NovelToon NovelToon
Wanita Yang Kau Siakan

Wanita Yang Kau Siakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Hasna_Ramarta

Demi menepati janji masa lalu, Mahira memilih hidup sederhana dan menjadi istri yang berbakti bagi Ziko, seorang pengusaha sukses di Bandung.

Namun, ketulusan Hira justru dibalas dengan dinginnya sikap Ziko dan hinaan bertubi-tubi dari ibu mertuanya.

Hira kerap dianggap wanita tak berpendidikan yang hanya menjadi beban keluarga. Padahal, di balik layar, koneksi rahasia Hiralah yang membuat bisnis Ziko terus meroket.

​Penderitaan Hira mencapai puncaknya ketika sebuah kesalahpahaman sengaja diciptakan untuk menjebaknya. Saat Ziko terang-terangan melukai harga dirinya demi wanita lain, kesabaran Hira akhirnya habis. Ia memutuskan melangkah pergi dan menyetujui perceraian tanpa meminta harta sepeser pun.

​Kepergian Hira menjadi awal kehancuran dunia Ziko. Rumah yang tadinya hangat berubah menjadi asing, dan rahasia besar di balik sukses bisnisnya perlahan terbongkar. Di sisi lain, Hira bangkit menunjukkan identitas aslinya sebagai wanita berkelas dan berpengaruh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Tamu Kehormatan dan Kamar yang Dingin

   ​Malam menjelang, suara deru mesin mobil mewah terdengar memasuki pekarangan rumah. Lampu sorotnya menerangi kaca jendela depan, memecah hening yang menyelimuti kediaman keluarga Ziko.

   ​Di dalam dapur, Mahira yang baru saja mengeringkan tangannya usai mencuci piring-piring bekas makan malam Bu Rani, menghentikan gerakannya. Tubuhnya masih terasa agak hangat akibat sisa demam tadi siang, namun ia tetap memaksa dirinya berdiri tegak.

   Dengan langkah yang tenang dan bersahaja, ia berjalan menuju ruang tengah untuk menyambut kepulangan suaminya.

   ​Pintu jati besar itu terbuka lebar. Ziko melangkah masuk, tetapi ia tidak sendirian. Di sampingnya berdiri Clarissa, mengenakan gaun malam berpotongan elegan berwarna merah marun yang membungkus tubuh semampainya.

Sebuah koper kabin berlogo merek fashion ternama asal Prancis bertengger anggun di samping kaki Clarissa.

   ​"Selamat malam, Mbak Hira," sapa Clarissa dengan suara lembut dan manja. Ia menyunggingkan senyum termanisnya, namun matanya yang berkilat memancarkan pandangan menilai yang penuh kemenangan.

   ​Mahira menghentikan langkahnya di dekat tangga. Pandangannya berpindah dari Clarissa ke arah Ziko, menunggu penjelasan dari suaminya.

   ​Ziko melangkah mendekati Mahira tanpa ada guratan rasa canggung sedikit pun di wajahnya. Wajah pria itu justru dipenuhi binar antusiasme yang jarang ia perlihatkan di rumah.

   ​"Hira, kamu belum tidur, kan?" tanya Ziko dengan suara tegas tanpa basa-basi. "Baguslah. Clarissa bakal menginap di rumah kita untuk beberapa hari ke depan."

   ​Mahira mengerutkan dahi tipis. "Menginap?"

   ​"Iya, menginap," potong Ziko cepat dengan nada menuntut. "Mobil Clarissa tadi sore masuk bengkel resmi karena ada kerusakan mesin, dan apartemen lamanya di Bandung masih dalam proses perbaikan interior. Lagi pula, besok pagi jam delapan kami ada rapat amat penting dengan jajaran direksi calon investor di kantor. Kalau Clarissa tinggal di hotel, jaraknya terlalu jauh dan macet. Jadi aku yang meminta Clarissa untuk tinggal di sini sementara waktu demi kelancaran urusan bisnis."

   ​Clarissa melangkah mendekat, memegang lengan Ziko di depan mata Mahira. "Iya, Mbak Hira... Maaf ya kalau kedatangan saya yang mendadak ini merepotkan. Saya sebenarnya mau menginap di hotel saja, tapi Ziko dan Tante Rani melarang keras. Kata Ziko, rumah ini sangat luas dan ada kamar tamu yang kosong."

