bagaimana rasanya jika tubuh sendiri berada ditubuh orang lain, bahkan tau-tau sudah memiliki suami dan memperebutkan warisan dua ratus triliun?
Yuk ikuti kisah Warisan dua ratus triliun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lawa Amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Pintu rumah besar itu didorong masuk tanpa ketukan. Dinda berdiri di ambang pintu
dengan lipstik merah menyala yang terlalu tebal untuk jam makan siang. Ia membawa tas branded di lengan, tapi matanya tersembunyi di balik kacamata hitam besar.
Ia melangkah masuk seolah telah memiliki seluruh lantai rumah ini. Tak ada salam. Yang ada hanya derit sepatu hak tinggi di ubin marmer.
"Kalian sibuk sekali ya sekarang," suara Dinda memecah kesunyian ruang tamu yang
dingin. Ia menarik kacamata hitamnya ke atas kepala dan menatap Nadira dari ujung kaki
ke kepala. "Aku cuma lewat, tapi lihat wajahmu. Pucat sekali. Apa kakek sudah bicara banyak sebelum pergi?"
Nadira berdiri di dekat jendela, jemarinya menggenggam erat siku sendiri hingga kuku jari memutih. Udara di ruangan itu terasa makin tipis. Ia menatap wajah Dinda yang dipenuhi senyum sinis yang dipaksakan. Senyum itu tidak mencapai mata. Dinda datang untuk menguji, bukan untuk melayat.
"Kakek sudah istirahat, Dinda," jawab Nadira.
Suaranya keluar stabil meski tenggorokannya terasa sempit. Ia berusaha menjaga napas agar tidak memburu. Dinda mendekat selangkah, tangannya melipat tas dengan gerakan cepat. Bau parfum Dinda
yang tajam mulai menyerang hidung Nadira, menyengat dan mendominasi.
"Istirahat atau sudah tidak bisa bicara?" Dinda mengeratkan pandangannya. "Ada rumor
kakek sempat memanggil notaris sebelum koma. Benar tidak? Jangan coba-coba bohong, aku bisa cek ke kantor notaris sendiri."
Nadira menatap lantai sejenak, menarik napas panjang dari hidung. Hatinya mendidih
pelan, tapi ia tidak boleh kehilangan kendali di depan sepupunya. Ia mengangkat wajah,
menatap langsung ke mata Dinda.
"Semua dokumen sudah aman. Kakek sudah mengatur semuanya dengan jelas, tanpa perlu dicampuri orang luar."
Dinda tertawa pendek, tawa yang tidak mengandung kegembiraan. Ia melangkah
mendekat hingga jaraknya hanya dua langkah dari Nadira.
"Orang luar? Nad, kita satu darah. Aku cuma ingin memastikan tidak ada pihak luar yang tiba-tiba muncul dan bawa surat wasiat palsu. Kau tahu sendiri, banyak orang tamak di luar sana."
Nadira menatap bahu Dinda yang tegak dan dagu yang terangkat. Sepupunya itu sedang
menguji sejauh mana ia bisa bertahan dalam tekanan ini. Jika ia menunjukkan sedikit pun
rasa takut, Dinda akan menghancurkannya di sini juga. Ia harus membalikkan keadaan,
menunjukkan bahwa dirinya bukanlah sosok lemah yang bisa diinjak begitu saja.
"Kalau takut pada orang tamak, sebaiknya kau periksa lingkaran pertemananmu sendiri,"
kata Nadira pelan. "Terakhir aku dengar, kau sering makan malam dengan pengacara yang suka merekayasa dokumen."
Wajah Dinda berubah dalam sepersekian detik. Senyum sinisnya mengendur, digantikan rahang yang mengeras. Ia mendiamkan Nadira selama lima detik yang terasa seperti lima menit. Lampu gantung di atas mereka seolah berkedip pelan, menciptakan bayangan tajam di wajah mereka berdua.
"Kamu mulai berani bicara, ya," desis Dinda. Ia memutar tubuh dan berjalan menuju pintu
dengan langkah kaku. Di ambang pintu, ia menoleh sebentar, matanya menyipit. "Ingat
pesanku. Kakek belum dikubur, tapi serigala sudah mulai berkeliaran di rumah ini.
Nadira menarik napas panjang, jemarinya berhenti sejenak di atas layar ponsel sebelum akhirnya menekan tombol panggil.
Senja mulai merembes ke dalam kamar, namun ia sengaja tidak menyalakan lampu agar suaranya tidak terdengar oleh siapa pun di luar sana. Ia butuh jawaban hari ini juga mengenai posisi hukum aset-aset milik keluarga itu sebelum Arga atau kerabat lain mulai mencurigai gerak-geriknya.
"Halo, Bapak Surya? Saya Nadira," ucapnya lirih, berusaha menjaga agar nadanya
terdengar setenang mungkin meski jantungnya berdegup kencang. Di seberang sana, suara pak Surya terdengar tertahan, ada keraguan yang kental saat pria itu membalas
salam.
"Clarissa? Kita belum pernah bicara sejak insiden itu. Ada apa Anda menelepon
malam-malam begini?" tanya pengacara senior itu dengan hati-hati.
Nadira menggigit bibir bawahnya, mata menatap tajam ke arah cermin rias yang memantulkan sosok wanita jahat yang sekarang ia tempati. "Saya ingin tahu perkembangan terbaru surat wasiat kakek. Status asetnya, Pak. Saya butuh kepastian hukumnya sekarang juga," desak Nadira.
Namun, alih-alih memberi jawaban, pak Surya justru terbatuk kecil, seolah sedang memilah kata-kata yang aman.
"Maaf, Nadira. Dokumen itu... statusnya masih sangat abu. Banyak pihak yang mulai
mempertanyakan kewarasannya, termasuk Arga. Jika saya memberi Anda akses
sekarang, karier saya bisa tamat," jawab pria di telepon itu datar.
Nadira mengepalkan tangan di atas meja rias hingga kuku-kuku jarinya memutih. Posisinya memang sulit, ia berada di tubuh yang dibenci, mencoba mengejar warisan dua ratus triliun yang diklaim banyak orang.
Ia harus meyakinkan orang ini tanpa terdengar seperti sedang berakting.