"Hana mengorbankan kariernya sebagai otak di balik kesuksesan 3 cabang Rumah Makan demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Namun, pengorbanannya dibalas dengan siksaan mental dari mertua cerewet dan perubahan sikap Adrian, suaminya yang perlahan kembali ke tabiat aslinya sebagai playboy.
Semuanya menjadi makin runyam saat mereka membawa pulang seorang baby sitter muda nan cantik dari kampung halaman. Di depan Hana dia adalah pengasuh yang lugu, namun di depan Adrian, dia adalah penggoda yang siap merebut semua yang telah Hana bangun dengan tetesan keringat. Saat Hana sadar dia dikhianati di rumahnya sendiri, haruskah dia tetap bertahan, atau mengambil kembali 3 rumah makan yang merupakan haknya dan meninggalkan mereka dalam kemiskinan?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Kedok Rasa yang Biasa-Biasa Saja
Bab 24: Kedok Rasa yang Biasa-Biasa Saja
Memasuki minggu kedua, ilusi kesuksesan yang diagung-agungkan oleh Ibu Broto dan Santi mulai luruh seperti benteng pasir yang diterjang ombak. Lidah masyarakat perkotaan, terutama para pelanggan kuliner premium, tidak bisa dibohongi dengan strategi promosi potongan harga yang gila-gilaan.
Masakan Santi—yang semula dipuji setinggi langit oleh Ibu Broto—ternyata tidak lebih dari sekadar masakan rumahan biasa yang rasanya monoton. Karakter sambal manis gurihnya yang pekat dan ayam goreng ungkep jawan-nya yang terlalu manis justru cepat membuat pelanggan merasa enek dan jenuh jika dimakan berulang kali. Masakan itu tidak memiliki kedalaman rasa, konsistensi takaran standar industri, ataupun keunikan rempah rahasia seperti yang dimiliki oleh formula asli buatan Hana.
Akibatnya fatal. Setelah masa promosi berakhir dan harga menu kembali normal, grafik kunjungan restoran merosot dua kali lipat lebih parah dari sebelumnya. Kolom ulasan di internet meledak oleh komplain bertubi-tubi.
"Kecewa berat. Rasa makanannya berubah drastis dari kelas restoran premium menjadi kelas warung makan pinggir jalan biasa. Terlalu manis dan tidak konsisten. Selamat tinggal Rasa Hana."
Malam itu, guntur bergemuruh di langit kota, mengiringi kedatangan Adrian yang pulang ke rumah dengan emosi yang sudah berada di ubun-ubun. Langkah kakinya menghentak lantai marmer dengan kasar. Ia melemparkan jasnya ke lantai ruang tengah tanpa memedulikan Ibu Broto dan Santi yang sedang duduk santai di sofa sembari menonton televisi.
"Mas Adrian... kenapa mukanya kusut lagi? Mau Santi ambilkan minum—"
"Diam kamu, Santi!" bentak Adrian dengan suara menggelegar, membuat Santi tersentak kaget dan langsung mundur selangkah dengan wajah ketakutan. "Gara-gara menumu itu, dua cabang restoran kita hari ini sepi total! Kerugiannya makin membengkak, dan para investor mulai mengancam akan menarik modal mereka minggu depan!"
Ibu Broto yang panik melihat amarah anaknya yang meledak-ledak tidak ingin posisi Santi—gadis penurut kesayangannya—terancam. Dengan wataknya yang licik, Ibu Broto mencari kambing hitam untuk meredam kemarahan Adrian. Pandangannya langsung beralih ke arah Hana yang baru saja keluar dari kamar mandi bawah dengan langkah kaki yang diseret pelan.
"Ini... ini semua pasti karena aura sial dari istrimu, Adrian!" tuduh Ibu Broto dengan suara melengking, jarinya menunjuk tepat ke wajah Hana yang pucat. "Sejak kita pulang dari kampung, dia tidak pernah merestui menu baru Santi! Kerjanya cuma mengurung diri di kamar, memasang wajah ketus, dan pasti diam-diam dia menyumpahi restoranmu agar hancur! Perempuan mandul membawa sial!"
Adrian yang sudah kehilangan akal sehat akibat stres finansial yang masif langsung menoleh ke arah Hana. Logikanya telah lumpuh sepenuhnya. Ia membiarkan hasutan ibunya meracuni pikirannya, melupakan fakta bahwa penurunan omzet ini murni karena kualitas masakan Santi yang memang tidak becus untuk standar restoran besar.
Malam itu juga, setelah Ibu Broto kembali ke kamarnya dan Hana berniat naik ke lantai atas untuk menghindari keributan, Adrian yang masih dipenuhi amarah frustrasi tidak membiarkan Hana pergi begitu saja. Namun, alih-alih menyelesaikan masalah dengan istrinya, Adrian justru mencari pelarian untuk egonya yang hancur.
Ia berjalan ke arah kamar tamu lantai bawah yang kini ditempati oleh Santi. Tanpa mengetuk pintu, Adrian masuk dan langsung mengunci pintu dari dalam.
Santi yang sedang duduk di tepi ranjang dengan gaun tidur tipisnya langsung berdiri, menatap Adrian dengan binar mata yang pasrah dan penuh manipulasi. "Mas Adrian... Santi minta maaf kalau masakan Santi membuat Mas pusing... Santi cuma mau membantu Mas..."
Adrian tidak menjawab dengan kata-kata. Rasa frustrasinya sebagai pria yang terpuruk beralih menjadi gairah liar yang menjijikkan. Ia menarik tubuh Santi ke dalam pelukannya, meluapkan seluruh emosinya ke dalam hubungan intim yang panas dan terlarang di atas ranjang kamar tamu itu. Santi bergerak dengan keliaran seorang ular yang tahu bagaimana cara mengikat mangsanya di saat rapuh.
Setelah pergulatan syahwat itu usai, Santi menyandarkan kepalanya di dada bidang Adrian yang masih naik turun karena napas yang memburu. Jemari halusnya mengelus dada pria itu sembari membisikkan racun hasutan yang semakin menyudutkan posisi Hana.
"Mas Adrian... Santi rasa apa kata Ibu tadi ada benarnya," bisik Santi dengan nada manja yang teramat lembut. "Mbak Hana itu sepertinya sengaja mendoakan restoran kita hancur supaya Mas Adrian bertekuk lutut memohon resep kepadanya. Sejak Santi di sini, Mbak Hana tidak pernah kelihatan tulus. Aura di rumah ini terasa sangat berat karena aura negatif dari Mbak Hana yang selalu cemburu dan berhati busuk..."
Adrian terdiam, menatap langit-langit kamar tamu yang remang. Di dalam sudut hatinya yang gelap, hasutan Santi terasa masuk akal bagi logikanya yang telah mati. Pengkhianatan fisik yang mereka lakukan berulang kali di bawah hidung Hana malam itu kian mempertegas aliansi busuk mereka, menumpuk dosa dan kesalahan yang siap meledak menjadi tragedi berdarah di dalam rumah mewah tersebut.