Cuma niat periksa batu ginjal, si komandan dingin malah "salah dibuka celananya" oleh dokter magang sok berani.
Satu kalimat "saya tanggung jawab", dan Keisha resmi jadi istri kontrak Sang Komandan Meriam—pewaris konglomerat Prawira yang paling ditakuti.
Perjanjiannya: tidak boleh saling sentuh.
Kenyataannya: komandan berhati es itu **tak pernah tahan semalam pun**.
"Katanya kontrak, Pak?"
"Kontraknya," bisiknya sambil menariknya mendekat, "mulai malam ini kita tulis ulang."
Yang mereka kira dokter miskin, ternyata putri konglomerat Wijaya yang hilang.
Yang dikira pernikahan palsu, ternyata jerat paling manis.
**Nyonya Meriam sudah pulang—dan sang serigala tak akan melepasnya lagi.**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30
Selentingan yang Menusuk
Arya kembali ke halaman arisan tepat ketika semua orang menatap Keisha.
"Tata hanya pernah bermain di halaman umum bersama anak-anak lain," katanya tanpa perlu bertanya apa yang terjadi. "Vanya dan Tata tidak pernah tinggal di unit saya."
Vanya masih tersenyum. "Aku tidak bilang kami tinggal bersama. Jangan terlalu tegang, Mas."
"Jangan memakai kalimat setengah untuk membuat orang menarik kesimpulan palsu."
Bu Darto mengangguk tegas. Beberapa perempuan menunduk pada gelas masing-masing.
Arya mengambil kantong belanja dan meminta Keisha menunggunya di mobil. Saat Keisha berbalik untuk berpamitan kepada Bu Darto, Vanya melangkah melewati Arya. Hak sepatunya sengaja tersangkut di tepi paving.
"Ah!"
Tubuhnya jatuh ke arah Arya.
Arya menahan lengannya dengan tangan kanan agar tidak terjatuh, lalu langsung melepaskan. Namun wajah Vanya sempat menekan bagian belakang kerah jaket lapangannya. Jari kirinya menyelipkan sehelai rambut panjang yang sudah dililitkan ke ujung kuku pada jahitan manset.
"Hati-hati," kata Arya dingin.
Vanya berdiri kembali. "Terima kasih, Mas."
Arya tidak melihat noda tipis di kerah belakangnya. Ia juga tidak melihat senyum Vanya ketika mobil mereka keluar dari kawasan rumah dinas.
***
Malam itu, foto arisan menyebar ke grup WhatsApp keluarga. Awalnya hanya ucapan selamat datang. Kemudian seseorang bertanya apakah anak yang disebut Vanya adalah putri Arya. Pesan tersebut dihapus oleh admin, tetapi tangkapan layarnya sudah masuk ke percakapan pribadi lain.
Keisha menerima dua pesan dari nomor yang baru dikenalnya.
Bu, jangan dipikirkan. Kami tahu Pak Arya orang baik.
Yang satu lagi justru lebih menusuk.
Kalau memang bukan anaknya, kenapa Vanya berani bicara begitu di depan semua orang?
Di grup utama, Bu Darto mengunggah pengumuman bahwa Arya telah menyatakan tidak memiliki hubungan biologis maupun hukum dengan Tata. Ia mengingatkan semua anggota agar tidak menyebarkan nama, foto, atau spekulasi tentang anak.
Seseorang membalas dengan permintaan maaf. Orang lain bertanya mengapa Vanya pernah bebas masuk ke kawasan rumah dinas. Pesan itu segera dihapus, tetapi tiga tangkapan layar sudah dikirim ke Keisha secara pribadi.
Keisha menyimpan semuanya dalam satu folder. Ia tidak menjawab pertanyaan atau membela rumah tangganya di grup. Klarifikasi fakta boleh dilakukan, tetapi ia menolak mengadakan sidang pernikahan di antara notifikasi arisan.
Keisha meletakkan ponsel di meja ruang tengah. Bu Yati yang sedang melipat kain melihat wajahnya dan segera duduk di dekatnya.
"Omongan di lingkungan seperti angin," katanya. "Kencang sebentar, lalu pindah."
"Kalau dibiarkan, angin bisa membawa api."
"Bu Keisha mau saya panggil Pak Arya?"
"Tidak perlu. Saya akan bicara sendiri."
Arya masuk beberapa menit kemudian. Ia melepas jaket lapangan dan menaruhnya di keranjang pakaian dekat ruang cuci, lalu kembali dengan kaus gelap.
Keisha tidak menunggu.
"Aku butuh jawaban tentang Vanya dan Tata malam ini. Bukan nanti."
Arya berhenti. "Aku sudah bilang Tata bukan anakku."
"Saya tahu apa yang bukan. Saya bertanya apa yang sebenarnya."
"Ada janji lama dan identitas anak yang sedang diverifikasi."
"Janji kepada siapa?"
"Aku belum bisa menyebutnya."
"Kenapa?"
"Karena itu menyangkut orang yang sudah meninggal dan keluarga lain."
