NovelToon NovelToon
KUTUKAN GAUN PENGANTIN

KUTUKAN GAUN PENGANTIN

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Kutukan / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

Anindiya dikenal sebagai seorang makeup artist berbakat yang memiliki sanggar rias pengantin ternama di kotanya. Setiap hari, ia membantu para calon pengantin mewujudkan impian mereka tampil sempurna di hari bahagia. Hidupnya berjalan tenang hingga suatu hari ia mengunjungi sebuah butik tua untuk mencari beberapa gaun pengantin baru.
Di antara deretan gaun mewah, pandangannya terpaku pada sebuah gaun putih yang dipajang anggun di atas manekin. Ada sesuatu yang aneh sekaligus memikat dari gaun itu. Seolah memiliki kehidupan, gaun tersebut memanggilnya tanpa suara. Meski sang pemilik butik memperingatkan agar tidak menyentuhnya, Anindiya justru membawanya pulang.
Sejak saat itu, kejadian-kejadian mengerikan mulai menghantui hidupnya. Bisikan misterius terdengar di tengah malam, bayangan pengantin berlumuran darah muncul di setiap cermin, dan setiap pengantin yang mengenakan gaun tersebut mengalami nasib tragis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 7

​Hari demi hari berlalu dengan sangat cepat.

​Sejak gaun pengantin baru berwarna putih gading itu dipajang di ruang depan, suasana Anindiya Bridal & Makeup berubah drastis. Sanggar jadi jauh lebih ramai dari biasanya.

​Hampir setiap hari ada saja calon pengantin yang datang berkonsultasi. Ada yang hanya penasaran ingin melihat langsung, ada yang mencoba gaun lain, dan tidak sedikit yang mendadak langsung memesan setelah terpesona melihat gaun putih gading di dekat jendela kaca tersebut.

​Anindiya sampai berulang kali menggelengkan kepala sambil tersenyum tak percaya. "Jujur ya, Rin, aku bener-bener nggak nyangka bakal meledak begini efeknya."

​Rina yang sedang memasukkan data jadwal pelanggan di laptop ikut tertawa renyah. "Kan aku sudah bilang dari kemarin, Mbak. Gaun itu memang beda aura-nya. Baru dipajang sebentar, jadwal kita sampai akhir bulan depan langsung penuh!"

​Anindiya meraih buku pesanan tebal milik sanggar. Halaman demi halaman sudah dipenuhi coretan nama calon pengantin beserta tanggal acara mereka. Hampir setiap dua hari sekali, selalu ada saja nama baru yang masuk.

​Anehnya, hampir sembilan puluh persen calon pengantin yang datang selalu menunjuk gaun yang sama.

​"Mbak Anin," panggil Rina sambil mengetuk-ngetuk bolpen di dagunya. "Kalau begini terus, kita harus super ketat atur alur fitting sama cuci dry cleaning-nya lho. Soalnya banyak tanggal nikah mereka yang berdekatan."

​Anindiya mengangguk setuju. "Iya, nanti jadwal pengambilan dan pengembalian gaunnya kita buat jeda minimal dua hari. Jangan sampai ada yang bentrok atau gaunnya belum siap."

​Ia menutup buku pesanan itu dengan senyum puas yang amat lebar. Di dalam hati, rasa ragu saat mengeluarkan uang belasan juta di butik tua kota lama dulu menguap tanpa sisa. Modal besar itu kini perlahan kembali, bahkan jauh lebih cepat dari kalkulasi bisnis ternekatnya sekalipun.

​Kepopuleran gaun itu makin menjadi-jadi saat beberapa pelanggan mengunggah foto fitting mereka ke media sosial. Dalam hitungan hari, foto-foto itu tular dan dibanjiri komentar. Banyak orang bertanya-tanya di mana mereka bisa menyewa gaun seanggun itu, yang secara otomatis membuat nama Anindiya Bridal melambung tinggi.

​Suatu siang, saat Anindiya sedang sibuk merias wajah seorang pelanggan, ponsel di mejanya terus-terusan bergetar.

​"Rin, tolong cek pesan masuk dong. Takutnya ada hal penting," pinta Anindiya tanpa menghentikan goresan kuas blush on-nya.

​Rina menggeser layar ponsel. "Mbak, ini ada yang mau booking gaun baru itu lagi buat bulan depan!"

​"Masih ada tanggal kosong nggak?"

​"Kalau buat gaun itu... tinggal sisa dua jadwal lagi, Mbak. Sisanya penuh!"

​Anindiya tersenyum lebar. "Alhamdulillah... Ambil aja, Rin!"

​Belum sampai satu bulan sejak gaun itu dibeli, slot penyewaan untuk tiga bulan ke depan hampir ludes terkunci.

​Setelah pelanggan sore itu pulang, Anindiya duduk santai di sofa ruang tamu sambil menikmati segelas teh hangat. Pandangannya kembali bergulir memandangi manekin di sudut ruangan. Gaun putih gading itu berdiri anggun dipeluk cahaya sore.

​"Aku bener-bener beruntung bisa ketemu kamu," gumam Anindiya pelan pada gaun tersebut.

