Lin Tian lahir dengan seluruh meridian tertutup rapat. Di mata dunia kultivasi, ia tak lebih dari sampah—mustahil menyerap qi, mustahil berdiri sejajar dengan siapa pun. Namun di balik tubuh "cacat" itu, tersimpan sebuah segel kuno yang justru menjadi alasan keluarganya dibantai hingga tak bersisa.
Ketika seorang pengembara tua bernama Mo Cang membuka segel tersebut, Lin Tian akhirnya mengenal qi untuk pertama kali. Sayang, kebahagiaannya hanya bertahan sebentar. Musuh lama sang guru datang, dan Mo Cang tewas di hadapannya.
Kehilangan keluarga. Kehilangan harga diri. Kini kehilangan satu-satunya orang yang menganggapnya anak.
Dari abu tragedi itu, bangkitlah seorang kultivator yang tak kenal ampun. Ia tidak membunuh demi kesenangan—tapi siapa pun yang menghalangi jalannya, tak akan pernah melihat matahari esok hari.
Istana Langit Hitam telah memilih mangsa yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 - Buku Catatan Utang Darah
Angin pisau di dalam terowongan portal bukan sekadar ilusi.
Bilah-bilah udara tak kasat mata itu mengiris jubah perak Lin Tian hingga menjadi serpihan kain.
Kulitnya terkelupas, meninggalkan ratusan luka tipis yang langsung meneteskan darah segar.
Rasa perih yang tajam menusuk saraf, namun Lin Tian tidak berteriak.
Ia justru memusatkan qi hitam di dantiannya, membiarkannya mengalir ke permukaan kulit.
Setiap kali angin pisau itu menyentuh kulitnya, qi hitam langsung bereaksi.
Energi kematian itu tidak menangkis, melainkan menelan ketajaman formasi angin.
Darah yang mengalir dari luka-lukanya tidak jatuh ke dasar jurang, melainkan menguap menjadi kabut merah.
Kabut itu diserap kembali oleh pori-porinya, membawa serta energi murni dari formasi kuno tersebut.
Jatuh bebas selama hampir dua menit, punggung Lin Tian akhirnya menabrak sesuatu yang lunak.
Bukan tanah keras, melainkan tumpukan lumut raksasa yang tumbuh di atas jaringan akar pohon bawah tanah.
Benturan itu tetap memaksanya memuntahkan darah, namun tulang-tulangnya yang telah ditempa oleh energi iblis tidak patah.
Ia berguling ke samping, segera mengangkat pedang hijaunya dalam posisi bertahan.
Kegelapan di dasar Lembah Naga Jatuh tidak mutlak.
Jamur-jamur bercahaya berwarna ungu pucat menempel di dinding tebing, memberikan penerangan remang-remang.
Udara di sini sangat lembap, bercampur dengan bau amis darah yang sudah mengendap selama puluhan tahun.
Di sekelilingnya, berserakan ratusan kerangka manusia yang masih mengenakan sisa-sisa jubah Sekte Pedang Perak.
Lin Tian perlahan menurunkan pedangnya, napasnya masih memburu.
Ia duduk bersandar pada akar pohon, segera memeriksa kondisi dantiannya.
Qi hitam di dalamnya kini berputar lebih stabil, bahkan sedikit lebih padat setelah menyerap energi angin pisau tadi.
Luka-luka di kulitnya sudah berhenti berdarah, menutup dengan jaringan parut berwarna kehitaman.
Ia merogoh kantong penyimpanan berbahan kulit ular rampasannya.
Menuangkan isinya ke atas lumut.
Tiga puluh batu roh tingkat rendah, lima batu roh tingkat menengah, dua botol pil penyembuh, dan sebuah gulungan kulit tipis.
Lin Tian mengabaikan batu roh dan pil, langsung membuka gulungan kulit tersebut.
Gulungan itu adalah peta topografi Lembah Naga Jatuh.
Di bagian tengahnya, terdapat tanda silang merah yang menandai sebuah gua tersembunyi di balik air terjun bawah tanah.
Catatan di pinggir peta ditulis dengan tinta darah: Kolam Darah Naga Hitam. Hanya untuk anggota inti.
Mata Lin Tian menyipit. Naga Hitam. Nama yang sama dengan tato kompas dan segel di tubuhnya.
Sebelum ia sempat mempelajari peta itu lebih lanjut, suara gesekan keras terdengar dari kegelapan.
Srek. Srek.
Sesosok bayangan merangkak cepat di atas jaringan akar, bergerak menuju arahnya.
Lin Tian segera menyembunyikan peta, mencengkeram pedang hijau dengan kedua tangan.
Makhluk itu akhirnya masuk ke dalam cahaya jamur ungu.
Itu adalah manusia, atau setidaknya dulu pernah menjadi manusia.
Kulitnya pucat keabu-abuan, matanya buta dan tertutup selaput putih, sementara mulutnya menyatu hingga ke telinga.
Jubah Sekte Pedang Perak yang ia kenakan sudah menyatu dengan dagingnya yang membusuk.
Ghoul Sekte. Murid yang gagal dalam ujian kematian dan berubah menjadi monster pemakan daging.
Makhluk itu mencium bau darah segar dari luka Lin Tian.
Tanpa peringatan, ia melompat dengan kecepatan yang tidak wajar untuk ukuran tubuh yang cacat.
Cakar panjangnya yang menghitam menyasar langsung ke mata Lin Tian.
Lin Tian tidak mundur.
Ia memiringkan kepalanya, membiarkan cakar itu mengiris pipinya, lalu menusukkan pedang hijaunya ke perut makhluk itu.
