Katanya, cinta harus datang sebelum menikah. Tapi bagaimana jika cinta justru lahir setelah akad terucap?
Menjadi seorang PNS membuat Satria Baskara terbiasa menjalani hidup dengan aturan dan tanggung jawab. Di sisi lain, Naira Azzahra, seorang pembuat kue rumahan, percaya bahwa setiap kue memiliki resepnya sendiri.
Namun, ia tak pernah menyangka takdir justru menuliskan resep cintanya melalui sebuah perjodohan.
Tanpa proses pacaran. Tanpa janji manis. Hanya sebuah akad yang menyatukan dua hati yang sebelumnya tak saling mengenal.
Di balik sarapan hangat, bekal makan siang, dan perhatian-perhatian kecil yang awalnya terasa biasa, perlahan tumbuh perasaan yang tak mampu mereka sangkal. Namun ketika cinta akhirnya hadir, ujian demi ujian mulai mengetuk pintu rumah tangga mereka.
Akankah Satria dan Naira berhasil mempertahankan cinta yang tumbuh setelah akad? Atau justru takdir kembali menguji hati mereka, saat keduanya mulai benar-benar saling mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menata Rumah
Sesampainya di rumah setelah berbelanja bulanan, Satria segera memarkirkan motor di teras. Di ufuk barat, langit mulai berubah jingga keunguan, menandakan waktu sore yang sejuk akan segera berganti malam.
"Aku ambil yang berat saja," ucap Satria tegas namun lembut sambil mengangkat dua kantong belanja besar dari bagasi motor.
Naira menggeleng pelan, merasa tidak enak jika membiarkan suaminya membawa semua beban sendirian. "Aku juga bisa membawa yang ini, Mas."
Satria menatap tangan kecil Naira, lalu memberikan kantong yang lebih ringan. "Jangan terlalu berat."
"Baik."
Mereka pun berjalan berdampingan memasuki rumah sederhana yang perlahan mulai terasa hangat itu.
Begitu seluruh kantong belanja diletakkan di atas meja makan, Naira langsung mengambil daftar catatan yang tadi sempat ia buat di lembaran kertas kecil. "Mas, kita rapikan sekalian, ya?"
"Iya." Satria membuka simpul kantong pertama. "Nasi, minyak, sama bumbu dapur dulu."
Naira mengangguk setuju. "Kalau buah nanti aku cuci dulu sebelum dimasukkan ke kulkas."
Dengan pembagian tugas sederhana tanpa banyak perdebatan, pekerjaan yang semula menumpuk terasa jauh lebih ringan. Satria yang bertubuh tinggi mengambil peran memasukkan minyak goreng, kecap, saus, tepung, gula, dan beras ke dalam lemari dapur yang letaknya agak tinggi. Sementara itu, Naira fokus menata telur, sayuran segar, daging, dan susu ke dalam kulkas.
Setelah rak kulkas bawah selesai diatur, Naira melangkah ke wastafel dapur. Ia mengambil kantong plastik berisi buah-buahan di atas meja, lalu mulai mencucinya satu per satu di bawah air mengalir agar bersih dari debu supermarket.
Saat tangan Naira masih basah karena sibuk membilas buah, ia menoleh ke arah Satria yang kebetulan sudah menyelesaikan tugasnya di lemari dapur.
"Mas Satria, tolong bantu aku masukkan buahnya ke kulkas, ya. Tanganku masih basah," pinta Naira lembut.
Satria segera melangkah mendekat ke sisi wastafel. "Iya. Yang mana dulu?"
Naira mengambil mangkuk wadah apel yang sudah bersih, lalu menyerahkannya kepada Satria. "Apelnya taruh di rak atas saja, Mas."
Satria menerima wadah itu, lalu menaruhnya di tempat yang ditunjuk. "Sudah. Yang anggur?"
"Di sebelahnya," sahut Naira seraya menyodorkan wadah anggur yang baru selesai ia tiriskan.
"Baik."
Jemari Satria dengan telaten menata buah-buahan itu sesuai instruksi istrinya. Interaksi kecil dan kerja sama yang kompak di dapur ini membuat suasana rumah baru mereka mendadak terasa begitu hidup.
Beberapa menit kemudian, mereka berpindah ke lemari penyimpanan di lorong dekat kamar mandi untuk menata kebutuhan sanitasi. Sabun mandi, sampo, pasta gigi, deterjen, pelembut pakaian, hingga cairan pencuci piring ditata dengan rapi sebagai persediaan untuk satu bulan ke depan.
Satria menutup pintu lemari kayu itu lalu mengangguk puas. "Jauh lebih rapi."
Naira tersenyum lebar melihat kerapian di depan matanya. "Rumah jadi terasa benar-benar ditempati."
"Karena ada yang mengaturnya," sahut Satria spontan sembari menatap langsung ke dalam manik mata istrinya.
Kalimat sederhana namun sarat akan pengakuan itu seketika membuat Naira tersenyum malu. Ia buru-buru menundukkan wajahnya, menyembunyikan rona merah yang mendadak terbit di kedua pipinya.
