NovelToon NovelToon
Bayangan Penguasa

Bayangan Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Isekai / Reinkarnasi
Popularitas:913
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Selama sepuluh tahun, Bumi diinvasi oleh monster dari "Gerbang Dimensi" (Gates). Han Do-Yoon adalah seorang Hunter Peringkat-F yang bertahan hidup sebagai kuli panggul di dalam Dungeon. Pada Hari Kiamat, saat "Dewa Luar" (Outer Gods) menghancurkan pertahanan terakhir umat manusia, Do-Yoon mengorbankan dirinya untuk melindungi artefak kuno.
​Alih-alih mati, ia terbangun sepuluh tahun di masa lalu—tepat di hari di mana sistem kebangkitan pertama kali turun ke Bumi. Namun kali ini, ia tidak membangkitkan kelas biasa. Ia mendapatkan kelas tersembunyi berperingkat Myth: Pewaris Ketiadaan. Dengan pengetahuan masa depan dan sistem absolut di tangannya, Do-Yoon bersumpah untuk mengubah nasib dunia dan membantai para Dewa yang mempermainkan umat manusia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Hutan Perangkap dan Sang Pembunuh Senyap

​Matahari pagi di hari kelima kiamat terbit dengan sinar yang terhalang awan kelabu tebal. Setelah pengumuman global dari Sistem Pusat semalam, atmosfer di bumi terasa jauh lebih berat. Tekanan dari tatapan para Rasi Bintang yang kini memiliki papan peringkat untuk dipertaruhkan membuat udara seolah mengandung kepingan timah.

​Di halaman Rumah Tahanan Seoul, rutinitas pagi Serikat Ketiadaan telah berjalan. Para tahanan pekerja sedang memperkuat barikade tembok menggunakan sisa-sisa reruntuhan beton, diawasi oleh Kang Tae-Ho yang memanggul Perisai Menara Baja Hitam-nya.

​Di blok medis, Seo Ah-In mulai merawat beberapa pekerja yang terluka saat mengumpulkan bahan bangunan. Cahaya sucinya memulihkan luka gores dan memar dalam hitungan detik, membuat wanita itu dipuja layaknya dewi oleh para narapidana.

​Han Do-Yoon berdiri di atas tembok gerbang utama, menatap ke arah barat. Yoo Ji-Ah berdiri di sampingnya, mengenakan pelindung dada dari kulit monster ringan yang baru saja dibelinya dari Toko Sistem untuk melengkapi kemejanya.

​"Kita akan meninggalkan panggung bayangan di perbatasan Incheon," ucap Do-Yoon tanpa menoleh. "Baek Hyun-Woo memiliki kelas Pemanah Bayangan Angin. Kelas itu memberikannya keahlian deteksi jarak jauh yang sangat sensitif terhadap fluktuasi sihir di udara. Terbang mendekatinya sama saja dengan menjadikan diri kita target latihan memanah berukuran raksasa."

​"Apakah dia seberbahaya itu?" tanya Ji-Ah, mengingat bahwa target mereka ini adalah orang yang menduduki peringkat dua di seluruh Korea Selatan.

​"Seorang pembunuh bayaran yang jenius tidak berbahaya karena kekuatan fisiknya, Ji-Ah. Mereka berbahaya karena kau tidak akan pernah tahu dari mana datangnya serangan yang membunuhmu," Do-Yoon menoleh, menatap gadis itu. "Hari ini, kau akan belajar bagaimana cara bertahan hidup dari serangan jarak jauh."

​Do-Yoon melompat turun dari tembok setinggi lima meter itu dengan ringan, disusul oleh Ji-Ah. Mereka mendarat di luar perisai pelindung markas, lalu mulai berlari membelah jalan raya yang sepi menuju Incheon.

​Berkat atribut kelincahan mereka yang tinggi, perjalanan yang biasanya memakan waktu satu jam dengan mobil kini bisa ditempuh dengan berlari dalam waktu kurang dari setengah jam. Mereka menghindari gerombolan monster besar dan hanya membunuh beberapa monster buas kecil yang berani menghalangi jalan.

