NovelToon NovelToon
Alesha, Gadis Absurd.

Alesha, Gadis Absurd.

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anshuu_

Arka tak pernah berniat ikut campur dengan kehidupan Alesha. Namun, karena gadis absurd itu adalah sepupu dari sahabatnya sendiri, mereka terus dipertemukan dalam berbagai keadaan. Tingkah Alesha yang tak pernah bisa ditebak sering kali membuat Arka hanya bisa menggelengkan kepala. Mulai dari masalah sepele hingga kekacauan yang menghebohkan sekolah, Alesha selalu punya cara untuk membuatnya ikut terseret. Mau tak mau, sebagai ketua OSIS, Arka harus berkali-kali turun tangan menghadapi ulah gadis yang paling sulit dipahami itu.

Siapa sangka, dari semua kekacauan tersebut, perlahan tumbuh perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14.

Kevin benar-benar mulai pusing dengan kelakuan adiknya.

Padahal Alesha baru dua hari masuk sekolah, tapi sudah ada saja cerita tentang dirinya.

Pertama, ia ketahuan tidur di taman saat jam pelajaran oleh Arka. Sekarang, ia kembali membuat masalah karena tertidur di kelas saat pelajaran sejarah.

"Kamu itu baru dua hari di sekolah ini, Les," ucap Kevin sambil menatap adiknya.

Alesha yang sedang duduk hanya tersenyum kecil.

"Iya, Kak."

"Baru dua hari."

"Iya."

"Dan sudah dua kali bikin gue dengar laporan."

Alesha langsung terdiam.

Reza yang mendengar dari samping langsung menahan tawa.

"Vin, gue rasa adik lo memang punya bakat."

Kevin menoleh datar.

"Bakat apa?"

"Menarik perhatian tanpa usaha."

Alvian ikut tertawa kecil.

Alesha hanya menggaruk kepalanya.

"Padahal gue cuma ngantuk."

Kevin langsung menghela napas.

"Itu yang bikin gue bingung. Kok bisa kamu selalu ngantuk di saat yang salah?"

Alesha tidak bisa menjawab.

Arka yang berdiri tidak jauh dari mereka hanya berkata singkat.

"Dia harus belajar mengatur waktu tidur."

Alesha langsung menatap Arka.

"Kamu juga?"

Arka mengangguk.

"Iya."

Kevin merasa sedikit lega.

Akhirnya ada yang mengerti kekhawatirannya.

Sementara Alesha hanya bisa menunduk pasrah.

"Baiklah... mulai sekarang gue akan berusaha nggak tidur di kelas."

Kevin menatapnya curiga.

"Berusaha?"

Alesha tersenyum kaku.

"Iya, berusaha."

Kevin hanya bisa menghela napas lagi.

Baru dua hari, tapi rasanya seperti sudah menghadapi banyak kejadian.

Setelah kejadian di sekolah, Alesha kini sudah berada di kamarnya.

Ia duduk di atas kasur sambil menatap jam dinding dengan wajah tidak percaya.

"Jam delapan malam..." gumamnya.

Alesha menoleh ke arah pintu kamar.

"Serius aku sudah disuruh tidur?"

Padahal biasanya jam segini ia masih sibuk melakukan banyak hal.

Beberapa menit sebelumnya, Kevin sudah datang mengingatkannya.

"Mulai sekarang tidur lebih cepat."

"Tapi Kak, ini masih jam delapan."

"Bagus. Berarti kamu punya waktu untuk tidur."

Alesha hanya bisa menghela napas mengingat perkataan kakaknya.

Sekarang ia sudah berbaring di kasur, tetapi matanya masih terbuka lebar.

"Belum ngantuk..."

Ia mengambil bantal lalu memeluknya.

"Padahal biasanya aku tidur kalau sudah capek."

Tiba-tiba terdengar suara dari sudut kamar.

"Kwek..."

Alesha langsung menoleh.

"Pingky, kamu juga belum tidur?"

Bebek putih itu hanya bergerak kecil.

Alesha tersenyum.

"Lihat, bahkan Pingky juga merasa ini terlalu cepat."

Pingky kembali bersuara.

Alesha terkekeh kecil.

Namun, ia tetap mencoba memejamkan mata.

"Baiklah... demi tidak tidur di kelas lagi."

Meski awalnya sulit, perlahan rasa kantuk mulai datang.

Tidak lama kemudian, Alesha akhirnya tertidur.

Sementara di luar kamar, Kevin yang baru saja memastikan lampu kamar adiknya sudah mati hanya bisa menghela napas lega.

"Semoga besok tidak ada laporan lagi."

Ia tidak tahu apakah usahanya berhasil, tetapi setidaknya malam ini Alesha tidur lebih awal.

Keesokan paginya, hal pertama yang Kevin lakukan adalah memastikan keadaan Alesha.

Ia sengaja mengetuk pintu kamar adiknya lebih awal.

"Les, bangun."

Tidak ada jawaban.

Kevin mengernyitkan kening.

"Jangan bilang..."

Ia membuka pintu perlahan.

Ternyata Alesha masih tertidur pulas di atas kasur, bahkan selimutnya masih menutupi hampir seluruh tubuhnya.

"Alesha."

Tidak ada reaksi.

Kevin menghela napas.

"Padahal tidur lebih cepat, masih susah bangun."

Ia menarik sedikit tirai kamar hingga cahaya pagi masuk.

Alesha akhirnya bergerak.

"Mm... lima menit lagi..."

