Rania, gadis yatim piatu yang hidup bersama neneknya. Kesulitan ekonomi membuatnya terpaksa tidak melanjutkan kuliah dan membantu neneknya bekerja di rumah majikannya di kota. Kasih sayang sang majikan dengan menganggap Rania seperti cucunya bahkan membiayai kuliahnya, membuat seisi rumah perlahan membencinya. Hingga pada puncaknya ketika Tuan Haryo sang majikan terbaring sakit tak berdaya, sejak itulah penderitaan Rania dimulai. Nasib baik tak melulu berpihak pada Rania, bahkan sang kekasih yang selama ini selalu mendukungnya pun meninggalkan Rania saat hamil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon baby Fy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. "Aku Janji Bakal Jagain Kamu"
“Jadi benar apa yang dikatakan Keisha? Kamu tetap kerja di sini?!” kaki Rania lemas mendengar nada tajam dan penuh kekecewaan itu.
“Vano.” Rania bertanya pada Tuhan, mengapa akhir-akhir ini ada banyak hal yang selalu bisa membuat Rania menangis.
-
Vano menyeret Rania keluar dari ruangan itu, Rania takut akan perbedaan yang dilihatnya sekarang ini dalam diri Vano. Sedikit ia cium bau alkohol, rupanya Vano sedang mabuk.
Menyadari hal itu Rania semakin takut, terlebih sekarang Vano menyeretnya ke lantai 3 yang mana biasa digunakan oleh para pasangan melakukan hal yang dilakukan suami istri, yakni hubungan badan.
“Van, kita mau kemana? Van, lepas. Tolong!” Vano semakin mengeratkan cengkeramannya dan mempercepat seretannya pada Rania.
Rania meronta ketika Vano membuka pintu kamar dan mendorongnya masuk. Rania mulai memberontak dengan memukuli Vano.
Tentu saja tenaga Rania tidak berarti apa-apa bagi Vano, setelah mengunci pintu, Vano menghempaskan tubuh Rania ke kasur.
“Van, tolong jangan!! Sadar, Van!!!” Rania tidak mau menyerah dipukulinya dada Vano.
Plakk...
Tamparan keras itu berhasil membuat Vano menengok ke samping. Rania merasa ada kesempatan, didorong nya tubuh Vano. Namun pemuda itu tak bergeming dan masih menindih Rania.
“Jujur aku kecewa, Ran. Aku sudah memperingati, aku sudah menawarkan bantuan. Tapi kenapa pilihan kamu seperti ini?” Rania terpaku menatap iris kekecewaan yang tampak di depannya, di belainya pipi Vano.
“Maaf, Van. Aku tidak mau merepotkan kamu, tapi aku juga tidak tahu kalau keputusan aku akan menyakiti kamu. Jujur aku pun tidak tahu mengenai kontrak pekerjaan ini.” Sesal Rania, perlahan mata sayu itu mengeluarkan air mata lagi.
“Aku tahu bagaimana cara agar kamu terbebas dari kontrak sialan itu.” Vano menatap Rania yakin sembari memohon ijin.
“Dikontrak tertulis, kalau ada pelanggan yang memaksa pelayan untuk melayaninya hingga merugikan pelayan. Maka pelayan boleh mengundurkan diri dan diberikan pesangon. Dalam hal ini yang dimaksud dalam kontrak itu adalah hubungan badan.” Lanjut Vano yang membuat Rania melotot tidak percaya.
“Tidak!! Aku tidak mau!” Tegas Rania.
“Rania, kamu percaya aku kan? Sudah berapa lelaki yang menyentuh kamu? Dan sejauh apa mereka menyentuh kamu? Aku tidak tahu itu.” Vano mengingat kejadian tadi dimana tangan kurang ajar temannya menjamah tubuh Rania.
“Vano, sumpah aku-”
“Sstt. Kamu percaya kan sama aku?” Vano segera memotong ucapan Rania. Di jelajahinya wajah Rania menggunakan bibirnya.
Rania bimbang, diingatnya lagi kebaikan dan kasih sayang yang Vano berikan kepadanya. Perlahan anggukan dari Rania membawa Vano menjelajah diri Rania lebih dalam.
Mereka pun melakukan hubungan yang tak semestinya dilakukan wanita dan pria sebelum menikah.
Berulang kali Vano membawa Rania ke langit ketujuh, bahkan hingga Rania kelelahan tidak sadarkan diri, Vano masih terus memacunya hingga beberapa kali. Setelahnya, ia pun membawa Rania dalam pelukannya lalu menyusul wanita yang baru saja menyerahkan mahkotanya itu ke alam mimpi.
-
Vano memperhatikan wajah lelah namun masih terlihat cantik di sebelahnya, dielusnya pipi tirus wanita yang semalam telah memberikan hal terpenting dalam hidupnya.
Vano mengecup lama kening wanita itu, hingga membuat mata indah itu mengerjap dan terbuka.
“Enghh.” Rania berusaha mengumpulkan kesadarannya, pipinya bersemu merah mengingat kejadian semalam.
