NovelToon NovelToon
Ibu Tiri Penyelamat Dua Pewaris

Ibu Tiri Penyelamat Dua Pewaris

Status: tamat
Genre:Asmara / Perubahan Hidup / CEO / Anak Genius / Ibu Tiri / Transmigrasi / Healing / Antagonis Jahat / Tamat
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Karina terbangun sebagai ibu tiri kejam dalam novel yang baru ia baca. Nathan dan Lucas, dua anak kecil yang seharusnya ia lindungi, justru gemetar setiap kali melihatnya. Lebih gawat lagi, Sebastian Wijaya, suaminya yang dingin dan berkuasa, pulang dengan kecurigaan tajam.
Karina hanya punya satu pilihan: memperbaiki semuanya sebelum terlambat.
Namun ketika Nathan dan Lucas mulai memanggilnya Mama, rahasia keluarga Wijaya perlahan terbuka. Pernikahan tanpa cinta berubah menjadi perjuangan melawan masa lalu, fitnah, dan keluarga besar yang ingin memisahkan mereka.
Bisakah Karina menjadi Mama yang mereka butuhkan sebelum takdir menyeretnya pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11

Sapu yang Menjaga, Bukan Melukai

Karina tidak berhenti.

Ia justru merendahkan tubuh, bergerak ke samping bilah, lalu menghantam pergelangan tangan Tuti dengan telapak terbuka.

Golok terlepas sebelum sempat menggores kulit. Karina menangkap pinggang Tuti dengan satu tangan dan menendang senjata itu hingga meluncur ke bawah bangku.

"Pegang aku," katanya.

Tuti meronta sambil menangis. "Lepaskan! Mereka akan masuk!"

"Boleh takut. Boleh menangis. Tapi jangan bantu mereka membunuhmu."

Karina mendorongnya ke arah Nathan. "Bawa Tuti ke belakang. Jauhkan Lucas dari jendela."

Nathan meraih tangan gadis itu. Lucas sudah menangis keras, tetapi tetap mengikuti ketika kakaknya menarik mereka menjauh.

Pagar dihantam sekali lagi.

Krak!

Balok pengait terlepas. Salah satu daun pagar miring ke dalam, membuka celah selebar bahu. Seorang lelaki menyelipkan tubuh dan mengangkat tongkatnya.

Tangan Karina menemukan gagang sapu di sisi pintu.

Benda itu terasa sangat ringan. Terlalu ringan dibandingkan kenangan yang tertinggal di tubuh ini.

Di rumah yang sama, sapu tersebut pernah berada di tangan Karina yang lama. Nathan pernah mengangkatnya dengan kedua tangan untuk melindungi Lucas, seolah sebatang bambu kurus mampu menjadi dinding di antara adiknya dan perempuan dewasa yang hendak memukul mereka.

Sekarang gagang yang sama berada dalam genggamannya.

Lelaki pertama menerobos masuk.

Karina memutar tubuh dan menyapu gagang bambu tepat ke belakang lututnya. Lelaki itu kehilangan keseimbangan. Sebelum tongkatnya turun, ujung sapu menghantam pergelangan tangannya, disusul dorongan keras ke dada.

Tubuhnya terlempar kembali menabrak pagar yang retak.

Semua orang terdiam sesaat.

Karina berdiri di depan teras dengan sapu melintang di kedua tangan. Serat ijuk di ujungnya sudah tipis, gagangnya kusam oleh usia. Namun di tangannya, benda itu bukan lagi alat untuk membuat dua anak kecil meringkuk ketakutan.

Sapu itu menjaga rumah.

"Siapa lagi?" tanyanya.

Bang Jajang mengumpat. "Tangkap perempuan gila itu!"

Dua lelaki menyerbu melalui celah bersamaan. Yang pertama mengayunkan kayu ke kepala Karina. Ia menunduk, membiarkan angin pukulan lewat di atas rambutnya, lalu menusukkan gagang sapu ke perut lelaki itu. Saat lawannya membungkuk, Karina menyapu kakinya sampai ia jatuh telentang.

