Kanaya Adistia adalah seorang gadis desa yang super polos, lugu, dan selalu melihat dunia dengan penuh prasangka baik. hidup seorang diri di sebuah rumah tua dan tidak layak di tinggali, ayah dan ibunya telah lama meninggal dan keluarga yang lain tidak ada yang mau menampungnya. Namun, sebuah kecelakaan aneh membuat jiwanya terbangun di dalam tubuh Anaya Alysha Wicaksono, seorang siswi SMA kota yang terkenal nakal, pemberontak, dan sering membuat masalah. Di rumah, Anaya asli dikenal sebagai gadis yang sangat dingin, tertutup, dan enggan berinteraksi dengan keluarganya sendiri. Ia selalu mengurung diri di kamar, menghindari obrolan di meja makan, dan sengaja membangun benteng pembatas yang tinggi dengan orang tua serta kakaknya. Karena nama panggilan mereka sama-sama Naya, orang-orang di sekitar Anaya tidak menyadari bahwa jiwa di dalam tubuh itu telah tertukar. Lalu bagaimana kelanjutan kehidupan Kanaya Adistia setelah bertransmigrasi ke tubuh Anaya Alysa Wicaksono? Yukkk lanjut baca novelnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandhyaruntala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: BERKEBUN
Setelah kepergiaan Daddy Hendra ke kantor dan Kak Arka ke sekolah, Naya mulai merasa bosan di dalam mansion yang sangat besar ini. Jiwa Kanaya si gadis desa yang terbiasa aktif bekerja tidak bisa diam begitu saja. Saat mengintip dari jendela, matanya langsung berbinar menangkap jajaran pohon buah dan sayur-mayur yang subur di halaman belakang. Tanpa membuang waktu, Naya segera melangkah ke sana, melepas genggaman tangan ibunya, lalu berlari riang menghampiri area perkebunan.
"Mommy, look! Banyak sayuuurrr! Nay suka, Mommy!" ucapnya riang dengan suara melengking khas anak-anak.
Mommy Siska yang berjalan di belakangnya hanya bisa menggelengkan kepala melihat antusiasme putri bungsunya. Perubahan Naya benar-benar mengubah suasana mansion yang dulunya sepi dan terasa abu-abu menjadi begitu berwarna dan ramai. Ada saja tingkah laku Naya yang terkadang di luar nurul.
"Hati-hati, Sayang. Jangan lari-lari, nanti kamu ja—" Belum sempat Mommy Siska menyelesaikan ucapannya, Naya sudah terjerembab lebih dulu ke tanah.
Bugh!
Suara nyaring itu seketika mengalihkan atensi para pelayan dan tukang kebun yang berada di sana. Naya terduduk di tanah dengan lutut yang sedikit kotor. Sedetik kemudian, mata bulatnya mulai memerah dan berkaca-kaca.
(Lagian Naya aya-aya wae, ngapain sih lari-lari, Cil? Wkwkwk!)
Mommy Siska yang terkejut segera menghampiri Naya dan membantunya berdiri. "Mommy bilang juga apa, Sayang. Pelan-pelan, jangan lari-lari... kan jatuh," ucap Mommy Siska gemas sembari membersihkan debu di pakaian putrinya.
Naya menatap ibunya dengan mata yang masih berkaca-kaca. Ia merasa takut akan dimarahi karena kecerobohannya sendiri. "Sorry, Mommy..." cicitnya pelan dengan tangan yang bergerak memilin ujung baju, berusaha keras menahan tangis agar tidak pecah.
"Ya sudah, jangan menangis. Lihat, banyak Kakak pelayan di sini. Malu, ih, dilihatin tuh," tutur Mommy Siska lembut mencoba mengalihkan perhatian putrinya.
Naya mengedarkan pandangan ke sekeliling. Benar saja, seluruh pasang mata para pelayan sedang menatap ke arahnya dengan tatapan penuh gemas dan penasaran. Merasa malu karena menjadi pusat perhatian, Naya langsung memeluk erat lengan ibunya dan menyembunyikan wajahnya di balik sana. Mommy Siska yang melihat tingkah malu-malu kucing putrinya itu hanya bisa terkekeh geli. Lucu sekali, batinnya.