“Morning.” Vano membawa tubuh mungil Rania dalam dekapannya.
Rania semakin memanas merasakan kulit mereka bersentuhan tanpa penghalang. Teringat suatu hal Rania pun melepaskan pelukan Vano.
“Van, kalau semisal terjadi sesuatu. Ka-kamu akan tanggung jawab kan?” Tanya Rania.
Vano terdiam, dia ingat kalau semalam ia mengeluarkan berkali-kali di dalam dan tanpa menggunakan pengaman, Vano merutuki kebodohannya karena mabuk, Rania was-was melihat raut wajah Vano.
“Iya, Pasti. Aku janji bakal jagain kamu!” Jawab Vano mantap lalu tersenyum menenangkan Rania.
-
Hari semakin siang namun kedua manusia berbeda jenis itu masih menikmati suasana intim mereka, Vano seakan tak lelah mengusap kepala Rania yang bersandar di dadanya. Sedangkan Rania berusaha memejamkan mata namun hingga kini tetap terjaga.
“Van, semalam kalau tidak salah kamu menyebut nama Non Keisha.” Perkataan tiba-tiba Rania membuat tangan Vano berhenti mengusap kepala kekasihnya itu.
“Aku mau minta maaf terlebih dahulu. Jadi sewaktu kamu telepon tempo hari itu, sebenarnya aku tidak sibuk melainkan aku marah. Itu karena Keisha memberitahu bahwa kamu kerja di diskotik dengan pakaian yang minim, terlebih dia menunjukan fotomu yang sedang digoda oleh pengunjung.” Vano menjelaskan akan kegundahan hatinya panjang lebar. Rania mengehela napas lirih mendengarnya, sedih rasanya membayangkan kakak kandungnya itu begitu membencinya.
“Dan karena itu juga kamu mabuk?” Tanya Rania yang kini sudah mengangkat kepalanya guna melihat raut wajah Vano.
“Umm yah, maaf. Aku frustasi makanya aku balik ke kebiasaan buruk ku.” Vano tersenyum dengan mata memohon. Rania menggelengkan kepala melihat sikap Vano yang kekanakan.
“Jangan diulangi.”
“Iya, Mama Rania.” Jawab Vano dengan nada usil.
“Ih! Apasih, Vano!” Detik kemudian Rania tergelak karena gelitikan Vano.
-
Setelah memproses kontrak yang membuat Rania terikat sebagai pelayan di restoran itu selesai, Rania pun mengundurkan diri dari pekerjaan itu.
Meskipun melalui perdebatan alot, namun akhirnya si kepala pelayan percaya karena ada salah satu pelayan yang menjadi saksi, dan mengatakan bahwa Rania diseret paksa ke salah satu kamar oleh Vano.
Rania menghampiri mobil Vano dan masuk ke dalam menyusul Vano yang sudah lebih dulu masuk.
“Ya ampun, ternyata berbohong itu sulit.” Ungkap Rania setelah selesai memakai sabuk pengaman.
Ia mengingat kala tadi berdebat dengan kepala pelayan, bibir dan suaranya bergetar karena mengaku diperkosa padahal semalam ia sendiri yang menyerahkan kegadisannya pada Vano.
“Mau mengulang lagi? Namun kali ini secara paksa agar kau tidak berbohong.” Rania memerah membayangkannya, segera ia pukul pundak Vano yang kini tengah menjalankan mobil.
“Aku ingin membawa kamu ke rumah. Tolong, Ran. Kali ini jangan menghindar lagi.” Rania berhenti memukuli pundak Vano. Kepalanya menunduk. Jari-jarinya sibuk menarik dan memainkan ujung kaosnya.
“Tapi kan, Van. Kamu tahu status ku. Aku hanya pembantu.” Rania berbicara sangat pelan, namun masih terdengar oleh Vano.
Rania teringat saat ia berkunjung ke rumah Vano untuk pertama kalinya, sambutan yang ia terima dari mama Vano tidaklah baik.
Rania diacuhkan, dibanding-bandingkan, bahkan ketika Vano pergi ke belakang, mama Vano meminta Rania untuk menjauhi anaknya.
“Ran. Apapun hasilnya nanti, aku tetap akan memilih kamu. Ini adalah rasa tanggung jawab ku atas perbuatan kita semalam.” Rania sedikit heran dengan kata Vano, ‘apa hanya sebatas tanggung jawab?’ pikirnya. Namun pemikiran itu segera ia tepis. Rania percaya Vano mencintainya.
“Aku tidak mau menjadi alasan pertengkaran kamu dengan mama mu.” Rania tak ingin menyerah, Vano hanya bisa menghela napas pasrah.
"Aku tidak akan memohon lagi kalau begitu." Ujar Vano membuat Rania tersenyum lega, namun setelahnya kata-kata Vano membuatnya sukses menengok ke arah Vano.
"Tapi aku memaksa kamu untuk bertemu dengan mamaku sekarang."
Rate Menunggu Mu
ga sudi pake banget klw rania balik sm vano yg najisin....
yuhhh.. sudah bekasan gitu... menjijikan..