   ​Tepat saat itu, Bu Rani turun dari lantai atas dengan riasan wajah yang masih utuh. Melihat Clarissa berdiri di ruang tengah membawa koper, wajah tua itu seketika berbinar-binar gembira.

   ​"Wah, Clarissa sayang!" seru Bu Rani setengah berlari menghampiri Clarissa dan memeluknya hangat. "Akhirnya kamu sampai juga. Tante dari tadi sore sudah menunggu kamu, lho. Ziko sudah cerita semuanya lewat telepon."

   ​"Terima kasih banyak ya, Tante Rani. Clarissa jadi merepotkan Tante dan Ziko," balas Clarissa lembut seraya mengusap lengan Bu Rani.

   ​"Sama sekali tidak merepotkan, Clarissa. Kamu ini sudah Tante anggap seperti anak sendiri," ujar Bu Rani antusias. Mata Bu Rani kemudian beralih melirik tajam ke arah Mahira yang berdiri mematung. Wajah Bu Rani seketika berubah masam dan penuh perintah.

   ​"Hira! Kamu kenapa malah melamun begitu seperti patung?" bentak Bu Rani nyaring. "Cepat bawa koper Clarissa ke kamar tamu lantai atas! Rapikan kamarnya sekarang juga! Ganti sprei dan sarung bantalnya dengan yang paling halus di lemari. Ingat, cuci dulu tanganmu, jangan sampai ada debu atau kotoran yang menempel di seprai Clarissa!"

   ​Mahira menatap ibu mertuanya, lalu beralih menatap suaminya, Ziko. Di matanya yang jernih, ada sebuah pertanyaan yang tak terucap, apakah Mas Ziko benar-benar membiarkan istrinya melayani mantan kekasihnya sendiri seperti seorang pelayan?

   ​Namun Ziko membuang muka. Pria itu justru menambahkan perintah dengan nada dingin. "Hira, dengar kata Ibu. Jangan bikin malu. Siapkan juga handuk bersih yang paling tebal dan aromaterapi di dalam kamar mandi tamu. Clarissa tidak biasa dengan ruangan yang bau apek."

   ​Rasa perih kembali menyengat di sudut hati Mahira. Namun, rasa perih itu kini tidak lagi berbekas menjadi air mata. Kepasrahan dan ketenangannya telah menjadi perisai yang sangat kokoh. Mahira menyunggingkan senyum paling tipis di bibirnya.

   ​"Baik, Mas. Saya siapkan kamarnya sekarang," jawab Mahira halus.

   ​Ia melangkah mendekati koper mahal milik Clarissa. Saat tangan Mahira terulur untuk meraih gagang koper, Clarissa sengaja menggeser posisi berdiri dan berbisik sangat pelan, hanya untuk didengar oleh Mahira.

   ​"Terima kasih ya, Mbak Hira... Maaf sudah merepotkan sang 'nyonya rumah," bisik Clarissa dengan nada penuh ejekan diimbuhi desah napas manis.

   ​Mahira tidak membalas. Ia mengangkat koper itu dengan tenang dan melangkah menaiki tangga menuju lantai dua.

   ​Kamar tamu di lantai dua sebenarnya cukup luas dan berfasilitas lengkap, namun karena jarang dipakai, udara di dalamnya agak terasa dingin.

   Selama hampir satu jam, Mahira bekerja dalam hening. Dengan tubuh yang sebenarnya masih menyisakan rasa lemas bekas demam tadi siang, Mahira merapikan ranjang ukuran king size di tengah ruangan.

   ​Ia mengganti seprai lama dengan bahan katun putih yang bersih dan harum. Ia menyapu lantai, merapikan meja rias, dan memastikan kamar mandi tamu telah terisi air hangat serta perlengkapan mandi yang layak.

   Setiap gerakan tangan Mahira terasa sangat terlatih dan tertata rapi, sebuah wujud pelayanan dan pengabdian terakhir dari seorang istri yang tahu bahwa tugasnya di rumah ini hampir usai.

   ​Saat Mahira sedang membetulkan posisi sarung bantal terakhir, suara ketukan sepatu berhak tinggi terdengar di ambang pintu.

   ​Clarissa berdiri di sana, menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu kayu dengan kedua tangan bersedekap di dada. Matanya menyapu sekeliling kamar dengan pandangan menilai yang penuh penghinaan.

