Semenjak mama dan kakek meninggal, hidup Ryuna seperti kereta api tanpa rel. Memiliki papa, namun dia tak pernah mencintai mamanya dan menginginkan dirinya. Bagi papanya, hidup dengan mamanya itu hanya sebuah kecelakaan dan paksaan.
Memiliki kepribadian introvert dan pendiam. Ryuna sering kali di-bully dan dipandang remeh oleh teman-teman satu sekolahnya.
Hidup Ryuna terasa komplit.
Ya, komplit untuk semua luka dan derita.
Tapi, sikap lembut Barry padanya membuat Ryuna sering kali marah dan tak membutuhkan belas kasihannya.
Barry menegaskan bahwa dia benar-benar mencintainya. Tapi, semua lelaki di mata Ryuna sama saja. Mereka hanya sosok pria kasar yang berhati dingin.
Apakah Barry juga bersikap dingin seperti papanya suatu hari nanti? Apakah mungkin cinta yang dilontarkan Barry itu tidak semata-mata hanya untuk menjebak lalu mempermalukannya di depan semua orang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kei68, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12. Sebuah Cerita Lama
..."Kenangan berharga itu adalah mereka, dhasrylha. Memang semua itu hanya akan tinggal cerita lama yang tidak akan pernah bisa kembali lagi."...
...***...
Saat kerinduan itu datang hanya bisa kembali mengingat memori yang telah terekam indah di pikiran seseorang. Meski yang dilihat hanya sebuah bayang-bayang masa lalu mengukir sejarah sendiri, orang tidak akan bisa melihat isi pikirannya walau meskipun diceritakan melalui ucapan. Rasanya akan berbeda, mereka tidak akan tahu bahwa kisah itu sangatlah berharga.
Ryuna menatap ke sekeliling kamarnya, saat tak sengaja, dia melihat beberapa potret dari seorang melalui ponselnya, Ryuna jadi semakin sering melihat masa lalunya. Kehidupan di waktu itu terasa lebih baik, mengukirkan sebuah senyuman dan sebuah kata teman yang membuat dirinya tak pernah sendirian lagi. Alangkah berharganya mereka di kala itu, menghargai dan bergandengan tangan bersama.
Ryuna menatap pemandangan luar melalui balkon kamarnya kemudian turun ke paving block yang tersusun rapi di depan rumahnya. Di sanalah sebuah kisah di mulai, di mana gerbang rumah selalu terbentang luas menyambut dua orang yang sering main ke rumahnya.
“Ryuna....” Seseorang melambaikan tangannya.
Dengan suara khasnya memanggil, di kala pulang sekolah bahkan di saat hari minggu mereka tetap hadir menampakkan diri di hadapannya.
Ryuna yang masih muda sekali, diperkirakan saai itu umurnya sekitar 13 tahun. Mereka berlari ke arah balkon kamar yang ditempatinya saat ini.
“Iya, kalian masuk saja! Aku tunggu di sini!” Teriak Ryuna yang menyadari sahabatnya itu telah datang.
Tak berselang lama mereka datang dan Ryuna menyambut mereka di balkon. Bayang-bayang masa lalu telah menghampiri, Ryuna melihat ketiga sahabat itu sedang bercengkerama di kursi panjang yang ada di balkon kamar. Mereka terlihat sangat bahagia sekali.
“Dhasa, kasih saja langsung pada Ryuna.” Kata seorang cewek bersuara serak-serak basah dan halus itu. Dia Lhana.
“Oh iya, aku hampir lupa.” Dhasa menepuk keningnya pelan yang kemudian merogoh sakunya.
“Ada apa sih?” tanya Ryuna yang penasaran.
“Ini gelang buat kamu.” Dhasa menyodorkannya pada Ryuna.
Sebuah gelang berwarna hijau tua bercorak hitam terulur di depannya. Ryuna sempat melihat keduanya memakai gelang dengan warna yang sama hanya dirinyalah yang belum memakainya.
“Semalam kamu tidak bisa pergi ke pasar malam, jadi kami berdua membelikannya untukmu. Biar kita memiliki gelang yang sama.” kata Lhana tersenyum.
“Sekarang kamu pakai ya, kita bertiga harus sama.” Dhasa memakaikan gelang itu pada pergelangan tangan Ryuna.
