Taniza dan Tania.
Saudara kembar yang terpisah sejak kecil.
Taniza dan Tania merupakan kembar identik, hanya saja sifat mereka bertolak belakang.
Taniza adalah sosok anak yang lemah lembut, baik hati, tidak pernah menyakiti siapapun, ia gadis yang sangat penurut.
sedangkan Tania , ia gadis yang lebih liar, tidak mau di atur, suka seenaknya,dan lebih suka hidup semaunya..
namun di balik sifat keduanya yang sangat bertolak belakang, mereka sama-sama saling menyayangi, namun takdir berkata lain, mereka mengalami kecelakaan dan membuat nya terpisah,namun sebelum kecelakaan itu terjadi, mereka iseng-iseng bertukar nama, tapi ternyata pertukaran identitas itu terbawa sampai dewasa.
Bismillahirrahmanirrahim....
Yuk ikuti kisahnya....
kawal mereka sampai tuntas...
jangan lupa beri dukungan ya ...
salam sehat semua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Di luar ruangan, Tania berjalan mondar-mandir dengan cemas, meremas liontin patah NiZa di dadanya. Begitu pintu ruang tindakan terbuka dan perawat memanggilnya, Tania langsung melangkah masuk dengan dada berdebar kencang.
Dokter Riri berdiri di balik tirai pembatas. Wajah dokter paruh baya itu sangat serius, penuh dengan kedukaan dan ketegangan yang pekat.
"Mbak... mari ikut saya ke dalam sebentar," bisik Dokter Riri pelan, suaranya sarat akan beban berat.
Tania melangkah masuk mengikuti sang dokter yang menangani adik kembarnya, ia menyibak tirai. Di atas ranjang periksa, Taniza terbaring lemah dengan selang oksigen menutupi hidung dan mulutnya. Tubuhnya kini ditutupi kain putih, namun sebagian area dada, lengan, dan kakinya disingkapkan oleh dokter.
"Mbak... saya harus memperlihatkan ini pada Anda sebagai pihak keluarga," tutur Dokter Riri dengan suara yang bergetar menahan amarah profesionalnya. "Pasien ini tidak hanya menderita akibat tenggelam dan benturan batu sungai... tapi apa yang ada di tubuhnya sebelum dia tenggelam... adalah sebuah kejahatan yang sangat tidak manusiawi."
Dokter Riri perlahan menggeser penutup kain di bagian lengan, bahu, dan punggung Taniza.
Mata Tania yang asli menatap ke arah tubuh saudara kembarnya dengan terkejut bukan main, dadanya bergemuruh hebat, nafasnya tersendat melihat pemandangan di depannya.
Di kulit tirus Taniza yang pucat, terukir puluhan lebam kebiruan yang menumpuk, bekas pukulan benda tumpul yang sudah berusia berhari-hari hingga yang masih baru. Pergelangan tangannya memiliki garis lecet dalam akibat ikatan tali kencang yang berulang kali...lalu punggung tangan yang masih terlihat memar akibat injakan sepatu tinggi Chana.
Namun, saat Dokter Riri membalikkan sedikit posisi miring tubuh Taniza dan menyingkap kain di area punggung bawah serta pinggulnya... jantung Tania seolah berhenti berdetak seketika.
Di sana, tercetak jelas sebuah bekas luka bakar yang amat mengerikan. Kulit halus itu terkelupas dan melepuh hebat, membentuk pola geometris yang sangat presisi, sebuah cetakan sempurna dari bagian bawah setrika listrik yang panas.
"Luka bakar ini..." suara Dokter Riri tercekik rasa iblis yang tak sanggup ia bayangkan. "Ini bukan kecelakaan. Ini bekas luka akibat ditempelkan setrika panas secara sengaja dan dipaksakan berulang kali. Seseorang telah menyiksanya dengan sangat kejam..."
Seketika itu juga, dunia di sekitar Tania terasa mendadak hening. Udara di dalam ruangan itu terasa mendingin secara ekstrem.
Tania memejamkan matanya erat-erat.
