NovelToon NovelToon
Dibuang Mertua, Ternyata Pewaris Triliunan

Dibuang Mertua, Ternyata Pewaris Triliunan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menantu Pria/matrilokal / Kaya Raya / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

Hendry Pratama, menantu keluarga Mahendra di Kota Biru, sudah tiga tahun menjadi bahan hinaan.

Mertua perempuannya, Mama Ayu, setiap hari memaki dan menuntut perceraian. Istrinya, Jessica, bersikap dingin. Satu-satunya yang menyayanginya hanyalah putri kecilnya, Daun.

Sampai suatu hari, telepon misterius mengubah segalanya.

"Pak Hendry, semua aset atas nama Anda sudah siap. Total: 576 miliar Rupiah."

Ternyata, Hendry adalah putra tunggal Hartanto Pratama — konglomerat terbesar yang pernah menguasai seluruh Asia Tenggara. Dia bukan menantu miskin. Dia adalah pewaris kerajaan bisnis triliunan.

Sekarang, semua orang yang pernah meremehkannya... akan berlutut.

"Kau pikir aku cuma sopir? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya menguasai kota ini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18: Ayah Mertua Naik Jabatan

Hadiprana sudah melewati batas.

Kalimat itu tidak hilang dari kepala Hendry sepanjang malam.

Namun ia tidak langsung menyerang.

Orang yang marah bisa memukul satu orang.

Orang yang tenang bisa merobohkan satu keluarga.

Pagi hari ke-23, Hendry menelepon Budiman Suryadi.

"Hotel Sumber Mulia masih di bawah jaringan kita?"

"Masih, Pak Hendry," jawab Budiman. "Secara operasional ada dalam portofolio PT Surya Abadi Hospitality."

"Gunawan Mahendra bekerja di sana?"

"Benar. Posisi lama: senior operations supervisor. Orangnya jujur, tapi terlalu sering ditekan oleh manajemen lama."

"Naikkan dia."

Budiman tidak bertanya kenapa.

"General Manager?"

"Ya. Pakai alasan audit kinerja. Jangan sebut namaku."

"Baik, Pak Hendry."

Hari itu juga, ruang rapat Hotel Sumber Mulia dipenuhi manajer.

Gunawan duduk di kursi tengah baris kedua, tangan di atas lutut. Ia mengira rapat itu tentang evaluasi bulanan.

Direktur regional hotel masuk bersama dua orang dari kantor pusat.

Wajah para manajer langsung berubah tegang.

"Mulai hari ini, Hotel Sumber Mulia memasuki fase perbaikan layanan," kata direktur regional. "Kantor pusat telah menilai ulang semua posisi kunci."

Beberapa orang saling pandang.

Gunawan menunduk.

Ia tidak pernah suka rapat seperti ini.

Biasanya, orang yang tidak punya suara akan menjadi sasaran paling mudah.

Direktur membuka map.

"Posisi General Manager akan diisi oleh Pak Gunawan Mahendra."

Sunyi.

Gunawan mengangkat kepala seperti tidak yakin telinganya bekerja.

"Saya?"

"Benar. Rekam kerja Bapak bersih. Keluhan tamu yang Bapak tangani memiliki tingkat penyelesaian terbaik. Mulai minggu ini, Bapak memimpin Hotel Sumber Mulia."

Salah satu manajer yang dulu sering menyuruh Gunawan lembur mendadak pucat.

Gunawan berdiri terbata.

"Saya... saya akan berusaha."

Direktur regional mengulurkan surat keputusan.

"Bukan berusaha, Pak Gunawan. Memimpin."

Sore itu, Gunawan pulang membawa map resmi.

Mama Ayu hampir tidak percaya.

"General Manager?"

Gunawan mengangguk, masih seperti orang berjalan di mimpi.

"Mereka bilang kantor pusat yang memutuskan."

Mama Ayu memandang Hendry yang sedang membantu Daun menyusun balok di ruang tengah.

Biasanya, ia akan langsung mencibir.

Hari itu, bibirnya bergerak, tetapi tidak ada kata keluar.

Hendry menatap Gunawan.

"Selamat, Pa."

Gunawan memegang map itu lebih erat.

Untuk pertama kalinya, ia menatap Hendry bukan sebagai menantu yang menumpang di rumah.

Sebagai seseorang yang mungkin selama ini berdiri terlalu rendah karena sengaja merendah.

"Terima kasih, Hendry," katanya pelan.

Hendry hanya mengangguk.

Dua hari kemudian, Jessica menerima telepon dari Bank Nasional Indonesia.

Ia sedang berada di PT Daun Kreasi, meninjau sampel kemasan baru untuk kontrak PT Surya Abadi.

"Bu Jessica Mahendra?" suara Sherly Puspita terdengar dari seberang.

"Ya, Bu Sherly."

"Kami ingin memberi kabar bahwa fasilitas kredit modal kerja untuk PT Daun Kreasi sebesar Rp 10 Miliar telah disetujui."

Jessica terdiam.

"Maaf, apa?"

"Rp 10 Miliar, Bu. Tenor dan bunga sudah kami kirim ke email. Ada dukungan penjaminan korporasi dari pihak yang memenuhi syarat, sehingga proses bisa dipercepat."

"Penjaminan korporasi?"

"Detail formalnya bisa Ibu lihat di dokumen. Secara prinsip, ini untuk mendukung ekspansi produksi Ibu."

Jessica menutup telepon setelah beberapa kali memastikan.

Ia membuka email.

Benar.

Rp 10 Miliar.

Disetujui.

