NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Immortal

Kebangkitan Sang Immortal

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: BRAXX

Di Kerajaan Awan, Kaisar muda bernama Jing Yan difitnah dan dibunuh secara keji oleh Tang Long, seorang Kultivator Pedang dari Sekte Pedang Roh Biru, dan Fang Zhelan, putri Perdana Menteri yang berkhianat demi merebut takhta. Keluarga Fang lalu mengambil alih kerajaan, mencoreng nama baik Jing Yan selamanya.

Namun, kematian bukanlah akhir bagi Jing Yan. Jiwanya ditarik ke dalam Peti Mati Perunggu Kuno milik seorang Pencipta Immortal yang telah mati. Dengan menggunakan sisa kulit sang Immortal, Jing Yan bereinkarnasi ke dalam tubuh baru yang sempurna. Ia ditemani oleh dua kesadaran dalam satu makhluk kecil bernama Bintang Biru dan Bulan Merah—yang merupakan jelmaan dari peti mati tersebut.

Jing Yan mengetahui bahwa ia mewarisi kekuatan Pencipta Immortal. Untuk menjadi kuat, ia harus mengumpulkan Benih Ciptaan, yaitu fragmen kekuatan sang Immortal yang tersebar di seluruh dunia. Tujuan utamanya: membalas dendam kepada Tang Long dan Fang Zhelan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 - Kalau Aku Memutuskan Untuk Membunuh, Aku Tidak Membutuhkan Alasan

"Jing Yan," Han Xin berbalik dengan mata terbelalak, "Kau membunuh adik Tang Long…?" Ia benar-benar tidak percaya. "Kau... kau sudah gila!"

"Kakak Senior Han, akibat dari perbuatanku adalah tanggung jawabku sendiri." Mata Jing Yan tetap tenang, suaranya tidak bergetar sedikit pun. "Biar aku yang mengatasinya! Jadi, pergilah!"

"Kakak Senior, ya…? Tapi kau malah…" Han Xin memulai ucapannya, ekspresinya berubah drastis. Ia menatap Jing Yan tajam. "K-kau benar-benar gila. Sudah benar-benar kehilangan akal. Aku pergi. Aku tidak mau terlibat dalam urusan ini! Selesaikan sendiri masalahmu. Jangan menyeretku!"

Setelah berkata demikian, ia membungkuk hormat kepada Ning Ziyi lalu berbalik hendak pergi.

"Berhenti!" suara Ning Ziyi menggema dengan seringai dingin.

WUSSH!

Dengan satu hentakan telapak tangan, gelombang kekuatan seluas samudra meledak keluar dari tubuhnya. Kekuatan itu berubah menjadi gelombang dahsyat yang menghantam punggung Han Xin tanpa ampun.

Inilah kekuatan Alam Laut Ilahi!

Energi seorang kultivator Alam Laut Ilahi seluas lautan, kekuatannya mampu mengguncang langit dan bumi. Daya hantamnya mengalir bagai sungai yang berbalik arah, sesuatu yang sama sekali tidak dapat ditandingi oleh Alam Mata Air Naga.

PUFF!

Han Xin memuntahkan seteguk darah hitam. Wajahnya langsung memucat, tubuhnya terhuyung beberapa langkah.

Jing Yan segera menopangnya. Saat darah kental yang keluar dari mulut Han Xin menetes ke jubah putihnya, seulas warna merah mulai menyala di balik mata Jing Yan.

"Heh heh..." Ning Ziyi menyeringai, tawanya dipenuhi penghinaan. "Apa kau menganggapku bodoh? Kau pikir aku tidak tahu kalau kau sedang mencoba mencari bantuan?"

"Kuingatkan padamu! Jing Yan telah melakukan dosa besar. Sekalipun kau berhasil memanggil ayah Li Xiao, pemuda ini tetap akan mati di bawah amarah Raja Pedang Tang!" Ning Ziyi mengangkat bahu sambil memutar bola matanya.

"Jing Yan!" Ning Ziyi mengangkat alis sambil menatapnya.

Jing Yan sedang menggunakan kekuatan Alam Mata Air Naga untuk menstabilkan luka dalam Han Xin, sementara tatapannya tetap tertuju pada tetua Ning.

"Apa kau tahu siapa Tang Long?" tanya Ning Ziyi dengan dingin.

