"Mulai hari ini, silakan ambil kembali anak laki-laki kebanggaanmu, Ibu. Karena suamiku... selamanya memang hanya milik keluarganya!"
Dulu, rumah tanggaku bersama Mas Bayu begitu harmonis. Dia suami yang manis dan selalu menyerahkan seluruh gajinya padaku. Tapi semua hancur saat kami mengalah untuk pindah dan tinggal satu atap dengan Ibu Mertua serta adik ipar.
Neraka dimulai ketika suami dari adik iparku menganggur. Alih-alih menegur menantunya yang malas, Ibu Mertua justru terus mengamuk dan memanipulasi keadaan. Kena guilt trip dan air mata sang ibu, Mas Bayu tega merebut hak keuanganku. Seluruh gajinya resmi diserahkan ke rekening ibunya demi membiayai ipar parasit.
Saat nafkah anakku dipangkas habis dan suamiku lebih memilih melihatku menangis demi senyum ibunya, aku sadar pernikahan ini sudah mati.
Nggak akan ada lagi tangisan mengemis. Aku akan angkat kaki membawa putriku, mengembalikan Mas Bayu pada keluarganya, dan membuktikan betapa hancurnya hidup mereka tanpa diriku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUAMIKU SELAMANYA MILIK KELUARGANYA
Siang merambat menuju sore di kediaman megah berarsitektur modern minimalis itu. Suasana rumah yang tenang dipadu dengan embun sore yang mulai turun membuat udara terasa begitu sejuk. Setelah perbincangannya dengan Arsa sang asisten pribadi yang sopan dan serba sigap—Maya memilih untuk merebahkan diri sejenak di kamar atas bersama Naya yang ketiduran akibat kelelahan bermain Lego.
Namun, pikiran Maya tidak pernah benar-benar bisa beristirahat. Rasa penasaran yang menghantuinya sejak kemarin kini kian tebal. Sosok bernama Ibra itu seolah-olah menjadi gumpalan kabut misterius di dalam hidupnya. Pria itu ada di dekatnya, memberi perlindungan, menyediakan rumah mewah yang sangat aman bagi dirinya dan Naya, menyukai putrinya, bahkan membelikan berbagai hadiah mahal. Namun, setiap kali Maya hampir melangkah menemuinya, sosok itu selalu lolos dari pandangan.
"Siapa sebenarnya kamu, Pak Ibra? Kenapa kamu begitu baik pada kami, sementara di ingatan masa laluku kamu begitu samar?." batin Maya seraya menatap langit-langit kamar.
Sekitar pukul empat sore, setelah memastikan Naya tertidur lelap dan aman di atas tempat tidur yang empuk, Maya memutuskan untuk turun ke lantai bawah. Ia berniat membantu Bik Nana menyiapkan makan malam atau sekadar menyeduh teh hangat di dapur untuk menetralkan gelisah di dadanya.
Saat menyusuri anak tangga melingkar dari lantai dua menuju lantai dasar, sayup-sayup pendengaran Maya menangkap deru mesin mobil mewah yang memasuki area pelataran depan. Suara dentum pintu mobil yang ditutup terdengar cukup mantap, disusul suara langkah kaki tergesa-gesa yang menginjak lantai marmer foyer luar.
Langkah kaki Maya terhenti di pertengahan tangga. Jantungnya mendadak berdegup kencang secara otomatis.
"Pak Ibra sudah pulang, Bik?" suara Arsa terdengar menyapa seseorang di ruang depan.
"Iya, Arsa. Saya cuma mampir sepuluh menit untuk ambil dokumen perjanjian investasi luar negeri yang tertinggal di ruang kerja," sahut sebuah suara bariton yang dalam, berwibawa, namun terasa sangat hangat dan berkarisma.
Maya terpaku di anak tangga. Suara itu! Itu bukan suara Arsa. Itu adalah suara pria pemilik rumah ini sosok Ibra yang asli.
Dengan napas yang tertahan di tenggorokan, Maya bergegas melangkah turun, berniat mempercepat jalannya menuju ruang tengah agar bisa menemui pria itu secara langsung. Namun, tepat saat Maya menginjakkan kaki di anak tangga terakhir, Bik Nana mendadak setengah berlari dari arah dapur dengan wajah cukup panik seraya memegang panci air panas.
"Aduh, Mbak Maya! Kebetulan sekali Mbak turun!" panggil Bik Nana setengah berbisik namun penuh desakan. "Mbak, tolong bantuin Bik Nana sebentar. Tolong matikan kompor di dapur dan aduk kuah supnya sebentar ya, Bik Nana mau buru-buru antarkan berkas Pak Ibra yang ketinggalan di ruang kerja beliau!"
Maya sempat tertegun sejenak. Matanya melirik ke arah lorong ruang depan tempat suara Ibra terdengar, lalu beralih menatap Bik Nana yang tampak sangat membutuhkan bantuannya.
"O-oh, iya Bik! Bisa, biar saya yang matikan kompornya," sahut Maya refleks. Sebagai orang yang menumpang di rumah itu, Maya tentu tidak enak hati untuk menolak bantuan kecil dari Bik Nana.
