NovelToon NovelToon
Penyesalan Ceo: Mantan Istriku Ternyata Konglomerat

Penyesalan Ceo: Mantan Istriku Ternyata Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Anak Genius / CEO
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Finus Ina

"Tandatangani ini dan pergilah dari rumahku! Anak haram di rahimmu itu bukan darah dagingku!"Devan Mahendra, CEO dingin penguasa bisnis kota, melempar surat cerai tepat di wajah Anya. Terhasut oleh fitnah kejam, Devan mengusir Anya yang sedang hamil tua di tengah badai malam. Anya pergi membawa luka sedalam lautan dan dianggap tewas dalam kecelakaan tragis

Lima tahun berlalu. Devan hidup dalam penyesalan setelah kebenaran terungkap. Namun, dalam sebuah perjamuan bisnis kelas atas, sosok wanita yang sangat mirip dengan mendiang istrinya muncul. Dia bukan lagi Anya yang miskin dan penurut, melainkan Anastasia Wijaya, putri tunggal pewaris takhta keluarga terkaya nomor satu, didampingi sepasang anak kembar yang berwajah sangat mirip dengan Devan

Saat Devan berlutut memohon ampun, Anya hanya tersenyum dingin, "Maaf, Tuan Mahendra. Anda salah orang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 5

 

Bab 5: Langkah Catur Dua Tuan Muda

Sementara atmosfer di gedung Mahendra Group masih mencekam akibat sisa ketegangan pasca rapat, suasana di dalam Penthouse Suite Grand Wijaya Hotel justru tampak sangat tenang.

Di dalam kamar mewah yang menjadi tempat persinggahan sementara keluarga Wijaya selama di Jakarta, dua bocah laki-laki berusia empat tahun sedang duduk berhadapan di atas karpet beludru yang tebal.

Arka, si bungsu yang memiliki pembawaan ceria, sibuk menyusun miniatur robot rakitannya dengan antusias.

Namun di seberangnya, Alta duduk dengan punggung tegak yang kaku.

Sepasang netra elangnya yang tajam fokus menatap selembar kliping koran bisnis usang yang ia letakkan di atas lantai.

Di halaman koran itu, foto Devan Mahendra terpampang dengan jelas.

Alta menyentuh permukaan foto tersebut dengan jemari kecilnya, lalu melirik cermin besar yang memantulkan bayangan wajahnya sendiri di dinding kamar.

Kemiripan struktur rahang, bentuk hidung, hingga sorot mata mereka yang dingin tidak lagi menyisakan ruang bagi keraguan di dalam otak kecilnya yang genius.

"Arka, hentikan mainanmu sejenak," ucap Alta, suaranya terdengar datar dan begitu dewasa untuk anak seusianya.

Arka menengadah, meletakkan kepala robotnya dengan cemberut.

"Ada apa, Kak? Aku sedang menyusun bagian tersulit."

"Pria ini... adalah pria yang fotonya selalu disimpan Mami di dalam laci terkunci," Alta menunjuk foto Devan di koran.

"Kakek Angga pernah bilang kalau Mami hampir kehilangan nyawa karena seseorang di masa lalu. Aku yakin, pria di koran ini adalah alasannya."

Arka merangkak mendekat, ikut menatap foto Devan dengan mata bulatnya yang polos.

Wajah cerianya seketika berubah menjadi serius saat menyadari kemiripan fisik mereka.

"Wajah paman ini... mirip sekali dengan kita, Kak. Apakah dia ayah kita?"

"Pria yang membuat Mami menangis diam-diam setiap malam tidak berhak disebut ayah," desis Alta,

memancarkan sekilas aura dingin yang sangat pekat, persis seperti pembawaan Devan Mahendra saat berada di dunia bisnis.

"Mami selalu menyembunyikan luka ini sendirian. Sebagai anak laki-laki Mami, kita harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi."

