gadis yatim piatu yang harus berjuang hidup sendiri tanpa memiliki sanak saudara. ia melanjutkan kuliahnya dari bea siswa dan bekerja di sebuah tempat karaoke keluarga milik sahabnya.
namun semuanya berubah saat seorang pria yang mabuk memperkosanya. sehingga ia hamil.
bagaimana kelanjutan kisahnya.
nafisa. gadis cantik berusia 20 tahun. seorang mahasiswi di fakultas ekonomi. yg bekerja sebagai waiter di salah satu tempat karoke.
aldiansah Pratama
seorang mahasiswi dan pengusaha. berusia 21 tahun.
Julian Saputra.
pria mapan berusia 28 tahun.
seorang pengusaha muda yg sukses.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilik Bunda Abib, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 13
Terbersit rasa bersalah dihatinya saat melihat Nafisa datang ke kantor. Saat Nafisa menunjukkan benda kecil yang tampak ada dua garis yang saat ini masih di mejanya. Ia memegang benda tersebut. Ada rasa bahagia di hatinya. Nafisa, gadis itu hanya minta di nikahi tampa ada tuntutan apa-apa dan bersedia di ceraikan saat anaknya telah lahir.
Julian mengusap wajahnya dengan kasar. Ia sangat mencintai Amera. Amera tunangannya. Ia sudah menjalin hubungan sudah 3 tahun. Walaupun ia tahu saat pertama kali ia melakukan hubungan dengan Amera, tidak seperti ia merasakan melakukan hubungan dengan Nafisa. Sewaktu ia memperkosa Nafisa, gadis itu masih perawan. Sekarang gadis itu hamil. Ia tidak tahu lagi seperti apa masa depannya. Namun Julian berusaha menepis perasaannya. Gadis itu miskin sudah pasti itu trik untuk dapat suami kaya. Batin Julian dengan senyum yang tampak sangat merendahkan.
Nafisa melihat jam yang melingkar di tangannya. Hari baru menunjukkan jam 12. Waktu jam kerjanya di kafe masih lama. Nafisa merasa perutnya sangat lapar. Sejak pagi ia belum ada makan setelah mengosongkan seluruh isi perutnya. Nafisa memegang perutnya yang terasa pedih. Ia melihat ke sekelilingnya mencari warung makan. Keringat sudah mulai bercucuran di keningnya tubuhnya terasa mulai menggigil. Nafisa sudah biasa telat makan dan merasakan perut yang perih saat asam lambungnya mulai naik. Namun kali ini ia benar-benar merasa lemas dan tak bertenaga. Pandangan matanya mulai kabur.
Ia duduk di pinggir jalan sambil menundukkan kepalanya agar rasa pusingnya hilang. Nafisa mengangkat kepalanya dan melihat ke sekitarnya untuk mencari warung makan. Tampak mobil putih terios berhenti di depannya. Seorang pria turun dari mobil tersebut dan mendekati Nafisa yang masih memandang heran kepada pria tersebut.
“Nona Nafisa, mau ke mana? Saya akan antarkan. Kebetulan tujuan saya searah dengan nona.” Senyum manis terlihat diwajah ramah di wajah pria tersebut.
Nafisa ingat pria itu asisten pribadi Julian. Nafisa tampak memandang penuh kecurigaan terhadap pria yang di depannya. “Tidak tuan. Terimakasih.”
“Aku tidak akan berbuat apa-apa. Percayalah pada ku.” Senyum manis tidak hilang dari wajah tampan tersebut.
“Anda janji tuan?” ucapnya yang sedikit takut
“Iya janji.” ucap Randi
Nafisa mengangukan kepanya.
Dengan cepat Randi berlari ke mobilnya dan membukakan pintu untuk Nafisa. Nafisa duduk di sebelah Randi. Randi merasa sangat kasihan melihat Nafisa. Wajahnya tampak begitu pucat.
“Kamu mau temani saya makan. Saya sangat lapar.” ucap Randi.
Tampak raut wajah Nafisa yang terlihat sangat senang saat mendengar kata makan. “Boleh.” ucapnya.
“Kamu gak usah panggil saya tuan. Panggil saja saya mas Randi.” pinta pria tersebut.
Nafisa melihat wajah pria tersebut. Pria itu tampak begitu sangat tulus. “Makasih ya mas.”
“Surat-surat kamu akan mas selesaikan dengan cepat. Kamu gak perlu khawatir.” Kata Randi menjelaskan.
“Makasih ya mas.” Nafisa tampak senyum getir diwajah pucat gadis tersebut.
Randi memberhentikan mobilnya di areal parkir restoran. “Ayo turun.” Ucapnya.
“Iya mas.”
Mereka memasuki restoran dan duduk di salah satu meja yang kosong. Pelayanan mengangkat menu hidangan ke atas meja. Melihat hidangan yang begitu menggugah selera. Membuat air ludah Nafisa serasa menetes. Randi senyum memandangnya.
“Ayo dimakan. Jangan dilihat saja.” ucap Randi.
Nafisa tersenyum dan mulai menyendok kan nasi ke piringnya. Setelah itu ia memasukkan ikan bakar, yang dari tadi membuat air liurnya serasa menetes. Nafisa memasukkan nasi ke dalam mulutnya. Ia tampak sangat lahap sekali saat makan. Ia tampak seperti orang yang tidak tahu malu. Ia menambahkan nasinya berulang-ulang kali.
Randi hanya makan sedikit. Dia lebih suka melihat Nafisa makan dengan lahap. Setelah benar-benar kenyang. Nafisa menghentikan makannya.
“Jadi kamu masih kuliah?” Randi mulai bertanya.
“Iya mas.” jawab Nafisa.
“Udah semester berapa?” tanyanya.
“Semester 4 mas.” jawab Nafisa Sambil tersenyum.
“Umur kamu berapa?” tanya Randi
“20 tahun mas.”
Randi menatap Nafisa dengan tatapan yang sangat iba. “Orang tua kamu di mana?” tanya nya lagi yang seperti sedang melakukan interview.
“Ayah, bunda udah meninggal mas 4 tahun yang lalu. Waktu itu Fisa kelas 10 SMA.” Jawab Nafisa menjelaskan.
“Sekarang kamu tinggal sama siapa?” tanya Randi
“Fisa kos mas.” jawabnya.
“Saudara kamu ada?” Tanya Randi dengan penuh rasa heran.
“Nafisa menggelengkan kepalanya. Fisa gak punya keluarga sama sekali.” ucapnya yang berusaha menahan air matanya
“Asal kamu dari mana?”
“Saya Semarang mas.”
“Kok bisa sampai ke sini. Padahal gak punya saudara.” Tanya Randi lagi.
Fisa lulus masuk universitas melalui jalur prestasi mas dan semua barang Fisa jual untuk biaya Fisa kuliah dan keperluan lainnya.” Jawab Nafisa.
“Kamu kuliah sambil kerja?”
“Iya mas, kalau ngarap cuma dari beasiswa, gak cukup Jawabnya.
***
jangan lupa like komen dan votenya ya Reader. Terimakasih atas dukungannya.😊😊🙏🙏