"Demi menyelamatkan ayahnya, Alya setuju menggantikan kakaknya untuk memenuhi janji pernikahan dengan Mayor Damar. Namun, pada akhirnya semua hanyalah status dan diikat surat perjanjian yang berlaku selama tiga tahun. Di samping itu, Alya dan Damar menjalani kehidupan mereka masing-masing.
Namun, dua tahun kemudian, keduanya dipertemukan kembali di medan perang. Alya sebagai dokter ditugaskan ke perbatasan NTT, tempat Damar bertugas. Kontrak yang awalnya dianggap sebagai garis aman perlahan-lahan berubah menjadi bom waktu ketika cinta mengetuk hati Mayor Damar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 05 - Panggung Kecil di Kompleks TNI
Pagi pertama Alya di kompleks dimulai dengan ayam berkokok, suara sepatu prajurit berlari, dan ketukan keras di pintu.
Dia membuka mata.
Jam menunjukkan pukul lima lewat sepuluh.
Ketukan itu terdengar lagi.
"Dokter Alya?"
Alya bangkit cepat, memakai jilbab instan, lalu membuka pintu. Di luar berdiri seorang prajurit muda dengan napas agak memburu.
"Maaf, Dok. Ada anak demam tinggi di rumah Sertu Bagas. Bu Niken minta tolong."
Rasa kantuk hilang.
"Saya ambil tas."
Lima menit kemudian, Alya sudah berada di rumah Bu Niken. Anak laki-laki berusia empat tahun terbaring di kasur ruang tengah. Tubuhnya panas, bibir kering, mata sayu. Bu Niken menangis sambil mengipasnya dengan buku.
"Dari kapan demamnya?"
"Semalam, Dok. Saya pikir masuk angin. Tadi subuh menggigil."
Alya memeriksa suhu, nadi, pernapasan, dan tanda dehidrasi. Dia menanyakan riwayat muntah, mimisan, buang air kecil, makanan, dan gigitan nyamuk. Di wilayah itu, demam bukan hal sepele.
"Kita bawa ke pos. Perlu cek darah kalau alatnya siap. Jangan tunggu."
Bu Niken panik. "Bahaya, Dok?"
"Belum tentu. Tapi kita jangan menebak."
Kalimat itu sederhana, tapi membuat Bu Niken bergerak. Sertu Bagas yang baru pulang lari pagi langsung menggendong anaknya. Mereka berjalan cepat ke pos kesehatan.
Di pos, Alya bekerja bersama Bidan Rina. Alat terbatas, tapi cukup untuk pemeriksaan awal. Dia mencatat kemungkinan dengue, malaria, atau infeksi lain. Anak itu mulai membaik setelah cairan dan obat penurun demam, namun Alya tetap meminta observasi.
Berita itu menyebar lebih cepat daripada yang dia duga.
Menjelang siang, tiga ibu datang membawa anak masing-masing. Ada yang batuk, ada yang gatal-gatal, ada yang hanya ingin "sekalian dicek". Joko berbisik di meja obat.
"Dok, selamat. Hari kedua sudah jadi dokter kompleks."
Alya menulis resep. "Lebih baik mereka datang sekarang daripada menunggu parah."
"Betul. Tapi siap-siap. Kalau ibu-ibu sudah percaya, hidup Dokter tidak akan tenang."
Dia belum selesai bicara ketika Bu Wati masuk bersama seorang perempuan tinggi berkulit cerah, rambutnya tersanggul rapi, memakai seragam Persit yang sangat pas di tubuh. Senyumnya manis, matanya menilai.
"Dokter Alya ya?"
Alya berdiri.
"Iya."
"Saya Siska. Istri Kapten Rendra. Saya bantu koordinasi kegiatan ibu-ibu di kompleks."
Nada suaranya halus, tapi ada posisi yang sengaja diletakkan di meja.
Alya tersenyum sopan. "Senang bertemu, Bu Siska."
"Saya dengar Bu Dokter baru datang kemarin. Tapi sudah langsung menangani anak Bu Niken. Hebat sekali."
"Saya hanya melakukan pekerjaan saya."
Siska menatap ruangan pos yang sederhana.
"Kebetulan besok ada arisan kecil sekaligus pertemuan Persit. Biasanya istri komandan hadir untuk menyapa ibu-ibu."
Joko pura-pura sibuk menata kapas.