"Aku tahu betul." jawab Jing Yan.

"Kalau begitu, mengapa kau membunuh Tang Chen?" suara Ning Ziyi dipenuhi amarah.

"Kalau aku memutuskan untuk membunuh seseorang, aku tidak membutuhkan alasan," kata Jing Yan.

"Kau!" Ning Ziyi kehabisan kata-kata. Ia menatap Jing Yan dengan tidak percaya. "Apa kau sudah kehilangan akal sehat? Tang Long adalah pilar masa depan Sekte Pedang Roh Biru! Dan kau berani membunuh adik kandungnya?"

"Tetua Ning," Ji Hong mencibir. "Dia hanya orang bodoh yang sama sekali tidak mengerti betapa mengerikannya sosok yang telah dia singgung!"

Jing Yan bahkan tidak melirik Ji Hong. Sebaliknya, ia tersenyum kepada Ning Ziyi lalu berkata, "Tetua Ning, seperti yang baru saja kau katakan, itu semua masih masa depan. Dan siapa yang benar-benar bisa meramalkan masa depan?"

Ucapannya yang disertai tawa dingin itu membuat Ning Ziyi dan Ji Hong sama-sama tertegun sesaat.

"Kurasa sekarang aku mengerti," Ning Ziyi menghela napas sambil menggelengkan kepala, menatap Jing Yan. "Nasibku benar-benar buruk sampai harus bertemu orang bodoh sepertimu."

"Sudah cukup. Aku tidak ingin membuang kata-kata lagi untukmu. Ikut denganku ke Penjara Pedang. Kita akan menunggu Raja Pedang Tang kembali dari Laut Pedang untuk menanganimu," ujar Ning Ziyi.

"Ayo pergi!" bentak Ning Ziyi, tatapannya sedingin es saat menatap Jing Yan.

"Tunggu sebentar." Ji Hong tiba-tiba melangkah maju.

"Ada apa?" Tatapan Ning Ziyi sedikit melunak.

"Tetua Ning, dia telah membunuh dua anggota klanku. Aku ingin sedikit balas dendam terlebih dahulu," kata Ji Hong dengan wajah sangat serius.

"Kau ingin mendahului Raja Pedang Tang?" Ning Ziyi mengangkat alis.

Ji Hong mengatupkan giginya. "Bagaimana kalau begini? Akan kuambil kedua lengannya sebagai penjelasan kepada klanku."

Ning Ziyi berpikir sejenak, lalu melambaikan tangannya dengan acuh tak acuh. "Baiklah. Cepat selesaikan saja."

"Tetua Ning, tenangkan diri dulu," ujar Ji Hong sambil tersenyum menenangkan.

Namun, begitu ia berbalik menghadap Jing Yan, ekspresi ramahnya langsung lenyap. Matanya menggelap, dipenuhi keganasan.

HUM!

Ia memanggil Jiwa Pedangnya yang berada pada tingkat Bintang Rendah! Dengan lima lapisan Aura Pedang, Jiwa Pedang yang menyerupai gurun pasir itu berubah menjadi Pedang Genggam yang tergenggam erat di tangannya.

Kekuatan Ji Hong berpadu dengan kekuatan Jiwa Pedangnya.

Badai pasir di sekelilingnya berputar membentuk tornado energi pedang yang mengamuk.

Di tengah badai itu, suaranya yang dingin dan tajam menembus udara, "Jing Yan!"

CLANG! CLANG! CLANG!

Ji Hong mengendalikan Jiwa Pedangnya dengan teknik khusus miliknya.

Jiwa Pedang memiliki tiga bentuk—Pedang Terbang, Pedang Genggam, dan Pedang Penguasa, masing-masing memiliki kegunaannya sendiri. Di antara ketiganya, Pedang Genggam adalah teknik pertarungan jarak dekat. Teknik yang digunakan Ji Hong sekarang diwariskan langsung oleh Yang Mulia Pedang kepadanya—Teknik Pedang Badai Pasir.

Teknik pedang ini dipadukan dengan Jiwa Pedang Pasir Gurunnya benar-benar merupakan pasangan yang sempurna.

WUSSH!

