NovelToon NovelToon
Suami Rahasia Pilihan Kakek

Suami Rahasia Pilihan Kakek

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Pengantin Pengganti / Pernikahan Kilat / Pengantin Pengganti Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:630.1k
Nilai: 4.5
Nama Author: Sri Wahyuni

"""Kalau kakak tidak mau, aku saja yang nikah!""

Safira nekad menawarkan diri sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi Arga. Bukan karena cinta, tapi demi bebas dari neraka berkedok rumah.

Seumur hidup, Safira diperlakukan seperti budak oleh keluarganya sehingga ketika Arga datang dengan mobil tua dan pakaian sederhana untuk melamar kakaknya yang matre, Safira tahu ini kesempatannya. Tidak peduli bila keluarganya dan orang-orang menghinanya menikahi pria miskin, yang penting ia bebas!

Tapi, adakah yang bisa menjelaskan mengapa tiba-tiba suaminya dipanggil bos dan mertuanya trending di sosial media?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 01 - Lelaki Sederhana Pilihan Kakek

Sebelum azan subuh selesai berkumandang, Safira sudah berdiri di dapur belakang rumah keluarga Santoso.

Air di panci mulai mendidih. Aroma daun salam, serai, dan santan dari nasi uduk memenuhi ruangan yang masih remang. Di meja, ia sudah menyiapkan telur balado, tempe orek, irisan timun, dan sambal kacang untuk sarapan.

Rumah besar itu belum benar-benar bangun.

Hanya Safira yang bergerak seperti jarum jam.

Setiap pagi memang begitu. ART keluarga Santoso baru datang pukul delapan, sedangkan Papa, Mama, Kak Rania, dan Kevin harus sarapan sebelum itu. Kalau makanan belum siap, Mama akan berdiri di depan dapur dengan wajah dingin, lalu berkata seolah-olah Safira baru saja merusak nama baik keluarga.

"Kamu tinggal di rumah ini bukan buat tidur enak saja, Safa."

Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar sampai tidak lagi terasa seperti luka baru.

Safira mengangkat tutup panci, mengecek nasi, lalu menutupnya lagi. Setelah itu ia membuat teh tawar hangat untuk Kakek Hadi. Gula harus dipisah. Obat darah tinggi harus diletakkan di piring kecil putih, bukan di tisu, karena Kakek sering lupa kalau benda kecil di depannya adalah obat.

"Kek," panggil Safira pelan saat masuk ke kamar depan.

Kakek Hadi duduk di kursi rotan dekat jendela. Rambutnya putih, bahunya kurus, tetapi matanya masih menyimpan sisa ketegasan lelaki yang dulu pernah membangun usaha kain keluarga dari kios kecil di Pasar Baru.

"Sudah pagi, Nak?"

"Sudah. Kakek mau cuci muka dulu?"

Kakek memandangnya lama. "Kamu siapa?"

Dada Safira mencelos sedikit.

Tetap saja ia tersenyum.

"Safa, Kek. Cucu Kakek yang paling cerewet."

Kakek menatapnya, lalu senyumnya muncul perlahan. "Oh, Safa. Iya. Cucu Kakek yang paling bisa bikin sambal."

"Nah, itu ingat."

Safira menuntunnya ke kamar mandi, membantu seperlunya, lalu membawanya ke meja makan kecil di kamar. Ia menyuapi Kakek sedikit demi sedikit. Kalau makan bersama keluarga di ruang makan besar, Kakek sering dianggap merepotkan. Mama akan menghela napas. Papa pura-pura membaca berita. Kak Rania sibuk dengan ponsel. Kevin kadang terang-terangan berkata Kakek membuatnya tidak selera.

Jadi Safira memilih menyuapi Kakek lebih dulu.

Lebih tenang.

Setelah Kakek selesai, ia kembali ke dapur. Piring-piring sudah ia susun. Bu Ratna, mamanya, keluar dari kamar dengan rambut tertata rapi dan gamis rumah mahal yang tidak pernah menyentuh pekerjaan dapur.

"Safa."

"Iya, Ma."

"Hari ini keluarga Kusuma datang. Jangan lupa buahnya dipotong bagus. Teh pakai cangkir porselen, bukan gelas biasa."

"Iya."

"Setelah semua siap, kamu masuk kamar saja. Jangan mondar-mandir di ruang tamu."

Tangan Safira yang sedang memindahkan sambal ke mangkuk berhenti sesaat.

"Kenapa, Ma?"

