NovelToon NovelToon
Cerita Tak Berkisah

Cerita Tak Berkisah

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Contest / Kisah cinta masa kecil / Romansa-Teen school
Popularitas:21.8k
Nilai: 5
Nama Author: fifizulfaa

Bercerita tentang seorang perempuan yang membuat janji kepada dua orang sahabatnya. Janji itu cukup tidak masuk akal dan mereka membuat penjanjian itu di umur yang masih kecil. Akankah janji itu terus berjalan hingga mereka beranjak dewasa? atau justru mereka melupakan semua dan menjadikan perjanjian itu tak berkisah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fifizulfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ada Apa Sebenarnya?

Tin ... Tin ... Tin ...“Ke rumah sakit nemenin Dami. Eh!” ucap Nita spontan bersamaan dengan suara klakson motor tukang ojek yang datang berhenti di depan mereka. Nita terus menatap Kayla was-was, berharap suaranya tadi tidak terdengar jelas.

Sedangkan Kayla membalas tatapan Nita dengan heran. “Bunda! Ojeknya udah dateng kenapa malah ngelamun sih.”

“Hah! Iya, tadi kamu dengar bunda ngomong apa?” tanya Nita memastikan.

“Ngomong apa emang, Bun. Tadi ada suara klakson soalnya.”

Nita menghembuskan napas leganya. “Ah. Enggak kok, tadi Bunda Cuma bilang mau ke rumah sakit nemenin temenya Bunda. Kalau gitu bunda berangkat yah,” ucapnya sambil menerima helm yang tukang ojek itu sodorkan. “Daniel ada di dalam kok, Ay.”

“Iya, Bun. Hati-hati yah. Dadahh!” jawab Kayla diselingi lambaian tangan. Tanpa menunggu tukang ojek itu melajukan motornya Kayla sudah lebih dulu memasuki rumah, mencari keberadaan Daniel. Berkali-kali ia memanggil nama cowok itu, tapi tak ada tanda-tanda akan balasan.

Gadis itu pun memutuskan menaiki tangga menuju kamar yang berada di pojok kanan. Ada yang unik dengan pintu kamar milik Daniel, pintunya terpenuhi dengan foto-foto persahabatan mereka, dimulai dari mereka masih merangkak, lalu bisa berjalan, mengenal dunia luar, hingga sekarang mereka tumbuh dewasa, semua tergambar jelas di sana.

Kayla membuka pintu dengan amat pelan, matanya melirik dari celah dan mengeryitkan matanya, ia mengeraskan rahangnya, merasa kesal melihat Daniel masih meringkuk di bawah selimut. Sedangkan dia sudah rapi dengan seragam dan ransel yang telah menggantung di bahu.

“DANIEL! BANGUN!” Teriak Kayla menyibakkan selimut yang membalut tubuh Daniel, lalu membuangnya ke lantai.

Merasa Daniel hanya diam, bukannya bangun malah mengeratkan pelukan pada guling, Kayla dengan sigap menarik salah satu bantal dan menghujam tubuh daniel dengan pukulan. “Daniel. BHUK! Daniel ini udah siang keburu telat nanti! BHUK! BHUK! BHUK!” Kayla tak memberi ampun, ia terus memukuli Daniel dengan bantal.

“Aw! Aw, aw, aw. Ay! Ay sakit.”

“Makanya bangun!”

Daniel pun geram menarik bantal yang ada di genggaman gadis itu dan memeluknya erat. Kayla yang hampir ikut tertarik, syukur masih bisa menyeimbangkan tubuhnya dan hanya sekedar terduduk di bibir ranjang. Kayla mencoba menarik lengan Daniel dan berhasil terduduk, bagaikan badan yang tak mempunyai tulang, tubuh Daniel limbung kembali.

“Berangkat sendiri, Ay. Kalau mau bawa mobil aku, tuh di nakas kuncinya,” ucap Daniel terkesan lirih.

“Gak mauuuu, Anterin aku, Dan ... “ rengek Kayla diikuti pukulannya pada lengan cowok itu, tapi apalah daya, Daniel hanya menjawab dengan deheman tak jelas.

“Daniel! Nangis nih aku.”

“Nangis aja, dasar cengeng!” guman Daniel, “ADUH!” lanjutnya mengaduh saat tiba-tiba sebuah buku menimpuk tepat di kepalanya.

“Haish! Tau ah aku minta bantuan Ardan kalau gitu.”