Seutas senyum terukir di bibirnya. Hatinya tersentuh saat mereka memang benar-benar menjaga persahabatan itu dengan baik. Mereka sama-sama tersenyum dan memamerkan gelangnya masing-masing ke udara lalu tertawa bersama. Namun, setelah kini telah berlalu begitu saja, menyisakan kenangan yang hanya bisa diratapinya. Dhasrylha adalah gabungan nama mereka. Dhas yang berarti Dhasa, Ry yang berarti Ryuna dan Lha adalah Lhana. Gabungan nama yang terbentuk pada bulan september.
“Kenangan berharga itu adalah waktu bersama mereka, dhasrylha.”
...***...
Pagi cerah nan indah tanpa ada gangguan awan hitam secuil pun di langit hari ini telah diberitakan perihal yang menghebohkan sejagat sekolah bahwa SMA Klaria 1 kembali mengalami perubahan. Kelas khusus laki-laki dan perempuan harus digabungkan menjadi satu kelas. Masing-masing kelas ada tiga puluh orang, lima belas orang cewek dan lima belas orang cowok.
Mendengar kabar berita ini terutama pada kaum hawa, ada yang tidak terima sampai melakukan demonstrasi dan ada juga yang terima-terima saja, sebenarnya terbersit rasa penasaran pada pihak sekolah akhir-akhir ini sering kali mengalami perubahan.
Barry hanya bergeming memandang ke sang ketua lalu Lucio yang sedang duduk santai di bangkunya. Ia lalu mencangklong tasnya, begitu juga dengan yang lainnya.
"Pindah ke kelas mana?" tanya Barry mengalihkan pandangannya ke Rafan.
Lalu mereka saling bertukar pandangan. Tak ada yang buka suara, tak ada yang memberi jawaban. Sudah ditebak, mereka tidak tahu maka Rafan jadi turun tangan untuk melihat ke mading.
"Ya sudah, gue ke mading dulu." Usul Rafan yang mulai angkat kaki dari kelas.
Sesampainya di mading, Rafan sibuk mencari nama kelasnya yang akan bergabung dengan kelas mana. Ternyata kelas XI IPA 3 khusus cowok bergabung dengan kelas XI IPA 2 khusus cewek.
"Kelas XI IPA 2?”
Ada hal yang aneh jika mendengar kelas yang familier itu. Oh ya, dia baru ingat kelas itu adalah kelas dua gadis itu. Rafan mengembuskan napas berat sebelum akhirnya memilih pergi mengabarkan berita ini kepada teman sekelasnya.
"Hai, Rafan."
Bagai tersambar petir di siang bolong, Rafan terkejut ketika berhadapan dengan seorang gadis yang mesti dihindarinya.
Viona tersenyum lebar sembari melambaikan tangannya, tak ingin berlama-lama terus berhadapan dengan wanita ini. Rafan memilih pergi. Ryuna menggeleng-gelengkan kepala, kelakuan temannya itu memang memalukan sekali.
"Ya kucing... kita sekelas dengan dia!"
"Diam, Viona. Ini bukan hutan.”
"Hehe... menyalurkan kebahagiaan masa nggak boleh?"
"Bahagia? Ini bencana, peraturan Klaria 1 perlahan mulai dihapus. I not very like this.”
"Itu kabar yang bagus. Ayo-ayo, tertawalah sekarang sebelum dilarang." Viona tertawa terbahak-bahak seperti orang safih.
"Benar-benar aneh.”
"Eh Ryuna, tungguin gue!" Viona bergerak mengejar temannya yang perlahan mulai melangkah menjauh.
Tanpa diarahkan lagi oleh para guru, semua murid Klaria 1 dengan tertib menyusun meja masing-masing di kelas yang sudah ditentukan. Semenjana cewek-cewek di kelas XI IPA 2 mengusulkan jika para kaum adam duduk di barisan depan sedangkan perempuan di belakang karena bagaimanapun laki-laki adalah pemimpin dan mau tak mau mereka harus menaati peraturan itu meski para lelaki lebih suka duduk di belakang.
Vintaria sang ketua harus turun jabatan menjadi wakil ketua sedangkan yang menjadi ketua adalah Rafan, si pria dingin dan disiplin. Berharap mereka bisa bekerja sama meskipun rasanya enggan mau.
"Ketua, gue harap lo bisa atur kelas ini agar tetap aman." Pinta Vintaria dengan tegas.
"Mohon kerja samanya, gue pasti usahain untuk memberikan yang terbaik untuk kelas ini." Rafan berucap tak kalah tegasnya.
