NovelToon NovelToon
Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Vivian Winata mengidap sindrom lapar sentuhan. Saat kambuh, tubuhnya terbakar oleh hasrat menyiksa yang hanya bisa dipadamkan oleh satu pria: Sebastian Gunawan, suami kontraknya sekaligus taipan paling dingin di Jakarta.
Setiap malam, Vivian harus memohon dalam pelukannya. Sentuhan Sebastian membuatnya gemetar, basah, dan ketagihan. Namun pria itu selalu berhenti sebelum batas terakhir, seolah menginginkannya sekaligus membencinya.
Tak tahan lagi, Vivian berniat meminta cerai. Tiba-tiba ia teringat kehidupan pertamanya.
Dahulu, kata “cerai” membuat Sebastian kehilangan kendali. Ia mengurung Vivian, memisahkannya dari keluarga, lalu menguasai tubuhnya malam demi malam sampai kematian menjemputnya.
Kini Vivian kembali ke malam yang sama.
Ia ingin melarikan diri, tetapi tubuhnya tetap membutuhkan sentuhan Sebastian untuk bertahan hidup. Semakin ia menjauh, semakin posesif pria itu mengejarnya.
Barulah Vivian menyadari kebenaran yang mengerikan.
Sebastian tidak pernah jijik menyentuhnya. Selama ini, ia hanya menahan diri agar tidak melahap Vivian sampai habis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33

Ruam Itu Bukan Alergi Kain

Kostum latihan Vivi ditemukan rusak dua puluh menit setelah geladi resik berakhir.

Tali bahu kirinya terpotong rapi. Bukan sobekan akibat tersangkut, melainkan satu garis lurus yang menembus jahitan ganda. Pengawal perempuan memotretnya di dalam loker sebelum menyentuh apa pun, lalu memasukkan pakaian itu ke kantong bukti.

“Tidak ada sidik jari yang terlihat,” katanya. “Tapi log pintu menunjukkan satu kartu staf kontrak masuk setelah Ibu kembali ke panggung.”

Regina memandang pakaian itu dengan wajah keras. “Mereka ingin kita tahu mereka masih punya akses.”

“Lucien asli tetap di rumah,” jawab Vivi. “Yang ini justru memberi kita catatan kartu.”

Ia terdengar tenang, tetapi sepanjang perjalanan pulang, satu pertanyaan lain terus bergerak di kepalanya.

Kalau pakaian latihan lama dapat disentuh orang tanpa izin, bagaimana dengan kostum-kostum yang dulu dianggap menyebabkan alergi?

***

Di kamar, Vivi berdiri di depan cermin sambil membuka arsip medis pada tablet.

Ia menemukan tiga laporan dari delapan bulan lalu. Setiap kejadian muncul setelah ia mengenakan kostum balet. Dokter keluarga lama menulis `dermatitis kontak yang tidak lazim`, memberi krim, lalu menyarankan Vivi berhenti memakai kain pertunjukan sampai pemicunya diketahui.

Foto klinis tersimpan di halaman lampiran.

Vivi memperbesar gambar pertama.

Tanda merah pada sisi leher berbentuk oval. Dua lainnya berada di bawah tulang selangka, terpisah dari garis kostum. Pada foto kedua, ada bekas gelap di paha bagian dalam, area yang justru tertutup lapisan katun dan tidak bersentuhan dengan hiasan.

Ia pernah menerima penjelasan itu tanpa bertanya. Saat itu tubuhnya lelah, kepalanya berat, dan ia hanya ingin rasa malu hilang.

Sekarang pola tersebut terlihat salah.

Vivi mengirim foto tanpa nama ke seorang dokter kulit independen melalui layanan konsultasi rumah sakit swasta. Ia juga melampirkan hasil uji bahan Lucien dan daftar kain dari kostum lama.

Balasan datang empat puluh menit kemudian.

`Dari bentuk dan perubahan warnanya, ini lebih menyerupai memar akibat tekanan atau hisapan daripada reaksi alergi. Dermatitis biasanya mengikuti area paparan, terasa gatal, dan tidak membentuk batas oval seperti ini. Pemeriksaan langsung tetap diperlukan untuk diagnosis pasti.`

Vivi meminta panggilan video singkat. Dokter itu tidak mengenal keluarga Gunawan dan hanya melihat foto yang sudah dihapus identitasnya.

“Apakah tanda seperti ini bisa muncul karena saya menggaruk saat tidur?” tanya Vivi.

“Goresan kuku biasanya linear atau menyebar,” jawab dokter. “Pada foto ini ada pembuluh kecil yang pecah dalam pola terpusat. Tekanan mulut adalah salah satu kemungkinan kuat, meski saya tidak bisa menyatakannya mutlak tanpa pemeriksaan saat tanda masih baru.”

“Kalau alergi kain?”

“Saya akan mencari kemerahan yang mengikuti garis pakaian, bentol, kulit kering, atau gatal. Lokasi pada foto kedua justru terlindungi lapisan katun. Diagnosis lama sebaiknya ditinjau ulang.”

