NovelToon NovelToon
Kembalinya Dewa Kematian

Kembalinya Dewa Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:148.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Boqin Changing

Ini adalah cerita tentang seseorang yang kembali ke masa lalunya. Seorang pendekar kuat yang berhasil mendapatkan pusaka untuk mengulang waktu.

Sembilan tahun telah berlalu semenjak kembalinya dia ke masa lalu. Banyak hal yang telah ia ubah. Kekuatannya juga perlahan mendekat ke puncak kekuatannya di kehidupan pertama.

Namun ancaman lain akhirnya muncul. Sejarah telah berubah karena campur tangannya. Kini ia harus bersiap menghadapi musuh lain yang rumit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pergi ke Arah Tenggara

Wang Zhou perlahan mengalihkan pandangannya kepada ketiga pengikut Boqin Changing.

Sekilas, Long Aotian, Wu Xing, dan Yan Luo masih menampilkan senyum yang ramah kepadanya. Namun, entah mengapa, nalurinya mengatakan sesuatu yang berbeda.

Ada tekanan tak kasatmata yang perlahan memenuhi tempat itu. Bukan tekanan yang berasal dari aura atau niat membunuh, melainkan tekanan alami yang hanya dimiliki orang-orang yang telah berdiri di puncak dunia.

Wajah Wang Zhou sedikit memucat. Butiran keringat dingin perlahan muncul di pelipisnya. Ia langsung mengerti maksud ketiga deheman itu.

"Mereka... ingin ikut juga."

Baru saja Wang Zhou hendak membuka mulut, Boqin Changing sudah lebih dahulu menoleh ke arah ketiga pengikutnya.

"Apa yang kalian lakukan?"

Seketika ekspresi ketiganya berubah aneh.

Long Aotian berdehem sekali lagi sebelum berkata dengan wajah polos,

"Tenggorokanku tiba-tiba terasa gatal, Tuan Besar."

Wu Xing segera mengangguk.

"Kalau aku... sepertinya ada dahak yang menyangkut."

Lalu giliran Yan Luo yang berbicara dengan nada datarnya.

"Aku sedang sakit batuk."

"..."

Wang Zhou hanya mampu tertawa canggung.

"Hahaha..."

Alasan ketiga orang itu terdengar begitu dipaksakan hingga bahkan seorang anak kecil pun mungkin tidak akan mempercayainya.

Boqin Changing menggelengkan kepala kecil.

"Kalian bertiga tetap berada di sekte. Aku akan pergi ke Bukit Cemara Berjajar hanya bersama Patriak."

Tatapannya kemudian menyapu ketiga pengikutnya.

"Ini hanya misi kecil. Kalau kalian ikut.. kekuatan kalian justru akan membuat orang-orang di luar sana gempar."

Long Aotian menghela napas pelan.

"Baiklah."

Wu Xing hanya menganggukkan kepala.

"Kami mengerti."

Yan Luo pun menjawab singkat.

"Baik."

Mereka bertiga tidak memiliki pilihan selain menurut. Perintah Boqin Changing merupakan keputusan yang tidak akan mereka bantah.

Tak lama kemudian, teh di atas meja pun habis. Boqin Changing berdiri lebih dahulu lalu menangkupkan kedua tangannya.

"Patriak, kalau begitu kami pamit."

Wang Zhou ikut berdiri.

"Baik. Besok pagi kita bertemu di gerbang sekte."

"Baik."

Boqin Changing tersenyum, lalu berbalik melangkah meninggalkan halaman.

Long Aotian, Wu Xing, dan Yan Luo segera mengikuti di belakangnya. Empat sosok itu berjalan perlahan menjauh hingga akhirnya hanya terlihat punggung mereka yang semakin mengecil di ujung jalan setapak.

Wang Zhou tetap berdiri di tempatnya. Tatapannya terus mengikuti kepergian Boqin Changing beserta ketiga pengikutnya.

