Demi menyelamatkan ayahnya dari lilitan utang, Arunika Maheswari terpaksa menggantikan kakaknya menikah dengan Arsen Valentino, seorang CEO sekaligus Raja Mafia paling berkuasa. Pernikahan yang berawal dari keterpaksaan itu membawa Arunika masuk ke dunia penuh rahasia, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan yang mengancam nyawanya setiap saat.
Di tengah bahaya yang terus mengintai, hubungan mereka perlahan berubah menjadi cinta yang tak terduga. Namun, mampukah Arunika bertahan sebagai istri sang Raja Mafia, atau justru menjadi kelemahan terbesar yang akan menghancurkan Arsen?
Disclaimer : Novel ini dibuat semata-mata untuk hiburan. Seluruh isi cerita merupakan imajinasi penulis dan tidak untuk ditiru atau dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Penulis tidak bertanggung jawab atas segala bentuk penyalahgunaan isi novel di luar tujuan sebagai bacaan hiburan.
Terima kasih dan selamat menikmati cerita. ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahrul Mulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Sisa Abu di Tanah Air
Roda jet pribadi faksi Valentino menghantam landasan pacu pangkalan militer rahasia dengan benturan keras yang bergaung di dalam kabin. Namun, guncangan fisik itu sama sekali tidak sebanding dengan hantaman horor yang baru saja merayap dari layar monitor komunikasi satelit di hadapan Marco.
Di dalam kabin yang temaram, alarm darurat masih berbunyi pendek, menyemburkan cahaya merah yang berkedip-kedip di atas berkas digital kuno tentang silsilah darah Boris Volkov. Marco, dengan tangan kanan yang bergetar hebat, mencoba menstabilkan napasnya yang mendadak terasa tercekat di tenggorokan.
"Tuan Arsen..." suara Marco nyaris berupa bisikan yang pecah. Pria tangan kanan itu membalikkan tubuhnya perlahan, menatap Arsen dan Arunika dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh perpaduan antara keputusasaan dan rasa ngeri yang amat sangat. "Pesan dari tim bayangan sektor tiga di Indonesia... Ini bukan tentang pergerakan faksi Volkov di Eropa. Ini tentang rumah lama keluarga Baskoro di desa."
Arunika, yang sejak tadi berdiri diam bagai patung porselen di samping meja kerja mahoni Arsen, mendadak merasakan firasat buruk yang luar biasa pekat menyergap dadanya. Nama 'Baskoro' atau Boris Volkov kini telah berubah menjadi lambang kutukan yang merenggut seluruh kewarasannya.
"Bicara, Marco," perintah Arsen, suaranya sedingin es musim dingin Paris, namun memiliki ketajaman yang sanggup menguliti keberanian siapa pun di dalam ruangan itu. Pria itu tidak bergeser setapak pun, namun sepasang mata elangnya menyipit tajam, mengunci fokus pada gawai tablet di tangan Marco.
"Tim bayangan kita yang dikirim untuk membersihkan sisa aset di Indonesia baru saja mendatangi gudang bawah tanah tersembunyi di belakang rumah desa tempat Nona Arunika dibesarkan," Marco menelan ludah dengan susah payah, suaranya bergetar hebat. "Boris Volkov tidak sekadar memalsukan kelumpuhannya. Di dalam gudang bawah tanah itu... mereka menemukan sebuah laboratorium medis gelap yang sudah dihancurkan sebagian. Dan di dalam salah satu inkubator kaca yang tersisa, ada sebuah berkas rekaman medis otentik yang sengaja ditinggalkan untuk Anda, Nona."
Marco menekan tombol pengiriman data, memindahkan isi berkas tersebut ke layar gawai besar di atas meja mahoni Arsen.
Sebuah dokumen digital berbahasa Rusia bercampur kode medis internasional muncul di layar, menampilkan grafik DNA dan tanggal kelahiran yang sangat spesifik. Arunika melangkah setapak lebih dekat, matanya yang kuyu dipaksa membaca deretan huruf yang buram akibat noda air. Di bagian atas dokumen itu, terdapat dua baris nama bayi yang lahir di rumah sakit yang sama, pada jam yang sama, dua puluh dua tahun lalu.
Nama pertama adalah: **VALERIA VOLKOV**.
Nama kedua adalah: **ARUNIKA VANE**.
Namun, yang membuat emosi Arunika meledak hingga ke titik tertinggi adalah grafik garis keturunan yang tertera di bawah nama mereka.