Dokter menyarankan pemeriksaan ulang bila tanda serupa muncul, memotret perubahan warna setiap enam jam, dan tidak mengoleskan krim sebelum sampel kulit dinilai. Vivi menyimpan saran tersebut bersama tangkapan layar laporan lama.

Tablet hampir terlepas dari tangan Vivi.

Hisapan.

Ia menatap lehernya sendiri di cermin. Wajahnya perlahan memanas sampai ke telinga.

Bekas ciuman.

Kemungkinan itu begitu memalukan hingga ia ingin membantah, tetapi bukti pada layar tidak berubah. Ketiga kejadian terjadi pada malam ketika ia pulang dari latihan lalu tidur sangat lelap. Paginya, Sebastian selalu menjadi orang pertama yang memanggil dokter.

Namun curiga bukan bukti.

Vivi membuka aplikasi keamanan rumah. Riwayat akses kamar masih tersimpan selama satu tahun. Ia mencari tiga tanggal pada laporan medis.

Pada tanggal pertama, pintu kamarnya dibuka pukul 01.13 menggunakan akses Sebastian.

Tanggal kedua, pukul 00.47.

Tanggal ketiga, pukul 01.26.

Tidak ada catatan keadaan darurat. Tidak ada panggilan medis sebelum pagi.

Jantung Vivi berdetak begitu cepat hingga membuat ujung jarinya kebas.

Dalam kehidupan pertama, ia tidak pernah mengetahui apa pun tentang hal ini. Ia mati dengan keyakinan tubuhnya sendiri menolak balet. Baru sekarang, melalui foto, pendapat dokter lain, dan catatan pintu dalam kehidupan ini, rahasia itu membentuk wajah.

Sebastian masuk ke kamarnya ketika ia tidur.

Dan tanda yang disebut alergi kemungkinan besar adalah bekas bibirnya.

“Mesum,” bisik Vivi pada pantulan dirinya. “Benar-benar mesum.”

Kemarahannya nyata. Begitu pula rasa panas aneh yang bergerak di perut ketika ia mengingat ciuman mereka di Puncak dan di ruang makan.

Ciuman saat ia sadar terasa sangat berbeda dari disentuh tanpa tahu.

Perbedaan itu harus dipahami Sebastian.

***

Saat makan malam, Sebastian tampak lebih santai daripada beberapa hari terakhir. Ia minum setengah gelas anggur dan bertanya tentang geladi resik, kostum rusak, serta daftar orang yang telah diperiksa.

“Aku tidak terluka,” kata Vivi. “Kartu staf kontraknya sudah diblokir.”

“Kamu tidak keluar lagi malam ini?”

“Tidak.”

Tatapan Sebastian tertahan di wajahnya. “Besok?”

“Latihan terakhir di rumah.”

Ia mengangguk, lalu menyelesaikan anggurnya.

Vivi memperhatikan bibir pria itu menyentuh tepi gelas. Ingatan tentang foto di tablet membuatnya salah memegang sendok.

“Kenapa?” tanya Sebastian.

“Tidak ada.”

“Wajahmu merah.”

“Supnya panas.”

Supnya sudah hampir dingin.

***

Pukul sembilan, Pak Yanto datang ke kamar membawa sepotong kue red velvet.

“Dari Pak Sebastian, Bu Vivian. Katanya Ibu selalu sulit tidur setelah geladi resik.”

Vivi memandangi lapisan krim putih. Dalam kalender rumah tangga lama, pencuci mulut yang sama tercatat pada dua dari tiga malam sebelum bekas merah ditemukan.

“Apakah dibuat di dapur?”

“Ya, Bu. Bahan dan prosesnya sudah diperiksa tim keamanan.”

Jadi kue malam ini aman menurut protokol. Tetap saja, pola waktunya terlalu tepat untuk diabaikan.

“Taruh di meja, Pak Yanto. Terima kasih.”

Setelah pintu tertutup, Vivi mengambil sedikit bagian kue, memasukkannya ke wadah sampel bersih, dan meminta pengawal perempuan mengirimkannya ke laboratorium tanpa menyebut siapa pemberinya. Sisa kue dibungkus dan disimpan, bukan dibuang. Ia mengoleskan sedikit krim pada piring agar tampak sudah dimakan.

Kalau tidak ada zat apa pun, berarti dahulu ia mungkin tertidur karena kelelahan. Kalau ada, hasilnya akan menjadi bukti lain. Vivi tidak akan menuduh berdasarkan dugaan saja.

Ia membersihkan wajah, mengenakan piyama tertutup, lalu meletakkan ponsel dalam mode rekam di balik buku pada meja samping. Kamera mengarah ke tempat tidur. Pintu kamar dibiarkan tidak terkunci seperti biasa.

Vivi berbaring sambil memeluk boneka beruang. Ia memejamkan mata, tetapi seluruh tubuhnya tetap sadar.

Malam semakin sunyi.

Dari lantai bawah terdengar bunyi gelas diletakkan di atas meja.

Vivi menghitung setiap detik tanpa berani bergerak.

Beberapa menit kemudian, langkah kaki mulai menaiki tangga.

1
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!