NovelToon NovelToon
Terjebak di Antara Si Kembar: Dosa Terlarangku

Terjebak di Antara Si Kembar: Dosa Terlarangku

Status: tamat
Genre:Wanita perkasa / Cinta Terlarang / Beda Usia / Satu wanita banyak pria / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: DulceSilencio

Valentina Mahendra tidak pernah benar-benar menjadi putri keluarga Mahendra. Ia dibesarkan sebagai pengganti Sofia, gadis yang mati meninggalkan luka di rumah itu, lalu dijadikan syarat dalam aliansi politik dengan keluarga Raharja. Ketika Sebastian Mahendra membakar surat penerimaannya dari Universitas Nasional dan memaksanya menikah, Valentina akhirnya melawan.
Namun kebebasan tidak datang tanpa harga. Di satu sisi ada Sebastian, pewaris dingin yang mengendalikan segalanya dengan rasa takut. Di sisi lain ada Satria, saudara kembarnya yang menawan, berbahaya, dan terlalu pandai membaca kelemahannya. Di luar mereka, Alexander Raharja menawarkan perlindungan yang terasa seperti jalan keluar, sementara Mateo Raharja datang dengan ketulusan yang justru membuat semuanya semakin rumit.
Di antara cinta terlarang, rahasia adopsi, permainan kekuasaan, dan kematian Sofia yang tidak pernah benar-benar selesai, Valentina harus memilih: tetap menjadi bidak yang diperebutkan, atau menghancurkan papan permainan yang sejak awal dibangun di atas hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DulceSilencio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29: Ponsel Linda

Valentina menemukan Sebastian di parkiran bawah tanah Menara Mahendra.

Bukan kebetulan. Ia mencarinya. Ia menelepon Ana Lestari, nama yang kini membakar mulutnya seperti asam, dan bertanya di mana Sebastian. Ana Lestari menjawab dengan efisiensi biasa: "Di garasi, level tiga, memeriksa mobil armada." Valentina tidak bertanya kenapa Ana Lestari mengirim alamat balkon kepada Linda. Belum. Percakapan itu akan datang nanti.

Garasi level tiga adalah ruang beton kelabu dengan lampu fluoresen berdengung seperti serangga terperangkap. Enam mobil hitam identik, armada Grup Mahendra, terparkir berbaris. Sebastian berdiri di samping mobil terakhir, bicara dengan kepala keamanan tentang sesuatu yang tampaknya laporan pemeliharaan. Saat melihat Valentina, ia memberi isyarat kepada penjaga untuk pergi.

"Aku perlu bicara denganmu," kata Valentina.

Sebastian menatapnya. Ia tidak mengajak Valentina naik ke kantor. Tidak membawanya ke restoran, kafe, atau ruang terkendali lain tempat biasanya ia mengarahkan percakapan. Ia membuka pintu belakang mobil terdekat dan memberi isyarat.

Mereka duduk di kursi belakang Suburban antipeluru. Pintu tertutup. Sunyi garasi bawah tanah mengental di sekitar mobil seperti air memenuhi tangki. Tidak ada sopir. Tidak ada penjaga. Tidak ada saksi.

Valentina mengeluarkan ponsel Linda dari saku dan meletakkannya di tengah kursi, di antara mereka.

Sebastian menatap ponsel itu. Mengenali casing kristalnya. Rahangnya menegang.

"Dari mana kamu mendapatkan itu?"

"Tidak penting dari mana. Yang penting isinya."

Sebastian mengambil ponsel. Membukanya, ia tahu kodenya. Tentu saja ia tahu. Valentina melihatnya menelusuri pesan dengan kecepatan pria yang membaca kontrak lima puluh halaman dalam sepuluh menit. Matanya bergerak kiri ke kanan, atas ke bawah, menyerap informasi dengan efisiensi brutal mesin.

Ketika sampai pada percakapan antara Linda dan nomor Alexander, ia berhenti.

Sunyi yang menyusul berlangsung tepat enam puluh tiga detik. Valentina menghitung. Bukan karena ingin, melainkan karena pikirannya perlu memegang sesuatu yang konkret agar tidak tersesat dalam jurang yang sedang terjadi.