Garis merah yang menunjukkan hubungan darah murni tidak mengarah dari Katarina Vane ke Arunika, melainkan dari Katarina Vane ke... Valeria. Dan garis biru yang menunjukkan asal-usul Arunika... mengarah langsung pada sepasang nama yang membuat seluruh isi kabin jet pribadi itu mendadak kehilangan oksigen.
Arunika bukanlah anak yatim piatu yang dipungut dari jalanan seperti yang dikatakan Rangga di bunker pelabuhan. Dan dia juga bukan anak kandung Katarina Vane yang sengaja ditukar oleh Baskoro untuk menjadi perisai darah.
Dokumen otentik laboratorium Boris Volkov itu menyatakan kebenaran yang jauh lebih biadab: **Arunika adalah anak kandung dari Haryo Valentino—ayah kandung Arsen sendiri—dari hasil hubungan gelapnya dengan seorang wanita simpanan Rusia dua puluh dua tahun lalu.**
Dunia Arunika seolah-olah hancur berkeping-keping menjadi debu kelam yang tak kasat mata. Kepalanya berdengung sangat keras hingga dia terpaksa bertumpu pada tepian meja mahoni agar tidak ambruk ke lantai. Air matanya yang sempat mengering kini kembali tumpah dengan deras, membasahi kemeja sutra hitam milik Arsen yang longgar di tubuhnya.
Takdir macam apa ini? Sandiwara gila apa yang sedang dimainkan oleh para penguasa dunia bawah tanah ini?
Artinya, pria kejam yang mengurungnya di dalam mansion, pria yang mencengkeram lehernya dengan hasrat membunuh yang murni, pria yang saat ini memegang kendali penuh atas hidup dan matinya... adalah kakak tirinya sendiri. Dan pernikahan bisnis, gelar pengantin pengganti, hingga malam-malam penuh ketakutan yang dia lalui di mansion Valentino... semuanya adalah sebuah dosa inses terencana yang dirancang oleh Boris Volkov untuk menghancurkan harga diri dan nama baik dinasti Valentino di depan seluruh aliansi mafia internasional!
"Tidak... ini bohong... ini tidak mungkin!" jerit Arunika, suaranya melengking tinggi, pecah oleh histeria yang amat sangat di dalam kabin jet. Dia memukul dada bidang Arsen dengan tinju kecilnya, meluapkan seluruh kemarahan defensif, rasa jijik, dan keputusasaan yang kini menggunung di dalam dadanya. "Kau... kau adalah kakakku?! Pria yang menyiksaku, pria yang menjadikanku tawanan... kau adalah darah daging dari ayah yang sama?!"
Arsen Valentino berdiri mematung untuk pertama kalinya dalam kehidupannya yang penuh perhitungan dingin. Sepasang mata elangnya terbelalak menatap grafik DNA di layar gawai, menampilkan kecocokan mutlak sebesar 99,8% antara darahnya sendiri dengan darah Arunika.
Rahang tegasnya mengeras hingga otot-ototsnya menonjol tajam, dan pemantik perak di tangannya jatuh berdenting ke lantai, menggelinding ke sudut kegelapan.
Kemarahan purba yang tadinya ditujukan pada faksi Volkov kini mendadak berbalik menghantam batinnya sendiri. Boris Volkov benar-benar seorang arsitek iblis. Dia tidak sekadar memasang umpan palsu; dia sengaja membiarkan Arsen membawa adik kandungnya sendiri ke dalam ranjang pernikahan sebagai budak rampasan perang, hanya untuk menanti waktu yang tepat agar rahasia ini meledak dan menghancurkan mental sang raja mafia baru hingga ke titik yang paling hancur!
"Boris... bajingan keparat!" desis Arsen, suaranya bergetar hebat oleh kombinasi amarah dan rasa jijik yang luar biasa mendalam. Pria itu melangkah mundur setapak, melepaskan cengkeramannya dari bahu Arunika seolah-olah gadis itu baru saja berubah menjadi bara api yang membakar kulitnya.
Emosi di dalam kabin jet pribadi itu naik turun dengan ekstrem, menciptakan atmosfer mencekam yang sanggup membunuh siapa pun yang menyaksikannya. Arunika jatuh terduduk di atas lantai karpet jet, menangis sejadi-jadinya sambil mencengkeram dadanya yang terasa sangat sesak. Kehidupannya sebagai Arunika telah mati, identitasnya sebagai Valeria adalah kepalsuan, dan kini kenyataan bahwa dia adalah seorang Valentino justru menjadi kutukan terbesar yang mengakhiri sisa harga dirinya sebagai seorang wanita.