Kevin langsung menatapnya datar.

"Kamu yang bilang mau berubah."

Mendengar itu, Alesha perlahan membuka mata.

"Oh iya..."

Ia langsung duduk.

"Aku harus sekolah."

Kevin mengangguk.

"Lima menit lagi turun."

Alesha mengangguk cepat.

"Siap."

Namun Kevin masih berdiri di depan pintu.

"Jangan tidur lagi."

Alesha langsung mengerucutkan bibir.

"Aku bukan anak kecil."

"Tapi kelakuanmu seperti anak kecil."

Alesha terdiam.

Tidak bisa membantah.

Setelah Kevin keluar, Alesha segera bersiap. Hari ini ia bertekad untuk membuktikan bahwa dirinya bisa mengikuti pelajaran tanpa tertidur lagi.

Sementara itu di sekolah, kabar tentang kejadian Alesha yang tidur di kelas masih menjadi bahan pembicaraan kecil.

"Katanya adiknya Kevin dihukum lagi kemarin?"

"Iya, tidur pas pelajaran."

Tanpa mereka sadari, Alesha yang berjalan menuju kelas mendengar percakapan itu.

Ia langsung menutup wajahnya.

"Kenapa cepat banget menyebar..."

Alesha mempercepat langkahnya menuju kelas, berharap tidak ada lagi yang membahas kejadian memalukannya.

Begitu masuk, Dinda yang sudah duduk langsung melambaikan tangan.

"Les."

Alesha menghampiri bangkunya.

"Pagi."

Dinda langsung melihat wajahnya yang sedikit lesu.

"Kenapa? Jangan bilang masih ngantuk."

Alesha langsung duduk.

"Enggak."

Dinda menyipitkan mata.

"Yakin?"

"Iya. Semalam gue tidur jam delapan."

Dinda langsung terdiam.

"Jam delapan malam?"

Alesha mengangguk.

"Iya."

Dinda menahan tawa.

"Karena Kevin?"

Alesha hanya mengangguk pasrah.

"Kakak gue mulai mengatur jadwal tidur gue."

Dinda tertawa kecil.

"Tapi bagus dong."

"Iya, bagus. Cuma rasanya aneh."

"Kenapa?"

"Biasanya jam segitu gue masih bebas."

Dinda hanya menggeleng melihat temannya.

Tak lama kemudian, guru masuk ke kelas. Semua siswa kembali ke tempat masing-masing.

Alesha langsung membuka buku dan berusaha fokus.

"Hari ini gue harus berhasil."

Ia bahkan menyiapkan air minum di meja agar tetap sadar.

Namun, sekitar tiga puluh menit kemudian...

Kelopak matanya mulai terasa berat.

Dinda yang melihat langsung panik.

"Les."

Alesha masih menatap papan tulis.

"Gue masih sadar."

Dinda menatapnya curiga.

"Jangan sampai..."

Alesha menarik napas dalam-dalam dan menegakkan tubuhnya.

Tidak.

Kali ini ia harus menang melawan rasa kantuknya.

Sementara itu, di kelas lain, Kevin tiba-tiba bersin.

Reza menoleh.

"Lo kenapa?"

Kevin menggeleng.

"Nggak tahu."

Alvian tertawa kecil.

"Jangan-jangan Alesha lagi bikin masalah."

Kevin langsung diam.

"Jangan sampai."

Di kelas, Alesha masih berusaha keras melawan rasa kantuknya.

Ia beberapa kali menggoyangkan kakinya, mengganti posisi duduk, bahkan mencatat lebih banyak dari biasanya agar tetap fokus.

Dinda yang melihat perjuangannya hanya bisa tersenyum kecil.

"Lo serius banget."

Alesha tetap menatap papan tulis.

"Gue nggak mau kak Kevin menang."

Dinda menahan tawa.

"Jadi ini tentang pembuktian?"

"Iya."

"Ternyata motivasi lo bukan nilai."

Alesha mengangguk pelan.

"Untuk sekarang, tidak tidur dulu sudah cukup."

Dinda hanya bisa menggeleng.

Beberapa menit kemudian, guru yang sedang menjelaskan materi berjalan mendekati meja mereka.

Alesha langsung duduk lebih tegak.

Untungnya kali ini ia masih berhasil bertahan.

Saat bel pergantian pelajaran berbunyi, Alesha langsung menghela napas lega.

"Berhasil."

Dinda tertawa.

"Lo kayak baru memenangkan perlombaan."

"Memang."

Sementara itu, di koridor sekolah, Kevin sedang berjalan bersama Arka, Alvian, dan Reza saat jam istirahat.

"Bagaimana adik lo hari ini?" tanya Alvian.

Kevin mengangkat bahu.

"Belum dengar laporan."

Reza tersenyum.

"Berarti ada kemajuan."

Arka yang mendengar hanya berkata singkat.

"Atau belum waktunya."

Kevin langsung menatapnya.

"Jangan kasih kemungkinan buruk."

Arka hanya diam.

Namun, tidak lama kemudian, ponsel Kevin berbunyi.

Sebuah pesan masuk dari seseorang.

Kevin membuka layar ponselnya.

Dan ekspresinya langsung berubah.

Reza penasaran.

"Kenapa?"

Kevin menunjukkan layar ponselnya.

Pesan itu berasal dari grup kelas.

"Ada yang tahu Alesha di mana? Tadi katanya keluar kelas."

Kevin langsung menghela napas.

"Jangan-jangan..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!