​Saat mereka memasuki kawasan Lapangan Panahan Incheon, pemandangan di sekitar mereka berubah drastis.

​Kawasan olahraga yang dulunya tertata rapi kini telah ditumbuhi oleh vegetasi mutan. Pohon-pohon merambat berduri setebal lengan orang dewasa melilit tiang-tiang lampu dan tribun penonton. Rumput di lapangan panahan tumbuh setinggi pinggang manusia, berwarna hijau gelap dan memiliki ujung setajam silet.

​Tempat itu lebih menyerupai hutan perawan di dimensi lain daripada sebuah fasilitas olahraga.

​"Aura tempat ini... sangat sunyi," bisik Ji-Ah, tangannya secara naluriah mencengkeram gagang Pedang Panjang Besi Hitam-nya. "Aku tidak mendengar suara monster satu pun."

​"Karena mereka semua sudah mati," jawab Do-Yoon santai. Ia menunjuk ke arah tumpukan semak di sebelah kiri mereka.

​Ji-Ah menyipitkan mata. Di balik rumput tinggi itu, tergeletak puluhan mayat Orc dan Serigala Besi. Anehnya, tidak ada tanda-tanda pertarungan brutal atau tebasan pedang pada tubuh mereka. Setiap monster itu mati dengan satu lubang kecil yang menembus tepat di tengah dahi atau jantung mereka.

​Sebuah serangan mematikan yang mutlak. Akurasi yang seratus persen sempurna.

​"Dia menggunakan lingkungan ini sebagai labirin perburuannya sendiri," gumam Do-Yoon, matanya berubah kelam saat ia mengaktifkan Mata Kehampaan.

​Di matanya, hutan rumput mutan ini dipenuhi oleh garis-garis energi yang nyaris tak kasat mata. Benang-benang sihir setipis jaring laba-laba membentang di antara pepohonan, terhubung dengan bahan peledak dari kantung racun monster atau paku-paku baja berkarat yang disembunyikan di balik dedaunan.

​Satu langkah yang salah akan memicu reaksi berantai mematikan.

​Ji-Ah hendak melangkah maju menembus rumput tinggi tersebut.

​"Berhenti," perintah Do-Yoon tiba-tiba, menahan bahu gadis itu.

​Ji-Ah membeku. Sepatunya hanya berjarak satu sentimeter dari seutas benang sihir transparan yang melintang sejengkal di atas tanah. Jika Do-Yoon terlambat sedetik saja, kaki Ji-Ah pasti sudah memicu benang tersebut.

​"Perangkap sihir," ucap Ji-Ah pucat, menelan ludah. "Keahlian penglihatanku bahkan tidak mendeteksinya."

​"Keahlian matamu berbasis elemen angin, tidak bisa melihat energi manipulasi murni," Do-Yoon melangkah maju menggantikan posisi Ji-Ah. "Tetaplah berjalan tepat di bekas jejak sepatuku. Pemilik tempat ini sudah menyadari kehadiran kita sejak kita melewati gerbang depan tadi."

​Do-Yoon berjalan dengan sangat santai, mengabaikan ketegangan yang menyesakkan udara. Ia meliuk di antara pepohonan mutan, melangkahi benang-benang sihir, dan menghindari genangan lumpur beracun seolah ia sedang berjalan-jalan di taman kota.

​Di kejauhan, sekitar lima ratus meter dari posisi mereka, di atas atap tribun penonton yang tertutup rimbunnya dedaunan, sesosok pria berpakaian serba hitam sedang tengkurap.

​Pria itu adalah Baek Hyun-Woo. Target nomor empat. Sang Pemanah Bayangan Angin.

​Napas Hyun-Woo sangat teratur, nyaris tidak terdengar. Mata kirinya terpejam, sementara mata kanannya menatap melalui alat bidik dari sebuah busur panjang berwarna hitam legam yang terbuat dari tanduk monster.