"Tuan Arsen..." Marco memandang kedua orang di hadapannya dengan tatapan penuh rasa iba yang amat dalam. "Helikopter evakuasi faksi Volkov yang membawa Boris dan Valeria baru saja terdeteksi memasuki wilayah udara Saint Petersburg, Rusia. Mereka sedang bersiap mengumpulkan seluruh dewan tetua faksi utara untuk mengumumkan pengalihan saham Eropa secara resmi menggunakan dokumen pernikahan dua belas tahun lalu."
Arsen menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam badai emosi yang berkecamuk di dalam kepalanya. Sebagai penguasa tertinggi dunia hitam, dia tidak boleh membiarkan kelumpuhan mental menghancurkan kerajaannya. Dosa masa lalu ayahnya adalah satu hal, namun eksistensi faksi Valentino di panggung internasional adalah hal mutlak yang harus dia pertahankan dengan nyawanya sendiri.
Pria itu berjalan mendekati Arunika yang masih terisak di lantai. Dia tidak membungkuk untuk memeluknya, tidak juga mengulurkan tangannya dengan kehangatan. Sorot mata elangnya kembali berubah menjadi sedingin es, penuh dengan perhitungan taktis yang baru.
"Berdiri, Valeria," ucap Arsen, suaranya kembali datar dan kaku, dengan sengaja tetap menggunakan nama palsu itu untuk memutus ikatan darah yang baru saja terungkap di antara mereka. "Darah Haryo Valentino yang mengalir di dalam tubuhmu adalah alasan mengapa kau harus tetap hidup untuk melihat akhir dari permainan ini. Boris Volkov mengira rahasia ini akan membuatku bertekuk lutut memohon ampunan di depan aliansi faksi barat. Dia salah besar."
Arunika mendongak dengan wajah yang kuyu dan mata yang sembap penuh luka. "Lalu apa yang akan kau lakukan padaku? Membuangku? Atau mengurungku kembali di dalam penjara bawah tanahmu?!"
"Kau akan tetap ikut denganku ke Rusia," sahut Arsen, sebuah seringai kejam penuh intrik politik kembali muncul di wajah tampannya. "Kau akan tetap memakai mahkota sebagai pengantin penggentiku di depan dewan tetua Volkov. Kita akan membiarkan Boris dan Valeria mengira bahwa kita belum membaca berkas medis dari Indonesia ini. Kita akan membiarkan mereka memainkan skenario mereka hingga ke titik puncak, sebelum aku mencabut kepala pamanmu itu tepat di depan altar pernikahan yang mereka siapkan."
Arunika menghapus sisa air matanya dengan kasar menggunakan ujung lengan kemeja hitam besar milik Arsen. Rasa sedih dan hancur di dalam dirinya perlahan mulai menguap, berganti dengan sejenis mati rasa yang luar biasa dingin.
Jika takdir telah mengutuknya untuk menjadi bagian dari dinasti berdarah Valentino, maka dia akan memastikan dirinya menjadi malaikat maut yang akan menyeret seluruh faksi Volkov masuk ke dalam neraka bersamanya.
"Bawa aku ke Rusia, Kakak," bisik Arunika, kata 'Kakak' itu diucapkannya dengan nada yang begitu sarkas dan penuh racun, membuat Marco yang mendengarnya merinding ngeri. "Mari kita lihat bagaimana reaksi Boris Volkov saat boneka tawanannya ini datang bukan untuk menangis, melainkan untuk membakar seluruh istana megahnya hingga menjadi abu."
Jet pribadi faksi Valentino kembali bergerak di landasan pacu setelah melakukan pengisian bahan bakar darurat, melesat naik menembus awan kelam menuju ke arah wilayah utara yang membeku—Saint Petersburg, Rusia. Di dalam kabin yang sunyi, Arsen dan Arunika duduk saling berhadapan tanpa ada satu pun kata yang terucap di antara mereka. Jarak di antara mereka kini terasa kian jauh namun kian terikat oleh rantai dosa masa lalu yang tak kasat mata.
Enam jam penerbangan maut berlalu dalam sunyi, hingga jet pribadi mereka mendarat di sebuah pangkalan udara militer swasta yang dikelilingi oleh hamparan salju putih yang tebal di pinggiran kota Saint Petersburg. Suhu ekstrem di bawah nol derajat langsung menyergap tubuh Arunika saat pintu kabin pesawat terbuka kasar.