Tina Larasati yang berdiri di dekat meja melihat wajahnya berubah.

"Mbak Jessica, ada apa?"

Jessica menatap layar lama.

"Kita bisa beli mesin baru."

Tina menutup mulut.

"Serius?"

"Kita bisa bayar vendor lebih cepat. Kita bisa rekrut dua desainer lagi. Kita bisa... bernapas."

Untuk pertama kali setelah berminggu-minggu, Jessica tersenyum sebagai pemilik perusahaan, bukan sebagai orang yang sedang bertahan dari serangan keluarga.

Ia mengira bank mulai percaya pada PT Daun Kreasi karena kontrak Surya Abadi.

Ia tidak tahu bahwa di balik dokumen itu, PT Timur Jaya Group berdiri sebagai penjamin senyap.

Malamnya, Hendry bertemu Kevin Saputra di sebuah ruang privat di lantai atas kafe tua dekat pelabuhan.

Tidak ada musik keras.

Tidak ada lampu pesta.

Hanya meja kayu, kopi hitam, dan peta bisnis Kota Biru di layar tablet.

Kevin meletakkan beberapa dokumen.

"Hadiprana punya tiga titik rapuh. Properti, pembiayaan jangka pendek, dan jaringan keamanan swasta mereka. Vincent membuat banyak musuh, tapi ayahnya selama ini menutupinya dengan uang."

Hendry membuka dokumen itu.

"Kamu punya dendam?"

Kevin tersenyum tanpa hangat. "Keluarga Hadiprana pernah menekan salah satu proyek Saputra. Kami menang, tapi biayanya tidak kecil."

"Jadi kamu ingin balas."

"Aku ingin keseimbangan."

"Kata yang lebih sopan."

Kevin tertawa pelan.

"Enam bulan," kata Hendry. "Aku ingin PT Megah Sentosa kehilangan pijakan dalam enam bulan."

"Dengan caramu dan dataku, bisa."

"Cynthia akan menekan dari pasar. Kamu bantu dari jaringan proyek dan informasi kredit. Aku akan buka jalur hukum dan opini saat waktunya tepat."

Kevin menatapnya.

"Kamu tidak terlihat seperti orang yang baru saja masuk ke permainan ini."

"Karena aku tidak sedang bermain."

Ruang itu menjadi sunyi.

Kevin mengangguk perlahan.

"Baik. Mulai malam ini, Saputra akan memberi akses intel bisnis yang bisa dipakai."

Hendry mengulurkan tangan.

Mereka berjabat.

Aliansi itu tidak perlu saksi.

Di saat yang sama, di rumah Nenek Ratna, arus lain bergerak.

Pak Yunan datang membawa kabar.

"Hadiprana membuka pintu kerja sama."

Pak Junaidi langsung mencondongkan badan. "Nilainya?"

"Mereka bilang bisa bantu Wirawan mendapatkan proyek sampai Rp 100 Miliar."

Mata Tante Juanita berbinar.

Mama Ayu duduk di sudut, tidak langsung bicara.

Nenek Ratna mengetukkan tongkatnya.

"Syarat?"

Pak Yunan ragu sebentar.

"Vincent Hadiprana ingin... dekat dengan Jessica."

Mama Ayu langsung mengangkat kepala.

"Jessica sudah menikah."

Pak Junaidi mencibir. "Menikah dengan siapa? Hendry? Sopir Budiman itu?"

"Dia tetap suaminya."

Ruangan menjadi tegang.

Nenek Ratna menatap Mama Ayu.

"Ayu, jangan emosional. Kita belum memutuskan."

Namun kata "belum" sudah cukup menjelaskan arah.

Beberapa anggota Wirawan mulai berbisik. Rp 100 Miliar terlalu besar untuk ditolak oleh orang yang kemarin menghina kontrak Rp 30 Miliar.

Mereka tidak tahu.

Di luar rumah itu, sebuah motor tua berhenti sebentar di bayangan pohon.

Pengendaranya tidak turun.

Ia hanya memotret plat mobil, merekam suara dari alat kecil yang tertanam sebelumnya, lalu pergi tanpa meninggalkan jejak.

Malam ke-28, Hendry duduk di ruang kerja.

Di meja ada teh hangat.

Ponselnya bergetar.

Pesan terenkripsi dari nomor tanpa nama.

Si Pisau.

Rizal Suryadi.

Hendry membuka pesan.

File audio.

Foto plat mobil Pak Yunan.

Catatan singkat:

Wirawan mulai kontak dengan Hadiprana. Kesepakatan awal: proyek Rp 100 Miliar. Syarat inti: Jessica.

Hendry menekan audio.

Suara Vincent terdengar dari rekaman yang tidak terlalu jernih, tetapi cukup jelas.

"Aku mau Jessica jadi milikku, titik."

Ruangan mendadak sangat sunyi.

Di luar, Daun tertawa kecil di ruang keluarga. Jessica sedang membantunya memilih pita untuk kelas tari pertama.

Di dalam ruang kerja, tangan Hendry menutup cangkir teh.

Retak.

Keramik putih itu pecah di telapak tangannya.

Teh panas menetes ke meja.

Hendry tidak berkedip.

Matanya dingin seperti baja.

1
Marchel
Seneng banget liat Yanto membeku seperti itu🤣🤣🤣
Marchel
Pasti Yanto punya niat terselubung
Marchel
Bagus Hendri kamu harus tegass
Marchel
Hendri mulut mertuamu lemesss bangetttt pengen aku sumpel pake baju cucian/Panic//Panic//Panic/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!