WARNING!! HANYA UNTUK DEWASA!!
Cecilia tidak menyangka, baru saja pindah jiwa ke tubuh wanita lain malah terjebak jadi simpanan Tuan Douglas yang dingin.
Cecilia pun berpikir untuk bisa kabur dari jeratan Tuan Douglas, semakin Cecilia menjauh maka semakin kuat juga Tuan Douglas ingin memilikinya.
"Kau hanya milikku sayang, sampai kapanpun akan tetap menjadi milik ku!" Douglas
"Enak saja! Lebih baik aku mati saja daripada jadi simpanan!" Cecilia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Avgar dan Penguntit?
Pukul tujuh malam lewat sepuluh menit, jam kerja Cecilia akhirnya resmi berakhir. Setelah merapikan sisa-sisa tangkai bunga di meja kasir dan pamit kepada Nyonya Margaret serta Emily, Cecilia bersiap untuk pulang ke kosannya.
Jarak dari toko bunga tempatnya bekerja menuju gedung kos tidak terlalu jauh. Jika ditempuh dengan berjalan kaki, waktu yang dibutuhkan hanya berkisar sekitar tiga puluh menit saja. Mengingat dirinya saat ini sedang berhemat ketat dan ingin menekan pengeluaran sekecil mungkin, Cecilia lebih memilih untuk berjalan kaki santai. Rencananya, nanti ia akan mampir sejenak untuk membeli makanan malam di deretan truk jualan yang mangkal di depan kawasan kosannya.
Selama seminggu terakhir ini, hati Cecilia merasa jauh lebih tenang, damai, dan lapang sejak ia memutuskan untuk memutus total segala bentuk hubungan dengan Douglas maupun asisten setianya, Logan. Entah mengapa, jika dipikir-pikir kembali, Cecilia merasa kedua pria itu memiliki karakter yang sangat mirip, sama-sama dingin, kaku, dan mengintimidasi, meskipun aura dominasi kekuasaan Douglas jauh lebih pekat dan mencekam. Bagaimanapun juga, bagi Cecilia, kedua pria berjas rapi itu sama-sama menakutkan dan sebaiknya dijauhi sejauh-jauhnya.
Langkah kaki ringan Cecilia akhirnya membawanya tiba di area depan kosan. Di sana, truk penjual makanan malam sudah mulai ramai dikerumuni oleh beberapa pembeli. Tanpa pikir panjang, Cecilia langsung memesan seporsi makanan hangat, lalu memilih duduk di sebuah meja kayu kecil beralaskan karpet sederhana yang disediakan oleh sang penjual di trotoar.
Begitu pesanannya siap dan disajikan di atas piring, Cecilia langsung melahapnya dengan penuh nikmat. Ternyata, makan dalam kondisi tubuh lelah usai seharian bekerja di toko bunga dipadukan dengan rasa lapar yang menderu membuat makanan sederhana ini terasa selezat hidangan restoran bintang lima.
Namun, baru beberapa suap makanan masuk ke dalam mulutnya, tiba-tiba sesosok bayangan seseorang duduk dengan santainya tepat di hadapan meja kecil tersebut.
Cecilia terperanjat kaget, hampir saja tersedak makanannya sendiri. Ia mendongakkan kepalanya, dan matanya langsung melotot lebar. Pria yang baru saja membeli bunga di tokonya siang tadi kini sudah duduk manis di depannya, menatapnya lurus-lurus tanpa berkedip sedikit pun.
Tatapan intens itu sukses membuat Cecilia mendadak salah tingkah dan gugup luar biasa. Ia berdehem pelan beberapa kali untuk menetralisir tenggorokannya yang tercekat.
"Ehm... Tuan? Ada apa ya? Kenapa Anda duduk di sini dan menatapku seperti itu?" tanya Cecilia canggung, menghentikan aktivitas makannya.
Pria itu hanya menggelengkan kepalanya pelan, lalu menjawab dengan suara beratnya yang khas.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mencari teman makan malam saja."
Mendengar jawaban itu, Cecilia mengerjap bingung. Namun, sebelum ia sempat membalas, pria itu mengulurkan sebelah tangannya ke hadapan Cecilia dengan gestur sopan.
"Oh ya, kita memang sudah sering bertemu tapi belum sempat berkenalan secara resmi. Namaku Avgar," ucap pria itu memperkenalkan diri.