​"Siapa pria berjas itu?" batin Hyun-Woo, mengernyitkan dahinya. "Dia melewati tujuh belas lapis perangkapku tanpa memicu satu pun? Apakah dia memiliki keahlian deteksi tingkat tinggi? Dan gadis di belakangnya... aliran energinya tidak bisa diremehkan."

​Sebagai orang yang telah membantai ratusan monster dan belasan Pembangkit arogan yang mencoba merampas wilayahnya, insting pembunuh Hyun-Woo sangat tajam. Pria berjas hitam di bawah sana tidak memiliki postur waspada, namun justru ketiadaan celah itulah yang membuat Hyun-Woo merinding.

​"Mari kita lihat seberapa cepat refleksmu," gumam Hyun-Woo.

​Ia menarik tali busurnya. Tidak ada anak panah fisik yang ia pasang. Alih-alih demikian, energi sihir elemen angin dan bayangan berkumpul di jemarinya, memadat menjadi sebatang anak panah hitam yang berputar layaknya bor udara.

​Keahlian Aktif: Tembakan Angin Senyap.

​Hyun-Woo melepaskan tali busurnya.

​SYUUT!

​Anak panah energi itu melesat membelah udara. Tidak ada suara desingan. Tidak ada kilatan cahaya. Serangan itu murni memanfaatkan titik buta manusia dan manipulasi aliran angin untuk menyembunyikan kehadirannya. Jarak lima ratus meter ditempuh hanya dalam waktu kurang dari satu detik.

​Targetnya: Tengkuk Han Do-Yoon.

​Di bawah, Ji-Ah yang memiliki kepekaan terhadap elemen angin tiba-tiba merasakan hawa dingin yang menusuk tulang di belakang lehernya. Instingnya menjerit.

​"Ketua! Di belakang!" teriak Ji-Ah refleks, berniat melompat untuk menangkis.

​Namun, Han Do-Yoon bahkan tidak berbalik. Ia tetap berjalan dengan tangan di dalam saku celana kirinya. Tepat ketika anak panah bayangan itu hanya berjarak lima sentimeter dari kulit lehernya, Do-Yoon mengangkat tangan kanannya ke belakang kepala dengan gerakan yang sangat kasual, seolah sedang menggaruk telinganya.

​TAP.

​Anak panah energi yang berputar dengan kecepatan bor itu... berhenti.

​Dua jari Do-Yoon—telunjuk dan jari tengah—menjepit ujung anak panah mematikan tersebut dengan sempurna. Energi Ketiadaan yang hitam pekat merembes dari jarinya, membekukan putaran anak panah itu seketika, lalu meremukkannya menjadi serpihan cahaya kelabu yang tertiup angin.

​Di atas tribun lima ratus meter jauhnya, napas Baek Hyun-Woo tercekat. Jantungnya berdetak liar.

​"Mustahil..." bisik Hyun-Woo, wajahnya memucat. "Dia... menangkap panah sihirku? Menggunakan dua jari? Dari titik buta?!"

​Seluruh arogansi yang Hyun-Woo bangun selama empat hari terakhir retak. Ini adalah pertama kalinya serangannya digagalkan dengan cara yang begitu merendahkan. Jangankan menghindar, targetnya bahkan tidak repot-repot menoleh!

​Di bawah sana, Do-Yoon akhirnya menghentikan langkahnya. Ia memutar tubuhnya perlahan, menatap lurus ke arah atap tribun yang tertutup dedaunan tebal. Meskipun jarak mereka lima ratus meter, Hyun-Woo merasa mata sekelam lubang hitam itu sedang menatap langsung ke kedalaman jiwanya.

​"Jarak bidik lima ratus meter. Tanpa suara, dan dibantu oleh pembiasan cahaya," suara bariton Do-Yoon menggema, diperkuat oleh energi sihir hingga terdengar jelas di telinga Hyun-Woo. "Untuk ukuran pemula di Tingkat 19, itu adalah tembakan yang patut dipuji."

​Do-Yoon menurunkan tangannya, menatap pria di atap itu dengan senyum mengejek yang membekukan darah.

​"Sayangnya, kau membidik orang yang salah, Baek Hyun-Woo. Jika ini adalah sambutanmu, maka izinkan aku membalas sapaanmu," ucap Do-Yoon.

