NovelToon NovelToon
Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Bima hanyalah satpam bergaji kecil di apartemen mewah Surabaya. Ia diremehkan preman, diinjak atasan, dan dipandang rendah penghuni kaya. Tak ada yang tahu, pria ini dulunya Sang Raja Serigala, pemimpin tentara bayaran legendaris, pewaris Aji Surya Candra, serta pemilik rahasia yang bisa mengguncang kota.
Kembali ke tanah air untuk menepati janji melindungi kerabat rekan seperjuangan yang gugur, Bima bersembunyi sebagai satpam dan menanggung segala hinaan. Musuhnya datang beruntun: korlap satpam, konglomerat pengirim pembunuh, hingga Padepokan Giri Wesi. Ia menumbangkan lawan di ring maut Sayembara Pedang Emas, membongkar konspirasi Kelab Arwah, dan mencapai puncak ilmu silat Manunggal.
Di sisinya berkumpul berbagai wanita: janda anggun, polisi cantik keturunan jenderal, direktur muda, dan pesilat wanita misterius. Cinta, dendam, kuasa dan rahasia saling bertaut.
Mereka memerintahnya berlutut. Bima membuat semua orang mendongak kepadanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6: Larissa Couture dan Luka Lama

"Aku mau ngomongin soal kerjaan..."

Anindya menarik napas sebelum melanjutkan. "Di kantor tempatku bekerja, posisi koordinator keamanan sedang kosong. Bukan jabatan besar, tapi gajinya hampir dua kali lipat dari tempatmu sekarang."

Bima berhenti memainkan tutup botol.

"Kak Anin pemilik perusahaannya?"

"Bukan." Anindya tertawa. "Aku cuma kepala bagian koordinasi. Pemiliknya perempuan yang jauh lebih muda dan jauh lebih kaya dariku. Namanya Vanya."

Nama itu lewat begitu saja di telinga Bima. Surabaya memiliki ribuan perempuan bernama Vanya. Tanpa nama keluarga dan hubungan lain, tidak ada alasan untuk mengaitkannya dengan pencarian yang sudah buntu selama satu setengah bulan.

"Perusahaannya?"

"Larissa Couture. Rumah mode, produksi pakaian, pemasaran, dan beberapa gerai. Kantor pusatnya di Surabaya."

Bima mengangguk perlahan. "Kenapa koordinator sebelumnya keluar?"

"Diberhentikan karena sering meninggalkan pos dan menerima uang dari pemasok untuk membiarkan kendaraan masuk tanpa pemeriksaan. Kami butuh orang yang berani, tapi juga bisa dipercaya."

"Kak Anin baru mengenal saya satu hari."

"Dalam satu hari itu kamu menyelamatkan hidupku, menjaga barang bukti, mengingatkan soal kamera, dan nggak memanfaatkan keadaan saat aku paling lemah." Anindya menatapnya langsung. "Ada orang yang bekerja bersamaku bertahun-tahun tapi belum tentu melakukan setengahnya."

Bima tidak segera menjawab. Pekerjaan baru akan memberinya penghasilan dan alasan yang lebih baik untuk tinggal di Surabaya. Yang lebih penting, posisi keamanan sebuah perusahaan memberinya akses pada pola kedatangan tamu, pengiriman, dan jaringan bisnis, tempat yang lebih masuk akal untuk mencari jejak daripada menjaga gerbang apartemen.

"Kapan mulai?"

"Besok pagi kalau kamu mau. Aku akan kenalkan ke bagian SDM dan Bu Vanya. Tetap ada pemeriksaan dokumen serta kontrak kerja. Aku hanya membuka pintunya, bukan meloloskanmu tanpa proses."

Jawaban itu membuat Bima lebih menghargainya.

"Saya datang."

"Serius?"

"Gaji dua kali lipat dan atasan yang tidak menampar bawahan. Sulit ditolak."

Anindya mengangkat botolnya. "Untuk pekerjaan baru."

Bima menyentuhkan botolnya. "Untuk koneksi orang dalam."

"Aku tarik lagi tawarannya."

"Terlambat. Sudah bersulang."

Anindya lalu menjelaskan garis besarnya. Bima tidak akan langsung memimpin puluhan orang. Tim keamanan Larissa hanya berisi delapan petugas dalam dua shift. Tugas koordinator adalah menyusun jadwal, memeriksa buku tamu dan kendaraan pemasok, menangani laporan kehilangan, serta berhubungan dengan pengelola gedung. Gaji dibayarkan resmi melalui rekening, dengan BPJS dan masa percobaan tiga bulan.

"Kalau ada masalah disiplin, Bu Vanya akan minta laporan tertulis," kata Anindya. "Dia nggak suka keputusan berdasarkan gosip."

"Kedengarannya seperti tempat yang sangat maju dibanding kantor lama saya."

"Jangan senang dulu. Bu Vanya teliti sekali. Kalau menemukan satu bagian riwayatmu yang nggak jelas, dia bisa menolak."

Bima teringat dua belas tahun kosong dalam catatan hidupnya. "Berarti saya harus tampil meyakinkan."

"Cobalah mulai dengan nggak menyebut hutan sebagai alamat tugas."

