Sinopsis:
Lima belas tahun setelah perpisahan yang dipenuhi salah paham, Helena kembali bertemu dengan Arthur Fernando, mantan suami yang tak pernah berhenti mencarinya. Di balik perceraian mereka, tersimpan konspirasi musuh yang ingin menghancurkan klan Fernando. Kini, saat kebenaran terungkap, Arthur bertekad merebut kembali Helena, meski harus menjadikannya tawanan cinta yang tak pernah padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Malam di Surabaya
Mobil hitam melaju perlahan memasuki kawasan Gubeng, Surabaya. Jam di dashboard menunjukkan pukul 21.30. Jalanan di sekitar kompleks perumahan itu sudah sepi, hanya sesekali terlihat beberapa warga yang berjalan pulang atau sepeda motor yang melintas. Lampu-lampu jalan menerangi aspal yang basah, sepertinya tadi sore sempat turun hujan.
Arthur duduk di kursi belakang, matanya menatap lekat-lekat ke arah rumah nomor 14. Rumah sederhana dengan cat krem yang sudah pudar itu tampak tenang. Lampu di teras menyala redup, tapi di dalam, dari balik tirai, terlihat cahaya hangat dari ruang tamu.
Arthur menahan napas. Di sana. Di dalam rumah itu, Helena dan James tinggal.
"Aldi, ini rumahnya?" tanya Arthur, meskipun dia sudah yakin.
"Iya, Pak. Tepat di depan kita. Rumah Nona Helena," jawab Aldi dari kursi pengemudi.
Arthur menghela napas panjang. "Kita tidak bisa datang sekarang. Sudah malam. Aku tidak ingin mengganggu mereka."
Aldi menoleh ke belakang. "Baik, Pak. Tapi bagaimana rencana Bapak untuk besok?"
Arthur menatap rumah itu beberapa saat lagi. "Besok pagi, aku ingin melihat mereka. Aku ingin tahu bagaimana keseharian mereka. Helena mungkin pergi bekerja. Dan aku ingin melihat James. Aku ingin melihat dia beraktivitas, seperti apa anakku yang selama lima belas tahun ini tidak pernah aku kenal."
Aldi mengangguk paham. "Saya sudah memesan kamar di hotel dekat sini, Pak. Jaraknya sekitar lima menit berjalan kaki. Bapak bisa beristirahat malam ini, dan besok pagi kita bisa memantau dari jarak aman."
Arthur mengangguk. "Bawa aku ke hotel."
---
Hotel yang dipesan Aldi bukanlah hotel berbintang mewah seperti biasa Arthur gunakan. Ini adalah hotel butik yang cukup tenang, dengan kamar-kamar yang menghadap ke jalanan kompleks perumahan. Arthur memilih tempat ini agar bisa mengamati dengan mudah tanpa menarik perhatian.
Arthur memasuki kamarnya, meletakkan koper di sudut ruangan. Dia berjalan ke jendela, membuka tirai sedikit, dan menatap ke arah rumah Helena dari kejauhan. Meskipun jaraknya agak jauh, dia masih bisa melihat atap rumah itu dari sini.
Dia duduk di kursi dekat jendela, menatap rumah itu dalam diam. Pikirannya melayang pada Helena, pada James, pada semua rahasia yang belum terungkap.
Besok aku akan melihatmu, James. Aku akan melihat anakku. Arthur menggenggam ponselnya, membuka foto James yang sudah dia simpan. Dia menatap wajah remaja itu, merasakan ada ikatan yang tidak bisa dia jelaskan.
"Besok, James," bisik Arthur di keheningan malam. "Besok aku akan melihatmu, Nak."
---
Keesokan paginya, pukul 06.30, Arthur sudah bangun. Dia mandi, mengenakan pakaian santai—kemeja lengan panjang berwarna abu-abu dan celana jeans hitam—dan memakai topi agar tidak terlalu mencolok. Dia tidak ingin Helena tahu bahwa dia sedang mengawasi.
Aldi sudah menunggu di lobby. "Selamat pagi, Pak. Saya sudah menyiapkan posisi pengamatan di sebuah kafe di dekat rumah Nona Helena. Dari sana, Bapak bisa melihat halaman rumah dengan jelas tanpa terlihat."
Arthur mengangguk. "Ayo."
Mereka berdua berjalan menuju kafe kecil di sudut jalan. Kafe itu belum terlalu ramai, hanya ada beberapa pekerja yang sedang sarapan. Arthur memilih duduk di meja dekat jendela yang menghadap langsung ke rumah Helena.
