"Bagaimana jika kau tahu rahasia kehancuran dunia, tapi kau tidak boleh memberitahu siapa pun?"
Di masa depan, Wei Changqing adalah legenda tertinggi dunia persilatan—sang Mata Pedang Hijau yang ditakuti sekaligus dihormati. Namun gelar itu tak ada artinya ketika ia berdiri di atas puing-puing dunia yang hancur oleh perang agung, memeluk jasad wanita yang setia menantinya hingga akhir hayat.
Mengorbankan seluruh tingkat latihannya, Changqing memutar balik roda waktu dan terbangun di dalam tubuh mudanya yang berusia 19 tahun. Kembali menjadi pendekar mentah yang belum memiliki reputasi apa pun.
Kali ini, tujuannya hanya satu: Mencegah perang berdarah itu terjadi dan menyelamatkan wanita yang ia cintai.
Namun, merubah takdir memiliki harga mahal. Setiap peristiwa yang ia cegah melahirkan musuh baru yang lebih mengerikan. Lebih buruk lagi, demi menyatukan sekte-sekte yang egois agar tidak saling berperang, Changqing mungkin harus menelan fitnah terbesar dalam sejarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 : Murid Luar Tanaman Obat
Ruang kerja Ketua Sekte Lembah Bambu Biru beraroma kayu cendana yang menenangkan. Di balik meja kayu yang mengkilap, duduk Guru Utama Sekte, Zhao Wuji. Pria tua berambut perak dengan tingkat kekuatan Pendekar Tinggi Tahap 4, disitu dia sedang membaca laporan tertulis misi pengawalan obat dengan saksama.
Di depannya, Wei Changqing, Zhou Hao, dan Baii Ling berdiri dengan sikap hormat.
"Laporan dari perwakilan medis di Kota Lembah Hitam sangat memuaskan," kata Guru Zhao Wuji sambil meletakkan kertas laporan ke atas meja, wajahnya tersenyum hangat. "Kalian tidak hanya tiba tepat waktu, tetapi juga berhasil menghemat anggaran perjalanan sekte. Kerja bagus, Changqing, Zhou Hao."
"Terima kasih atas bimbingan Guru," jawab Changqing dan Zhou Hao serentak.
Pandangan Guru Zhao kemudian beralih menatap gadis kecil yang berdiri tenang di samping Changqing. Mata tua sang ketua sekte menyipit.
"Dan ini... anak yatim piatu yang kalian sebutkan dalam pesan laporan?" tanya Guru Zhao.
"Benar, Guru," Changqing membungkuk satu langkah ke depan. "Namanya Baii Ling. Desa dan keluarganya hancur oleh komplotan perampok. Sesuai aturan ke empat belas sekte, murid memohon izin agar ia dapat ditampung di taman obat luar sebagai tenaga bantu merawat tanaman herbal di bawah pengawasan murid."
Guru Zhao tidak langsung menjawab. Pria tua itu perlahan bangkit dan berdiri. Tanpa peringatan, ia sekejap melepaskan gelombang tekanan hawa tenaga dalam tingkat Pendekar Tinggi yang menyapu ruangan.
Bagi orang biasa atau anak kecil, tekanan itu terasa seperti ada batu besar yang menimpakan bobot ke atas pundak mereka, cukup untuk membuat kaki lemas dan menangis ketakutan.
Namun Baii Ling, yang sudah dilatih mentalnya oleh Changqing dan telah menghafal dasar Ilmu Pernapasan Hati Es Nirwana, ia masih tetap berdiri tegak. Kedua punggung kakinya menancap kokoh ke lantai kayu. Wajahnya agak pucat menahan tekanan, tetapi kedua matanya menatap lurus ke arah Guru Zhao tanpa ada sedikit pun rasa takut.
Guru Zhao Wuji terperangah. Ia segera menarik kembali aura tekanannya, lalu tertawa lepas dengan sangat bangga.
"Hahaha! Mental yang sangat tangguh untuk seorang bocah sebelas tahun!" puji Guru Zhao dengan mata berbinar. "Dan aliran meridiannya... bersih dan rapi meskipun bukan meridian langka."