"Mommy... boleh ya Nay bantu Kakak-kakak itu berkebun?" pinta Naya kemudian, mendongak dengan tatapan mata bulat yang super polos.
"Boleh dong, Sayang. Tapi ingat, kalau sudah selesai, jangan lupa bersihkan badanmu, okey?" peringat Mommy Siska pada putri imutnya.
"Okey, Mommy cantik! Nay juga cantik kayak Mommy, xixi," jawab Naya riang sambil terkikik di akhir kalimatnya.
Di sisi lain, para pelayan yang sedang bekerja dibuat kebingungan dengan kedatangan nona muda mereka ke halaman belakang. Padahal dulu, boro-boro mau membantu, menginjakkan kaki di kebun belakang saja Anaya sama sekali tidak pernah mau. Menjijikkan dan kotor, katanya dulu. Tapi Anaya yang sekarang justru datang dengan wajah ceria. Dan apa katanya tadi? Mau membantu memanen sayur?
Naya berjalan mendekati para pelayan yang sedang memetik sayuran. Tanpa rasa ragu atau gengsi, gadis polos itu langsung berjongkok dan ikut membantu dengan riang.
"Kakak, Nay mau petik itu juga boleh?" tanya Naya kepada salah satu pelayan wanita di dekatnya. Ia mengerjapkan matanya lucu sambil menunjuk ke arah buah tomat merah ranum yang terlihat sangat menggoda untuk dipetik.
Pelayan yang ditanya seketika mengangguk kaku karena terpesona. "B-boleh, Nona Muda," ucapnya ramah, tak tahan untuk tidak tersenyum melihat nona mudanya yang sungguh menggemaskan.
"Woahh, tomatnya merah-merah kayak pipi Nay, xixi," celoteh Naya riang sembari memetik tomat itu dengan hati-hati. Saat jemari kecilnya bergerak, mata bulatnya kembali mengedar melihat tanaman lain di sekitarnya.
"Woahh, ada buah redberry! Ada blueberry juga! Wah, Kakak, look... ada buah strawberry jugaaa!" hebohnya dengan suara nyaring saat melihat deretan buah beri yang bergelantungan.
Naya yang terlalu antusias langsung berlari ke sana kemari untuk memetik berbagai macam buah. Celotehannya yang takjub melihat buah-buahan segar itu membuat para pelayan yang memperhatikannya terkekeh geli. Nona muda kita benar-benar aktif sekarang, pikir mereka hangat.
Jujur saja, semua pelayan di halaman belakang benar-benar dibuat terpesona oleh sikap baru Anaya. Selain penampilannya yang menjadi semakin imut, tingkah lakunya juga berubah drastis dari yang dulunya dingin dan angkuh menjadi sangat sopan dan ceria. Mereka semua sangat bersyukur atas mukjizat kesembuhan nona muda mereka.
...****************...
Waktu sudah menunjukkan hampir jam dua belas siang, tetapi Naya masih saja asyik memetik beberapa strawberry ranum yang memang sudah waktunya dipanen. Melihat sang nona muda yang belum ada tanda-tanda ingin berhenti, seorang pelayan akhirnya menghampiri dan mengajaknya kembali ke dalam rumah.
"Nona Muda, mari kita kembali ke dalam. Ini sudah hampir memasuki waktu makan siang," ucap pelayan tersebut dengan nada selembut mungkin.
Naya yang mendengarnya langsung menoleh cepat. "Makan?" tanyanya sambil memiringkan kepala lucu. Sungguh, tingkat keimutan gadis ini sudah berada di level maksimal, membuat sang pelayan menjerit gemas di dalam hati.
"Iya, Nona. Sudah waktunya makan siang," jawab pelayan itu lagi.
Naya pun bergegas berdiri, lalu tanpa ragu langsung menggandeng erat tangan pelayan tersebut.
"Ayo, Kakak! Nay mau makan. Nanti ayamnya habis dimakan sama Abang!" ucapnya polos lalu menarik lembut tangan sang pelayan menuju mansion.
Pelayan yang tangannya digandeng tiba-tiba oleh Naya seketika langsung salah tingkah dan membeku. Oh Tuhan, tanganku digandeng makhluk seimut ini! Kuatkan hamba, Tuhan! lebay sang pelayan dalam hati dengan wajah memerah menahan gemas.
