NovelToon NovelToon
Dua Bulan Saja, Sayang

Dua Bulan Saja, Sayang

Status: tamat
Genre:Romantis / CEO / Kisah cinta masa kecil / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Naomi Liem punya satu rahasia yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun:

Dia sudah menyukai Kelvin Hartono sejak SMA.

Tapi Kelvin adalah pewaris konglomerat Hartono Group, dan Naomi? Cuma mahasiswi yang kerja sambilan di minimarket kampus, masih terjerat utang pinjol, dan punya masa lalu yang ingin dia kubur dalam-dalam.

Jadi ketika Kelvin butuh pacar palsu untuk menghindari perjodohan keluarga, Naomi melihat kesempatan — dua bulan berpura-pura pacaran, lalu dapat bayaran. Sederhana.

Yang tidak sederhana adalah:
Cara dia menatapnya terlalu lama.
Cara dia mengingat hal-hal kecil yang bahkan Naomi sendiri sudah lupa.
Cara dia bilang "Baby" — yang awalnya terdengar main-main, tapi lama-lama terasa terlalu nyata.

Dan yang paling tidak sederhana — dua bulan sudah habis. Tapi tidak ada yang bilang "selesai."

"Dulu, kamu bilang dua bulan. Sekarang, tidak ada batas waktu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12: Tidak Ada 'Terserah' di Film Ini

Kencan pertama mereka dimulai dari kalimat yang sangat tidak romantis.

"Kamu belum pernah pilih film sendiri?"

Naomi berdiri di depan layar jadwal bioskop sebuah mall di Senayan, menatap deretan poster seperti sedang menghadapi ujian lisan. Di sampingnya, Kelvin Hartono memakai hoodie abu-abu dan topi hitam, terlihat terlalu santai untuk seseorang yang baru saja membuat tiga orang di antrean tiket menoleh diam-diam.

"Pernah," jawab Naomi.

"Kalau begitu pilih."

Naomi melihat poster film drama, animasi, horor, aksi, lalu kembali ke drama. Semuanya tampak seperti pilihan yang bisa salah. Kalau ia memilih film terlalu mahal rasa produksinya, apakah Kelvin akan bosan? Kalau memilih animasi, apakah ia terlihat kekanak-kanakan? Kalau horor, bagaimana kalau ia terkejut dan mempermalukan diri sendiri?

"Terserah kamu saja," ucapnya akhirnya.

Kelvin menoleh.

Naomi langsung tahu ia salah bicara.

"Tidak ada 'terserah' di film ini."

Suaranya pelan, tapi tegas.

Naomi menggenggam tali tas. "Saya benar-benar tidak masalah nonton apa saja."

"Itu bukan jawaban."

"Tapi kamu yang mengajak."

"Dan kamu yang menonton." Kelvin menunjuk layar. "Pilih yang kamu mau."

Naomi menatapnya.

Di kepala Naomi, hidup selalu berjalan lebih mudah jika ia tidak banyak memilih. Di kos, ia makan apa yang paling murah. Di minimarket, ia mengambil shift yang tersisa. Saat orang bertanya mau minum apa, ia menjawab air putih karena itu paling tidak merepotkan. Bahkan dalam perjanjian dengan Kelvin, ia tidak memilih akhir bahagia. Ia hanya memilih dua bulan yang bisa dibayar.

Kelvin memasukkan tangan ke saku hoodie. "Kalau kamu tidak pilih, aku pilih film dokumenter tiga jam tentang pajak."

Naomi berkedip.

"Ada?"

"Mungkin."

"Kamu mau menonton itu?"

"Aku bisa tidur."

Naomi tidak tahan. Senyum kecil lolos dari bibirnya.

Kelvin melihat senyum itu, lalu sudut mulutnya ikut naik tipis. "Nah. Sekarang pilih sebelum aku berubah pikiran."

Naomi menatap poster lagi. Jarinya bergerak ragu ke arah film drama komedi romantis yang trailernya pernah ia lihat dari ponsel Sinta.

"Yang ini."

"Yakin?"

Pertanyaan itu membuatnya hampir menarik kembali pilihan. Namun Kelvin cepat menambahkan, "Bukan untuk ganti. Aku cuma tanya kamu yakin atau tidak."

Naomi menarik napas. "Yakin."

"Bagus."

Satu kata itu membuat pilihan kecil tadi terasa seperti sesuatu yang layak dirayakan.

Kelvin membeli tiket tanpa bertanya harga. Naomi berdiri di sebelahnya, mencoba tidak melihat nominal di layar mesin pembayaran. Setelah itu, mereka berjalan ke konter makanan.

"Popcorn?" tanya staf.

Naomi otomatis berkata, "Tidak usah."

Kelvin langsung menoleh. "Kenapa?"

"Filmnya cuma dua jam."

"Hubungannya?"

"Kalau tidak lapar..."

"Kamu suka popcorn?"

Naomi diam.

Itu jawaban yang cukup.

Kelvin memesan satu popcorn besar rasa karamel dan dua minuman. Saat staf menyebut harga, Naomi hampir maju untuk membayar setengah, tapi Kelvin menahan pergelangan tangannya dengan dua jari.

Ringan.

Tetap membuat napasnya berhenti.

"Kontrak kita tidak semiskin itu," katanya.

Naomi menarik tangannya pelan. "Saya tidak mau terbiasa."

"Dengan popcorn?"

"Dengan dibayari."

