NovelToon NovelToon
Lautan Cinta

Lautan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:515
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan seorang wanita bernama Rafa Sasmita yang merupakan istri dari Evan Wirya Negara. Rafa menikah dengan Evan karena mencintai pria itu setulus hati namun sayang rumah tangga Evan dan Rafa kandas karena kemunculan Zaskia Mulandari. Tak hanya Zaskia namun masalah muncul dari ibu mertua Rafa yaitu Nena Apriandini yang selalu menghinanya miskin dan tidak beradab. Namun di tengah huru-hara masalah pertemuan Rafa dengan pria tampan bernama Sean Andrew Lee mengubahnya menjadi penuh warna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan yang Mencekam

Ranjang itu menabrak dinding tangga darurat dengan keras, membuat Sean yang masih koma terhentak hebat di atasnya. Zaskia kemudian memutar badan dan, dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia menerjang Rafa.

​Rafa terkejut. Tubuhnya yang masih lemah akibat kecelakaan tidak mampu mengimbangi serangan brutal Zaskia. Mereka berdua terhuyung di ambang pintu tangga darurat yang curam.

​"Kamu ingin sekali menyelamatkannya, ya?" Zaskia tertawa histeris, tawa yang memenuhi ruang tangga darurat yang bergema. Ia mencengkeram bahu Rafa, lalu mendorongnya dengan kasar ke arah tangga yang menurun.

Rafa jatuh terjerembap, tubuhnya menghantam anak tangga satu per satu. Rasa sakit yang tajam menjalar di sekujur tubuhnya. Ia meringis, mencoba menahan napas, sementara Zaskia berdiri di puncak tangga, menatapnya dari atas dengan tatapan penuh kepuasan sadis.

​"Tontonlah, Rafa!" teriak Zaskia sambil tertawa histeris. Ia menendang ranjang Sean agar meluncur jatuh ke lantai di bawahnya.

​Gedubrak!

​Ranjang itu terguling hebat, menabrak tembok tangga dengan suara yang memekakkan telinga. Sean terlempar dari atas ranjang, tubuhnya membentur lantai beton dengan keras. Darah segar mulai merembes dari balik perban di kepala pria itu.

Rafa yang berada di tangga bawah berusaha bangkit dengan gemetar. "Sean...!" suaranya parau, air mata penyesalan dan amarah bercampur menjadi satu.

​Zaskia menuruni anak tangga dengan perlahan, setiap langkahnya diiringi tawa yang menggema jahanam. Ia merasa telah mencapai puncak kekuasaannya. "Lihat dia, Rafa! Pria yang kamu bangga-banggakan itu sekarang hanyalah sampah yang akan mati di tangga kotor ini! Dan kamu? Kamu akan berakhir sebagai saksi bisu kehancuranmu sendiri!"

Zaskia mendekati Rafa yang masih berusaha bangkit, lalu menginjak tangan Rafa dengan sepatu hak tingginya hingga wanita itu berteriak kesakitan.

​"Rasakan ini! Ini hanyalah awal dari mimpi buruk yang akan kuberikan padamu setiap hari!" Zaskia terus tertawa, tawanya terdengar lebih nyaring, lebih gila, dan lebih mengerikan dari sebelumnya.

Di lantai atas, Nena yang telah melepaskan wig dan daster tuanya, muncul di balik pintu tangga darurat dengan senyum kemenangan. "Kerja bagus, Zaskia! Sekarang, biarkan mereka mati di sini. Kita tidak perlu kotor tangan lagi."

****

​Rafa menatap ke arah Sean yang tergeletak diam, lalu menatap Zaskia dan Nena yang berdiri di atasnya seperti malaikat maut. Di dalam hatinya, sebuah tekad baja mulai terbentuk. Meskipun tubuhnya hancur dan nyawa pria yang ia cintai berada di ujung tanduk, Rafa tahu bahwa ini adalah titik balik.

​Ia tidak akan membiarkan mereka menang. Tidak malam ini. Tidak akan pernah.

​"Zaskia..." bisik Rafa sambil menahan sakit yang luar biasa di tangannya. "Kejatuhan kalian akan jauh lebih menyakitkan daripada tangga ini."

Zaskia mendengus, mengangkat tangannya untuk memberikan tamparan terakhir, namun tiba-tiba, suara langkah kaki yang banyak mulai terdengar mendekat dari lantai bawah—satpam rumah sakit dan polisi yang akhirnya menyadari kekacauan tersebut.

​Zaskia dan Nena saling berpandangan dengan panik. Tawa mereka yang tadi membahana kini seketika lenyap, digantikan oleh keringat dingin yang mengalir di pelipis mereka.

​"Sial! Mereka datang!" teriak Nena.

Zaskia menatap Rafa sekali lagi dengan tatapan penuh kebencian, sebelum akhirnya berbalik dan berlari menuju pintu keluar darurat di lantai bawah. Permainan kucing dan tikus ini telah sampai pada klimaks yang tak terduga, dan Rafa tahu, meskipun ia terluka parah, musuhnya kini telah terjepit di antara hukum dan kemurkaan yang selama ini mereka tanam sendiri.

