Anya gadis muda 18 tahun harus mengahadapi kenyataan pahit saat Pria yang selama ini disukainya dijodohkan dengan kakak Anya, Joana. Anya berusaha untuk menghalanginya namun dia masalah diasingkan oleh Ayahnya. Anya yang patah hati akhirnya berusaha melepaskan perasaanya dan fokus akan study nya. 4 tahun berlalu saat kelulusan Anya, Edgae yang selama ini Alya coba melupakan malah datang membawa seikat bunga. apakah dia datang sebagai kakak Ipar atau ada hal lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan di Malam Sebelum Puncak
Hawa malam kota Surabaya berembus masuk melalui celah gorden apartemen studio Anya, membawa sisa panas siang hari yang perlahan mendingin. Anya duduk di lantai beralaskan karpet bulu tipis, dikelilingi oleh jubah wisuda hitam, toga dengan samir berwarna biru-kuning khas universitasnya, serta map ijazah yang masih kosong. Dua minggu berlalu sejak sidang skripsinya, dan besok pagi adalah puncaknya. Hari di mana dia akan berdiri di atas podium utama, membacakan pidato kelulusan sebagai lulusan terbaik di hadapan ribuan pasang mata.
Anya menyandarkan kepalanya di tepi tempat tidur tunggal yang selama tiga setengah tahun ini menemani malam-malam sepinya. Dia mengenakan kaus kasual longgar sewarna abu-abu yang nyaman. Tubuh proporsionalnya dengan berat 55 kg dan tinggi 165 cm tampak rileks. Rambut panjang lurusnya yang hitam legam dibiarkan terurai, membingkai wajah oriental tegasnya yang malam ini memancarkan binar ketenangan.
Tok... Tok... Tok...
Ketukan berirama di pintu kayu apartemennya memecah keheningan sepertiga malam itu. Anya melirik jam digital di atas nakas yang sudah menunjukkan pukul delapan malam. Siapa yang datang jam segini? Ririn? Bukannya dia bilang masih harus menyetrika kebaya wisudanya di kos? batin Anya heran.
Anya bangkit berdiri, melangkah anggun menuju pintu depan dan memutar anak kuncinya. Begitu daun pintu terbuka lebar, kata-kata yang sudah tertata di tenggorokannya seketika menguap tanpa sisa. Anya mematung di ambang pintu, sepasang mata indahnya terbelalak lebar dengan detak jantung yang mendadak berdegup kencang.
Di lorong apartemen yang remang, berdirilah jajaran orang yang paling dia kenal dalam hidupnya.
Mama Mirna berdiri paling depan dengan air mata yang sudah mengalir deras di pipinya, memeluk sebuah buket balon kecil bertuliskan Congratulations. Di samping Mama, Joana tersenyum lebar dengan mata berkaca-kaca, mengenakan setelan kasual yang elegan. Dan di tengah-tengah mereka, duduk di atas kursi roda lipat dengan senyuman paling tulus dan hangat yang pernah Anya lihat seumur hidupnya, berdirilah Sang Papa—Bramantyo.
"Surprise! Selamat atas kelulusanmu, adik kecilku yang paling hebat!" seru Joana riang, langsung memecah keheningan koridor lantai apartemen.
"Papa... Mama... Kak Joana...?" suara Anya bergetar hebat, tercekat di tenggorokan. Perisai es yang dulu pernah mengunci rapat emosinya kini telah menguap seutuhnya, digantikan oleh gelombang kebahagiaan dan rasa haru yang begitu membuncah di dalam dada ringkihnya.
"Anya... putri kecil Papa yang paling mandiri," bisik Papa Bramantyo, suaranya yang serak kini terdengar jauh lebih bertenaga dibandingkan saat di kamar rumah sakit Jakarta beberapa bulan lalu. Tangan kanannya yang dulu gemetar kaku kini terangkat mantap, bergerak memanggil kehadiran anak bungsunya.
Anya tidak memedulikan sandal rumahnya lagi. Dia berlari kecil dan langsung berlutut di depan kursi roda Papanya, menenggelamkan wajah cantiknya di pangkuan hangat ayahnya. Tangis harunya pecah seketika dalam keheningan lorong malam itu. "Kenapa... kenapa Papa dan semuanya enggak kasih tahu Anya kalau mau ke Surabaya? Perjalanan dari Jakarta kan jauh, Papa baru saja sembuh..."
"Bagaimana bisa Papa melewatkan hari paling berharga dalam hidup putri bungsu Papa, Sayang?" ucap Papa lembut, jemari tuanya yang kasar mengusap rambut panjang lurus Anya dengan kasih sayang yang utuh. "Papa sudah berjanji di dalam hati... sebelum mata Papa tertutup, Papa harus melihat Anya berdiri di podium kelulusan dengan kepala tegak, membuktikan pada dunia bahwa kamu bisa sukses karena kemampuanmu sendiri."