Guru Zhao sama sekali tidak menyadari keberadaan Meridian Teratai Es suci di dalam Dantian Baii Ling, karena telah disegel rapi oleh teknik tingkat Nirwana milik Changqing di perjalanan.
"Sekte kita memang bukan sekte besar yang kaya raya," lanjut Guru Zhao Wuji dengan suara ramah. "Tetapi Lembah Bambu Biru tidak pernah menutup pintu bagi jiwa muda yang memiliki keberanian dan kehormatan. Baii Ling, mulai hari ini kau resmi diterima sebagai murid luar pengelola taman obat di bawah bimbingan Wei Changqing."
Baii Ling langsung berlutut dan bersujud dengan rasa syukur yang mendalam. "Terima kasih banyak, Ketua Sekte! Baii Ling akan bekerja keras dan tidak akan mencoreng nama baik sekte!"
"Bangkitlah, anak baik," Guru Zhao tersenyum.
Setelah Zhou Hao mengajak Baii Ling keluar ruangan terlebih dahulu untuk melihat pondok baru mereka di taman obat luar, Guru Zhao menahan Changqing sebentar di dalam ruangan.
Pria tua itu berjalan mendekati jendela, menatap pegunungan timur yang mulai diselimuti senja.
"Changqing," panggil Guru Zhao dengan nada serius. "Satu bulan dari sekarang, Turnamen Konferensi Lembah Anggrek akan diselenggarakan. Itu adalah ajang berkumpulnya seluruh generasi muda dari lima sekte besar di wilayah kita."
Mendengar nama Lembah Anggrek, Changqing menahan detak jantungnya agar tetap tenang.
"Apakah sekte kita akan mengirim perwakilan, Guru?" tanyanya.
"Tentu. Kakak Seniormu, Chen Wu, akan menjadi perwakilan utama kita," jawab Guru Zhao. "Namun aku tidak ingin kita hanya bergantung pada satu orang. Selama beberapa hari ini, aku mengamati ketenangan dan kematangan sikapmu yang pesat. Aku ingin kau juga bersiap."
Guru Zhao menepuk bahu Changqing dengan penuh penekanan. "Gunakan waktu satu bulan ke depan di taman obat luar untuk mengasah tenaga dalammu. Saat ini kau berada di Pendekar Menengah Tahap 3. Jika kau rajin berlatih di bawah ketenangan taman obat, aku yakin kau bisa menembus Pendekar Menengah Tahap 4 atau 5 sebelum turnamen dimulai. Aku ingin kau mendampingi Chen Wu ke Lembah Anggrek."
"Murid mengerti, Guru. Murid akan berlatih sekuat tenaga di taman obat luar," janji Changqing tegas.
Malam harinya, di lereng bukit barat Sekte Lembah Bambu Biru.
Pondok taman obat luar dikelilingi oleh ribuan petak tanaman herbal yang memancarkan aroma segar dan energi alam yang jernih. Di salah satu kamar kayu pondok yang bersih, Baii Ling tertidur lelap di atas kasur jerami barunya sambil memeluk sepasang sepatu bot kulit pemberian Zhou Hao. Untuk pertama kalinya dalam kehidupannya yang keras, gadis kecil itu tidur dengan senyum damai di wajahnya.
Di luar pondok, Wei Changqing berdiri di bawah cahaya rembulan purnama. Pedang besi hitam kusam terikat di pinggangnya.
Ia menatap ke arah langit malam. Di dalam ingatan masa depannya, pada bulan ini, seorang bocah perempuan bernama Baii Ling disiksa di gudang bawah tanah Kota Lembah Hitam, hingga jiwanya hancur dan menjelma menjadi Iblis Wanita Darah Dingin yang kelak membantai ribuan nyawa, menjadi Akar Perang Ketiga.
Kini, bocah perempuan itu tertidur aman di dalam sektenya sebagai murid yang penuh bakti.
Akar perang ketiga telah resmi dicabut sampai ke uratnya, digantikan oleh tunas baru yang akan tumbuh menjadi pelindung dunia persilatan.
Changqing menarik napas panjang, meresapi udara malam yang damai. Langkah pertama telah selesai dengan sempurna.
lanjutkan Thor.....👍👍🙏