Bilah bergerigi itu menembus daging keras ghoul dengan mudah, menyalurkan racun korosif langsung ke organ dalamnya.
Ghoul itu menjerit, suara yang terdengar seperti gesekan paku di atas kaca.
Ia tidak mati. Malah, otot-otot di perutnya berkontraksi, menjepit bilah pedang Lin Tian agar tidak bisa ditarik keluar.
Mulutnya yang menyatu tiba-tiba robek paksa, memuntahkan cairan asam berwarna kuning pekat ke arah wajah Lin Tian.
Lin Tian melepaskan pegangan pedangnya, menunduk menghindari semprotan asam tersebut.
Cairan itu mengenai akar pohon di belakangnya, langsung mendesis dan melubangi kayu keras tersebut.
Tanpa senjata di tangan, Lin Tian menarik tinju kanannya ke belakang.
Qi hitam memadat di buku-buku jarinya, membentuk lapisan energi yang berputar liar.
Tinju itu menghantam dada ghoul dengan kekuatan penuh.
Bruk!
Tulang rusuk makhluk itu hancur berantakan, menembus jantungnya yang sudah menghitam.
Tubuh ghoul terpental ke belakang, menabrak dinding tebing sebelum akhirnya jatuh terkulai lemas.
Lin Tian berjalan mendekat, menarik pedangnya dari perut mayat tersebut.
Ia mengelap bilah hijau yang berlumuran darah hitam ke jubah ghoul itu.
Saat ia hendak berbalik, sebuah benda keras jatuh dari saku dalam jubah mayat tersebut.
Sebuah lempengan giok berwarna merah darah.
Lin Tian memungut lempengan itu.
Permukaannya hangat, dan terukir daftar nama-nama dengan tinta emas yang sudah memudar.
Ini bukan sekadar papan nama. Ini adalah buku catatan utang darah.
Matanya menelusuri baris demi baris, hingga pandangannya terhenti di urutan ketujuh dari bawah.
Keluarga Lin. Kota Qingshui. Status: Dieksekusi. Penerima upeti: Tetua Emas Sekte Pedang Perak.
Jantung Lin Tian seolah berhenti berdetak selama satu detik.
Tetua Emas. Orang yang sama yang baru saja mencoba menangkapnya hidup-hidup di atas sana.
Orang yang memimpin ujian seleksi dan berlagak sebagai hakim yang menegakkan keadilan.
Ia mendongak menatap langit-langit gua yang gelap.
Amarah yang ia kubur dalam-dalam sejak kematian Mo Cang kini meledak, membakar rasionalitasnya.
Mereka tidak hanya membunuh keluarganya. Mereka mencatatnya sebagai transaksi bisnis.
Dan sekarang, pembunuh keluarganya sedang duduk di kursi keemasan, menunggunya mati di dalam lubang tikus ini.
Lin Tian memasukkan lempengan giok itu ke dalam pakaiannya.
Ia menatap arah air terjun bawah tanah yang ditandai di peta.
Kolam Darah Naga Hitam.
Jika tempat itu benar-benar ada, ia akan menggunakannya untuk menjadi cukup kuat untuk memenggal kepala Tetua Emas.
Ia mulai melangkah menembus kegelapan, mengikuti suara gemericik air yang samar.
Setiap langkahnya tidak lagi ragu.
Jalan setapak di dasar lembah ini dipenuhi oleh tulang-belulang binatang buas dan jebakan formasi yang sudah rusak.
Namun, insting qi hitamnya dengan mudah mendeteksi dan menghindari titik-titik mati tersebut.
Setelah berjalan selama setengah jam, suara air terjun menjadi sangat nyaring.
Lin Tian berhenti di tepi sebuah danau bawah tanah yang luas.
Air di danau itu tidak berwarna bening, melainkan merah pekat seperti darah yang baru ditumpahkan.
Di tengah danau, terdapat sebuah altar batu hitam yang dikelilingi oleh sembilan rantai besi raksasa.
Udara di sekitar danau terasa berat, menekan paru-paru dengan aura kematian yang kental.
Namun, bagi dantian Lin Tian, aura ini terasa seperti oasis di tengah gurun pasir.
Qi hitam di tubuhnya berputar dengan sendirinya, menyerap uap darah yang melayang di udara.
Ia melangkah masuk ke dalam air.
Cairan merah itu terasa hangat dan licin, langsung meresap ke dalam pori-pori kakinya.
Rasa sakit dari luka-luka di tubuhnya lenyap seketika, digantikan oleh sensasi kekuatan yang meluap-luap.
Lin Tian berenang menuju altar batu di tengah danau.
Saat tangannya menyentuh permukaan altar yang dingin, getaran hebat tiba-tiba mengguncang seluruh dasar lembah.
Air danau merah itu mulai berputar, membentuk pusaran raksasa yang menarik tubuhnya ke bawah.
Dari kedalaman pusaran air, sepasang mata vertikal berwarna emas perlahan terbuka.
Mata itu menatap Lin Tian dengan kebencian purba yang membekukan darah.
Sebuah suara berat bergema langsung di dalam kepalanya, meretakkan pertahanan mentalnya.
"Pencuri darah... kau berani kembali ke kandangkuku?"
Rantai besi di sekeliling altar tiba-tiba menegang, mengeluarkan suara derit yang memekakkan telinga.
Sebuah cakar bersisik hitam seukuran rumah perlahan muncul dari permukaan air, menyambar kaki Lin Tian dan menariknya masuk ke dalam kegelapan danau.