Mama dan Joana ikut berlutut di samping Anya, memeluk tubuh proporsional Anya bersama-sama di atas lantai koridor yang dingin. Mereka menangis dan tertawa bersama, merayakan sebuah persatuan keluarga yang utuh, yang tiga setengah tahun lalu sempat hancur berantakan karena keegoisan kontrak bisnis di Jakarta.
Setelah suasana mereda, mereka semua berkumpul di dalam apartemen studio Anya yang sempit namun terasa teramat hangat malam itu. Papa duduk di kursi rodanya dekat jendela, memandangi jubah wisuda hitam Anya dengan pandangan penuh kebanggaan yang luar biasa. Mama dan Joana sibuk membantu Anya merapikan lipatan samir wisuda agar tidak kusut untuk besok pagi.
"Oh ya, Anya," Joana tiba-tiba menoleh dari balik meja rias, memberikan kedipan mata yang sarat akan makna rahasia pada adiknya. "Kami ke Surabaya tidak sendirian, lho. Kami mendarat di bandara Juanda sore tadi menggunakan fasilitas penerbangan yang sama dengan seseorang."
Jantung Anya melewatkan satu detakan hangat. Dia tahu persis siapa "seseorang" yang dimaksud oleh kakaknya. Sosok tinggi tegap berwajah tegas dengan garis rahang kokoh mirip Daniel Henney langsung terbayang di pelupuk matanya.
"Kak Edgard... ikut ke sini juga, Kak?" tanya Anya, mencoba menjaga agar nada suaranya tetap tenang, namun rona merah muda yang manis seketika muncul menghiasi kedua pipi putih cerahnya.
"Tentu saja dia ikut, Anya," Mama Mirna menimpali dengan senyuman menggoda yang tulus. "Edgard yang mengurus seluruh tiket dan akomodasi hotel kami di Surabaya. Pria kaku itu bahkan membatalkan rapat pemegang saham utama di Jakarta demi memenuhi sebuah janji yang katanya sudah dia ikat denganmu berbulan-bulan lalu."
Papa Bramantyo tertawa kecil, suara tawa yang paling melegakan yang pernah Anya dengar seumur hidupnya. "Edgard benar-benar sudah berubah, Anya. Dia tidak lagi memedulikan grafik saham atau angka merger saat membahas namamu. Pria itu... dia benar-benar telah jatuh hati seutuhnya padamu. Dan Papa... Papa memberikan restu paling mulia jika besok pagi dia memilih berdiri di depan gerbang wisudamu untuk menjemput takdir cintanya."
Mendengar pengakuan dan restu murni dari bibir ayahnya sendiri, Anya menundukkan kepalanya perlahan dengan senyuman yang teramat manis mengembang di bibirnya. Dia meraba ulu dadanya, merasakan debaran hangat yang menyenangkan bergulung liar di sana. Rasa trauma masa remajanya tentang penolakan dingin Edgard di Jakarta kini telah terkubur seutuhnya di balik reruntuhan masa lalu. Malam ini, di dalam kesunyian apartemen studionya di Surabaya, Anya Kirana tahu bahwa esok pagi bukan hanya tentang akhir dari perjuangan akademisnya, melainkan juga tentang awal dari sebuah halaman baru yang penuh dengan kehangatan cinta yang telah lama dia nantikan.
Sementara itu, di dalam kamar penthouse mewah hotel bintang lima pusat kota Surabaya, Edgard Baskoro sedang berdiri tegak di dekat dinding kaca besar yang menghadap langsung ke arah lampu-lampu kota. Pria dengan struktur wajah setegas aktor dunia itu mengenakan setelan kemeja putih dengan beberapa kancing atas yang dibuka, menampilkan siluet tubuh tegap atletisnya yang kokoh di balik bias cahaya malam. Jam tangan perak mewahnya berkilau di pergelangan tangan kirinya.
Di atas meja marmer di belakangnya, tergeletak sebuah buket bunga raksasa yang dibungkus kain sutra hitam eksklusif. Buket itu dipenuhi oleh ratusan tangkai bunga lili putih kualitas premium yang mekar sempurna tanpa ada satu pun kelopak yang cacat, memancarkan wangi dewasa yang misterius—wangi yang sama dengan identitas baru Anya saat ini.
Edgard meremas jemari tangan kanannya dengan perlahan, sepasang mata elangnya yang tajam menatap ke luar jendela dengan sorot mata yang sarat akan debaran cinta, kebanggaan, dan ketetapan hati yang mutlak. Retakan di dinding es hatinya kini telah menjelma menjadi samudra cinta yang siap dia persembahkan seutuhnya untuk wanita yang telah dia hancurkan hatinya di masa lalu.
"Besok pagi, Anya..." bisik Edgard pada keheningan ruangan yang kedap suara, sebuah senyuman tampan yang teramat tulus menghiasi wajahnya. "Saya akan memenuhi janji saya untuk berdiri di depan gerbangmu. Saya akan membalikkan seluruh poros takdir kita, membiarkan diri saya menjadi pria paling bucin di dunia yang siap bersujud memohon cintamu di hadapan seluruh pasang mata yang menyaksikan kelulusanmu."
semangat nulisnya 💪