​Rina yang sedang mengelap meja kopi mendengarnya dan tertawa terkekeh. "Mbak Anin mah melamun sambil ngomong sendiri sama gaun. Awas lho, kalau pelanggan dengar, dikira Mbak stres lagi."

​Anindiya ikut tertawa renyah. "Biarin aja! Abisnya gaun ini beneran pembawa rezeki melimpah buat kita."

​Atmosfer sanggar terasa begitu hidup dan menyenangkan. Kesibukan yang dulu kadang membuat fisik Anindiya ambruk, kini justru membakar semangatnya tiap pagi. Ia bahkan mulai berani memikirkan target besar berikutnya.

​"Rin, kayaknya tahun depan kita bisa deh buka cabang baru di pusat kota," cetus Anindiya optimis.

​Rina langsung menoleh kaget. "Seriusan, Mbak?"

​"Serius lah! Kalau antrean pelanggan makin membludak begini, kenapa nggak?"

​"Wah, aminkan paling kencang deh! Semoga makin lancar ya, Mbak!"

​"Aamiin!"

​Namun, di tengah gelombang keberhasilan itu, ada satu hal ganjil yang mulai makin sering hadir di sanggar.

​Aroma wangi bunga melati.

​Awalnya, Anindiya tidak terlalu ambil pusing. Ia mengira wewangian itu berasal dari semprotan air freshener otomatis atau racikan bunga segar yang biasa mereka beli tiap dua hari sekali. Namun makin hari, wangi melati itu terasa makin pekat, dingin, dan menusuk hidung.

​Suatu pagi, saat Anindiya baru saja memutar kunci dan membuka pintu depan sanggar, wangi melati yang amat segar langsung menyengat indra penciumannya.

​"Hmm..." Anindiya menghirup napas dalam-dalam. "Wangi banget ya hari ini."

​Tak lama kemudian, Rina melangkah masuk dari luar. "Pagi, Mbak Anin!"

​"Pagi, Rin. Kamu nyium bau bunga melati nggak?"

​Rina mengendus udara sekitar. "Eh... iya! sangat wangi banget malah, Mbak. Mbak Anin baru ganti bunga di vas ya?"

​Anindiya mengernyit heran, lalu menunjuk vas bunga kaca di meja tamu. "Lah, vasnya kan masih kosong. Bunga yang kemarin udah dibuang Rina tadi malam, kan?"

​Rina melirik vas kaca yang bersih dan kosong melompong itu. Sontak ia menelan ludah. "Oh... iya ya. Terus ini wangi dari mana?"

​Anindiya mencoba berpikir rasional. "Mungkin wangi dari pohon melati tetangga sebelah yang terbawa angin masuk."

​"Bisa jadi sih..." gumam Rina ragu, walau seingatnya tetangga ruko sebelah sama sekali tidak menanam pohon bunga.

​Mereka pun menepis keheranan itu. Kesibukan melayani pelanggan membuat hal-hal kecil seperti aroma melati cepat terlupakan.

​Hingga sore harinya, Siska datang bersama ibunya untuk melakukan sesi fitting gaun terakhir sebelum hari pernikahan yang tinggal menghitung hari. Begitu melangkah masuk, wajah Siska nampak begitu berseri-seri.

​"Kak Anindiya!" sapa Siska antusias.

​"Eh, Mbak Siska! Mari masuk, Mbak, Ibu."

​Siska tidak langsung duduk di sofa. Langkah kakinya justru bergegas menghampiri manekin di dekat jendela. "Duh, kangen banget! Senang banget akhirnya bisa lihat gaun ini lagi."

​Anindiya tersenyum hangat. "Tinggal dua hari lagi kan? Nanti bisa dipakai seharian sepuasnya."

​"Iya, Kak! Rasanya udah nggak sabar banget!" sahut Siska dengan mata berbinar.

​Ibu Rahmi menyenggol lengan putrinya sambil tertawa kecil. "Setiap malam di rumah dia cuma cerita soal gaun ini terus lho, Jeng Anin. Sampai bosan Ibunya mendengar."

​"Habisnya cantik banget, Bu!" balas Siska malu-malu.

​Anindiya lantas membantu melepas gaun itu dari tubuh manekin dengan telaten. Namun, tepat saat kain putih gading itu terangkat dari manekin kayu...

​Sret!

​Aroma melati yang amat dingin dan pekat mendadak merebak hebat, memenuhi seluruh sudut ruangan secara serentak. Wanginya begitu tajam hingga Siska refleks menghentikan napasnya sejenak.

​"Kak Anin..." panggil Siska pelan.

​"Iya, Mbak Siska?"

​"Wangi banget... Harumnya beda ya, segar tapi dingin gimana gitu," ujar Siska sambil menghirup udara beraroma melati itu dengan wajah rileks.

​Rina yang berdiri menjaga pintu refleks saling pandang dengan Anindiya.

​"Iya, Mbak," sahut Anindiya menutupi kegugupannya dengan senyum manis. "Mungkin ini wangi alami dari bahan kainnya."

​Siska mengusap permukaan kain gaun itu dengan takjub. "Aku suka banget wanginya. Khas banget."

