasuhan. Jika ada kekhawatiran serius, penilaian dilakukan oleh pihak berwenang dengan kepentingan anak sebagai dasar.
Bu Sari bertanya, “Apa yang perlu dilakukan keluarga sekarang?”
Pekerja itu membuka rencana tertulis. Maya harus menghadiri kontrol, mengikuti jadwal pemberian susu dan obat, serta memiliki orang dewasa yang mengetahui tanda bahaya. Dimas dan Siska diminta membagi tanggung jawab. Bu Sari dapat menjadi dukungan, tetapi bukan pengganti permanen tanpa pengaturan yang sah.
“Kalau mereka tidak datang lagi?” tanya Nara.
“Sampaikan informasi faktual kepada layanan. Jangan mendatangi rumah dengan rombongan atau membawa anak tanpa dasar darurat.”
Nara mengangguk. Jawaban itu tidak memberikan kepuasan cepat, tetapi menjaga Maya dari pertarungan perebutan.
Siska menatapnya. “Kalau kamu begitu khawatir, ambil saja dia. Bayar semua kebutuhannya. Aku bisa menandatangani kertas.”
Bu Sari tersentak.
Nara tidak menjawab dalam kemarahan. “Tidak.”
“Katanya kamu menyayanginya.”
“Karena aku menyayanginya, aku tidak akan membeli hak atas dirinya ketika kamu sedang takut diperiksa.”
“Lalu kamu mau apa?”
“Kamu dan Dimas menjalankan tanggung jawab. Jika kalian butuh bantuan susu, kendaraan, atau jadwal, bantuan itu dicatat tanpa syarat memiliki Maya. Jika Maya tidak aman, lembaga yang berwenang menilai. Bukan aku yang membuat transaksi.”
Pekerja itu mencatat bahwa tawaran penyerahan informal ditolak dan menjelaskan kembali pilihan dukungan. Siska diminta tidak menandatangani dokumen apa pun tentang anak tanpa nasihat hukum serta proses yang sesuai.
“Kalau suatu hari kami memang tidak mampu?” tanya Siska.
“Mintalah penilaian dan dukungan sebelum keadaan menjadi darurat,” jawab pekerja. “Ada perbedaan antara meminta bantuan pengasuhan sementara, menitipkan anak dengan aman, dan memindahkan hak secara tetap. Semua perlu kejelasan, persetujuan, serta pencatatan.”
Bu Sari menanyakan apakah dirinya boleh mengambil Maya untuk kontrol jika kedua orang tua bekerja. Petugas menjelaskan bahwa orang tua perlu memberikan persetujuan dan informasi medis yang diperlukan, sementara keputusan tertentu tetap berada pada wali atau tenaga kesehatan sesuai keadaan.
Nara menulis penjelasan itu. “Jadi bantuan keluarga harus memperkuat tanggung jawab orang tua, bukan membuat mereka menghilang.”
“Benar.”
Siska terlihat tidak senang karena tidak ada jalan singkat yang memberinya uang sekaligus membebaskannya dari kewajiban.
“Semua orang membuatku seperti ibu buruk,” katanya.
“Hari ini bukan sidang penilaian dirimu,” jawab petugas. “Kita membahas tindakan yang harus dilakukan untuk Maya.”
Mereka menyusun jadwal satu minggu. Bu Sari akan membantu satu pagi, Dimas mengambil satu hari libur, dan Siska membawa Maya ke kontrol. Setiap orang menerima salinan yang sama.
Selama beberapa minggu berikutnya, Siska mematuhi jadwal. Maya hadir untuk ditimbang. Dimas mulai mencatat susu. Berat bayi itu membaik sedikit, meski pemantauan tetap diperlukan.
Pada kontrol pertama, Siska membawa lembar jadwal yang terisi. Beberapa bagian masih kosong, tetapi jumlah minum tidak lagi hanya bergantung pada tangisan. Petugas memuji tindakan yang membaik tanpa menghapus catatan keterlambatan sebelumnya.
Nara menawarkan mengganti biaya kendaraan. Siska menolak di depan petugas, lalu meminta uang tunai lebih banyak di luar.
“Berikan tanda terima kendaraan, aku bayar sesuai biaya,” kata Nara.
“Kamu tidak percaya padaku.”
“Aku memakai aturan yang sama untuk uang usaha dan bantuan keluarga.”
Bu Sari membayar langsung kepada pengemudi. Cara itu memastikan bantuan mencapai kebutuhan Maya tanpa menjadi pembayaran rahasia.
Pada minggu kedua, Dimas sendiri membawa Maya. Ia sudah mengetahui letak kartu kesehatan dan dapat menjelaskan jadwal susu. Perubahan kecil itu menunjukkan bahwa tanggung jawab tidak harus berhenti pada ibu, dan ketidakhadiran Siska tidak otomatis membuat kontrol batal.
Nara tidak masuk ke ruang pemeriksaan tanpa persetujuan. Ia hanya menunggu di luar jika diminta membantu kendaraan. Ketika Maya dibawa lewat, Nara tersenyum dan menyentuh telapak kakinya setelah Siska mengizinkan.
Ia ingin menjadi orang dewasa yang aman bagi Maya, bukan ibu pengganti yang menghapus orang tua lain.
Perbaikan sementara itu membuat Bu Sari bernapas lebih lega. Namun Siska menjalankannya karena takut pada catatan, bukan karena kemarahannya telah hilang.
Suatu sore, di rumahnya sendiri, Siska membuka lemari bayi. Ia mengambil baju yang pernah dibelinya sama dengan pakaian Kirana.
Kain itu sudah pernah dipakai Maya.
Tidak ada orang yang menyuruhnya. Ia memastikan Dimas belum pulang, menutup pintu kamar, dan menaruh keranjang bayi di depan lemari. Perbaikan di depan petugas belum menyentuh kebencian yang disimpannya. Rasa takut hanya menutupinya sementara.
Siska mengambil gunting dan memotongnya menjadi bagian-bagian kecil.