Mereka menghabiskan makanan tanpa terburu-buru. Karena masing-masing telah minum satu botol kecil dan Anindya masih kelelahan, ia memutuskan meninggalkan sedan di parkiran warung. Petugas parkir mengenalnya dan bersedia menjaga kunci cadangan sampai pagi. Anindya memesan kendaraan untuk mengambil mobil keesokan hari, lalu memilih berjalan bersama Bima menuju apartemen yang berjarak tidak terlalu jauh.

Udara malam mulai lebih ringan. Warung-warung pinggir jalan menurunkan tirai, sementara lalu lintas tinggal menyisakan motor dan beberapa taksi.

"Kalau Jarot benar-benar menahan gajimu, kamu punya uang untuk beberapa hari?" tanya Anindya.

"Masih ada."

"Kalau butuh pinjaman..."

"Terima kasih, tapi belum perlu." Bima mengatakannya tanpa tersinggung. "Saya akan menagih hak saya lewat jalur yang benar. Kalau saya langsung bergantung pada Kak Anin, nanti pekerjaan baru ini terasa seperti belas kasihan."

Anindya menatapnya sekilas. "Aku menawarkannya bukan karena kasihan."

"Saya tahu. Itu sebabnya saya menerima."

Jawaban itu membuat langkah Anindya sedikit lebih ringan.

"Besok jangan pakai kemeja putih itu," kata Anindya.

"Kenapa?"

"Bagian keamanan punya seragam sendiri. Lagi pula kalau kamu berdandan begini, pegawai perempuan bisa lupa bekerja."

"Berarti produktivitas turun bukan salah saya. Salah perekrutnya."

"Percaya diri sekali."

"Tadi Kak Anin yang bilang saya berbahaya."

Anindya menggeleng, tetapi senyumnya bertahan.

Percakapan ringan itu membuat Bima lengah. Ketika Anindya bercerita bahwa ia jarang makan di luar sejak perceraian, Bima menjawab terlalu cepat.

"Kalau saya sampai menikahi perempuan seperti Kak Anin, dibunuh pun saya nggak bakal cerai."

Langkah Anindya melambat.

Senyumnya hilang.

Bima langsung tahu ia salah.

"Kak..."

"Mudah bilang begitu kalau belum pernah menjalani pernikahan yang salah."

Nada Anindya tidak keras. Justru itu membuat kalimatnya lebih berat.

"Aku juga dulu berpikir kalau berusaha lebih sabar, lebih mengalah, lebih sempurna, semuanya akan bertahan. Ternyata ada hubungan yang makin rusak justru karena satu orang terus mengalah."

Bima menahan langkah. "Maaf. Saya bercanda di tempat yang seharusnya nggak dijadikan bahan bercanda."

Anindya memandang jalan di depan. "Aku bukan marah karena kamu menyebut cerai. Aku cuma nggak suka seolah-olah orang yang bercerai pasti kurang berjuang."

"Saya tidak berpikir begitu."

"Tapi ucapanmu terdengar begitu."

Bima menerima pukulan itu tanpa membela diri. "Benar. Saya salah bicara."

Anindya akhirnya menoleh. Mungkin ia menduga Bima akan berkelit dengan humor seperti biasa. Pengakuan tanpa alasan membuat kemarahannya kehilangan sasaran.

"Kamu sering minta maaf secepat itu?"

"Kalau jelas salah, buat apa menunggu?"

"Aneh."

"Mantan tentara yang menganggur memang banyak waktu untuk introspeksi."

Sudut bibir Anindya bergerak lagi, meski luka lama belum sepenuhnya tertutup.

Mereka sudah mendekati jalan menuju Apartemen Danau Utara ketika bayangan hitam melompat dari balik pohon.

"Wah!"

Anindya tersentak dan spontan memeluk lengan Bima dengan kedua tangan.

Bima tidak bergerak. Ia sudah mengenali napas orang itu sebelum muncul.

Doni keluar dari bayangan sambil tertawa. "Kena!"

Senyumnya lenyap ketika melihat wajah Bima.

"Kalau saya pukul, kamu baru sadar bahayanya mengejutkan orang malam-malam?"

"Ampun, Bang. Cuma bercanda." Doni mundur, lalu melirik tangan Anindya yang masih melingkari lengan Bima. "Eh... selamat malam, Kak Anin."

Anindya buru-buru melepaskan pegangan. "Selamat malam. Kamu nggak jaga pos?"

"Lagi istirahat sebentar." Doni menarik Bima dua langkah menjauh dan berbisik, "Bang Jarot punya rencana jahat. Tadi dia masuk asrama sendirian, terus menelepon orang. Aku dengar dia menyebut polisi."

Bima memandang gerbang yang tinggal puluhan meter.

"Kamu lihat dia membawa sesuatu?"

"Nggak. Tapi wajahnya serem."

"Wajahnya memang begitu. Kembali ke pos."

"Bang, serius. Jangan masuk dulu."

Bima baru hendak menjawab ketika beberapa sosok keluar dari balik gerbang. Cahaya lampu menyentuh seragam polisi, lalu wajah Jarot yang masih bengkak.

Jarot mengangkat tangan dan menunjuk lurus ke arah Bima.

"Berhenti!"

1
GEMBONG SAKTI
hilangkan penyebutan saya, pakai aku malah lebih bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!