Daniel langsung membuka matanya lebar-lebar, kenapa harus cowok itu lagi, Batinya. melihat Kayla yang sudah beranjak dari posisi sebelumnya, membuatnya harus segera terbangun. Alhasil Ia berhasil mencegah pintu yang akan di buka oleh Kayla dengan tangannya.

“Kenapa?” ketus Kayla memalingkan wajahnya.

“Iya, aku yang nganterin—“

“Enggak! Aku sama Ardan.” Saat tangannya akan membuka kembali pintu, dengan gesit Daniel mencegahnya.

“Kalau dibilangin sama aku, ya aku!”

“Gak! Tadi bilang gak mau, Minggir!” Bukannya mengalihkan Daniel justru menghadang jalan, saat Kayla ke arah kiri Daniel mengikuti, ke arah kanan pun Daniel mengikuti.

“DANIEL!”

“Aku yang nganterin.”

“Enggak!”

“Aku yang nganterin.”

“Eng—“

“AYLA!” Kayla langsung kicep mendengar hardikan Daniel, akan tetapi cowok itu malah tersenyum kikuk, mengelus puncak kepala Kayla dengan lembut, “Gitu dong, nurut sama aku. Aku yang nganterin yah.”

Kayla hanya diam menampakkan lirikkan kekesalan, namun di mata Daniel tatapan itu sungguh mengemaskan. “Sepertinya bentakan seorang Daniel Arsalan mempan banget yah.”

Cih.

“Minggir,” tukas Kayla menyingkirkan tubuh Daniel dari hadapannya dan melangkah dengan jengkel.

“Tunggu aku ya sayang. Jangan ngambek.” Daniel tergelak sendiri mendengar ucapannya. Ia pun menutup pintu dan bergegas bersiap diri.

...

Nita terdiam di ambang pintu rawat, matanya menangkap pemandangan yang menenangkan di mata tapi tidak di hatinya. Terlihat Dami sedang tertidur pulas ditemani kedua orang tuanya yang berada di samping kanan kiri, sama-sama mengelus putrannya itu dengan kasih sayang.

Rasa bahagia sudah pasti terasa saat melihat itu, tapi rasa bersalah, kecewa, dengki, lebih mendominasi perasaan Nita sekarang ini. Tidak mau lebih lama, ia segera berbalik, namun suara temannya, Reni. Membuatnya berhenti.

“Nita, sini dulu.”

Seorang ibu yang kerap disapa bunda itu hanya tersenyum canggung dan mulai melangkah mendekat. Tiba-tiba Reni megenggam erat kedua tangannya, tersenyum hangat, menatapnya lekat, membuat Nita hanya bisa membalas tanpa tahu maksud tatapan itu.

“Aku berterimakasih atas semuanya, Nit. Kamu udah mau jagain Dami, di saat aku sama suami aku gak bisa di sini,” ujar Reni dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Nita juga lebis antusias mendengar ucapan tulus temannya, hingga mulutnya bingung ingin membalas apa.

“Dan satu lagi, aku sama Mas Brata udah baikan, soal kita akan bercerai itu enggak akan terjadi lagi.” Seharusnya Nita senang mendengarnya, tapi justru ia merasa tidak terima dengan semua ini, rasanya di sini hanya dia yang berjuang bertahan, sedangkan yang lain sama sekali tidak ingin melirik keadaannya.

“Aku senang dengernya,” jawab Nita dengan senyum terpaksa, Reni langsung memeluk erat sahabatnya, di balik pelukan itu Nita memandang mantan suaminya yang sekarang hidup berbahagia dengan orang lain yang bisa disebut sahabatnya sendiri.

Nita dan Brata saling menyalurkan tatapannya tanpa diketahui Reni, mereka melepaskan semua rasa bersalah pada diri masing-masing. Hingga Nita harus memutuskan kontak mata itu kala Reni mulai melepas pelukannya.

“Oh iya, Nit. Kamu hari ini jaga Dami?” tanya Reni.

“Eum, kalau kalian pengen jagain Dami gak papa, aku bisa pulang.”

“Enggak. Gak gitu maksud aku, kalau seandainya kamu punya waktu luang gapapa. Lagian beberapa menit lagi aku ada meating di kantor, jadi?”

“Ah, ya. Okelah. Nanti Daniel juga kesini kok.”

