NovelToon NovelToon
Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Status: sedang berlangsung
Genre:Supernatural / Perubahan Hidup / Peradaban Antar Bintang
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: Fajar

Planet 3212—planet sampah paling melarat.

Tri, bocah tujuh tahun, bertahan dari rongsokan—tapi ia menyimpan ingatan insinyur mecha dewa dari kehidupan sebelumnya. Kesalahan pendaftaran melemparkannya ke jurusan tempur paling brutal. Semua meremehkan bocah sampah ini—sampai ia menghancurkan lawan, rancangan "jelek"nya mengguncang forum maestro, dan kekuatan 3S-Agung yang terpendam mulai terkuak.

Diburu Kabut Hitam, dilindungi rival terkuatnya, Tri harus pilih: tunduk—atau bangkit menelan takhta bintang. Dari tumpukan sampah menuju singgasana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 035: Tendangan yang Menggetarkan

Tri menonton siaran ulang itu pada pukul dua lewat tujuh belas menit malam.

Kamar 707 gelap kecuali cahaya Kom yang diproyeksikan ke dinding. Hendra sudah tidur di ranjang seberang, atau setidaknya berpura-pura tidur dengan selimut menutup kepala. Rakha tidak ada; ia kembali ke ruang Empu setelah mengirim tiga pesan panjang tentang pelapis anti-korosi, semuanya belum dijawab Tri.

Di layar, arena Bengkel Hitam lantai tiga menyala merah.

Nama petarung pertama muncul dengan efek api murahan. Tubuh mecha-nya besar, hitam, bahu lebar, memakai kapak rantai yang cukup berat untuk membelah kendaraan kecil. Penonton berteriak. Komentator bawah tanah memuji kekuatan, jumlah kemenangan, dan harga taruhan.

Tri tidak peduli.

Ia menunggu nama kedua.

TepiBaratKarang.

Sena masuk ke arena dengan mecha ringan berwarna perak kusam. Tidak banyak hiasan. Tidak banyak bunyi. Mecha itu berjalan seperti orang yang sengaja terlihat malas, bahu sedikit turun, langkah tidak terburu-buru. Di rekaman luar arena, Sena sendiri sempat tertangkap kamera sebelum masuk kokpit: senyum tipis, mata setengah mengantuk, ekspresi seperti siswa yang salah masuk kelas pagi.

Tri memperbesar wajah itu.

“Kelihatan seperti orang yang bisa lupa bayar makan,” gumamnya.

Dari balik selimut, Hendra berkata, “Lo ngomong sama siapa?”

“Mayat masa depan.”

“Kalau itu soal tugas Bara, gue tidur.”

“Ini soal Sena.”

Selimut bergerak sedikit.

Hendra tidak bangun, tapi jelas mendengar.

Di layar, wasit bawah tanah menurunkan tangan.

Laga dimulai.

Petarung besar langsung maju.

Kapak rantai berputar, gigi logamnya memercikkan api di lantai. Serangan pertama datang dari atas, berat dan kasar, jenis pukulan yang dirancang untuk membuat penonton berteriak bahkan kalau meleset. Mecha Sena tidak mundur jauh. Ia hanya bergeser setengah langkah.

Setengah langkah itu terlalu bersih.

Kapak lewat di depan dada. Angin tekanan membuat lapisan debu di bahu mecha perak bergetar. Sena memiringkan tubuh, lengan kiri menepis sisi kapak, bukan menahan, hanya mengubah sudut.

Kapak menabrak lantai.

Sebelum lawan menarik kembali, Sena sudah berada di sisi dalam.

Tri mencondongkan badan.

“Cepat,” bisiknya.

Bukan cepat biasa.

Banyak Prajurit ringan cepat. Mereka melompat, berputar, mengandalkan jarak. Sena tidak seperti itu. Gerakannya pendek. Tidak ada gerakan sia-sia. Ia seperti sudah tahu titik kosong lawan sebelum lawan sendiri membuka celah.

