Pria yang selama ini mereka remehkan adalah Dewa Perang yang mampu menghancurkan kerajaan dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Brum!
Suara deru mesin mobil sport mewah berwarna merah membelah jalanan kota siang itu.
Devan duduk dengan sangat santai di kursi penumpang sambil menatap keluar jendela kaca mobil.
Sementara itu Clarissa sedang fokus menyetir di sebelahnya dengan ekspresi wajah yang masih terlihat sangat dingin.
Namun jika diperhatikan lebih teliti, tangan wanita itu mencengkeram setir mobil sedikit terlalu kuat.
"Kamu tidak perlu setegang itu, bos." ucap Devan memecah keheningan yang canggung di dalam mobil.
"Pernikahan ini kan cuma di atas kertas, jadi santai saja seperti sedang menandatangani kontrak proyek biasa." lanjut Devan sambil bersedekap dada.
Clarissa menoleh sekilas ke arah Devan dengan tatapan tajam yang seolah bisa menguliti pria itu hidup-hidup.
"Tutup mulutmu, ini adalah pertama kalinya aku pergi ke kantor catatan sipil untuk menikah tahu." omel Clarissa dengan nada ketus.
"Bagiku ini adalah masalah hidup dan mati untuk mempertahankan perusahaan warisan kakekku dari incaran Keluarga Sanjaya." jelas Clarissa kembali memfokuskan pandangannya ke jalan raya.
Devan hanya mengangguk-angguk kecil menanggapi omelan bosnya itu tanpa berniat membantah lagi.
Mobil sport mewah itu akhirnya berbelok masuk ke pelataran parkir gedung kantor catatan sipil kota.
Karena Clarissa adalah seorang tokoh publik dan CEO terkenal, dia sudah menyewa jalur VIP khusus agar prosesnya selesai dalam hitungan menit tanpa perlu mengantre.
Keduanya turun dari mobil dan berjalan berdampingan memasuki gedung tersebut.
Banyak mata yang langsung tertuju pada mereka berdua, terutama karena kecantikan Clarissa yang sangat tidak masuk akal.
Namun kali ini, orang-orang juga menatap Devan dengan pandangan kagum karena pria itu terlihat sangat tampan dan berwibawa dalam balutan kemeja mahalnya.
Tidak ada satu pun yang menyangka bahwa pria menawan di sebelah CEO itu aslinya adalah seorang petugas kebersihan yang sering dihina.
Ceklek!
Pintu ruangan kepala catatan sipil ditutup rapat setelah mereka berdua masuk ke dalam.
Hanya butuh waktu kurang dari lima belas menit untuk menyelesaikan semua proses legalitas yang dibutuhkan.
Cap resmi negara akhirnya mendarat dengan mantap di atas dokumen pernikahan mereka berdua.
"Selamat, Tuan Devan dan Nyonya Clarissa, kalian sekarang sudah sah menjadi suami istri di mata hukum negara." ucap sang petugas sambil tersenyum ramah dan menyerahkan buku nikah kepada mereka.
Clarissa menerima buku nikah itu dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Terima kasih banyak atas bantuan Anda yang cepat." jawab Clarissa berusaha menjaga nada suaranya tetap profesional.
Devan menatap buku nikah berwarna merah dan hijau di atas meja itu dengan perasaan yang campur aduk.
Dulu dia menolak ratusan lamaran dari para putri bangsawan dan komandan militer wanita dari berbagai negara demi fokus pada perang.
Siapa sangka dia malah kehilangan status lajangnya di kota ini berkat seorang CEO wanita yang sedang putus asa.
Ting!
[Misi Opsional Selesai: Pernikahan kontrak dengan target Clarissa telah sah secara hukum.]
[Hadiah Diterima: Segel teknik pernapasan naga kuno terbuka sebanyak 10%.]
[Energi Yin Murni terdeteksi dalam radius satu meter, proses pemulihan energi spiritual Host mulai berjalan secara otomatis pada tingkat rendah.]
Devan tiba-tiba merasakan aliran energi yang sangat hangat dan menenangkan mengalir perlahan di dalam dada kirinya yang selama ini selalu terasa nyeri akibat luka lama.
Napasnya seketika menjadi jauh lebih ringan dan tenaganya terasa kembali terisi meski baru sedikit.
"Sistem ini ternyata tidak berbohong, wanita dingin ini benar-benar obat berjalan untuk lukaku." batin Devan sambil menatap Clarissa dengan pandangan yang jauh lebih ramah dari sebelumnya.
Clarissa yang sedang memasukkan buku nikah ke dalam tasnya tiba-tiba merasa bulu kuduknya merinding saat ditatap oleh Devan.
"Kenapa kamu menatapku dengan wajah mesum seperti itu?" tuduh Clarissa sambil memeluk tasnya erat-erat di depan dada.
"Jangan macam-macam ya, ingat isi kontrak kita, kamu tidak boleh menyentuhku secara fisik tanpa izinku." ancam Clarissa dengan pipi yang sedikit memerah.
Devan tertawa pelan dan langsung berjalan mendahului Clarissa menuju pintu keluar ruangan.
"Tenang saja istriku, aku juga sangat pemilih soal wanita kok." balas Devan dengan nada mengejek yang membuat Clarissa semakin kesal.
Sementara itu di gedung kantor Grup Rajawali, suasana sedang kacau balau seolah baru saja terkena hantaman badai topan.
Kabar tentang kepergian mendadak Bu Clarissa dan Devan si pesuruh ke kantor catatan sipil telah menyebar dengan kecepatan cahaya ke seluruh divisi.
Grup obrolan karyawan di ponsel terus berbunyi tiada henti memunculkan ribuan pesan baru setiap menitnya.
Brak!
Riko menggebrak meja kantin perusahaan dengan sangat keras hingga mangkuk soto di atasnya sedikit tumpah.
"Ini pasti berita bohong, tidak mungkin Bu Clarissa mau menikahi gembel bau seperti si Devan itu!" teriak Riko dengan wajah merah padam karena marah dan tidak terima.
Beberapa karyawan yang sedang makan siang di kantin langsung menoleh ke arah Riko.
"Tapi Pak Riko, tadi saya sendiri yang melihat Bu Clarissa menyuruh Devan masuk ke ruangannya." ucap seorang karyawan divisi keamanan.
"Bahkan sopir pribadi Bu Clarissa bilang kalau mobil bos besar kita langsung mengarah ke kantor catatan sipil lho." tambah seorang karyawan wanita dari meja sebelah.
Mendengar semua kesaksian itu, kaki Riko mendadak terasa lemas hingga dia harus kembali duduk di kursinya.
Jika berita ini benar, maka karirnya di perusahaan ini sudah dipastikan hancur berkeping-keping.
Dia baru saja menendang ember pel dan memaki suami baru CEO-nya beberapa jam yang lalu di depan umum.
Di sudut kantin yang lain, Siska duduk sendirian sambil menggigit kuku jari telunjuknya dengan sangat gelisah.
Mata wanita itu terus menatap layar ponselnya yang menampilkan gosip panas tentang mantan pacarnya tersebut.