Menang banyak nih si Mbak pelayan! Author juga mau dong digandeng Naya... :’(
...----------------...
Setelah membersihkan diri dari sisa-sisa tanah kebun dan berganti pakaian yang bersih, Naya berlari riang menuruni tangga dengan sebuah keranjang penuh buah beri di tangannya. Begitu melihat sosok ibunya berada di area dapur yang menyatu dengan lantai satu, Naya langsung berteriak heboh tanpa memperhatikan situasi sekitar.
"Mommyyyyy! Look, Mommy!" teriak Naya sambil berlari cepat, sama sekali tidak menyadari keberadaan beberapa orang tamu yang sedang duduk di sofa ruang tamu luas mansion tersebut.
Mommy Siska yang mendengar teriakan itu menoleh dan tersenyum lebar. "Wahhh... banyak sekali buahnya, Sayang."
"Mommy, Nay panen banyak buah, Mommy! Lihat, ini semua Nay yang petik sendiri... Nay hebat, kan?" celoteh Naya dengan dada membusung bangga, meminta pujian pada sang ibu.
"Iya, anak Mommy memang hebat sekali. Cantik lagi," seloroh Mommy Siska sengaja menggoda putrinya yang sangat mudah tersipu itu. Dan benar saja, Naya yang digoda langsung menundukkan kepala dengan pipi yang mendadak merona merah. Sungguh pemandangan yang luar biasa lucu.
Namun, di balik kehangatan interaksi ibu dan anak itu, suasana di ruang tamu mendadak sunyi senyap bagai kuburan.
Beberapa pemuda yang sedang duduk di sana—yang tak lain adalah Kak Arka bersama geng OSIS-nya: Devan, Gavin, Bintang, dan Reno—seketika langsung mematung di tempat. Mereka tercengang memandangi sosok Naya yang... err, luar biasa menggemaskan dengan pakaian santai dan rambut yang bergerak mengikuti langkahnya.
"Ka... itu beneran Anaya?" bisik Bintang dengan mata membelalak syok, menyenggol lengan Arka.
Arka hanya bisa menghela napas pelan lalu menjawab dengan deheman singkat,
"Hmm."
"Anjir, imut banget! Ah, jadi pengen punya dedek gemas kayak dia," sahut Reno heboh dengan suara berbisik yang tertahan.
"Mau banget nih gue sama dia kalau bentukannya begini. Sumpah, gemes banget beneran!" lanjut Reno lagi. Memang bocah tengil satu ini tidak bisa diam jika melihat hal-hal yang lucu.
"Jaga mata lo, Ren!" ucap Arka sebal dengan dahi berkerut, menatap tajam ke arah sahabatnya yang mulai melantur. Reno yang ditatap ketakutan hanya bisa terkekeh pelan membalasnya.
"Hehe, peace, Ka. Lagian kok bisa dia berubah drastis gitu, sih?" tanya Reno lagi penasaran. Arka tidak menjawab dan hanya merespons dengan mengedikkan kedua bahunya pasrah.
Sementara itu, Devan —sang Ketua OSIS yang sejak tadi duduk tegak dengan aura dinginnya—hanya terdiam membeku. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah Naya yang masih asyik mengobrol dengan ibunya di dekat dapur. Otak perfeksionis Devan langsung dipenuhi oleh puluhan pertanyaan. Ke mana perginya Anaya si pembuat masalah yang selalu menatap orang lain dengan pandangan sinis dan penuh kebencian? Kenapa gadis di sana tampak seperti orang yang sepenuhnya berbeda?
Menepis semua rasa penasaran dan kebingungan yang mendadak mengusik pikirannya, Devan mengalihkan pandangan dengan cepat. Ia kembali memasang wajah datar tanpa ekspresi dan memfokuskan atensinya pada layar ponsel di tangannya, berpura-pura tidak peduli. Walau dalam hati, ada sedikit debaran aneh yang tak kasatmata saat melihat senyuman tulus gadis polos itu.
...****************...
Di sisi Arka, yang sejak tadi memperhatikan adiknya mulai merecoki sang ibu yang sedang menyiapkan makan siang, akhirnya memutuskan untuk memanggil si bungsu.
"Adek, sini deh. Ada teman-teman Abang nih yang mau kenalan sama Naya!" teriak Arka dari ruang tengah.