Dengan tergesa-gesa, Maya mengalihkan langkahnya menuju dapur bersih. Ia memutar knop kompor untuk mematikan apinya, lalu mengambil sendok sayur untuk mengaduk kuah sup segar yang mendidih beberapa kali agar tidak gosong di bagian dasar panci.
Proses sederhana di dapur itu hanya memakan waktu sekitar tiga hingga empat menit. Namun, bagi Maya yang diliputi rasa penasaran tingkat tinggi, tiga menit itu terasa bagaikan berjam-jam.
Begitu urusan dapur selesai dan Bik Nana kembali melintas seraya membawa amplop cokelat tebal menuju ruang depan, Maya langsung menyusul dengan langkah seribu.
"Bik... Pak Ibra masih ada di dalam?" tanya Maya dengan napas agak memburu seraya berjalan berdampingan dengan Bik Nana menuju area pintu utama.
"Aduh, sepertinya beliau baru saja keluar menuju area carport depan, Mbak," jawab Bik Nana tergesa-gesa.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Maya mempercepat langkah kakinya melewati foyer dan berlari kecil menuju pintu jati utama yang terbuka lebar.
Hujan gerimis mulai mengguyur halaman depan rumah, menciptakan bulir-bulir air yang membiaskan cahaya lampu taman sore hari.
Tepat di ujung pelataran parkir, tampak seorang pria bertubuh tinggi, tegap, dan berpenampilan sangat gagah membelakangi pintu utama. Pria itu mengenakan jas hitam elegan berpotongan sempurna yang membalut bahunya yang kokoh. Dari belakang, postur tubuhnya memancarkan aura ketegasan dan kepemimpinan yang sangat luar biasa kuat.
Arsa tampak berdiri di samping mobil sedan hitam yang pintunya sudah dibukakan, memegang payung besar untuk melindungi atasan tertingginya itu dari terpaan air hujan.
"Pak Ibra!" panggil Maya refleks, walau suaranya sedikit tertelan oleh suara derasnya air hujan yang mulai jatuh menghantam dedaunan.
Pria tinggi tegap itu tampak menghentikan langkahnya tepat di samping pintu mobil yang terbuka. Untuk sejurus kecil, tubuh pria itu membeku. Maya bisa melihat bagaimana kepala pria itu perlahan hendak menoleh ke belakang ke arah tempat Maya berdiri di ambang pintu.
Maya menahan napasnya. Dadanya berdebar begitu hebat. Matanya membelalak fokus, menunggu detik-detik saat wajah pria itu berputar dan terpampang di depan matanya.
Namun, sebelum wajah pria itu benar-benar berputar sempurna dan terlihat oleh Maya, ponsel di dalam saku jas pria itu mendadak berdering nyaring. Arsa menyampaikan sesuatu dengan wajah serius seraya menunjukkan layar iPad di tangannya.
Pria tegap itu membatalkan gerakannya untuk menoleh. Ia kembali meluruskan pandangannya ke depan, menundukkan kepala sedikit, lalu mengayunkan kakinya masuk ke dalam kabin penumpang mobil sedan mewah tersebut. Arsa dengan cepat menutup pintu mobil dengan bunyi blek yang solid, lalu memutari mobil dan duduk di kursi pengemudi.
Wusss...
Mobil sedan hitam itu melaju perlahan membelah rinai hujan, meninggalkan pelataran rumah dan menghilang di balik gerbang besi otomatis yang terbuka dan menutup kembali.
Maya berdiri terpaku di ambang pintu. Air hujan yang terbawa angin sore menampar halus wajah dan jilbab cokelat susunya. Ia memandangi jejak roda mobil di atas batu alam yang basah dengan perasaan campur aduk kecewa, makin penasaran, dan terpana oleh aura yang ditinggalkan pria itu.
Maya sama sekali belum sempat melihat wajahnya. Ia hanya sempat melihat punggung yang kokoh, postur yang tegap, serta mendengar suara baritonnya yang menenangkan.
Bik Nana melangkah mendekati Maya dari belakang, menyampirkan kain selendang kering di bahu wanita muda itu.
"Mbak Maya tidak apa-apa?" tanya Bik Nana lembut.
Maya mengembuskan napas panjang, lalu membalikkan badannya seraya tersenyum tipis, menutupi kecamuk di dalam dadanya. "Tidak apa-apa, Bik. Sepertinya Pak Ibra memang sibuk sekali ya."
Bik Nana tersenyum hangat, menatap Maya dengan tatapan penuh arti yang menyimpan rahasia manis. "Pak Ibra memang sangat sibuk dengan bisnisnya, Mbak. Tapi percaya sama Bik Nana... beliau selalu menyempatkan diri dan memikirkan kenyamanan Mbak Maya dan Naya di sini. Nanti akan ada waktunya Mbak Maya duduk berhadapan langsung dengan beliau."
Maya mengangguk pelan. Ucapan Bik Nana seolah memberi kepastian bahwa momen pertemuan yang dinanti-nantikannya tinggal menghitung hari. Rasa penasaran itu kini tidak lagi membuatnya frustrasi, melainkan bertransformasi menjadi sebuah debaran manis yang siap menyambut takdir baru di dalam hidupnya.