   ​"Ternyata kerjaan kamu rapi juga ya, Mbak Hira," puji Clarissa, namun nadanya terdengar seperti seorang majikan yang sedang menginspeksi hasil kerja buruh.

   ​Mahira membalikkan badan dengan tenang. "Kamarnya sudah selesai dirapikan, Mbak Clarissa. Selimut dan handuk bersih ada di dalam lemari. Jika butuh sesuatu yang lain, Mbak bisa panggil saya."

   ​Clarissa melangkah masuk ke dalam kamar. Ketukan high heels-nya menggema di atas lantai kayu. Ia mendekati ranjang, mengelus permukaan seprai putih dengan ujung jarinya yang berkulit halus dan berhias cat kuku merah menyala.

   ​"Kain seprainya cukup bersih," kata Clarissa seraya tertawa kecil. Matanya kemudian menatap Mahira lurus. "Kamu tahu tidak, Mbak Hira? Tiga tahun lalu, harusnya aku yang berdiri di posisi kamu saat ini. Harusnya aku yang menjadi istri Ziko. Ziko itu pria yang punya ambisi besar, visi bisnisnya tinggi, dan dia butuh wanita yang bisa mengimbanginya di tempat-tempat mewah... bukan wanita yang tugasnya cuma menyiapkan kamar untuk wanita lain seperti ini."

   ​Clarissa sengaja menjeda kalimatnya, melangkah makin dekat ke arah Mahira.

   ​"Dulu, saat Ziko memintaku kembali ke Indonesia, aku ragu. Tapi begitu aku tahu dia menikahi wanita sederhana dari desa seperti kamu... aku sadar, Ziko hanya sedang tersesat sejenak. Dan sekarang, aku kembali untuk mengambil apa yang seharusnya jadi milikku. Kamu harusnya paham posisi kamu sekarang, Mbak Hira."

   ​Mahira menatap Clarissa. Tidak ada raut marah, cemburu, ataupun gentar di wajah cantiknya yang polos. Tatapan mata Mahira begitu dalam dan tenang, hingga membuat Clarissa yang tadinya ingin melihat Mahira menangis justru merasa sedikit ketakutan di dalam hati.

   ​"Mbak Clarissa," ucap Mahira dengan suara pelan namun terdengar amat berbobot di dalam ruangan yang sunyi itu. "Gedung yang megah tidak pernah dibangun di atas fondasi yang rapuh. Dan sesuatu yang kelihatan indah dari luar... belum tentu baik di dalam."

   ​Clarissa mengerutkan dahi, merasa risih dengan ucapan Mahira. "Apa maksud kamu?"

   ​"Tidak ada maksud apa-apa," jawab Mahira tenang seraya menundukkan kepala sedikit. "Selamat beristirahat, Mbak Clarissa. Semoga kamar ini cukup nyaman untuk Mbak."

   ​Tanpa menunggu sahutan dari Clarissa yang berdiri terpaku dengan raut wajah kesal karena provokasinya tidak mempan, Mahira berbalik dan melangkah keluar dari kamar tamu.

   ​Di luar koridor yang remang-remang, Ziko berdiri menunggunya di dekat tangga.

   ​"Sudah selesai, Hira?" tanya Ziko dingin.

   ​"Sudah, Mas. Mbak Clarissa sudah bisa beristirahat," jawab Mahira seraya melangkah melewati Ziko.

   ​Ziko menatap punggung istrinya yang menjauh menuju kamar mereka. Untuk sejenak, dada Ziko terasa berdesir aneh. Ada rasa asing yang mengganjal di dalam benaknya saat melihat betapa tenangnya Mahira melayani Clarissa tanpa ada luapan cemburu atau amarah seperti wanita pada umumnya.

Namun, Ziko dengan cepat menepis perasaan itu dan menganggapnya sebagai bentuk kepasrahan Mahira yang memang sadar diri atas kekurangannya.

   ​Di dalam kamar mereka yang sepi, Mahira merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia memejamkan mata perlahan, mendengarkan derap langkah kaki Ziko dan gelak tawa halus Bu Rani serta Clarissa dari arah ruang tamu.