Beberapa saat kemudian, ia mengembuskan napas panjang.

"Chang'er..."

Suara lirih itu hampir tidak terdengar.

"Pengikutmu benar-benar luar biasa."

Tatapannya dipenuhi rasa kagum sekaligus kebingungan.

"Sebenarnya... takdir sebesar apa yang sedang kau pikul?"

...******...

Keesokan harinya, matahari telah terbit tinggi di langit. Pagi yang tenang menyelimuti Sekte Dua Pedang Petir. Para murid mulai menjalankan latihan rutin mereka, sementara beberapa lainnya berjaga di gerbang utama sekte seperti biasa.

Di depan gerbang itu, Wang Zhou telah berdiri sejak satu jam yang lalu. Sesekali ia melirik jalan setapak yang mengarah ke kediaman Boqin Changing. Namun sosok yang ditunggunya sama sekali belum juga muncul.

Para murid yang bertugas menjaga gerbang mulai merasa canggung. Biasanya mereka hanya berdiri santai sambil mengawasi keluar masuk orang. Namun hari ini, patriak sekte justru berdiri bersama mereka selama hampir satu jam penuh.

Tidak ada seorang pun yang berani berbicara. Bahkan posisi berdiri mereka menjadi jauh lebih tegak dari biasanya. Suasana terasa kaku.

Beberapa saat kemudian, akhirnya terdengar langkah kaki dari kejauhan. Boqin Changing berjalan santai menuju gerbang dengan kedua tangan berada di belakang punggungnya.

Begitu melihat Wang Zhou masih berdiri di sana, ia langsung tertawa kecil.

"Hehehe...Maaf, Patriak. Aku bangun kesiangan."

Ia menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

"Tidur di rumah sendiri ternyata benar-benar menyenangkan."

Mendengar alasan itu, sudut bibir Wang Zhou berkedut. Ia hanya mampu tertawa getir.

"Hahaha..."

Di dalam hati, ia benar-benar tidak tahu harus berkata apa.

Andaikan orang yang membuatnya menunggu selama satu jam adalah Wang Tian, putranya sendiri sekaligus Tetua Agung Sekte Dua Pedang Petir, sudah pasti orang itu akan dimarahinya habis-habisan. Bagaimanapun juga mana mungkin seorang patriak sekte dibiarkan menunggu selama itu.

Namun, orang yang berdiri di hadapannya sekarang adalah Boqin Changing. Wang Zhou benar-benar tidak memiliki keberanian untuk memarahinya.

Ia akhirnya hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum pasrah.

"Lain kali jangan terlambat lagi."

Boqin Changing langsung mengangguk.

"Baik, Patriak."

Wang Zhou pun mulai menjelaskan.

"Lokasi pertemuan berada di wilayah tenggara Kota Shui. Dengan kecepatan ilmu meringankan tubuhku... perjalanan diperkirakan memakan waktu sekitar dua hari."

Boqin Changing mengangguk pelan.

"Lumayan jauh juga."

Kemudian ia berkata dengan santai,

"Kalau begitu... bagaimana kalau kita terbang saja?"

Wang Zhou berkedip beberapa kali.

"Terbang? Aku tidak bisa terbang."

Boqin Changing hanya tersenyum.

"Itu bukan masalah."

Ia mengangkat satu tangan perlahan. Seketika tubuh Wang Zhou perlahan terangkat dari tanah.

"Apa?!"

Kedua kaki Wang Zhou kini menggantung beberapa jengkal di atas permukaan tanah. Ia membelalakkan mata sambil tanpa sadar melambaikan kedua tangannya mencari keseimbangan.

Boqin Changing tersenyum lebar.

"Nah... Sekarang sudah bisa, kan?"

"Kalau begitu... ayo kita berangkat."

Begitu selesai berbicara, tubuh Boqin Changing melesat ke udara dengan begitu ringan.