Lutut mecha perak naik.

Mengenai siku lawan.

Krak.

Suara itu masuk lewat speaker murah Kom, pecah sedikit, tetapi cukup jelas. Sendi lengan kanan mecha besar langsung macet. Penonton meraung.

Lawan berputar, memakai bahu untuk menabrak.

Sena tidak mundur.

Ia menunduk, masuk ke bawah garis bahu, lalu menendang.

Tendangan pertama menghantam lutut kiri.

Tendangan kedua menghantam pinggang.

Tendangan ketiga tidak langsung terlihat karena tubuh lawan menutup kamera utama. Tri mengganti sudut rekaman. Dari kamera samping, terlihat kaki mecha perak naik seperti cambuk pendek dan mengenai dasar leher mecha lawan.

Kepala mecha besar terangkat.

Satu detik.

Lalu seluruh sambungan leher patah.

Kepala itu terbang.

Arena meledak.

Penonton berdiri. Komentator berteriak sampai suaranya pecah. Kapak rantai lawan masih berputar di lantai, tetapi kokpit utamanya sudah terkunci oleh ujung kaki Sena. Satu tekanan lagi, dan pelat pelindung dada bisa pecah.

Sena berhenti.

Mecha perak menarik kaki.

Ia tidak menambah serangan.

Tidak perlu.

Lawan kalah.

Rekaman memperlihatkan Sena keluar dari kokpit beberapa menit kemudian. Wajahnya kembali seperti biasa. Sedikit bosan, sedikit malas, seolah baru menyelesaikan antrean pembayaran kantin, bukan baru saja menendang kepala mecha top lantai tiga sampai lepas.

Tri memutar ulang.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Hendra akhirnya bangun dan duduk dengan rambut berantakan. “Lo tahu jam berapa?”

“Dua lewat dua puluh sembilan.”

“Terima kasih, jam manusia.”

Tri menunjuk layar. “Lihat ini.”

Hendra menguap, lalu melihat.

Pada putaran pertama, ia masih setengah tidur.

Pada putaran kedua, matanya mulai fokus.

Pada putaran ketiga, kantuknya hilang.

“Itu bukan gaya lantai tiga biasa,” kata Hendra.

“Bukan.”

“Dia menyembunyikan jarak reaksi.”

“Dan kekuatan.”

Tri memperlambat bagian tendangan leher. Frame bergerak satu per satu. Kaki mecha perak berputar dari sudut yang tampak mustahil untuk menghasilkan daya sebesar itu. Bukan karena mesin mecha terlalu kuat. Justru karena titik tenaga dipindahkan lewat pinggul, lutut, dan pergelangan dalam urutan sangat pendek.

Teknik.

Tetapi teknik itu membutuhkan tubuh yang berani menerima beban balik.

Atau Daya Indra yang bisa mengunci jalur gerak tanpa pecah.

“Kalau orang biasa menendang begitu,” kata Tri, “sendi mecha-nya sendiri retak dulu.”

Hendra menatapnya. “Kalau lo?”

“Mecha gue akan protes. Gue akan pura-pura tidak dengar.”

“Jawaban yang sangat tidak menenangkan.”

Tri memutar bagian sebelum laga. Sena berdiri di pinggir arena, menunggu pintu kokpit. Ada satu momen sangat pendek ketika seorang petugas menyenggol bahunya. Mata Sena bergerak.

Cuma sepersekian detik.

Tetapi ekspresi malas itu hilang.

Yang muncul di sana dingin.

Bukan dingin seperti Anindya Adiwangsa yang terlatih menjaga jarak dari dunia.

Bukan dingin seperti Bara yang hidup dengan disiplin medan tempur.

Ini dingin yang sudah terbiasa menghitung cara paling cepat membuat orang berhenti bergerak.

Lalu momen itu selesai.

Sena tersenyum lagi.

“Dia membungkus dirinya,” kata Tri pelan.