Dengan perasaan ragu-ragu dan canggung, Cecilia menyambut uluran tangan itu, membalas jabatannya sekilas.
"Aku... Cecilia," cicitnya pelan.
Mengingat kembali pertemuan awal mereka yang penuh dengan drama air mata, wajah Cecilia mendadak merona malu. Ia lantas menunduk.
"Uhm... Tuan Avgar, aku ingin meminta maaf sekali lagi atas kejadian memalukan minggu lalu. Waktu itu aku benar-benar sedang kacau dan..."
Avgar menarik tangannya kembali, lalu tersenyum tipis. "Lupakan saja. Tidak perlu dibahas lagi," sela Avgar tenang.
"Setiap manusia pasti punya masalah dan batas stresnya masing-masing. Mungkin saat itu, bom emosi di dalam dirimu memang sudah waktunya meledak."
Mendengar kalimat bijak yang meluncur dari bibir Avgar, Cecilia merasa sedikit lega. Suasana canggung di antara mereka perlahan-lahan mencair.
Setelah malam itu mereka mulai mengobrol panjang lebar diiringi suara bising kendaraan yang berlalu-lalang, Cecilia akhirnya menyimpulkan satu hal tentang tetangga kamarnya ini. Di balik wajah tampannya yang dingin dan irit bicara, Avgar ternyata adalah sosok pria yang baik, sopan, dan tidak suka berbasa-basi. Meskipun sesekali sorot mata cokelat terangnya itu terasa menatap begitu lekat seolah sedang mengintimidasi isi kepala Cecilia, gadis itu perlahan mulai terbiasa.
Atau mungkin, itu hanya perasaan groginya saja.
Setelah perut mereka sama-sama kenyang, Avgar menawarkan diri untuk pulang bersama karena kebetulan arah kamar kos mereka memang sama persis di lantai dua.
Keduanya berjalan beriringan menyusuri jalan setapak menuju gerbang kos. Tidak ada banyak interaksi atau obrolan panjang di sepanjang jalan, namun jujur saja, Cecilia justru sangat menikmati keheningan yang nyaman itu. Suasana malam tersebut terasa memberikan ruang napas yang pas untuk mereka berdua tanpa harus merasa terbebani oleh basa-basi yang melelahkan.
Namun, di balik ketenangan malam itu, tidak ada yang menyadari bahwa dari kejauhan, di balik kegelapan sudut jalan seberang, sebuah kilatan cahaya blitz mendadak menyala cepat.
Cahaya kecil itu merekam seluruh pergerakan mereka tanpa ampun. Mulai dari saat Cecilia dan Avgar duduk bersama menikmati makanan di warung pinggir jalan, hingga detik-detik saat mereka berjalan berdampingan pulang menuju kosan, semuanya tertangkap dengan jelas oleh lensa kamera tersembunyi.
Cecilia yang berjalan sambil menunduk santai tentu saja sama sekali tidak menyadari keberadaan pengintai tersebut. Namun, insting tajam Avgar langsung bekerja dengan sangat baik.
Pria berambut gelap itu mendadak menghentikan langkahnya. Manik mata cokelat terangnya menyipit tajam saat menangkap pantulan cahaya mencurigakan dari arah seberang jalan.
Avgar langsung berbalik badan dengan gerakan refleks yang cepat, berniat mengejar dan mencari tahu siapa sosok penguntit di balik kegelapan itu ke segala arah. Sialnya, saat ia menyorotkan pandangannya ke sudut jalan, sosok bayangan tersebut sudah terlanjur kabur dan menghilang tanpa jejak di balik gang-gang sempit kota.
Melihat tidak ada lagi orang mencurigakan di sekitar sana, Avgar menghela napas pendek. Khawatir akan keselamatan gadis di depannya, Avgar segera berbalik dan mempercepat langkahnya menyusul Cecilia, memastikan agar mereka berdua segera masuk ke dalam gedung kos secara utuh dan aman tanpa tersentuh oleh ancaman kamera misterius itu lagi.
Bersambung...
Semoga kalian suka ya, jangan lupa untuk tinggalkan jejak.
kalau jijik mah batalin aja ga jadi nikah lah masih romantis pula dasar laki" gedeon 🤦
ati2 cecil🤭🤭🤭
ati2 doughlas klo cecilia kabur🤣🤣🤣🤣
thor plis kasih doughlas pelajaran dong,jdi gemes nih🤣🤣🤣🤣
mungkin methong kedua kali cil baru bebas