Di saat yang sama, tubuh Wang Zhou ikut melayang mengikuti di belakangnya, seolah ada kekuatan tak terlihat yang menariknya.

"Chang'er! Tunggu dulu!"

Suara Wang Zhou terdengar panik dari udara, sementara Boqin Changing justru tertawa kecil tanpa menghentikan kecepatannya.

Di bawah sana, para murid yang berjaga di gerbang sekte hanya mampu mematung.

Mereka mendongakkan kepala ke langit dengan mulut sedikit terbuka.

"Itu..."

"Terbang..."

Mereka memang pernah mendengar bahwa pendekar yang telah mencapai tingkat kultivasi sangat tinggi mampu terbang bebas di udara. Namun mendengar cerita dan melihatnya secara langsung merupakan dua hal yang sama sekali berbeda.

Hari itu, untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, mereka benar-benar menyaksikan seseorang terbang menembus langit dengan mata kepala sendiri. Pemandangan itu akan menjadi kisah yang terus mereka ceritakan kepada para murid lain selama bertahun-tahun.

...******...

Sementara itu, jauh di wilayah tenggara, lereng Bukit Cemara Berjajar tampak beberapa tenda telah didirikan di sebuah tanah lapang yang cukup luas. Bendera dari berbagai sekte dan kelompok berkibar pelan tertiup angin pegunungan. Para pendekar berlalu-lalang sambil memeriksa perlengkapan masing-masing, sementara beberapa pendekar yang berperan sebagai pengintai keluar masuk membawa laporan dari sekitar bukit.

Di tengah perkemahan itu berdiri sebuah tenda besar. Di dalamnya, beberapa tokoh penting sedang mengadakan pertemuan.

Di bagian paling depan duduk seorang pria tua berjanggut putih dengan wajah tenang. Tatapannya tajam, tetapi pembawaannya memperlihatkan wibawa seorang pemimpin yang telah melewati banyak pertempuran. Pria itu adalah Tetua Agung Peng dari Sekte Pedang Pemecah Awan. Pemimpin rombongan ini.

Di hadapannya terbentang sebuah peta wilayah Bukit Cemara Berjajar lengkap dengan berbagai tanda yang menunjukkan jalur masuk, tebing, hingga lokasi yang dicurigai menjadi persembunyian Kelompok Aliran Hitam.

Namun suasana rapat sama sekali tidak tenang. Seorang pria bertubuh besar menghantam meja dengan telapak tangannya.

Buk!

"Apa lagi yang kita tunggu?"

Nada suaranya penuh kekesalan.

Tubuhnya kekar seperti gunung batu. Lengan bajunya nyaris tidak mampu menutupi otot-otot yang menonjol. Pria itu adalah Tetua Agung Dai Xung dari Sekte Tameng Naga.

Ia mendengus kesal.

"Rombongan kita sudah lengkap sejak kemarin. Pengintai juga sudah memastikan lokasi kelompok Aliran Hitam itu."

"Lalu mengapa kita masih belum bergerak?"

Tatapannya langsung mengarah kepada Tetua Agung Peng.

"Menurutku kita tidak perlu menunggu kelompok lain."

"Masuk saja ke Bukit Cemara Berjajar. Toh tujuan kita saat ini hanya mengintai."

Tetua Agung Peng menghela napas pelan.

"Tetua Dai Xung. Bersabarlah."

Ia mengetukkan jarinya perlahan di atas peta.

"Sesuai arahan Putra Mahkota, operasi ini harus didampingi beberapa kelompok lokal yang memahami kondisi wilayah sekitar."

"Mereka jauh lebih mengenal jalur-jalur pegunungan, desa-desa sekitar, hingga kebiasaan kelompok Aliran Hitam yang sering muncul di daerah ini."

Dai Xung mendecih pelan.

"Cih."

"Menurutku kita sudah lebih dari cukup. Kalau hanya mengintai, apa perlunya membawa begitu banyak orang?"