Arthur memesan secangkir kopi hitam dan sepotong roti bakar. Matanya tidak lepas dari rumah nomor 14.
Pukul 07.15, pintu rumah Helena terbuka.
Arthur langsung menegakkan tubuhnya. Dari dalam rumah, Helena keluar. Dia mengenakan blus putih dan celana panjang hitam, dengan tas kerja di bahunya. Rambutnya diikat rapi, dan wajahnya terlihat lebih segar dibandingkan saat dia berada di mansion. Helena berhenti sejenak di teras, mengunci pintu rumahnya, lalu berjalan menuju sebuah mobil kecil berwarna putih yang terparkir di depan rumah.
Arthur menatap Helena. Dia tidak tahu bahwa Arthur sedang mengawasinya. Helena memasuki mobilnya, menyalakan mesin, dan melaju perlahan meninggalkan kompleks perumahan.
Dia pergi kerja, batin Arthur.
Namun, Arthur tidak mengalihkan pandangannya. Dia masih menunggu.
Beberapa menit kemudian, pintu rumah Helena terbuka lagi. Kali ini, seorang remaja laki-laki keluar. Dia mengenakan kemeja putih dan celana hitam, dengan tas ransel di punggungnya.
James.
Arthur langsung terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Remaja itu berjalan ke teras, mengikat tali sepatunya dengan santai. Wajahnya cerah, dan dia terlihat sedang bersenandung pelan. Dia tidak tampak terburu-buru.
Seorang wanita paruh baya—Rina—muncul di pintu. "James, jangan lupa bekalnya!" teriak Rina.
James berbalik, tersenyum. "Iya, Tante. Aku ambil dulu."
James masuk sebentar, lalu keluar lagi membawa sebuah kotak bekal. Dia mencium kening Rina, lalu melambai. "Tante, aku berangkat dulu ya."
"Hati-hati, Sayang. Jangan lupa pulang tepat waktu."
James melangkah keluar dari halaman, berjalan menyusuri trotoar dengan langkah santai. Sesekali dia melewati beberapa rumah, dan beberapa tetangga menyapanya dengan ramah.
Arthur menatap James. Setiap langkah James, setiap gerakannya, semuanya terasa sangat familiar. Cara dia berjalan, cara dia mengangkat bahu saat mendengar suara burung, cara dia tersenyum pada tetangga—semuanya adalah cerminan Arthur sendiri.
Anakku, batin Arthur, dan untuk pertama kalinya, air matanya hampir tumpah.
"Dia sangat mirip denganmu, Pak," bisik Aldi yang duduk di sebelah Arthur.
Arthur mengangguk, menelan ludah. "Aku tahu, Aldi. Aku sangat tahu."
Arthur terus mengamati James sampai remaja itu berbelok di ujung jalan dan menghilang dari pandangan. Dia menatap ke arah itu beberapa saat, lalu kembali menyesap kopinya. Namun, kopinya sudah dingin. Dia tidak benar-benar meminumnya.
"Aldi, aku ingin tahu semua jadwal James. Kapan dia sekolah, kapan dia pulang, apa kegiatan sepulang sekolah. Aku ingin mengenal dia tanpa dia tahu."
Aldi mengangguk. "Saya akan mengumpulkan informasinya, Pak. Mungkin butuh satu atau dua hari, tapi saya akan dapatkan semuanya."
Arthur menatap jalanan yang sudah sepi. "Aku tidak bisa menunggu terlalu lama, Aldi. Aku sudah kehilangan lima belas tahun. Setiap hari yang aku lewatkan adalah hari yang tidak akan pernah kembali."
Aldi menatap Arthur dengan prihatin. "Tapi Pak, jika Bapak terlalu terburu-buru, Nona Helena bisa marah. Dia mungkin akan membawa James dan menghilang lagi."
Arthur menghela napas. Dia tahu Aldi benar. Helena adalah wanita yang sangat protektif. Jika dia tahu Arthur mengawasi, dia bisa saja membawa James pindah ke kota lain lagi.
"Baik. Kita lakukan dengan hati-hati. Aku akan mendekati Helena secara perlahan. Aku akan mencoba membangun kembali kepercayaannya. Dan setelah itu, aku akan memberitahunya bahwa aku ingin bertemu James."
Arthur kembali menatap jalanan. Matahari pagi mulai terbit, menerangi wajahnya yang penuh tekad. Di depannya, ada perjalanan panjang yang harus dia lalui. Tapi dia tidak akan menyerah. Dia sudah menemukan Helena. Dia sudah menemukan James. Dan kali ini, dia tidak akan kehilangan mereka lagi.