Ji Hong menerjang Jing Yan dengan Seni Pedang Badai Pasir. Badai pasir yang dahsyat berputar mengelilinginya. Di dalam pasir terdapat pedang. Di dalam pedang terdapat pasir!

Hanya dengan satu gerakan saja sudah terlihat jelas bahwa meskipun murid langsung Yang Mulia Pedang ini baru berkultivasi selama dua bulan, kemampuannya telah jauh melampaui Ji Tian, Ji Chenxing, bahkan Han Xin!

"Dengan bakat seperti sampah, kau pikir kau pantas menempuh Jalan Surgawi?" Ji Hong tak kuasa menahan tawanya. "Sungguh? Siapa yang membesarkan orang ini sampai tidak punya sedikitpun akal sehat? Apa kau tidak tahu aturan di tempat ini? Sekte Pedang Roh Biru bukanlah tanah suci! Disinilah para jenius bersinar, sementara yang lemah dibantai seperti ternak!"

Dengan tekad bulat, Ji Hong menusukkan pedangnya ke depan.

BUM!

Badai pasir melesat deras, menghantam ke arah Jing Yan.

Jing Yan sama sekali tidak gentar. Ia menyipitkan mata.

Dalam sekejap, tubuhnya berubah menjadi bayangan putih yang melesat lurus ke pusat badai yang berputar, sementara pasir-pasir tajam mengoyak jubah putihnya.

Seni Pedang Satu Tebasan!

Inilah teknik rahasia Keluarga Jing—warisan yang telah diturunkan selama berabad-abad.

Jing Yan mengabaikan badai pasir yang mengelilinginya dan langsung menerjang Ji Hong.

"Apa...?" Ji Hong terperanjat.

Matanya membelalak tak percaya. Jiwa Pedang Pasir Gurunnya yang masih mengarah ke Jing Yan tiba-tiba kehilangan ritmenya. Di tengah pusaran badai pasir, seberkas cahaya biru dingin melintas. Dengan suara tajam, cahaya itu menyapu Jiwa Pedangnya lalu menghunjam dalam ke tulang bahunya.

"Argh!" Ji Hong menjerit kesakitan hingga matanya nyaris melotot keluar.

"Kau ingin mengambil kedua lenganku, Ji Hong?" balas Jing Yan sambil mengayunkan pedangnya.

Pengubur Langit berputar, cahaya tajamnya membentuk lingkaran penuh mengitari lengan kanan Ji Hong.

Sret!

Lengan itu langsung terputus, darah menyembur dan bercampur dengan badai pasir hingga memercik ke tubuh Ning Ziyi.

"Satu sudah, tinggal satu lagi!" Tanpa memberi jeda sedikit pun, Jing Yan kembali mengayunkan pedangnya.

Seketika itu juga, lengan Ji Hong yang satunya lagi jatuh menghantam tanah.

"Kau...!" teriak Ji Hong dengan wajah sepucat mayat. Matanya membelalak hingga hampir keluar dari rongganya. "Lenganku! Jiwa Pedangku! Jalan Keabadianku... Ya Tuhan!"

"Hanya segini kemampuan murid Yang Mulia Pedang?" ejek Jing Yan sambil berdiri tepat di hadapannya, menunduk dengan tatapan penuh sindiran. Ia menggelengkan kepala, "Ji Hong, selain bakatmu dalam omong kosong, aku benar-benar tidak melihat di mana letak kejeniusanmu."

"Bukankah kau merasa sangat memahami aturan Sekte Pedang Roh Biru? Kalau begitu, coba jawab, bagaimana caramu mati?" desak Jing Yan.

"A-aku belum mati..." suara Ji Hong bergetar.

SRET!

Baru saja kata-kata itu keluar dari mulutnya, kepalanya sudah terbang melayang dan jatuh berguling di depan para penonton yang membeku karena syok.

"Bagaimana sekarang, Ji Hong?" panggil Jing Yan dengan senyum tipis di wajahnya. "Kalau kau masih belum mati, beri aku tanda."

Han Xin benar-benar terpaku. ‘Kepalanya sudah terpisah, tapi masih ditanya begitu?’

DUG!

Tubuh tanpa kepala Ji Hong ambruk ke tanah. Kepala yang tergeletak di dekat kaki salah seorang penonton, dengan lidah menjulur, jelas tidak mungkin lagi menjawab pertanyaan Jing Yan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!