Lelaki kedua mencoba meraih bahunya dari samping.

Karina berbalik dan menghantam sisi tongkatnya dengan gagang sapu. Kayu itu terlepas dari tangan si penyerang. Ia lalu menarik bagian depan bajunya dan melemparkannya ke atas lelaki pertama.

Keduanya jatuh bertumpuk dengan erangan keras.

Orang keempat sempat melangkah masuk, lalu ragu. Matanya berpindah dari kedua temannya ke Karina.

Keraguan itu terlambat.

Karina maju satu langkah dan menghantam tanah di depan kakinya. Gagang sapu menumbuk batu pipih hingga pecah pada bagian tepi.

"Keluar dari halaman saya."

Lelaki itu mundur begitu cepat sampai tersandung daun pagar.

Dari belakang, Lucas terisak, "Mama jangan kenapa-napa."

Suara kecil itu membuat Karina tidak menoleh. Ia takut satu kedipan saja akan memberi celah kepada orang di depannya.

"Mama nggak apa-apa," jawabnya. "Tetap sama Kak Nathan."

Nathan tidak mengatakan apa pun. Tangannya memeluk Lucas di bagian bahu, sementara tubuhnya berdiri di depan Tuti. Namun pandangannya terpaku pada punggung Karina.

Ia pernah melihat punggung yang sama menjauh setelah mengambil makanan mereka. Ia pernah menunggu langkah kaki perempuan itu mendekat sambil menebak benda apa yang akan dipakai untuk memukul.

Hari ini Karina berdiri di antara mereka dan lima lelaki dewasa.

Nathan masih takut. Lututnya bergetar, telapak tangannya dingin, dan suara benturan tadi masih berdengung di telinganya. Namun untuk pertama kalinya, rasa takut itu tidak tertuju kepada perempuan yang dipanggilnya Mama.

Ia takut perempuan itu terluka karena melindungi mereka.

"Mama," panggilnya lirih.

Karina mendengarnya, tetapi hanya mengencangkan genggaman.

Bang Jajang menyeret salah satu anak buahnya berdiri. Wajahnya merah padam. Ia memegang tongkat dengan kedua tangan, tetapi tidak juga melewati pagar.

"Jangan kira urusan ini selesai," katanya. "Keluarga Karta nggak akan diam."

"Kalau berani datang lagi, bawa polisi dan bukti bahwa Tuti milik kalian." Karina menatapnya tanpa berkedip. "Kalau nggak punya, setiap orang yang masuk ke halaman ini akan saya anggap penyerang."

"Kamu mengancam kami?"

"Saya menjelaskan batas rumah saya."

Suara pintu dibuka terdengar dari beberapa rumah di sepanjang jalan. Warga yang sejak tadi mengintip mulai menampakkan diri. Seorang bapak berdiri di balik pohon pisang. Dua perempuan berbisik dari beranda seberang. Beberapa anak segera ditarik masuk oleh ibu mereka.

"Harusnya ada yang lapor ke kantor desa," bisik salah satu perempuan.

"Kamu saja kalau berani," sahut tetangganya. "Itu keluarga Karta."

"Tapi mereka datang berlima ke rumah yang ada anak kecil."

"Pelankan suaramu."

Seorang pemuda mengangkat HP seolah hendak mencari sinyal, lalu menurunkannya ketika Bang Jajang menoleh. Pintu rumah di belakangnya menutup perlahan.

Di desa, orang selalu membicarakan gotong royong ketika memperbaiki atap bocor, membersihkan saluran air, atau menyiapkan hajatan. Namun ancaman dari orang yang punya uang dan anak buah membuat kebersamaan itu menyusut menjadi tatapan dari balik jendela.

Karina tidak menyalahkan mereka karena takut. Ia hanya mencatat bahwa saat bahaya datang, pagar reyot dan sapu tua adalah bantuan pertama yang benar-benar mereka miliki.