Naya yang mendengar namanya dipanggil pun sontak menoleh. Lalu, dengan langkah-langkah kecil yang riang, ia berjalan menuju ke ruang tengah. Naya datang masih dengan mendekap keranjang kecil berisi buah beri di tangannya. Begitu sampai di depan abangnya, ia menatap dengan pandangan lucu seakan penuh tanda tanya.
"Why Abang panggil-panggil Naya?" ucapnya penuh tanya dengan mata bulat yang cerah itu.
Arka lantas menepuk sofa kosong di sampingnya agar sang adik duduk. Naya pun menurut dan mendudukkan dirinya di samping sang abang. Dengan gerakan lembut, Arka mengelus rambut halus Naya.
"Adek, ini teman-teman Abang. Ayo kenalan dulu," ajaknya pada sang adik.
Dengan mata bulatnya yang lucu, Naya memandang orang-orang yang ada di sana satu per satu, lalu berucap dengan suara cempreng khas anak kecilnya. "Halo Abang-abang ganteng, nama Naya itu Anaya... eumm..."
Naya mendadak diam sebelum melanjutkan ucapannya. "Anaya apa yah?" ucapnya lagi sambil mengetuk-ngetuk dagunya lucu, tampak berpikir keras. "Abang, nama Anaya itu Anaya apa yah?" tanyanya kemudian pada Arka.
Arka yang melihat adiknya sampai lupa nama panjangnya sendiri hanya bisa terkekeh geli. "Anaya Alysha Wicaksono, Sayang," jawab Arka lembut sambil kembali mengelus rambut adiknya itu.
"Ahaaa! Iya, nama Nay itu Anaya Alysha Wicaksono, xixi," ucapnya lagi dengan cekikikan riang.
Orang-orang di depannya hanya mampu menahan gemas setengah mati agar tidak nekat mencubit pipi gembul milik Naya di depan pawang galaknya itu.
"Halo manis, nama Abang Reno. Orang paling ganteng di antara mereka semua," ucap Reno percaya diri dengan gaya tengil khasnya. Naya hanya mengangguk-angguk polos mengiyakan.
"Hai, gue Bintang," ucap Bintang singkat namun ramah.
"Hai Naya, gue Gavin," sahut Gavin tak kalah ramah.
Naya kembali mengangguk lalu mulai mengabsen mereka. "Abang Reno, Abang Bintang, Abang Gavin," tunjuknya satu per satu dengan tangan mungilnya. Lalu, tatapan bulatnya beralih kepada Devan yang sedari tadi masih diam membisu.
"Kalau Abang ganteng itu namanya siapa?" tunjuk Naya tepat ke arah Devan.
Melihat jari mungil Naya menunjuk ke arahnya, Devan lalu mengalihkan pandangannya dari ponsel. Ia beralih menatap Naya dengan mata elangnya yang tajam. Bukannya takut, Naya yang melihat ketampanan Devan dari dekat justru menjadi heboh sendiri.
"Woahhh, Abang ganteng! Naya suka!" celetuk Naya spontan, membuat Devan langsung terpaku menatap manik mata polos milik gadis itu.
Deg!
Seketika jantung Devan berdegup kencang secara tidak wajar. Ia benar-benar terpaku melihat sepasang mata bulat Naya yang memancarkan binar ceria, dipadukan dengan wajah mungil dengan pipi bulat kemerahan, serta bibir tipis yang merah alami semerah ceri. Kulit putih mulusnya menambah kesan cantik dan imut secara bersamaan dengan rambut cokelatnya yang tergerai indah.
Kenapa Anaya yang dulu dia kenal begitu arogan dan ketus, sekarang bisa berubah menjadi gadis seimut dan sepolos ini? pikir Devan heran. Sebenarnya semua teman Arka sudah tahu kalau Anaya mengalami amnesia pasca-kecelakaan, maka dari itu mereka sengaja mengenalkan diri lagi. Namun, Devan tidak menyangka perubahannya akan se-ekstrem ini.
Devan yang masih terpaku dibuat tersadar saat Naya kembali berbicara dengan nada kecewa.
"Abang gantengnya nggak bisa dengar ya, Abang? Masa Anaya tanya tidak dijawab," ucap Naya dengan wajah cemberutnya yang luar biasa lucu, mengadu pada Arka.