Di balik kelopak matanya yang terpejam, bayangan Taniza, saudara kembarnya yang begitu lembut, polos, penurut, dan tak pernah mau menyakiti semut sekalipun, hadir dalam ingatannya. Kembarannya yang malang harus menanggung siksaan iblis seperti ini di rumah yang seharusnya melindunginya!
Air mata Tania tidak lagi menetes. Tangisannya mengering, berganti dengan gelombang amarah yang amat sangat luar biasa, sebuah lahar murka yang meledak di dasar jiwanya.
Napas Tania terdengar sangat berat dan teratur. Jemari tangannya mengepal begitu rapat hingga kuku-kukunya menancap ke telapak tangan, memutihkan buku-buku jarinya. Aura di dalam ruangan berubah menjadi sangat pekat dan mencekam. Dokter Riri dan perawat bahkan sampai melangkah mundur satu pijakan, merinding merasakan aura dingin dan mematikan yang mendadak memancar dari tubuh Tania.
Tania membuka matanya perlahan.
Sepasang manik matanya yang tadi penuh duka kini menyala tajam bak bilah pedang baja yang baru ditempa di dalam api. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi kelembutan pasrah.
Tania melangkah mendekati ranjang, mengulurkan tangannya dan mengelus lembut rambut Taniza yang basah, lalu mengecup kening kembarannya dengan penuh takzim.
"Taniza..." bisik Tania dengan suara yang sangat rendah, dingin, dan sarat akan ikrar kematian. "Cukup... Cukup kamu yang menderita dan menanggung semua ini. Mulai detik ini... perisaimu sudah kembali."
Tania berbalik menatap Dokter Riri dengan raut wajah kaku tanpa senyum sedikit pun.
"Dokter... obati dan selamatkan dia dengan seluruh kemampuan klinik ini," pangkas Tania dengan nada komando yang amat tegas dan dingin. "Saya akan memastikan... orang yang mencetak luka setrika ini di tubuh adik saya... akan membayar setiap inci rasa sakitnya dengan darah mereka sendiri!"
Suasana di dalam ruang tindakan Klinik Mulia Utama terasa amat hening dan tegang. Hanya detak jarum jam dinding dan deru halus mesin penyalur oksigen yang terdengar.
Di samping ranjang, Tania, yang di desa dikenal sebagai Niza mengeluarkan ponsel sederhananya dari dalam saku jaket. Dengan tangan yang masih bergetar oleh lahar amarah yang menumpuk di dadanya, ia menekan nomor telepon orang tua nya,
Suara nada sambung terdengar beberapa saat, hingga akhirnya terdengar suara lembut yang sarat akan rasa cemas di ujung telepon.
"Assalamu’alaikum, Niza, Nak? Kamu di mana? Bagaimana pendakiannya? Kok perasaan Ibu dari tadi tidak tenang... Seharusnya kamu sudah sampai nak,..kenapa sampai sekarang belum sampai juga" suara Ibu Sumiati terdengar memecah keheningan.
Tania menarik napas panjang, berusaha menahan guncangan di tenggorokannya agar suaranya tetap terdengar stabil. "Wa'alaikumsalam, Ibu... Niza sudah turun dari gunung dari kemarin. Tapi... Ibu, Niza punya kabar penting. Ingatan Niza sudah kembali, Bu..."
Terhenyak sejenak di ujung telepon, suara Ibu Sumiati bergetar. "Maksudmu, Nak...?"
"Dulu Niza kecelakaan bersama orang tua dan kembaran Niza, namun sepertinya Niza terlempar ke sungkai, makanya ibu sama ayah yang nemuin niza., Tapi niza tidak tahu orang tua kandung Niza di mana, dan sekarang Niza menemukan kembaran Niza, Bu... Nama aslinya Taniza. Dia terdampar di sungai kaki gunung dalam keadaan sekarat," bisik Tania dengan suara yang dalam. "Tubuhnya penuh luka siksaan yang sangat teramat kejam, Bu. Ada bekas setrika panas di kulitnya..."
Di balik telepon, terdengar hembusan napas histeris dan isak tangis dari Ibu Sumiati. Tak lama, suara tegas Pak Harto mengambil alih ponsel tersebut.