“Okey, makasih sekali lagi. Aku titip anak aku yah.” Nita tersenyum tidak terima mendengar kata ‘Anak aku’ memang benar hanya dia di sini yang berjuang sendirian dengan rasa sakit yang harus dipertahankan.

“Mas Brata, aku duluan yah.” Reni menghampiri suaminya, dengan senang hati Brata menerima memeluk istrinya.

Tidak ingin melihat adegan itu, Nita melangkahkan kakinya ke arah lain, menaruh barang bawaan ke meja yang tersedia di sana, walau telinganya masih sangat berfungsi untuk mendengar cicitan dua mahkluk yang tak  waras baginya.

“Hati-hati ya, Sayang.”

“Kamu masih di sini kan,  jaga anak kita yah, aku sayang kamu.”

Nita sungguh geram mendengar suara yang seharusnya tak layak dia dengar, tangannya mengepal tiba-tiba, tapi ia mencoba meredakan emosi yang mulai memucak. Entah mengapa ia masih sangat jengkel, padahal bertahun-tahun ia merasakan keadaan ini.

Merasa Reni sudah tidak lagi di sana, Nita berbalik menghampiri Dami. Brata masih terduduk di samping  brankar. Nita tak memperdulikannya, ia mulai melakukan aktivitas, membasuh tubuh Dami dengan kain basah. Itu yang dilakukan Nita setiap pagi.

Mata milik Brata tak lepas dari Nita yang sangat telaten mengurus anaknya. Sesekali bibirnya melukiskan senyum di saat Nita terlihat tidak nyaman dengan tatapanya. “Aku minta maaf, Nit.”

Gerakkan tangan Nita berhenti mendengar itu, ia duduk dimana tempat Reni sebelumnya. Nita membalas tatapan mantan suaminya. “Buat apa?”

“Buat semuannya, aku tahu kamu masih sayang sama Dami. aku tau, kamu masih ingin miliki dami.”

“Karena dia emang anak aku, Mas.” Nita mengalihkan tatapannya pada anak yang masih tidur nyenyak tanpa sedikit pun terganggu.

“Tapi dia udah resmi jadi anak aku sama Reni.”

“Yah, yang kamu bilang resmi, itu hanya resmi di atas lembar kertas, tapi enggak di kenyataan.” Nita sedikit berdiri membungkukkan badannya mencium kening Dami cukup lama, hingga tiba-tiba tangan kekar memeluknya dari belakang, ia masih hafal pelukan ini, pelukan yang mungkin ia rindukan bertahun-tahun. Nita pun kembali terduduk, berniat melepas pelukan itu, namun semakin erat yang ia rasakan.

“Biarin beberapa menit,Nit,” ucap Brata.

Kepala milik Nita tertunduk. Mendengar tuturan Brata, akankah mantan suaminya itu merindukannya atau hanya sekedar memberi belas kasih. Kelopak matannya mulai memanas, luluhan cairan bening jatuh begitu saja, tubuhnya mulai bergetar dan terisak.

Brata yang mengetahui itu melepaskannya, hatinya tersentuh kala melihat Nita yang tegar  sekarang seakan rapuh hanya untuk sentuhan. Dengan keberanian Brata menangkup wajah yang mulai basah milik Nita. Memandanginya sejenak dan mengusap pelan air mata itu.

“Aku tahu kamu ibu yang kuat, Nit.”

“Enggak akan pernah ada seorang ibu yang tegar, kala melihat anaknya sendiri menganggapnya orang lain. Rasanya aku pengen bongkar semua sandiwara ini, Mas.”

“Kenyataan apapun yang kamu katakan, itu hanya dianggap lelucon semata oleh orang yang enggak tau apa sebenarnya terjadi, begitupun Dami, dia gak akan percaya sekuat apapun kamu meyakinkan, inget itu, Nit. Ikhlasin Dami.” tutur Brata yang hanya dibalas anggukan kecil oleh Nita.

Brata memberi semangat dengan mengelus bahu mantan istrinya itu, lalu mulai melangkah pergi meninggalkan dua manusia sedarah yang dulu ia pisahkan secara paksa. Ia keluar bersamaan dengan anak cowok yang dulu ia salahkan kelahirannya, Daniel.

Aneh, itu yang Daniel rasakan saat memasuki ruangan rawat milik Dami, lantaran melihat Brata, orang yang kerap ia sama ‘Om’ keluar ruangan dan saat di dalam hanya ada bundanya, tapi pikiran aneh ia segera tepis jauh-jauh. Sekelebat Daniel juga merasakan bundanya mengusap wajah seperti membersihkan sebuah jejak.