Hendra tidak bertanya “dengan apa”. Ia sudah paham.

Setiap orang di Akademi Damokles menyembunyikan sesuatu. Ada yang menyembunyikan kemiskinan. Ada yang menyembunyikan ambisi. Ada yang menyembunyikan trauma kalah bertahun-tahun. Tri sendiri menyembunyikan terlalu banyak sampai kadang daftar di kepalanya terasa seperti gudang baut tanpa label.

Tetapi Sena berbeda.

Sena tidak hanya menyembunyikan kekuatan.

Ia menyembunyikan suhu.

“Lo masih mau tim dengan dia?” tanya Hendra.

Tri diam.

Undangan TepiBaratKarang masih ada di Kom. L3 buka tim. Kau, aku, satu lagi. Mau?

Kalimat pendek. Santai. Seperti ajakan makan mi murah.

Di balik kalimat itu, ada tendangan yang memutus kepala mecha.

“Justru karena begini,” kata Tri akhirnya, “gue harus tahu dia tipe masalah apa.”

Hendra mengusap wajah. “Kalimat itu biasanya berakhir dengan biaya rumah sakit.”

“Kalau beruntung, biaya ditanggung lawan.”

“Lo dan definisi beruntung perlu konseling.”

Tri tidak tersenyum.

Ia membuka rekaman lain: laga-laga lama TepiBaratKarang. Di beberapa video, Sena bertarung sembrono, bercanda, hampir kalah, lalu menang tipis. Di video lain, ia menyelesaikan lawan terlalu cepat. Polanya tidak konsisten jika dilihat sebagai kemampuan. Tetapi kalau dilihat sebagai sandiwara, semuanya rapi.

Menang cukup.

Terlihat kuat, tapi tidak terlalu kuat.

Menarik perhatian, tapi tidak sampai mengundang pembongkaran.

Tri mengenal pola itu karena ia sendiri memakainya.

Perbedaannya, Tri menyembunyikan puncak dengan tampang miskin dan mulut kurang ajar. Sena menyembunyikan jurang dengan senyum malas.

Kom Hendra berbunyi. Ia membaca pesan, lalu menyipit.

“Forum mulai ramai. Banyak yang bilang TepiBaratKarang kandidat monster lantai tiga. Ada juga yang bilang lawannya sengaja kalah.”

“Tidak sengaja,” kata Tri.

“Yakin?”

Tri menunjuk frame saat sendi siku patah. “Orang tidak sengaja kalah dengan membiarkan sambungan utama dihancurkan sebersih itu. Itu mahal.”

“Lo selalu kembali ke mahal.”

“Karena uang tidak bohong.”

Hendra mematikan Kom-nya dan menatap Tri. “Kalau dia sepertimu?”

Pertanyaan itu menggantung.

Di luar jendela 707, pasir malam mengetuk kaca. Akademi Damokles tidur dengan lampu patroli menyala. Setelah Laskar Merdeka disebut di Menara Pandang Utara, dunia terasa seperti lantai arena yang baru disapu: bersih di permukaan, licin oleh darah lama.

Tri memandang Sena di layar.

“Kalau dia seperti gue,” katanya, “berarti dia juga sedang menilai kita.”

Hendra tidak menjawab.

Tri mengirim pesan singkat ke TepiBaratKarang.

Kirim aturan tim L3. Gue baca dulu.

Balasan datang kurang dari sepuluh detik.

Santai. Jangan takut, Melarat. Aku tidak menggigit teman.

Tri membaca kalimat itu dua kali.

Lalu rekaman di layar berhenti pada frame Sena menarik kaki dari kokpit lawan. Cahaya arena jatuh di mecha perak, membuat bayangannya panjang dan tajam seperti pisau tipis.

Tri merasakan dingin kecil naik dari tulang belakang.

Ia mematikan layar.

Kamar 707 kembali gelap.

“TepiBaratKarang,” gumamnya, “lo sebenarnya siapa?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!