"Kalian semua lihat sendiri," katanya cukup keras agar warga mendengar. "Mereka merusak pagar, membawa kayu, dan mencoba masuk paksa. Kalau sesuatu terjadi pada kami atau Tuti, ingat wajah mereka."

Bisikan warga membesar.

Bang Jajang meludah ke tanah. Kali ini ancamannya disaksikan terlalu banyak orang. Anak buahnya yang jatuh masih memegangi perut dan lutut. Ia memberi isyarat agar mereka mundur ke jalan, tetapi tidak benar-benar pergi.

Mereka berdiri beberapa meter dari pagar, menghalangi satu-satunya jalur keluar.

Karina tidak mengejar. Ia tetap menjaga jarak, sapu berada di depan tubuhnya. Napasnya cepat, tetapi kedua tangannya stabil.

Di belakangnya, Tuti akhirnya berhenti meronta. Gadis itu menyentuh lehernya sendiri, lalu menatap golok yang tergeletak jauh di bawah bangku.

"Kenapa?" suaranya pecah. "Kenapa Ibu berani sampai begini?"

"Karena kamu minta tolong."

Jawaban itu sederhana. Tuti menutup wajah dan menangis tanpa suara.

Senja turun semakin pekat. Tak seorang pun bergerak meninggalkan tempatnya. Ayam-ayam telah masuk kandang, tetapi orang di jalan justru bertambah. Mereka menjaga jarak dari Bang Jajang dan juga dari Karina, seolah sapu di tangannya bisa berubah menjadi petir.

Lalu dengung mesin terdengar dari ujung jalan desa.

Satu pasang cahaya muncul di balik debu. Disusul pasangan kedua, ketiga, lalu beberapa lagi.

Itu bukan lampu motor tua yang biasa lewat sepulang dari kebun. Beberapa mobil hitam bergerak beriringan di jalan tanah, lambat tetapi mantap. Sorot lampunya memotong senja dan membuat warga menyingkir ke tepi jalan.

Bang Jajang menurunkan tongkatnya.

Karina memicingkan mata. Ia tidak mengenali kendaraan-kendaraan itu, dan tak ada alasan rombongan sebesar itu mendatangi Desa Cibungur menjelang malam.

Mobil paling depan berbelok ke jalan rumahnya.

Cahaya putih menyapu pagar yang pecah, tubuh para lelaki yang masih terkapar, dan Karina yang berdiri dengan sapu di tangan.

Satu per satu, semua kepala menoleh ke arah rombongan yang semakin dekat.

1
awesome moment
pelakor ternuata tu jess jess
awesome moment
vincent dan sebastian punya rahasia p n
awesome moment
udh makin cinta kn
awesome moment
cinta yg tumbuh perlahan
awesome moment
lucas pernah ke sana
awesome moment
vincent c kuman
awesome moment
sebastian lahir dri kekejian herman thd elina
awesome moment
sebastian dan karina sama2 hidup kembali
awesome moment
ratih n lbh jahat dri dajjal. tega dgn anak kecil. demi harta
awesome moment
sabrina n wujud dajjal
awesome moment
banyak tangan yg mau menjaga nabil dan rafi. smg mrk ttp terlindungi dri org2 dws yg hnya melihat uang
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
awesome moment
kasihan anak2. sejarah adopsi nabil dan rafi penuh cerita keknya
awesome moment
mmg membangun mental yg hampir runtuh butuh perjuangan dan kejujuran
awesome moment
kasihan 2 bocil.
awesome moment
smua butuh proses
awesome moment
sll d yg bemar di lautan kesalahan
awesome moment
s7 bgts dgn alya.
awesome moment
siapa yg bantu raka dan alya. d pemain lain n
awesome moment
alya brubah. demi nabil dan rafi. smg sm author, alya g dibalikin lg ke dunia nyata. tar nabil sm rafi oleng
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!