Mereka berdua sama-sama bagian yang terpenting di kelas itu, lihat saja ketegasan di mata mereka. Benar-benar pemimpin yang patut diacungi jempol.
"Sebenarnya gue jadi lebih suka lo yang jadi wakil." Usul Barry tanpa ke menilik Lucio.
"Alasannya?"
"Biar kelas nggak terlalu disiplin, gue jadi ngerasa aneh ngeliat mereka yang kaku. Kalau lo jadi wakil kan, gue merasa terhibur, secara nggak langsung lo nggak beda jauh dari kata badut." Entah berantah apa maksudnya, perkataan Barry terdengar seperti mencemooh.
Lucio menatapnya datar. "Badut kata lo?"
Tak terima dengan ucapannya, Lucio mengalungkan Barry dan memukuli kepalanya. Bukannya merasa kesakitan Barry malah terkekeh kecil ketika mendapati Lucio yang sedang kesal.
Sementara Ryuna dan Viona lebih memilih duduk di dekat jendela, mereka masih melihat-lihat keadaan. Ada yang langsung akrab dengan para lelaki dan ada juga yang masih terlihat kaku.
"Jauh-jauh dari gue!”
"Eh, kalian kenapa sih? Rambut kinclong gue jadi rusak tau! Dasar pembuat onar!"
“Woi, siapa yang nyuri pulpen mahal gue!”
“Sialan! Siapa yang udah naruh kecoak di laci gue...”
Cewek-cewek di bagian paling belakang terlihat tidak nyaman saat beberapa cowok mengganggu ketenangan mereka.
"Gue jadi kesal. Kenapa justru Vintaria lebih dekat dengan Rafan? Kalau gitu biar gue aja yang jadi wakil." Ketusnya sembari melihat kedua orang yang sedang asyik membicarakan sesuatu hal penting.
Ryuna ikut menoleh lalu berbalik memandangi langit biru yang teduh. "Gue sarankan jangan, nanti kelas jadi hancur."
"Tega banget lo sama gue... bukannya didukung malah diejek. Sakit hati aku Bang..." kata Viona dengan nada sok manis.
"Kai..." Sambung Ryuna.
Viona semakin menekuk wajahnya, kesal. Matanya terus menyoroti Rafan dan Vintaria malah melemparkan senyum kecil di antara mereka semakin membuat hatinya kian terbakar api cemburu.
Terkadang perasaan cemburu timbul karena ketidakmampuan seseorang melampaui batas dari orang lain hingga akhirnya ia hanya bisa iri dan berangan-angan ingin berada di posisi insan itu. Huh, aku nggak rela Rafan sampai berpacaran sama Vintaria.
"Gue denger-denger dari sebagian siswi yang ikut berpartisipasi dalam demonstrasi bilang kalau peraturan baru pak Adi nggak bisa diganggu gugat," ujar Ryuna tiba-tiba.
"Kok bisa gitu?" Viona akhirnya tertarik untuk bertanya.
"Katanya sekolah ini mau dijadikan sekolah umum."
Mata Viona menatap meja kayu cream-nya seraya mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuknya.
Ryuna menatap lurus kemudian menghela napasnya. "Dari yang gue denger, pak Adi mau menjadikan sekolah ini lebih maju lagi dengan kekompakan murid Klaria dan Dranenta."
"Kekompakan apanya."
"Udah, diam. Nggak usah banyak komentar, kalau nggak mau sekolah ya sudah." Sela Ryuna yang membuat Viona jadi diam seribu bahasa. Mereka menatap suasana yang tampak ramai dari biasanya.
Apa pun alasannya mungkin sekolah ini hanya mau dibuat menjadi sekolah yang lebih maju. Seenggaknya Ryuna bisa berpikir positif tentang perubahan tempat ia menimba ilmu.
Terima kasih
semangat dan sukses selalu ya
jgn lupa mmapir ya 🤗😍
Numpang promote juga ya
kalau sempat ke karya ku juga ya guys... terimakasih..
SEMANGAT... JAGA KESEHATAN KALIAN...
Numpang promote juga ya
kalau sempat ke karya ku juga ya guys... terimakasih..
SEMANGAT... JAGA KESEHATAN KALIAN...
sukses iya kak untuk karyanya
jangan lupa mampir di karya pertamaku yang menceritakan tentang cowok letoy yang selalu ditolak sama cewek dalam judul THE FAILED PLAYBOY.
Terimakasih 🙏
salam damai dari keturunan raja