****

Hiruk-pikuk rumah sakit yang tadinya sunyi kini berubah menjadi kekacauan yang teratur. Suara jeritan sirine ambulans yang baru tiba dan langkah kaki para tenaga medis yang berlarian di lorong rumah sakit menciptakan simfoni kepanikan. Di lorong IGD, para petugas keamanan menahan napas saat melihat Sean Andrew Lee, pria yang seharusnya dalam perlindungan ketat, kini dibawa masuk dengan tandu dalam kondisi yang jauh lebih parah dari sebelumnya.

​"Persiapkan ruang ICU! Pasien mengalami trauma kepala berat dan pendarahan internal!" teriak salah satu dokter dengan nada mendesak.

Sean, yang wajahnya tertutup masker oksigen, tampak begitu rapuh. Detak jantungnya di monitor terdengar lemah, sebuah irama yang membuat siapa pun yang mendengarnya merasa tercekik oleh kecemasan. Rafa Sasmita, yang juga berada dalam kondisi mengenaskan, mengikuti tandu Sean dengan langkah yang tertatih. Meski tangan kirinya patah dan perban di kepalanya kembali basah oleh darah akibat terjatuh dari tangga, Rafa tidak memedulikan rasa sakitnya sendiri.

​"Selamatkan dia, Dok! Tolong selamatkan dia!" mohon Rafa dengan suara parau yang nyaris menghilang.

​Seorang perawat dengan sigap menarik Rafa ke ruang IGD yang berseberangan. "Nona, Anda juga perlu penanganan segera! Luka di kepala Anda bisa menyebabkan gegar otak!"

​Rafa terpaksa pasrah saat ia didorong masuk ke dalam IGD. Namun, matanya tak lepas dari pintu ruang ICU tempat Sean dilarikan. Di benaknya, wajah Zaskia Mulandari yang tertawa histeris dan dorongan brutal dari tangga darurat terus berputar seperti film horor yang tak kunjung usai. Ia tahu, Zaskia dan Nena tidak akan berhenti. Kebencian mereka telah mencapai tahap psikopat yang tidak mengenal batas kemanusiaan.

****

Sementara itu, puluhan kilometer dari keriuhan rumah sakit, di tengah dinginnya udara Puncak yang menusuk, sebuah drama lain sedang terjadi dalam sunyi.

​Gudang tua yang menjadi tempat penyekapan Bu Armayani kini tampak kosong. Zaskia dan Nena telah pergi dengan terburu-buru setelah polisi datang ke rumah sakit, meninggalkan gudang itu tanpa pengawasan yang ketat. Bu Armayani, yang sejak tadi berpura-pura pingsan, perlahan membuka matanya saat mendengar deru mobil mereka menjauh.

​Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Bu Arma menggesekkan kabel tipis yang mengikat tangannya ke ujung kayu kursi yang tajam. Berkali-kali ia melakukannya hingga kulit pergelangan tangannya berdarah, namun perlahan, ikatan itu mulai melonggar. Setelah berjuang selama hampir satu jam, ikatan di tangannya terlepas.

Ia melepas lakban di mulutnya dengan sekali sentak, menahan perih yang luar biasa. Tanpa menunggu waktu, Bu Arma merangkak keluar dari gudang itu melalui pintu belakang yang tidak terkunci sempurna. Ia berlari. Kakinya yang tak beralas menginjak tanah yang basah dan dedaunan teh yang tajam. Ia tidak tahu arah, ia hanya tahu ia harus menjauh.

​Kabut malam itu begitu tebal, jarak pandang hanya beberapa meter. Bu Arma terus berlari, napasnya tersengal-sengal, jantungnya berdegup kencang seolah akan meledak. Ia membayangkan wajah Rafa, ia membayangkan suaminya yang entah bagaimana keadaannya.

​"Rafa... Bapak..." bisiknya lirih di antara isak tangis yang tertahan.

****

Tiba-tiba, di tengah labirin perkebunan teh yang gelap dan berkabut, sebuah cahaya lampu mobil menembus kabut, menyinari langkahnya. Bu Arma terhenti. Ia mengira itu adalah polisi. Namun, saat sosok pria keluar dari mobil SUV hitam itu, darah di tubuhnya seolah membeku.

​Itu adalah Evan Wirya Negara.

​Wajah Evan tampak kusut, matanya merah karena emosi dan frustrasi setelah mengetahui bahwa rencananya untuk mencelakai Sean di jalan tol tidak membuahkan kematian sang pria Singapura itu. Saat ia melihat Bu Armayani—wanita yang ia anggap sebagai salah satu alasan kehancuran citra keluarganya—muncul dari balik kabut, senyum sinis yang mengerikan tersungging di bibirnya.

​Bu Arma membelalakkan mata. Ia berbalik dan berusaha lari sekuat tenaga ke arah berlawanan.

​"Mau lari ke mana, Mantan Mertuaku yang terhormat?" suara Evan terdengar dingin, lebih dingin dari udara Puncak malam itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!