Keisha tertawa pendek tanpa rasa lucu. "Selalu ada alasan untuk membuatku menunggu. Tugas rahasia, masa lalu, anak, orang meninggal."
"Kamu menyamakan hal yang berbeda."
"Akibatnya sama. Semua orang tahu serpihan hidupmu, sedangkan istrimu harus menebak."
Arya menarik napas. "Aku tidak ingin memberi informasi yang belum benar. Kalau identitas Tata memang dipalsukan, satu kalimat ceroboh bisa membahayakan anak itu."
"Lalu bagaimana saya harus membela diri ketika Vanya menyebutmu Papa di depan satu rumah sakit?"
"Kamu tidak perlu membela dirimu. Aku sudah membantah."
"Tentu saya perlu! Nama saya yang dibicarakan di grup. Saya yang dilihat seperti perempuan merebut ayah dari seorang anak."
Suara Keisha meninggi. Bu Yati berdiri hendak pergi, tetapi Keisha memberi isyarat agar ia tidak perlu khawatir.
Arya menurunkan nada suaranya. "Aku akan meminta klarifikasi tertulis di grup."
"Bukan hanya gosipnya. Saya ingin suami saya percaya bahwa saya cukup dewasa untuk menerima fakta."
"Dan aku ingin istriku percaya ketika aku mengatakan bukan ayahnya."
Kalimat itu menabrak bagian paling sakit di antara mereka.
"Kepercayaan bukan cek kosong, Mas Arya."
"Aku tidak meminta cek kosong."
"Kamu meminta saya menunggu tanpa batas."
Arya mengusap wajah dengan tangan kanan. "Aku meminta beberapa hari untuk memeriksa dokumen yang mungkin palsu."
"Kalau begitu katakan itu sejak awal. Katakan kamu belum tahu, bukan hanya 'nanti'."
"Aku sudah mengatakannya di rumah sakit."
"Setelah Vanya memanggilmu Papa di depan orang banyak."
Keisha menahan napas yang mulai bergetar. "Aku tidak meminta lokasi tugasmu atau nama orang yang dilindungi. Aku hanya ingin tahu apakah ada bagian masa lalumu yang bisa datang ke pintu, membawa anak, lalu menghancurkan apa yang baru mulai kita bangun."
Tatapan Arya berubah. "Apa yang baru kita bangun?"
Pertanyaan itu terlalu dekat dengan malam hujan dan kontrak yang belum diubah.
"Kamu tahu maksudku."
"Aku ingin mendengarnya darimu."
"Bukan saat kita bertengkar."
"Lalu kapan? Setiap kali kita mendekat, kamu mengingatkan satu tahun. Setiap kali aku mencoba menjaga batas, kamu bilang aku menutup pintu."
Keisha tersentak. "Jadi sekarang salah saya?"
"Aku bilang kita sama-sama takut mengatakan yang sebenarnya."
Untuk sesaat, tidak ada yang bicara. Keduanya berdiri terlalu dekat untuk menjadi orang asing dan terlalu keras kepala untuk menjadi kekasih.
Ponsel Arya berdering sebelum ia menjawab. Wajahnya berubah saat membaca pesan.
"Aku harus kembali ke area latihan. Ada perubahan evaluasi malam ini."
Keisha menatapnya tidak percaya. "Sekarang?"
"Aku bertugas di pusat kendali, bukan latihan fisik. Bahuku aman."
"Bukan bahumu yang sedang kita bicarakan."
"Aku tahu. Kita lanjutkan setelah aku pulang."
"Lagi-lagi nanti."
Arya mengambil tas. Ia sempat berhenti di depan Keisha, seolah ingin menyentuhnya, tetapi tangan itu akhirnya turun.
"Aku tidak pernah mengkhianatimu," katanya. "Jangan ragukan itu."
"Berikan saya fakta agar saya tidak perlu ragu."
Arya pergi tanpa jawaban lain.
Rumah menjadi terlalu sunyi. Bu Yati membuat teh, tetapi Keisha membiarkannya dingin. Pesan di grup terus bertambah sebelum admin menutup komentar sementara dan mengunggah pernyataan singkat bahwa informasi tentang anak tidak benar.
Keisha membaca ulang kalimat terakhir Arya sebelum pergi. Ia tidak pernah mengkhianatimu. Bagian dirinya ingin memegang pernyataan itu seperti ia memegang pelat identitas di tengah hujan. Bagian lain mengingat semua jawaban setengah dan pintu yang belum dibuka.
Ia benci bahwa cinta mulai tumbuh tepat ketika rasa aman kembali retak.
Menjelang tengah malam, Keisha memutuskan mengumpulkan pakaian kotor agar pikirannya berhenti berputar. Ia membawa keranjang ke balkon tempat lampu lebih terang.
Jaket lapangan Arya berada di bagian paling atas.
Keisha mengangkatnya dan menggoyang kain sebelum memasukkan ke mesin.
Sesuatu berkilau merah pada kerah belakang.
Noda lipstik.
Di jahitan manset kanan, sehelai rambut panjang bergelombang terlilit rapi.
Jari Keisha membeku.