“Bunda, Om Brata habis ngapain?” tanya Daniel dengan penasaran.

“Nengokin anaknya lah!”

“Eum, Bun, kok Om Brata tuh kalau lihat aku selalu sinis sih?”

“Maksud kamu?” celetuk Nita berbalik tanya.

“Ya tatapanya gak enak gitu dilihat, padahal kalau sama orang lain enggak, sama aku doang. Seakan aku punya salah waktu kecil dulu.”

“Perasaan kamu kali, Bunda lihat juga biasa aja, kan emang Om Brata orangnya gitu.” Sejujurnya Nita mengetahui alasan di balik itu semua. Dari dulu memang Brata sangat membenci kedatangan Daniel di dunia, karena membuatnya harus terpisah dengan orang yang dia cintai.

Daniel pun bersikap acuh, toh dia tidak punya salah apapun.

...

Jam istirahat sekolah kali ini terasa begitu sepi bagi gadis yang duduk di kantin sendirian dengan sebotol aqua di depannya. Kayla, ia sedari tadi hanya celingukan dan sesekali meneguk air minumnya. Sungguh yang Kayla lakukan selama 30 menit hanya itu, sudah persis dibilang manusia tak punya tujuan.

Bagaimana tidak? cowok-cowok yang biasanya ia rusuhi, sekarang hilang ditelan bumi. Dami yang lama tak pulang, Daniel yang di skors begitupun juga Ardan. Sangat menjengkelkan.

Tettt!

Bunyi nyaring dari bel masuk membuat Kayla mau tak mau harus balik ke kelasnya, dan saat sampai di depan kelas seseorang memanggilnya.

“Iya Pak Adam, ada apa?” tanya Kayla setelah orang yang memanggilnya telah berapa di hadapanya.

“Em, itu. Gimana keadaannya Dami?”

Kayla bingung dengan pertannyaan yang guru BK-Nya ini katakan. Apa maksudnya Dami? jelas baik-baik sajalah. Pak Adam pun yang melihat Kayla hanya diam ikut dibuat bingung. “Gini, Ay. Bapak ibu guru itu mau je-“

“KAYLAAA! MASUK!” Suara lantang wali kelasnya membuatnya harus menutup gendang telingan rapat-rapat, begitupun Pak Adam.

Bu Weny yang baru datang berkacak pinggang menatap Kayla dan Pak Adam. Lalu berkata, “Pak Adam ini sudah bel masuk, dilarang mengajak berbicara murid bila tidak penting. Bisa pergi sekarang!”

“Kalau saya gak mau!” Pak Adam berlagak meniru Bu Weny yang tengah berkacak pinggang.

Kayla yang tidak ingin ikut campur urusan cinta para guru, langsung masuk kelas meninggalkan dua sejoli itu tanpa sepatah katapun. Ia lebih terpikat dengan ucapan Pak Adan. Kenapa bisa bertanya soal keadaan Dami? Kecurigaan pada diri Kayla semakin kuat, Apa iya orang-orang membohongiku, batinya.

1
sunflower
next kak
Nadia
hi kak aku mampir semangat
mommy dha
kak aku mampir membawa 10 like like back yah kak Lastri kembang desa.
silviaanugrah
11 like untuk karyamu thorrr, aku tunggu feedback nya yaa. semangat! 🌟
Aprilianana
wah, kasihan Monica d kasih hukuman😂

Jgn lupa mampir dan dukung karya ku Thor! Rahsia dibalik tirai.😁
Aprilianana
Jejak😁 semangat kak!

"Rahasia dibalik tirai" 😘
🤍
Lanjut lagi.. 🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️
🤍
Semangat akak.. 👍
nycto°
Lanjutkan kak, semangat!! 😍
TK
next Thor 👍
mey
Semangat, Thor
nycto°
Semangat kak aku mampir!! 👍👌
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
semangat terus
Isma Aji
Semangat Thor, terimakasih, tetap saling dukung 🤗
nycto°
3 like datang kak semangat, jangan lupa mampir juga yah!! 👍
Isma Aji
semangat 🤗
Isma Aji
Sukses Thor 🤗
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
semangat
Isma Aji
Like🤗, semangat
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
semangat kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!