"Lalu, apa yang akan kita lakukan?" tanya Arka, yang kini sepenuhnya terpengaruh oleh keseriusan kembarannya.

"Mami saat ini sedang sibuk mengurus sisa berkas rapat di kantor cabang. Pengawal di depan pintu kamar hanya tersisa dua orang karena sebagian besar ikut mengawal Mami," Alta berdiri, mengambil ponsel pintar khusus anak-anak yang terhubung langsung dengan jaringan internal hotel.

Sebagai cucu dari pemilik Grand Wijaya Hotel, Alta tahu betul bagaimana birokrasi layanan VIP bekerja.

Ia menekan tombol panggilan cepat ke meja resepsionis utama.

Begitu sambungan terhubung, Alta mengatur nada suaranya menjadi sedatar mungkin, meniru intonasi tegas khas para asisten pribadi Kakek Angga yang sering ia dengar.

"Selamat siang. Ini dari kamar Penthouse nomor satu," ucap Alta dengan wibawa yang tertata.

"Tolong siapkan satu mobil shuttle khusus di pintu belakang lobi sekarang. Kedua Tuan Muda harus diantarkan ke gedung Mahendra Group untuk menyusul Nona Anastasia. Jangan beritahu pengawal di depan pintu kamar karena ini adalah perintah mendadak dari Nona."

Resepsionis di seberang telepon sempat ragu mendengarkan suara yang terdengar sangat muda tersebut.

Namun, melihat nomor panggilan yang berasal dari interkom jalur mutlak Penthouse milik keluarga pemilik hotel, mereka tidak berani mengambil risiko untuk membantah.

"Baik, dimengerti. Mobil komanditer Alphard hitam dengan nomor lambung VIP-01 akan siap di pintu belakang dalam waktu lima menit, Tuan Muda."

Pip.

Alta mematikan sambungan.

Ia melirik Arka yang menatapnya penuh kagum.

"Ayo. Kita keluar lewat pintu dapur suite yang terhubung dengan koridor servis pelayan. Jangan sampai pengawal Mami di depan melihat kita."

Dengan gerakan yang sangat senyap dan terencana, kedua bocah itu menyelinap.

Berkat tubuh mereka yang kecil dan bantuan topi bisbol yang sengaja ditarik rendah, mereka berhasil menuruni lift barang menuju lantai dasar, lalu langsung masuk ke dalam mobil mewah hotel yang sudah menunggu di pintu belakang lobi.

Sopir hotel yang mengira ini adalah agenda resmi internal keluarga, langsung melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota menuju gedung Mahendra Group tanpa curiga sedikit pun.

Tiga puluh menit kemudian, mobil hitam itu berhenti tepat di lobi utama gedung pencakar langit milik Mahendra Group.

Alta dan Arka turun setelah mengucapkan terima kasih kepada sopir hotel dengan sikap yang sangat sopan namun formal.

Gedung itu tampak begitu megah dengan pengamanan yang ketat di pintu masuk utama.

Beberapa petugas keamanan berjas hitam tampak berjaga dengan pandangan waspada.

"Kak, bagaimana cara kita masuk? Banyak paman berjas hitam di depan sana," bisik Arka sembari memegangi ujung jaket Alta.

"Gunakan kepolosanmu, Arka. Di dunia orang dewasa, anak kecil sering kali dianggap tidak berbahaya. Itu adalah celah kita," jawab Alta dengan ketenangan yang matikan.

Kedua tuan muda Wijaya itu melangkah memotong jalan, berjalan lurus menuju lobi utama Mahendra Group.

Saat dua petugas keamanan hendak menghadang mereka, Arka tiba-tiba memasang wajah paling menggemaskan yang ia miliki, sepasang matanya berkaca-kaca seolah hendak menangis.

"Paman... kami terpisah dari rombongan sekolah saat berkunjung ke museum di sebelah. Kami tersesat dan di luar sangat panas," ucap Arka dengan suara parau yang dibuat-buat, begitu natural hingga petugas keamanan itu seketika merasa iba.