Sebuah konvoi mobil SUV lapis baja hitam milik faksi aliansi barat yang setia pada Arsen sudah menunggu di tepi landasan dengan mesin yang menderu rendah, siap membawa mereka menembus badai salju menuju ke Istana Musim Dingin milik faksi Volkov, tempat pertemuan dewan tetua dunia bawah tanah sedang berlangsung.
Arunika melangkah turun dengan jubah beludru hitam tebal yang membungkus gaun sutra hitamnya yang ternoda darah. Bahu kirinya yang menyimpan stempel kepalsuan berupa tanda bulan sabit merah terasa kian kaku di bawah guyuran salju yang turun dengan lebat.
Konvoi kendaraan melaju cepat membelah jalanan aspal yang tertutup es, menuju ke sebuah kastil tua megah peninggalan era kekaisaran Rusia yang berdiri terisolasi di tepi danau yang membeku. Pengamanan di sekitar kastil itu luar biasa masif—ratusan pria berjas tebal faksi Rusia dengan senapan serbu otomatis dan anjing pelacak jenis Siberian Husky berdiri berjaga di setiap sudut gerbang besi raksasa yang dihiasi lambang kalajengking Volkov.
Pintu gerbang terbuka lambat dengan derit besi yang ngilu. Mobil SUV yang ditumpangi Arsen dan Arunika berhenti tepat di depan lobi utama kastil yang diterangi oleh obor-obor api dinding yang berkobar merah. Arsen melangkah keluar terlebih dahulu, lalu berbalik dan mengulurkan tangannya yang kokoh untuk membantu Arunika turun dari mobil. Genggaman tangan mereka kali ini terasa begitu dingin, murni sebuah formalitas bisnis tanpa ada lagi sisa kepemilikan emosional seperti sebelumnya.
Mereka melangkah masuk melewati koridor-koridor kastil yang luas, dihiasi oleh lukisan-lukisan tua para pemimpin faksi Volkov terdahulu. Suara gemuruh obrolan berbahasa Rusia dari puluhan tetua mafia yang mengenakan jubah bulu mewah bergema dari arah aula pertemuan utama di lantai dua.
Namun, tepat ketika Arsen dan Arunika menapakkan kaki mereka di anak tangga pertama menuju ke aula pertemuan, sebuah pintu rahasia di balik dinding koridor bawah mendadak terbuka dengan senyap. Sesosok pelayan pria paruh baya bertubuh bungkuk dengan pakaian pelayan khas kastil Rusia melangkah keluar, menghalangi jalur perjalanan mereka dengan kepala yang tertunduk dalam.
Di tangan kanannya yang gemetar akibat usia tua, pelayan itu memegang sebuah bungkusan kain sutra putih yang tampak ternoda oleh cairan merah segar yang masih menetes perlahan ke atas lantai marmer.
"Tuan Arsen Valentino," ucap pelayan tua itu dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata namun memiliki aksen desa yang sangat dia kenali dari masa lalunya di Jawa Tengah.
Arunika terbelalak, langkah kakinya terhenti seketika. Suara pelayan tua Rusia ini... mengapa terdengar begitu mirip dengan suara salah satu paman tetangga desanya yang dikabarkan hilang misterius sepuluh tahun lalu?
Pelayan tua itu perlahan mengangkat wajahnya, membiarkan sepasang matanya yang keruh menatap lurus ke arah Arunika dengan pandangan penuh horor, sebelum menyerahkan bungkusan sutra putih berdarah itu langsung ke dalam genggaman tangan Arunika.
"Ada... ada kiriman paket darurat dari ruang isolasi bawah tanah Indonesia yang baru saja tiba lewat jalur kurir udara faksi Volkov semenit lalu," pelayan itu menelan ludah dengan susah payah, suaranya berbisik ngeri. "Boris Volkov tidak menembak mati ibumu di Paris karena dendam, Nona... Dia menembaknya karena ibumu menyembunyikan fakta bahwa di dalam rahim Valeria yang asli saat ini... sedang mengandung anak dari darah daging Anda sendiri."
_____________________________
**Bersambung ke Bab 19...**
*Rahasia gila macam apa lagi yang tersimpan di dalam bungkusan sutra putih berdarah yang diserahkan oleh pelayan misterius dari masa lalu Arunika tersebut? Siapakah ayah kandung dari bayi yang dikandung oleh Valeria yang asli di Paris, dan bagaimana mungkin konspirasi kehamilan ini melibatkan rahasia darah terdalam dari dinasti Valentino dan faksi Volkov? Jangan lewatkan badai intrik politik dunia bawah tanah yang kian memuncak dan menghancurkan seluruh logika di bab berikutnya!*