   ​

1
Sri Rahayu
Ziko...Ziko....ini buah dari keserakahan, keegoisan dan ketololan mu Ziko 🤪🤪🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
Nasir: Oke....
total 1 replies
Sri Rahayu
suka dgn tokoh Mahira...tegas tdk ada ampun utk Ziko /Good//Good//Good/ lanjut Thorr😘😘😘
Nasir: Mksh byk Kak... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Sri Rahayu
Mahira sdh mulai mengeluarkan taringnya siap mengoyak Ziko, bu Rani dan Clarissa... lanjut Thorr😘😘😘😘😘
Sri Rahayu
berpestalah kalian bertiga Ziko, bu Rani dan Clarissa...merayakan kebangkrutan Ziko 😇😇😇🤪🤪🤪...lanjut Thorf😘😘😘
Sri Rahayu
ditunggu lanjutan nya Thorr😘😘😘😘😘
Sri Rahayu
lope lope utk Mahira /Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/.... dan vote utk Authorr...ditunggu lanjutan nya😘😘😘😘😘
Nasir: Makasih Kak...
total 1 replies
Sri Rahayu
suka ceritanya Thorr, lanjutin donk kepo ma si Ziko, mama nya n Clarisa setelah proposalnya ditolak....tetap optimis Thorr dan semangat selalu 😘😘😘😘😘
Nasir: Besok ya...
total 1 replies
Ika
luar biasa
Sri Rahayu
kehancuran menunggu mu Ziko 🤪🤪🤪... lanjut Thorr😘😘😘
Nasir: Besok ya.. m
total 1 replies
EVA OKTASARI
padahal ceritanya bagus lho thor,semangat thor sampai cerita tamat
Nasir: Entahlah Kak... tapi kenyataannya tdk banyak yg tertarik. Sedih sih. Bisa saja saya tamatkan di sini, tapi gak kontrak. Sebab klo dikontrakpun gak dpt apa2 selain dr pembaca. Pdhl udah sy usahakan boom bab, tp msh blm tercapai retensi. Semoga di bab 40 retensi tercapai...
total 1 replies
ㅏㅁㄱㅐㅣㅑㅜ
Lanjut kak Author ceritanya bagus kok sat set juga penyelesaiannya cepat, Tetap Semangat Jangan Pindah ke Tempat lainnya 🙏
Nasir: Makasih ya Kak... 🙏🙏🙏
total 1 replies
ㅏㅁㄱㅐㅣㅑㅜ
Tetap Semangat Melanjutkan ceritanya bagus tidak bertele2 kakak AUTHOR , ditunggu kelanjutannya ya 🙏
Nasir: Makasih Kak... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Sri Rahayu
asyikkk...Mahira uda nyuruh Jessi menolak proposal prshn Ziko...kebangkrutan akan Ziko rasakan bgt jg dgn nenek lampir yg sombong 🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
Nasir: 😄😄😄😄😄😄😄
total 1 replies
Ma Em
lama Thor Mahira keluar dari rumah Ziko , entah maunya Mahira apa msh tinggal dirumah Ziko meskipun selalu dihina dan dijadikan babu tiap hari
Nasir: Sabar ya Bun....
total 1 replies
Ma Em
kenapa sih Mahira msh mau bertahan dirumah Ziko dan rela dihina dan diinjak harga dirinya .
Sri Rahayu
Mahira keren...uda dihina, direndahkan tp tetap tenang...nunggu bom waktu yg akan diledakkan nya 🤩🤩🤩...lanjut Thorr😘😘😘
Sri Rahayu: eh salah bukan Ardi tp Ziko...maaf salah sebut nama /Silent/
total 4 replies
Sri Rahayu
jgn tanda tangan proposal dr pershn Ardi...mereka bertiga jahat pd mu Mahira...biarkan saja prshn Ardi kolaps... lanjut Thorr😘😘😘
Ma Em
Mahira sdh terlalu lama kamu menyia nyiakan hdp mu msh juga mau bertahan dgn suami dan mertua yg selalu menghina dan merendahkan mu Mahira untuk apa Mahira bertahan tinggal bersama Ziko , lbh baik segera keluar dari rumah Ziko dan balas semua perbuatan Ziko , Bu Rani juga Clarisa .
Sri Rahayu
Ziko...Ziko dasar lk2 bodoh....bentar.lg kamu akan menikmati kebodohan mu 🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
Sri Rahayu
jgn diem aja Mahira...lawan dan hancurkan mereka bertiga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!