Bidan Rina menunduk.
Alya tetap tenang.
"Saya bukan anggota Persit aktif, Bu. Saya di sini sebagai dokter penugasan."
Senyum Siska tidak berubah.
"Tapi Dokter istri Mayor Damar, kan?"
Kalimat itu jatuh seperti batu di ruangan kecil.
Bu Wati terlihat terlalu tertarik.
Alya menutup map pasien.
"Secara administrasi, iya."
Alis Siska terangkat sedikit.
"Secara administrasi?"
"Maksud saya, saya tidak ingin status pribadi mengganggu pekerjaan saya."
"Wah, bagus sekali. Rendah hati."
Pujian itu terdengar seperti cubitan.
Siska melanjutkan, "Tapi di kompleks ini, posisi seseorang tetap membawa tanggung jawab. Ibu-ibu pasti ingin mengenal Bu Komandan."
Alya ingin mengatakan jangan panggil aku begitu.
Tapi dia tahu menolak terlalu keras hanya akan memicu gosip.
"Kalau tidak ada pasien darurat, saya akan datang sebentar."
"Bagus." Siska tersenyum. "Oh ya, besok kami juga membahas kegiatan penyuluhan kesehatan. Mungkin Dokter bisa memberi materi ringan. Cara mencegah demam berdarah, makanan anak, hal-hal seperti itu."
"Bisa."
"Jangan terlalu berat ya, Dok. Ibu-ibu di sini sederhana. Tidak semuanya paham bahasa medis."
Alya menatapnya.
Nada itu lembut.
Tapi isinya merendahkan dua pihak sekaligus.
"Tentu. Justru tugas dokter memastikan semua orang paham, bukan membuat orang merasa kecil."
Senyum Siska menipis.
Bidan Rina menahan batuk.
Setelah Siska pergi, Joko langsung berbisik, "Dokter berani juga."
Alya kembali duduk.
"Saya hanya menjawab."
"Bu Siska itu dekat dengan Bu Nadia. Katanya dulu Mayor Damar hampir dijodohkan dengan seseorang dari lingkaran mereka."
Alya pura-pura membaca catatan.
"Itu urusan mereka."
"Katanya orangnya cantik, pintar, anak pejabat."
"Pak Joko."
"Iya, Dok?"
"Obat demam anak tinggal berapa?"
Joko langsung diam.
Sore harinya, Damar datang ke pos kesehatan.
Alya sedang mencatat stok obat. Dia tahu Damar masuk bahkan sebelum melihatnya. Suasana ruangan selalu berubah ketika pria itu hadir. Prajurit berdiri lebih tegak. Suara menjadi lebih rendah.
"Dokter Alya."
Alya tidak mengangkat kepala.
"Komandan."
"Ada laporan anak Sertu Bagas demam tinggi."
"Sudah stabil. Saya observasi sampai malam. Kalau trombosit turun atau ada tanda bahaya, saya rujuk ke RSUD Atambua."
"Ambulans siap."
Dia akhirnya menatap Damar.
"Terima kasih."
Damar melihat buku stok di depannya.
"Obat kurang?"
"Beberapa. Parasetamol anak, cairan infus, rapid test malaria, kasa steril, antiseptik."
"Tulis daftarnya."
"Sudah saya tulis untuk logistik."
"Tulis lagi untuk saya."
Alya berhenti.
"Bukankah itu melewati prosedur?"
"Aku minta daftar, bukan menyuruhmu mencuri obat."
Dia mengambil kertas kosong, menulis cepat, lalu menyerahkannya.
Damar membaca daftar itu.
"Besok kamu ikut pertemuan Persit?"
Alya menatapnya.
Cepat sekali kabarnya sampai.
"Kalau tidak ada pasien."
"Kamu tidak wajib."
"Bu Siska bilang biasanya istri komandan hadir."
Wajah Damar sedikit berubah saat mendengar nama itu.
"Siska tidak punya wewenang atasmu."
"Tapi dia punya pengaruh atas ibu-ibu kompleks."
"Kamu takut?"
Alya menutup pena.
"Saya lelah, bukan takut."
Damar diam.
Kata itu keluar lebih jujur dari yang Alya rencanakan.
Dia segera menambahkan, "Saya akan datang sebagai dokter. Jika mereka butuh materi kesehatan, saya berikan. Jika mereka butuh tontonan tentang rumah tangga kita, saya tidak punya."