Setelah semua barang selesai dibereskan, Satria melirik jam dinding bulat di ruang tengah. "Waktunya mandi sebelum Magrib."
"Iya, Mas." Naira mengambil pakaian ganti dan handuknya dari kamar utama. "Kalau begitu aku mandi duluan, ya."
"Silakan."
Pintu kamar mandi pun tertutup rapat. Tak lama kemudian, terdengar sayup-sayup suara gemericik air dari dalam.
Satria yang sedang duduk melepas lelah di sofa ruang tengah tanpa sengaja mendengar suara itu. Ia tertegun sejenak, lalu mengembuskan napas panjang secara perlahan. Sebagai laki-laki normal dan seorang suami yang baru beberapa hari menikah, tentu ada gejolak dan desakan naluriah yang sesekali muncul dalam hatinya ketika berada dalam situasi sedekat ini.
Namun, Satria segera menggelengkan kepala pelan. Ia mengalihkan pikirannya, mengingat kembali komitmen dan kesepakatan yang telah mereka buat untuk menjalani hubungan ini dengan perlahan, tanpa paksaan, dan saling menghormati kenyamanan masing-masing.
Satria tersenyum kecil pada dirinya sendiri, mengagumi proses kedekatan mereka yang meski lambat namun terasa sangat nyata.
“Aku sudah berjanji akan menjaga kepercayaan Naira. Aku tidak boleh terburu-buru,” batin Satria menguatkan diri.
Ia pun berdiri dari sofa. "Lebih baik aku menunggu di ruang depan saja," gumamnya pelan agar pikirannya tetap jernih.
Satria melangkah ke ruang tamu, mengambil mushaf Al-Qur'an kecil yang berada di rak kayu, lalu mulai melantunkan ayat-ayat suci dengan suara rendah sambil menunggu waktu Magrib tiba.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Naira keluar dengan pakaian rumah yang longgar, rapi, dan hijab instan yang telah dikenakannya kembali dengan sempurna. Melihat Satria yang sedang khusyuk membaca Al-Qur'an di ruang depan, seulas senyum tulus mengembang di bibir Naira.
"Mas," panggil Naira lembut.
Satria menghentikan bacaannya lalu menutup mushaf secara perlahan. "Iya?"
"Aku sudah selesai." Naira berdiri agak jauh, menatap suaminya dengan pandangan teduh. "Silakan Mas mandi. Sebentar lagi azan Magrib."
Satria mengangguk, lalu beranjak dari duduknya. "Baik." Sebelum melangkah masuk ke kamar mandi, ia sempat menoleh sejenak. "Nanti kita salat berjamaah seperti biasa."
"Iya, Mas."
Tak lama kemudian, gema azan Magrib berkumandang memecah kesunyian dari masjid yang terletak di dekat kompleks perumahan mereka. Satria yang telah selesai mandi kini sudah mengenakan baju koko putih bersih dan sarung tenunnya. Sementara itu, Naira telah menggelar dua sajadah dan menyiapkan mukenanya di ruang keluarga yang lapang.
Seperti malam-malam sebelumnya, mereka berdiri berdampingan untuk menunaikan ibadah salat Magrib berjamaah. Satria melangkah ke depan menjadi imam, memikul tanggung jawab spiritual terbesar dalam rumah tangga mereka. Sedangkan Naira berdiri beberapa langkah tepat di belakangnya sebagai makmum yang patuh.
Rumah kecil itu terasa begitu tenang dan syahdu. Tidak ada percakapan, tidak ada suara televisi, tidak ada bising dari luar. Hanya lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang dialunkan oleh Satria dengan suara baritonnya yang merdu dan penuh penghayatan, menggema memenuhi setiap sudut rumah sederhana mereka.
Bagi Satria, bisa berdiri di depan dan memimpin salat berjamaah bersama istrinya adalah salah satu nikmat luar biasa yang sejak lama ia impikan dalam kesendiriannya. Sementara bagi Naira, menatap punggung tegap suaminya dan mendengarkan setiap bacaan salat Satria membuat hatinya dipenuhi rasa aman dan syukur yang tak terhingga.
Mereka mungkin belum saling mengungkapkan kalimat cinta secara lisan. Namun setiap hari, lewat perhatian kecil, tanggung jawab yang ditunaikan, serta untaian doa yang dipanjatkan bersama dalam sujud, mereka sebenarnya sedang belajar mencintai dengan cara yang paling mulia.
Malam itu, di rumah sederhana yang dibangun dari hasil kerja keras Satria, keduanya kembali memulai malam dengan ibadah, berharap setiap jengkal langkah rumah tangga mereka selalu dipenuhi oleh keberkahan Allah.
Setelah salam terakhir diucapkan, Satria membalikkan tubuhnya menghadap sang istri. Naira bergeser maju sedikit, lalu meraih punggung tangan kanan Satria dengan takzim dan mengecupnya khusyuk. Sentuhan kulit mereka yang hangat seolah menjadi penutup yang sempurna bagi hari yang panjang. Satria menatap pucuk kepala Naira dengan pandangan yang teramat dalam, lalu mulai memimpin zikir malam mereka dengan sisa kehangatan yang menjalar di hatinya.
Bersambung....