Tetua Agung Peng kembali mengembuskan napas.

"Kau benar. Namun perintah tetaplah perintah."

Ia menatap Dai Xung dengan tenang.

"Lagipula... salah satu kelompok yang akan bergabung adalah Sekte Dua Pedang Petir."

"Kudengar Patriak Wang Zhou sendiri yang akan datang."

Begitu nama itu disebut, wajah Dai Xung langsung berubah tidak enak dipandang. Ia mendengus sinis.

"Wang Zhou... Orang itu benar-benar terlalu beruntung."

Beberapa orang di dalam tenda saling berpandangan.

Dai Xung melanjutkan dengan nada meremehkan,

"Tiba-tiba saja banyak tokoh kuat bergabung ke dalam sektenya."

"Han Bikwang masuk."

"Tabib Yi Min juga bergabung."

"Bahkan pendekar terkuat kekaisaran ini, Boqin Changing juga berasal dari sana.”

Ia kembali mendecih.

"Andaikan tidak ada orang-orang itu... Wang Zhou sendiri hanyalah sampah."

Suasana di dalam tenda seketika menjadi sedikit canggung. Tidak semua orang setuju dengan ucapan Dai Xung, tetapi tidak ada pula yang ingin memperdebatkannya.

Dai Xung kemudian memandang seluruh orang yang berada di dalam tenda.

"Aku mengingatkan kalian. Nanti ketika Wang Zhou dan orang-orang Sekte Dua Pedang Petir datang..."

"Jangan ada yang memberikan perlakuan istimewa kepada mereka."

"Mereka datang ke sini sebagai satu bagian kelompok. Bukan tamu kehormatan."

Beberapa orang hanya menganggukkan kepala sekadarnya, sementara yang lain tetap diam.

Tetua Agung Peng sendiri hanya menghela napas pelan. Tatapannya sesaat tertuju kepada Dai Xung.

Di dalam hatinya, ia benar-benar tidak memahami mengapa pria bertubuh besar itu begitu memusuhi Wang Zhou. Entah persoalan lama apa yang pernah terjadi di antara keduanya.

Namun satu hal yang jelas, kebencian Dai Xung terhadap Patriak Sekte Dua Pedang Petir sama sekali belum memudar. Bahkan hingga hari ini, setiap kali nama Wang Zhou disebut, nada bicaranya selalu dipenuhi rasa tidak suka.

Dai Xung nampak menatap ke arah pintu masuk tenda dan berkata..

"Wang Zhou awas saja kau nanti..."

1
Mahayabank
Mantap Lanjuuuut lagi.. 🔁👍💪💪✅
Mahayabank
Yaudah lanjuuuut lagi 🔁🔁👀
Mahayabank
💪💪💪👍👍✅✅
Mahayabank
Makasih upnya 👍
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
Rinaldi Sigar
lnjut
Baim Putra Kirana
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Raju
hadeeeeech.....
ta apalah !!
biar alurnya lambat asal selamat
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Mantap 👍👍
Nanik S
Baru kejutan si Tuan muda menyerah 👍👍👍
Nanik S
Wkwkwkwkwk Tuan besar kalah sama Boqin Feng...🤣🤣🤣🤣
yayat
diracunin ayahnya untuk mancing n dpt ijin dr ibunya boqin ga berkutik
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hehehehe ayoooo mancing mania 👍🤣
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Hiburan 🌽🔥
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Wu Xing tepat untuk tetap diSekte, karena dia Ketua Sekte yang ikut Boqin Changing ke Kaisaran Qin. selain menjaga Sekte bisa juga melatih orang diSekte.
Zainal Arifin
libur ???
Joedhi Ghenitz
sangat bagus, keren
Akhmad Baihaki
🤭🤭🤭🤭🤭
Blue Manusia Biasa
kacian Wu Xing🤣🤣
Nurhasnah Yolanda
mana kelanjutanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!