Damar menatapnya lama.
"Rumah tangga kita?"
Alya merasa pipinya panas, tapi dia tidak menarik kata itu.
"Istilah administrasi," katanya datar.
Entah kenapa, kali ini Damar tidak menyindir.
Dia melipat kertas daftar obat.
"Besok aku ada patroli. Kalau ada yang membuatmu tidak nyaman, lapor ke Rina atau langsung ke pos komando."
Alya hampir tertawa.
"Anda sedang menawarkan bantuan?"
"Aku sedang mencegah masalah."
"Tentu."
Damar berbalik hendak pergi.
Alya memanggil sebelum sempat berpikir.
"Mayor."
Dia berhenti.
"Obat semalam. Itu dari Anda?"
Damar tidak langsung menjawab.
"Telapak tanganmu lecet."
Jadi benar.
"Terima kasih."
"Jangan salah paham."
Alya tersenyum kecil, pahit. "Saya tidak punya keberanian untuk salah paham sejauh itu."
Punggung Damar menegang.
Dia pergi tanpa menoleh.
Keesokan harinya, pertemuan Persit diadakan di aula kecil dekat lapangan. Tikar digelar, meja penuh kue basah, teh manis, dan gorengan. Ibu-ibu duduk berkelompok. Begitu Alya masuk, bisik-bisik langsung mengalir.
"Itu istrinya Mayor Damar?"
"Katanya dokter dari Jakarta."
"Kok baru sekarang muncul?"
"Pernikahannya memang aneh, katanya."
Alya mendengar sebagian.
Dia tetap berjalan ke depan.
Siska menyambutnya dengan senyum lebar.
"Akhirnya Bu Komandan datang."
Alya membalas senyum.
"Selamat pagi. Saya Alya. Hari ini saya datang sebagai dokter."
Beberapa ibu saling pandang.
Siska tertawa kecil. "Tetap rendah hati ya, Bu."
Alya membuka map materi.
"Kita mulai dari demam pada anak. Kalau anak demam tinggi di wilayah seperti ini, jangan langsung menyimpulkan masuk angin. Ada beberapa tanda bahaya yang harus ibu-ibu kenali."
Awalnya ruangan masih ramai bisik.
Lalu Alya mulai bertanya langsung.
"Kalau anak demam dan mimisan, apa yang harus dilakukan?"
"Dikompres?"
"Boleh, tapi bukan itu yang utama."
Dia menjelaskan dengan bahasa sederhana. Tidak menggurui. Tidak memakai istilah sulit tanpa menjelaskan. Ibu-ibu mulai memperhatikan. Bu Niken bahkan mencatat.
Setengah jam kemudian, seorang ibu mengangkat tangan dan menceritakan anaknya sering diare. Lalu yang lain bertanya soal air bersih. Lalu soal malaria. Lalu soal luka yang tidak sembuh.
Siska yang tadinya duduk paling depan mulai kehilangan panggung.
Ketika sesi selesai, Bu Wati menghampiri Alya.
"Dok, nanti boleh cek tensi suami saya? Dia suka pusing tapi bandel."
"Boleh. Bawa ke pos sore ini."
Bu Niken menambahkan, "Dokter jelas sekali kalau menjelaskan. Saya baru paham kapan harus bawa anak ke IGD."
Alya tersenyum.
Untuk pertama kalinya sejak datang, dia merasa napasnya agak longgar.
Tapi saat dia membereskan map, Siska mendekat.
"Hebat, Dok. Baru dua hari sudah mengambil hati ibu-ibu."
Alya menatapnya.
"Saya tidak mengambil apa pun."
"Semoga saja begitu."
Siska tersenyum manis, lalu berbisik cukup pelan agar hanya Alya yang mendengar.
"Kompleks ini kecil. Orang cepat suka, tapi lebih cepat lagi membenci. Hati-hati, Dokter Alya."
Alya tidak sempat menjawab.
Dari luar aula terdengar suara motor berhenti mendadak, lalu seorang prajurit berlari masuk.
"Dokter! Ada kecelakaan di jalan pos bawah. Korban berdarah banyak!"
Semua ibu menjerit kecil.
Alya langsung meraih tas medis.
Siska mundur.
Panggung kecil itu selesai.
Sekarang panggung yang sebenarnya menunggu di jalan berbatu.