"Ya Tuhan, anak-anak siapa ini? Di mana guru kalian?" petugas keamanan itu berturut turut , berusaha menenangkan Arka.

Sementara petugas itu teralih oleh akting luar biasa milik Arka, Alta dengan cepat memanfaatkan momen tersebut.

Ia berjalan melewati meja resepsionis dengan langkah ringan yang tanpa suara, lalu menyelinap masuk ke dalam deretan lift yang kebetulan sedang terbuka karena beberapa staf baru saja keluar.

Arka yang melihat kembarannya sudah berhasil lolos, langsung melepaskan diri dari pegangan petugas keamanan.

"Ah, itu guru kami sudah menjemput di sana! Terima kasih, Paman!"

teriak Arka sembari berlari kencang menyusul Alta masuk ke dalam lift sebelum pintu baja itu tertutup rapat.

Bip.

Lift bergerak naik menuju lantai tertinggi.

Alta menekan tombol lantai paling atas, tempat di mana ruang kerja CEO berada, informasi yang sudah ia pelajari dari struktur organisasi perusahaan Mahendra Group di majalah lama.

Begitu pintu lift terbuka di lantai teratas, suasana berubah menjadi sangat sunyi dan mewah.

Lantainya dilapisi karpet tebal yang meredam setiap langkah kaki mereka.

Namun, baru beberapa meter mereka melangkah keluar dari lift, sebuah suara bariton yang berat dan dingin tiba-tiba terdengar dari arah belakang.

"Siapa yang mengizinkan anak-anak masuk ke lantai ini?"

Alta dan Arka serentak menghentikan langkah kaki mereka.

Mereka membalikkan tubuh perlahan.

Di ujung koridor yang megah itu, Devan Mahendra berdiri dengan satu tangan dimasukkan ke dalam saku celana bahan mewahnya.

Pria itu baru saja keluar dari ruang istirahat pribadinya setelah didera sakit kepala hebat akibat konfrontasi dengan Anastasia tadi.

Devan melangkah mendekat dengan kerutan dalam di dahinya.

Namun, begitu jarak mereka mengikis dan Devan bisa melihat wajah kedua bocah laki-laki itu dengan jelas di bawah pencahayaan lampu kristal lorong, langkah kaki sang CEO mendadak terkunci di atas lantai.

Netra elang Devan membelalak lebar, napasnya seketika tercekat di tenggorokan seolah-olah seluruh pasokan oksigen di paru-parunya habis menguap.

Di hadapannya, berdiri sepasang anak kembar yang memiliki bentuk mata, struktur rahang, bahkan cara berdiri yang merupakan salinan persis dari dirinya sendiri di masa muda. Kemiripan yang begitu mutlak itu menghantam logika Devan hingga hancur berkeping-keping.

"K-Kalian..."

Suara Devan bergetar hebat, tangannya yang berada di dalam saku celana refleks meremas kain dengan kuat demi menahan guncangan emosional yang mendadak melanda batinnya.

"Kalian anak siapa...?"

Alta tidak mundur selangkah pun.

Bocah berusia empat tahun itu justru mengangkat dagunya tegas, menatap Devan Mahendra dengan sorot mata elang yang sama persis dinginnya dengan pria dewasa di hadapannya.

"Kami tidak memiliki kewajiban untuk menjawab pertanyaan dari orang asing, Tuan Mahendra," jawab Alta,

suaranya terdengar begitu datar dan tajam, mengirimkan sengatan rasa bersalah sekaligus keterkejutan yang luar biasa tepat ke ulu hati Devan.

Bersambung

1
Ifana
padahal kk nya dipenjara, siapa orang dibalik menghilang nya Siska 🤔
Anonim
AWOKAWOK CERITA BALIKAN LAGI AWOKAWOK LAWAK
Finus Ina
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!