"Niza, dengarkan Ayah," tegas Pak Harto dengan suara baritonnya yang menenangkan namun sarat akan ketegasan. "Setelah keadaan Taniza sedikit membaik dan diizinkan dokter untuk bergerak, segera bawa adikmu itu pulang ke desa. Bawa dia ke rumah kita! Di sini aman, Ibu dan Ayah yang akan merawat dan menjaganya sampai dia sembuh total. Jangan biarkan dia disentuh oleh orang-orang jahat itu lagi!"
"Iya, Ayah... Niza nurut," saut Tania dengan mata membelalak penuh tekad. "Niza akan bawa Taniza pulang ke rumah kita di desa. Tapi setelah Taniza aman bersama Ayah dan Ibu... Niza yang akan berangkat ke tempat di mana adik Niza disiksa juga mencari orang tua kandung Niza, tapi Disini . Niza akan menyamar menjadi Taniza... dan Niza akan merebut kembali keadilan untuknya."
_____
Setelah menutup telepon, Tania keluar dari ruang tindakan menuju lorong klinik, di mana Dias, Yoga, dan Nina serta dua teman laki-lakinya sedang menunggu dengan raut wajah penuh tanda tanya.
Di sana, di hadapan kelima teman terdekatnya, Tania membeberkan segalanya. Ia menceritakan rahasia ingatannya yang telah kembali, jati dirinya yang sebenarnya, hingga luka bakar bekas setrika panas yang tercetak mengerikan di punggung saudara kembarnya.
Ninai menutup mulutnya sambil meneteskan air mata, sementara Yoga mengepalkan tangannya menahan geram.
Dias, yang sejak awal memiliki insting tajam sebagai seorang PNS kecamatan yang terbiasa menangani berbagai karakter orang, menyilangkan dadanya dengan raut wajah sangat serius.
"Za... kalau sampai kembaranmu disiksa sedemikian rupa dan dibuang ke dasar jurang sungai di kaki gunung ini, artinya orang-orang yang melakukannya bukan orang sembarangan," tutur Dias dengan nada suara pelan dan berhati-hati. "Mereka pasti punya pengaruh besar, punya mata-mata, dan mungkin saat ini sedang mencari keberadaan jasad Taniza di sekitar area ini."
Dias menatap wajah Tania yang identik dengan Taniza.
"Firasat Mas mengatakan... tidak aman kalau kalian berdua keluar dari klinik ini dengan wajah terbuka," lanjut Dias. "Siapa pun yang melihat wajah kalian bisa dengan mudah mengenali bahwa Taniza masih hidup."
Dias berbalik menatap Nina . "Nin, ikut Mas sebentar ke toko pakaian depan pasar."
____
Tak sampai setengah jam kemudian, Dias kembali membawa dua buah tas kertas besar. Dari dalamnya, Dias mengeluarkan beberapa pasang gamis set tebal lengkap dengan kain niqab berwarna gelap.
"Gunakan ini, Za," ucap Dias seraya menyerahkan satu pasang pakaian itu pada Tania. "ini untukmu, dan satu lagi pasangkan ke tubuh Taniza setelah dia sadar nanti. Dengan cadar ini, wajah kalian berdua akan tertutup rapat. Tidak akan ada orang luar atau mata-mata yang bisa mengenali siapa kalian saat kita membawa Taniza pulang ke desa."
Tania menatap kain cadar di tangannya dengan tatapan haru sekaligus mantap. "Terima kasih banyak, Mas Dias... Firasat dan bantuan Mas Dias sangat berarti untuk keselamatan adik Niza."
sebentar lagii, Ameer dan Tania akan Sah menjadi pasangan suami isteri, mungkin ya..kmu akan menghadirkan sosok Venera dihari yg sakral ini, tapiiii semua itu tidak akan membuat Ameer dan Tania goyah akan keputusan mutlak dr sesepuh Hasanuddin 😁 gaskuyyyy kakk, up lagiii yaaa.. krn kemarin aku tunggu dan bolak balik kesini ga ada muncul² 😆