Seketika Reno, Bintang, dan Gavin langsung memalingkan wajah, menggigit bibir menahan gemas mati-matian agar tidak nekat membawa kabur anak orang hari itu juga.
‘Gila, ni degem bahaya banget pesonanya!’ ucap Reno menjerit dalam hati.
‘Gak kuat, pengen gue karungin aja rasanya!’ teriak batin Bintang tak mau kalah.
‘Ini kenapa Anaya bisa jadi segemes ini sih, astaga?!’ Gavin pun ikut membatin frustrasi.
Devan berdehem pelan untuk menetralkan detak jantungnya yang tiba-tiba menggila hanya karena menatap mata bulat Naya. "Ekhemm. Gue... Devan," ucapnya dengan nada sedatar mungkin, berusaha keras menyembunyikan rasa malu dan gemas yang berkecamuk di dadanya.
Naya yang mendengar jawaban itu langsung menoleh lagi, lalu melihat lekat-lekat ke arah wajah Devan. Mata bulatnya meneliti garis wajah sang Ketua OSIS.
"Abang, look! Abang Devan sick, Abang! Mukanya merah seperti tomat!" ucap Naya tiba-tiba dengan wajah panik.
Tanpa aba-aba, Naya langsung maju selangkah ke hadapan Devan, lalu menempelkan telapak tangan mungilnya yang terasa hangat tepat di kening Devan untuk mengecek suhunya.
Deg!
Devan yang menerima serangan dadakan dari Naya seketika langsung tertegun dan mematung di tempat. Sentuhan lembut di keningnya terasa seperti sengatan listrik ringan yang membuat seluruh tubuhnya kaku. Napas Devan bahkan tertahan saat wajah polos Naya berada tepat beberapa sentimeter saja di depan wajahnya.
"Loh, badannya ndak panas kok, Abang. Tapi kenapa mukanya merah sekali ya?" gumam Naya polos dengan dahi berkerut, masih setia menempelkan tangannya di jidat Devan tanpa menyadari kalau cowok itu sudah hampir terkena serangan jantung karena salah tingkah.
Sementara itu, di sekeliling mereka, suasana ruang tengah seketika mendadak hening. Reno, Bintang, dan Gavin melotot sempurna menyaksikan pemandangan langka di depan mata mereka. Seorang Devan Alvaro Pradipta—sang es balok berjalan yang paling anti disentuh oleh perempuan—kini pasrah dan wajahnya semakin memerah padam akibat sentuhan seorang gadis polos.
Arka yang melihat tangan adiknya bertengger di jidat cowok lain langsung berdiri dari sofa dengan mata yang menyipit tajam, bersiap menarik adiknya mundur. Namun, sebelum Arka sempat bergerak, Devan tiba-tiba mencengkeram pelan pergelangan tangan mungil Naya, menurunkannya dari keningnya dengan napas yang memburu.
Pandangan mata mereka kembali mengunci di udara. Sesuatu yang asing mulai merayap di hati Devan, sementara Naya hanya bisa mengerjapkan matanya bingung, sama sekali tidak tahu bahwa tindakan polosnya baru saja menyalakan sebuah bom waktu di dalam dada sang Ketua OSIS.
(Waduh Devan! Baru pertemuan pertama di rumah udah dibikin jantungan sama Naya wkwkwk! Gimana nanti kalau sudah di sekolah ya? Author gak sabar nulisnya!)
# HAI GUYSSS ✨#
GIMANA NIH CERITA DI BAB LIMA..
PASTI SERU BANGET KAN!!
STAY TUNE TERUS SETIAP JAM 19.00 YA GUYS. KARNA BAB BARU AKAN UP SETIAP JAM 19.00😙
JANGAN LUPA YAAA
LIKE 👍🏻 DAN KOMENNYA 💬, KARNA DUKUNGAN KALIAN SANGAT BERARTI DAN BUAT AKU SEMANGAT BERKARYA.
THANK YOU SUDAH MAMPIR DI KARYA KU🥰🫶
udah bikin satu kelas mikir berjamaah dianya malah anteng anteng aja🤭
Jangan lupa like, komen dan klik favorit yaa🥰
HAPPY READING & HOPE YOU ENJOY GUYSSS💜