Sebastian tidak berteriak. Tidak memukul kursi. Tidak menghancurkan ponsel. Ia melakukan sesuatu yang lebih buruk: diam sempurna. Kediaman Sebastian lebih menakutkan daripada amarah pria mana pun, karena diamnya berarti ia sedang memproses, menghitung, mengarsipkan setiap data di tempat persis yang akan paling menyakitkan saat ia memutuskan memakainya.

"Sejak kapan kamu tahu?" tanyanya. Suaranya seutas baja.

"Sejak kemarin."

"Dan kamu memutuskan membawanya kepadaku?"

"Ya."

"Kenapa? Karena Alexander menyuruhmu?"

Valentina menatapnya. Pertanyaan itu lebih sakit daripada yang ia duga, karena jawabannya rumit. Alexander memang meminta persis itu: menyerahkan ponsel kepada Sebastian. Dan Valentina melakukannya. Tetapi bukan karena alasan Alexander. Bukan untuk melemahkan Grup Mahendra, bukan untuk mendorong UU Aurora, bukan untuk memenuhi peran bidak di papan yang tak ia pilih.

"Tidak," kata Valentina. "Aku membawanya kepadamu karena kamu berhak tahu. Dan karena aku lelah semua orang memakaiku untuk mengirim pesan kepada orang lain."

Sebastian menatapnya. Wajahnya setengah meter dari wajah Valentina dalam ruang sempit kursi belakang. Cahaya fluoresen garasi menembus kaca gelap dan memberi kulitnya warna abu-abu yang membuatnya tampak seperti patung.

"Kamu bekerja untuk dia?" tanyanya.

"Tidak."

"Sejak kapan kamu mengenal Alexander?"

"Sejak umurku sepuluh. Dia mengeluarkanku dari Panti Asuhan Harapan. Dia memilih agar aku datang ke keluarga ini. Dan sekarang aku tahu itu bukan karena kebaikan, tapi karena dia membutuhkan aku di dalam."

Sebastian memproses ini. Valentina melihat kalkulasi di balik matanya seperti melihat mekanisme jam melalui kaca: roda gigi berputar, data terhubung, kesimpulan terbentuk.

"Kamu tahu Linda akan berada di pesta malam itu?" tanya Sebastian.

"Tidak. Aku tidak tahu apa pun soal ini sampai kemarin."

"Tapi kamu membunuhnya."

Kata-kata itu jatuh di mobil seperti granat. Valentina berhenti bernapas. Sebastian menatapnya tanpa berkedip, dengan presisi ahli bedah yang menemukan tumor dan sedang memutuskan apakah akan mengoperasi atau membiarkannya membesar.

"Pagar itu longgar," lanjut Sebastian. "Sekrupnya berkarat. Itu yang tertulis di laporan. Tapi aku melihat tanganmu malam itu, Valentina. Ada debu karat di bawah kukumu."

Udara mobil menjadi tak bisa dihirup. Valentina merasakan nadi di pelipis, pergelangan, ujung jari. Sebastian tahu. Ia sudah tahu sejak malam itu. Dan ia tidak mengatakan apa pun. Tidak kepada polisi, tidak kepada pengacara, tidak kepada siapa pun. Ia menyimpan informasi itu seperti menyimpan peluru: bukan untuk dipakai sekarang, melainkan saat diperlukan.

Valentina menamparnya.

Pukulannya cepat, kering, telapak terbuka di pipi kiri Sebastian. Suaranya menggema di dalam Suburban seperti tembakan kecil. Kepala Sebastian berputar dua sentimeter. Bekas merah muncul di tulang pipinya seperti bunga instan.

"Aku bukan alat siapa pun," kata Valentina. Tangan yang memukulnya gemetar.

Sebastian berbalik ke arahnya. Pipinya merah. Matanya menyala dengan sesuatu yang bukan murka, sesuatu yang lebih berbahaya, lebih primitif, seperti kilat mata hewan yang dipukul dan memutuskan dalam sepersekian detik apakah akan lari atau menggigit.

Ia membalas tamparan itu.