Ratna menoleh, alisnya naik. "Kamu masih tanya kenapa? Mereka datang untuk membicarakan Rania. Yang perlu tampil ya Rania, bukan kamu."

Safira menunduk lagi. "Aku cuma tanya."

"Jangan bikin suasana aneh. Keluarga Kusuma itu teman lama Kakek. Katanya cucu laki-laki mereka datang dari Jakarta. Kita belum tahu dia seperti apa. Kalau memang cocok, Rania bisa dapat keluarga baik."

Kak Rania turun dari tangga sambil mengikat rambut. Wajahnya cantik, kulitnya bersih, gerakannya halus seperti orang yang sejak kecil tidak pernah disuruh mengangkat galon atau mengepel teras.

"Ma, Mama yakin dia layak buat aku?"

Ratna langsung melunakkan suara. "Kita lihat dulu, Nak."

"Aku dengar Kusuma Group memang besar. Tapi yang datang ini katanya cuma cucu dari cabang keluarga, bukan pewaris utama. Kalau ternyata dia biasa-biasa saja gimana?"

"Makanya kita lihat."

Safira meletakkan mangkuk sambal di meja. Ia ingin tertawa, tetapi menahannya. Kakaknya belum bertemu orangnya, tetapi sudah menghitung apakah lelaki itu pantas atau tidak.

Rania melihat Safira. "Kamu potong buah yang rapi ya. Jangan seperti kemarin. Kiwi-nya tebal sebelah."

"Iya, Kak."

"Dan jangan pakai piring kecil. Kelihatan pelit."

"Iya."

Kevin datang paling akhir, memakai kaus mahal dan wajah setengah mengantuk. Anak laki-laki satu-satunya di keluarga itu duduk tanpa mencuci tangan, langsung mengambil telur.

"Safa, nanti siang transfer uang bensin, ya. Aku mau ke kampus."

Safira menatap adiknya. "Uang bulanan kamu dari Papa sudah habis?"

"Belum. Tapi itu buat nongkrong."

Ratna langsung menyela, "Sudah, nanti kasih saja. Adikmu banyak kegiatan."

Safira ingin bertanya, sejak kapan nongkrong disebut kegiatan. Tapi ia sudah belajar bahwa di rumah ini, bertanya hanya membuat pekerjaannya bertambah.

Ia diam.

Pukul sepuluh, rumah mulai sibuk. Ratna memeriksa ruang tamu tiga kali. Bantal sofa diganti. Karpet disedot debunya. Rania berganti kebaya modern warna dusty pink, lengkap dengan bros mutiara kecil. Papa, Bambang Santoso, baru keluar dari ruang kerja ketika suara mobil terdengar dari luar pagar.

"Mereka datang," kata Ratna cepat. "Rania, senyum. Bambang, jangan bahas utang vendor dulu. Safa, buahnya mana?"

"Sudah di meja, Ma."

"Bagus. Setelah menuang teh, kamu langsung ke belakang."

Safira mengangguk.

Dari jendela samping, ia melihat mobil yang masuk ke halaman.

Bukan Alphard.

Bukan Mercedes.

Hanya Avanza hitam keluaran lama, dengan cat yang mulai kusam di bagian kap mesin. Dari kursi pengemudi turun seorang lelaki muda bertubuh tegap, memakai kemeja biru tua sederhana dan celana bahan hitam. Sepatunya bersih, tetapi jelas bukan barang baru.

Di sampingnya turun lelaki lain yang lebih santai, membawa kotak hantaran sederhana.

Wajah Ratna berubah.

Rania yang semula tersenyum ikut membeku.

"Itu?" bisik Rania.

Bambang mengernyit. "Mungkin stafnya duluan."

Tapi lelaki berkemeja biru itu masuk bersama Pak Satpam yang membukakan pintu, lalu berdiri di hadapan mereka dengan tenang.

"Assalamualaikum. Saya Arga Kusuma."

Suaranya rendah, jernih, dan tidak terburu-buru.

Safira yang sedang membawa nampan teh ikut mendengar dari ambang pintu. Ia tidak sengaja mengangkat wajah.

Dan untuk sesaat, ia lupa harus menaruh cangkir di mana.

Lelaki itu sederhana, tetapi tidak ada yang sederhana dari caranya berdiri. Bahunya tegak. Matanya gelap dan tenang. Wajahnya terlalu tampan untuk seseorang yang datang dengan mobil tua dan kotak hantaran tanpa pita mewah.

Rania juga melihat itu.

Namun kekaguman di mata kakaknya hanya bertahan sebentar.