Kelvin menerima struk, lalu menatapnya. "Kalau kamu mau bayar, lain kali traktir aku sesuatu yang kamu pilih sendiri."

"Sesuatu yang murah?"

"Sesuatu yang kamu mau."

Naomi tidak menjawab.

Ia takut jika bicara, suaranya akan terdengar terlalu lembut.

Mereka menunggu makanan selesai disiapkan di sisi konter. Kelvin berdiri dengan santai, sementara Naomi menatap mesin popcorn yang berputar. Butiran jagung meletup satu per satu, memenuhi kaca bening dengan warna kuning keemasan.

"Kenapa selalu terserah?" tanya Kelvin tiba-tiba.

Naomi menoleh. "Apa?"

"Kamu. Kalau ditanya, jawabannya selalu tidak apa-apa atau terserah."

Naomi mengusap ujung tas kecilnya. "Kalau orang terlalu sering memilih sesuatu yang tidak bisa dia bayar, lama-lama memilih terasa melelahkan."

Kelvin diam.

Naomi menyesal sudah bicara terlalu jujur.

Namun Kelvin hanya mengambil popcorn dari staf, lalu berkata, "Kalau begitu mulai dari hal yang bisa dibayar."

"Seperti film?"

"Seperti film. Popcorn. Tempat duduk. Hal kecil dulu."

Naomi menatapnya, dan untuk sesaat kata palsu terasa terlalu jauh dari ruangan itu.

Di dalam studio, kursi mereka berada di baris tengah. Lampu mulai redup, iklan berjalan di layar besar. Naomi duduk tegak, popcorn diletakkan di antara mereka seperti batas aman.

Kelvin mengambil segenggam popcorn.

Naomi menunggu beberapa detik, lalu mengambil sedikit dari sisi yang paling dekat dengannya. Jari mereka tidak bersentuhan. Ia lega.

Pada pengambilan kedua, justru Kelvin yang sengaja mengambil dari sisi yang sama.

Ujung jari mereka bertabrakan di dalam wadah popcorn.

Naomi menarik tangan secepat tersengat listrik.

Kelvin tidak menoleh ke layar. Ia menoleh padanya.

"Popcorn-nya menggigit?"

"Tidak."

"Kenapa kaget?"

"Gelap."

"Aku tahu."

Naomi menggenggam tangannya sendiri di pangkuan. "Jangan ganggu."

Kelvin tertawa pelan. Suaranya rendah, hampir tertelan suara trailer, tapi cukup dekat untuk membuat telinga Naomi panas.

Film dimulai.

Selama tiga puluh menit pertama, Naomi berusaha fokus pada cerita. Tokoh utama perempuan di layar berlari mengejar bus, jatuh di trotoar, lalu bertemu laki-laki yang salah mengambil kopernya. Penonton tertawa. Naomi juga tertawa pelan.

Kelvin tidak banyak bereaksi.

Tapi setiap kali Naomi tertawa, ia melirik.

Pada adegan lucu berikutnya, Naomi lupa menjaga jarak. Bahunya bergerak sedikit ke samping, menyentuh lengan Kelvin.

Sentuhan itu tidak lama.

Namun tubuh Naomi langsung sadar.

Ia ingin menjauh, tapi jika bergerak terlalu jelas, justru akan terlihat aneh. Jadi ia tetap diam, menahan napas, membiarkan sisi lengannya menyentuh sisi lengan Kelvin sepanjang beberapa detik yang terasa terlalu panjang.

Kelvin juga tidak bergerak.

Di layar, tokoh perempuan sedang marah-marah karena merasa dipermainkan.

Di kursi bioskop, Naomi menatap layar tanpa benar-benar melihat.

Ini palsu.

Kencan ini palsu.

Popcorn, tiket, kursi gelap, kata Baby di WhatsApp, semua bagian dari perjanjian dua bulan.

Tapi detak jantungnya tidak tahu cara berpura-pura.

Saat film selesai dan lampu studio menyala, Naomi baru sadar popcorn mereka hampir habis. Entah siapa yang memakannya. Mungkin Kelvin. Mungkin dirinya sendiri saat terlalu gugup.

Mereka keluar bersama arus penonton. Di luar studio, mall masih ramai. Musik toko, suara anak kecil, pengumuman diskon, semua kembali menabrak telinga.

"Filmnya bagus?" tanya Kelvin.

Naomi mengangguk. "Lumayan."

"Lumayan?"

"Bagus."

"Itu lebih jujur?"

Naomi menahan senyum. "Iya."

Kelvin berjalan di sebelahnya, tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat beberapa orang melihat. Dua gadis remaja yang berpapasan bahkan berbisik sambil menatap Kelvin, lalu Naomi.

Naomi refleks menunduk.

Sebuah tangan tiba-tiba mendarat ringan di bahunya.

Kelvin tidak menariknya dekat. Tidak menekan. Hanya menaruh tangan di sana seolah itu hal paling wajar di dunia, seolah ia memang berhak berjalan di samping Naomi dan membuat orang lain berhenti menatap terlalu lama.

Tubuh Naomi menegang.

Kelvin menoleh, melihat wajahnya, lalu perlahan menurunkan tangan itu.

"Maaf," katanya datar.

Seperti tidak sengaja.

Seperti bukan apa-apa.

Tapi setelah tangannya turun, bekas hangat di bahu Naomi justru terasa semakin jelas.

1
Anonim
Kak keren ceritanya 🙏🏼👏🏼
Norma Indah
sepertinya kelvin sudah lama suka sama naomi😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!