Tidak keras. Bukan dengan niat melukai. Dengan tekanan tepat pria yang membalas pukulan karena tidak mampu membiarkannya tanpa jawaban, karena jika ia menerima pukulan itu tanpa membalas, sesuatu dalam arsitektur kekuasaannya runtuh. Telapak Sebastian menghantam pipi kanan Valentina dengan bunyi lebih lembut daripada yang pertama tetapi terasa lebih sakit karena datang darinya.

Mereka saling menatap. Tiga puluh sentimeter. Pipi terbakar, napas tersendat, ponsel Linda di antara mereka seperti bom yang sudah meledak.

Valentina menyentuh pipinya. Kulitnya panas di tempat telapak Sebastian mengenainya, dan "mengenai" adalah kata yang tepat, karena tamparan Sebastian bukan pukulan. Itu sentuhan. Pertama kalinya ia menyentuh Valentina tanpa niat mengendalikan, tanpa niat mengikat, tanpa niat apa pun selain membalas gestur yang tak bisa diserap harga dirinya. Dan tanda yang ia tinggalkan di wajah tidak sakit seperti hukuman. Sakit seperti kebenaran.

Sebastian menyentuh pipinya sendiri. Pipi kirinya lebih merah daripada pipi Valentina; Valentina memukul lebih keras daripada dugaan siapa pun terhadap tubuh sekecil itu. Mereka saling menatap seperti dua orang yang baru melewati garis yang tak bisa dilewati balik. Dalam sejarah hubungan mereka, ini tindakan setara pertama: pukulan diberikan dan dikembalikan, tanpa hierarki, tanpa protokol, tanpa jarak yang selalu dipaksakan Sebastian antara yang memerintah dan yang patuh.

Valentina mencoba membuka pintu. Sebastian menekan kunci. Klik penguncian sentral terdengar seperti palu hakim di ruang sidang kosong.

"Kamu tidak pergi sampai mengatakan semuanya," kata Sebastian.

Valentina menatapnya. Ia bisa meronta. Bisa berteriak. Bisa memukulnya lagi. Tetapi sesuatu dalam cara Sebastian mengucapkan "semuanya", bukan sebagai perintah melainkan permintaan yang menyamar sebagai perintah, membuatnya tetap di sana.

"Kamu ingin tahu semuanya?" kata Valentina. "Semua yang kutahu, semua yang kulakukan, semua yang Alexander katakan. Semua?"

"Semua."

Valentina bicara selama dua puluh menit. Ia menceritakan Panti Asuhan Harapan, PNCC, kunjungan Alexander, pena Bu Elena dengan inisial E.R.M., Ana Lestari yang mengirim alamat balkon kepada Linda, Alexander yang mengakui memilihnya sebagai alat. Ia tidak menceritakan Pak Ricardo. Belum. Itu rahasia yang ia bagi dengan Satria dan akan mati bersamanya jika perlu.

Sebastian mendengarkan tanpa memotong. Ketika Valentina selesai, garasi sunyi total. Lampu fluoresen berdengung. Jam dashboard menunjukkan pukul tujuh lewat seperempat.

Sebastian menekan tombol. Kunci mobil terbuka dengan klik.

Valentina mendorong pintu. Meletakkan satu kaki di beton garasi. Berhenti.

"Sebastian."

"Apa?"

"Linda. Kamu mengenalnya?"

Sebastian menatap lurus ke depan. Kaca depan memantulkan bayangannya sendiri: pipi merah, mata lelah, dasi miring milik pria yang kehilangan sesuatu yang tidak ia tahu ia punya.

"Dia satu-satunya hal nyata yang kumiliki," katanya.

Valentina keluar dari mobil. Pintu tertutup di belakangnya. Ia berjalan ke lift garasi dengan pipi panas, tangan dingin, dan kepastian bahwa sesuatu antara dirinya dan Sebastian baru berubah, sesuatu yang belum bisa mereka namai tetapi bisa mereka rasakan: mereka bukan lagi penjaga dan tahanan. Bukan lagi kakak dan adik. Mereka dua orang yang saling memukul, saling mengatakan kebenaran, dan kini lebih dekat daripada sebelumnya, bukan karena cinta atau benci, melainkan sesuatu yang lebih ganjil dan lebih tahan lama: kejujuran brutal.

Lift naik empat puluh lantai. Valentina menatap dirinya di cermin. Bekas tangan Sebastian di pipinya seperti tanda tangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!