Begitu melihat ujung lengan kemeja Arga yang mulai pudar, Rania kembali menata wajah.

"Waalaikumsalam," jawab Bambang. "Silakan duduk."

Arga duduk. Temannya, Bima, menaruh hantaran di meja.

"Ini sedikit buah tangan dari keluarga kami," kata Bima ramah.

Ratna melirik isi kotak. Kurma, teh premium, dan kain batik tulis yang dilipat rapi. Tidak buruk, tetapi jauh dari bayangan hampers mahal keluarga konglomerat.

Safira maju, menuang teh satu per satu. Saat ia sampai di depan Arga, aroma teh melati naik di antara mereka.

Arga mengangkat pandangan.

Mata mereka bertemu.

Safira segera menunduk. "Silakan, Pak."

"Terima kasih."

Hanya dua kata.

Tapi Safira merasakan sesuatu yang aneh. Bukan karena suaranya lembut. Justru karena ia mengucapkannya seperti benar-benar melihat orang yang menyajikan teh, bukan hanya tangan yang lewat di ruang tamu.

"Safa," suara Ratna terdengar tajam.

Safira sadar ia berdiri terlalu lama.

Ia mundur cepat, tetapi sebelum benar-benar pergi, ia mendengar Ratna membuka percakapan.

"Mas Arga sekarang bekerja di bagian mana?"

"Saya membantu beberapa proyek operasional keluarga di Jakarta dan Bandung," jawab Arga.

Jawaban itu benar, tetapi terdengar biasa.

Ratna mengejar, "Jabatan resminya?"

Bima hampir tersedak teh.

Arga tetap tenang. "Belum ada yang istimewa, Bu."

Rania menunduk, menyembunyikan kekecewaan. Ratna tersenyum tipis, jenis senyum yang biasa ia pakai kepada pedagang yang menawar terlalu tinggi.

Safira berhenti di balik dinding.

Ia tahu senyum itu.

Senyum yang berarti seseorang sudah tidak dianggap penting.

Di ruang tamu, Ratna berkata lagi, "Oh begitu. Kami kira..."

Kalimatnya dibiarkan menggantung.

Bima melirik Arga, tetapi Arga hanya mengangkat cangkir teh. Di wajahnya tidak ada malu, tidak ada marah. Seolah ia memang datang untuk melihat seberapa cepat keluarga ini menimbang manusia dengan harga mobilnya.

Safira menggenggam nampan kosong.

Entah kenapa, ia merasa lelaki itu sedang sengaja membiarkan dirinya diremehkan.

Dan lebih aneh lagi, ia merasa Arga Kusuma bukan orang yang bisa diremehkan begitu saja.

1
Maria Tri Rahayu
kemungkinan maya bukan anan dimas dong
Maria Tri Rahayu
berarti safira anaknya ratih
Mimin Rosmini
mulai sekarang jadilah dirimu sendiri ya safa
Mimin Rosmini
arga berasal dari keluarga baik.tidak seperti keluarga safira yg toxic
Maria Tri Rahayu
sebaiknya Arga jujur soal dirinya pada safira
Mimin Rosmini
safira sayang ..berdoa dan berusaha itu tugas seorang muslim.. hasilnya Allah yg menentukan..sabar ya safa sayang
Mimin Rosmini
ini keluarga toxic banget ya
Mimin Rosmini
sebetulnya .safira anak kandung atau siapa?ko bisa diperlakukan seperti ke anak tiri?
Mimin Rosmini
yah ..belum apa apa sudah menilai orang hanya tampilan luarnya saja
Maria Tri Rahayu
menikah 3 bulan blm ketemu keluarga suaminya
Maria Tri Rahayu
suami istri apa- apa harus bayar patungan, safira sikapnya kaku pada suaminya.
Rosdianah Rosi
kok tiba2 hamil 😄pegang tangan sj TDK 💪
Rosdianah Rosi
kembali ke Bambang outhor🙏
Komang Indrayani
kok jadi kakak ya? bukannya rayhan pamannya? kakak ibunya. rafi adik ibunya?
Tismar Khadijah
nama ayahnya kok jd nama mantan🤭
Tismar Khadijah
tinggal dikontrakan apa apart y🤭
Tismar Khadijah
autohor kurang konsisten, bentar safa berhijab eh besoknya rambut diiket🤭
Shaa Erahh
kenapa bapa nya dimas jadinya.kan dimas tu mantan safira calon rania sekarang..bapa nya bambang sentoso...
Adinda Rahmadinah
keren
wahida nurusshobah
/Shy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!