​Sang Pewaris Ketiadaan merentangkan tangan kanannya ke udara kosong.

​"Keahlian: Tombak Kehampaan."

​Sebuah tombak raksasa berwarna hitam pekat, memancarkan aura kematian yang membuat udara di sekitar lapangan panahan itu mendidih, terbentuk di telapak tangan Do-Yoon.

​Melihat energi yang terkumpul di tombak tersebut, insting bertahan hidup Hyun-Woo menjerit histeris. Kematian absolut sedang mengintainya. Pembunuh bayaran itu segera membuang posisi tiarapnya, melompat turun dari atap tribun dengan kepanikan luar biasa.

​"Mati," bisik Do-Yoon santai. Ia melemparkan tombak bayangan itu ke arah tribun.

​JDAR! BOOOM!

​Tombak itu melesat layaknya komet hitam, membelah udara dengan suara ledakan sonik. Saat tombak itu menghantam atap tribun penonton tempat Hyun-Woo bersembunyi sedetik yang lalu, separuh bangunan beton itu meledak hancur berkeping-keping. Debu, pecahan batu, dan besi beton beterbangan ke udara layaknya kembang api kelabu.

​Gelombang kejutnya meratakan rerumputan mutan di seluruh lapangan.

​Hyun-Woo yang sedang melayang turun terpelanting keras akibat dorongan angin dari ledakan tersebut. Ia jatuh berguling-guling di atas tanah berdebu, busurnya terlempar dari tangannya. Ia terbatuk darah, telinganya berdenging hebat, menatap sisa-sisa tribun kokoh yang kini telah berubah menjadi kawah reruntuhan.

​Hanya satu serangan balasan dari pria itu telah menghancurkan tempat persembunyian terbaiknya.

​Jendela Sistem dari para dewa meledak dalam kegirangan.

​[Rasi Bintang 'Dewa Perang Tanpa Nama' menghentakkan kakinya dalam antusiasme! "Itu baru balasan yang pantas!"]

[Rasi Bintang 'Raja Serigala Pemakan Bangkai' melolong, menyumbangkan 5.000 Koin Emas!]

[Rasi Bintang 'Dewa Bayangan Pembunuh' menyipitkan mata, merasa kecewa dengan kecerobohan jagoannya (Baek Hyun-Woo).]

​Dari balik kepulan debu yang mulai menipis, Do-Yoon melangkah santai menghampiri Hyun-Woo yang sedang berusaha merangkak meraih busurnya. Yoo Ji-Ah berjalan tepat di belakangnya, pedangnya bersinar hijau, siap memenggal pria itu jika ada gerakan mencurigakan.

​Do-Yoon menginjak busur hitam milik Hyun-Woo sebelum tangan pria itu sempat meraihnya.

​"Apakah hanya ini kemampuan Peringkat Dua Korea Selatan yang agung itu?" tanya Do-Yoon dingin, menunduk menatap sang pembunuh yang kini berada di bawah bayang-bayangnya. "Bersembunyi di rumput tinggi dan menembakkan lidi kecil ke arah punggung orang?"

​Hyun-Woo menggertakkan giginya. Ia mendongak, wajah tampannya kini dipenuhi kotoran dan darah. Harga dirinya sebagai penembak jitu jenius tercabik-cabik. Ia menyadari satu hal yang mengerikan. Pria di hadapannya ini mungkin adalah anomali mutlak yang menduduki Peringkat Satu yang namanya disembunyikan semalam.

​"Siapa... kau?" desis Hyun-Woo, tangannya secara diam-diam meraih sebilah belati beracun di balik sepatu botnya, bersiap untuk perlawanan terakhir. "Apa maumu dariku?"

​Do-Yoon menyeringai, matanya menangkap pergerakan tangan Hyun-Woo dengan sangat jelas. Namun, ia tidak berniat menghentikannya. Ia ingin mematahkan kesombongan pria ini sepenuhnya.

1
Alia Chans
Hadir kak 💪


jangan lupa hadir juga 😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!