​Proses fitting berjalan amat lancar. Saat gaun itu melekat sempurna di tubuh Siska, semua orang di ruangan itu dibuat terpana. Potongan gaun gading itu seolah-olah memang dipotong khusus mengikuti tiap lekuk tubuh Siska.

​"Masya Allah... cantik banget kamu, Nak," puji Ibu Rahmi, matanya mulai berkaca-kaca terharu melihat putri tunggalnya.

​Siska berdiri di depan cermin besar, memutar tubuhnya perlahan dengan raut wajah penuh kebahagiaan. "Dua minggu lalu aku cuma bisa mengagumi gaun ini di manekin... Sekarang gaun ini beneran melekat di tubuhku."

​Anindiya yang menyaksikan momen itu ikut terharu. Bagi seorang MUA, melihat binar bahagia di mata calon pengantin saat becermin adalah puncak kepuasan tertinggi dalam profesinya.

​Setelah sedikit penyesuaian di bagian kancing belakang, Siska kembali mengganti pakaiannya. Sebelum pamit pulang untuk bersiap menghadapi hari H, Siska sempat berjalan mendekati gaun yang sudah terpasang kembali di manekin.

​Ia mengelus renda lengan gaun itu seraya berbisik lirih, "Sampai ketemu lusa ya..."

​Anindiya hanya tersenyum menganggapnya sebagai luapan rasa bahagia calon pengantin pada umumnya. Tidak ada curiga. Tidak ada cemas.

​Sepeninggal Siska dan ibunya, Anindiya merapikan ekor gaun putih gading itu agar menggantung sempurna di atas karpet. Ia mundur dua langkah, mengamati mahakaryanya dengan dada membusung bangga.

​"Mbak Anin," panggil Rina yang duduk di sofa.

​"Kenapa, Rin?"

​"Kalau dipikir-pikir... ajaib ya. Sejak gaun ini datang, sanggar kita mendadak banjir rezeki begini."

​"Iya kan? Makanya aku bilang, uang belasan juta kemarin itu investasi paling tepat," sahut Anindiya mantap.

​Di dalam benak Anindiya, yang ada hanyalah bayangan kesuksesan: nama sanggar yang makin berkibar, tabungan usahanya yang membengkak, dan deretan klien yang mengantre. Rasa puas telah membendung seluruh logika dan rasa waspadanya.

​Tanpa sedikit pun disadari oleh Anindiya maupun Rina...

​Aroma wangi melati yang semakin hari semakin pekat menusuk hidung itu bukanlah pewangi kain biasa. Melainkan sebuah pertanda ghaib—bahwa entitas gaib yang selama ini terikat di balik jahitan kain gaun tua itu... telah sepenuhnya terjaga dari tidur panjangnya.

​Dan kini, ia siap menagih janji pada korban pertamanya.

1
Mega Arum
bagus kak.. cm kurang dlm dialog dan tokoh pemeran
andhig Rosdiana: siap kak ,sudah memberikan dukungan like dan komen ..untuk kedepannya saya akan lebih baik lagi dalam berkarya 💪
total 1 replies
MARQUES
semoga author lekas sembuh dan tetap semangat berkarya saya menantikan karya terbarunya 🙏
MARQUES
karya yang bagus author
andhig Rosdiana
jelas padat dan tamat 🤭
MARQUES
nah gitu dong cari tahu setelah kehilangan orang yang bisa di andalkan baru ngerasa janggal kan kalau ga sadar juga dah lha selanjutnya Anindya aja yang di incar🤣🙏
andhig Rosdiana
untuk beberapa hari kedepan author belum bisa melanjutkan bab berikutnya ,asam lambung author kambuh ,doain author cepat sembuh ya .jangan lupa tinggalkan like dan koment ya ...🙏
MARQUES: semangat terus buat author semoga lekas sembuh dan bisa up cerita baru🙏
total 1 replies
MARQUES
asli kesal banget sama Anindya jelas depan mata kenyataan begitu hadeh kalau didunia nyata ada orng begitu juga ku gaplok beneran kepalanya kesel asli🤣🙏
MARQUES: susah buat sabar Thor karna cerita nya menarik🤣🙏
total 2 replies
MARQUES
keras banget kepala si Anindya pingin ku gapluk biar sadar 🤣
MARQUES: sama sama author tetap semangat upload walaupun masih sepi pembaca terus up jangan berhenti ya author soalnya cerita nya bagus tanpa ada drama percintaan 🤣🙏
total 2 replies
andhig Rosdiana
jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen supaya author tambah semangat berkarya👍🤭
andhig Rosdiana
jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen ya suy🤭 supaya author lebih semangat lagi nulisnya 💪
MARQUES
mantap author sekali up banyak saya sangat senang tapi ga ada notif nya jadi telat baca🙏
andhig Rosdiana
jangan lupa tinggalkan jejak ya suy like dan koment, terimakasih sudah memberikan dukungan
MARQUES
biasanya cewe keras kepala gini yang suka mencari masalah
MARQUES
absen author keliatan bagus nih ceritanya 🙏
andhig Rosdiana: siap .... terimakasih udah hadir dan memberikan dukungan ,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!